MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 24 Mei 2019 10:23
Medsos Dibatasi, Pedagang Daring di KTT Merugi
ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, TANA TIDUNG – Para pedagang yang kerap berbisnis secara daring (online) di Kabupaten Tana Tidung, mengeluhkan penurunan omzet pasca dibatasi akses media sosial oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika  pada Rabu (22/5) lalu. Media sosial yang paling berdampak adalah Instagram, WhatsApp dan Facebook. Ketiga aplikasi media sosial tersebut digunakan oleh banyak pedagang daring di Tana Tidung.

Dewi (29), salah satu pedagang daring di Kecamatan Sesayap ini mengaku transaksinya menurun sejak Rabu itu. Bahkan ia tidak bisa mengunggah semua jenis jualannya di Facebook. “Saya hanya menyayangkan aturan ini. Pemerintah apakah tidak bisa melihat bahwa pengguna medsos ini banyak yang menggunakan sebagai media untuk mengais rezeki. Apalagi akses media sosial seperti Facebook, Istagram dan WhatsApp dibatasi membuat kami para penjual tidak dapat memposting barang-barang baru. Apalagi ketika pelanggan kami mau pesan menggunakan WhatsApp juga tidak bisa mengirim foto," ujarnya, Kamis (23/5).

Dalam sehari, kata Dewi, ia biasanya bisa menerima transaksi hingga Rp 2 juta. Namun sejak masalah pembatasan medsos ini dilakukan pemerintah, ia mengaku belum ada satupun transaksi yang berhasil. “Ya begitulah, padahal ini ‘kan memang momennya sudah mendekati lebaran. Apalagi saya hanya menggunakan aplikasi WhatsApp dan Facebook untuk berjualan online. Tapi kalau sudah seperti ini mau diapakan lagi. Hanya menunggu saja kembali seperti semula,” ungkapnya.

Senada dengan Dewi, Heni (35) yang biasa menjual kue secara daring merasakan hal yang sama. Ia mengatakan saat ini kesusahan mendapatkan bukti transfer dari pelanggannya. “Susah sekali. Orang pesan barang terus dia transfer uang, lalu kirim foto bukti transfer baru saya kirim barang. Ini ‘kan bukti transfer gak bisa terkirim jadi tertunda. Saya kirim barang juga jadinya susah,” katanya.

Heni berharap pelanggannya mengerti kondisi ini karena hal ini benar-benar kesalahan teknis. Meski saat ini pesanan sedang banyak-banyaknya karena menjelang lebaran. “Kita ini ‘kan pedagang kecil-kecilan. Mainnya pun di Facebook sama Instagram saja. Saya berharap ini segera berakhir. Sulit rasanya seperti ini. Saya juga maunya semuanya aman-aman,” ujarnya tersenyum.

Hal serupa juga disampaikan Erwin (31). Ia mengaku terganggu karena adanya kebijakan batasan penggunaan medsos. Sebagai kartunis, ia merasa kebebasan berpendapatnya terganggu. “Harusnya yang diperangi itu hoaksnya, bukan salurannya. Pemerintah juga harus jeli dengan kondisi masyarakatnya. Dampak dari semua ini para masyarakat yang merasakannya baik, tahu maupun yang tidak tahu, kena semua imbasnya. Kasihan para pedagang online yang memanfaatkan bulan ini untuk mencari rezeki jadi tidak bisa bertransaksi lagi karena akses medsos dibatasi,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto saat jumpa pers di Kantor Menkopolhukam di Jakarta, Rabu (22/5), membeberkan langkah pemerintah untuk menjaga masyarakat agar tidak terpengaruh informasi yang berbau hoaks dan simpang siur.

Dalam jumpa pers tersebut, Wiranto menyampaikan bahwa akses media sosial akan dibatasi untuk penyebaran konten, untuk menjaga hal-hal negatif tersebar di masyarakat. Sehingga, masyarakat untuk sementara tidak dapat mengirim foto dan video di media sosial, seperti Instagram dan WhatsApp.  (*/rko/ash)

 


BACA JUGA

Jumat, 11 September 2015 15:28

Lebih Langsing dengan Berenang

<p>Berenang termasuk olahraga yang menyenangkan. Tetapi kebanyakan orang lebih menganggap olahraga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*