MANAGED BY:
SABTU
20 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 01 April 2019 10:21
KRISIS AIR..!! Tarakan-Nunukan Hanya Andalkan Hujan
KRISIS: Terlihat kondisi salah satu embung milik PDAM Nunukan ketika kekeringan. Namun, saat ini embung tersebut sudah normal lantaran terjadinya hujan beberapa hari ini. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Air bersih menjadi persoalan serius di Kalimantan Utara (Kaltara). Di Tarakan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam waswas jika kekeringan kembali terjadi dalam masa yang cukup lama. Belum ada opsi lain persediaan air baku.

Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Alam Tarakan Said Usman Assegaf menerangkan, saat ini pihaknya telah berupaya maksimal untuk mencari solusi persediaan air baku. Sejauh ini PDAM telah merancang rencana jangka panjang maupun rencana jangka pendek. Hanya upaya tersebut tidak didukung dengan kesiapan pemerintah.

“Idealnya PDAM memiliki perencanaan 25 tahun ke depan. Di samping perencanaan setiap tahun dan 5 tahun sekali. Kan ada corporate plan, setiap tahun mau buat apa, misalnya. Kembali ke persoalannya adalah kepada anggaran. Kalau kita mempunyai perencanaan sebagus apa pun, tetapi anggaran yang menunjang tidak ada, mau buat apa?” ungkapnya, kemarin (30/3).

Selama ini PDAM cukup intens dalam mencari solusi dan terobosan. Dalam 3 tahun terakhir PDAM berhasil menambah 3 embung baru dan 5 ribu sambungan di Kota Tarakan.

“Sekarang kita bicara yang ada di Tarakan, selama ini kan kami sudah berupaya. Zaman saya diangkat dari yang hanya 2 embung, sekarang kan sudah 5 embung. Dalam 3 tahun. Dari 22 ribu sambungan, sekarang sudah masuk 27 ribu,” tuturnya.

Hujan menjadi satu-satunya harapan, kata Usman. Tarakan merupakan pulau menjadi alasan.

Upaya desalinasi air laut biayanya mahal. PDAM belum mampu merealisasi terobosan itu. PDAM juga telah memaksimalkan sungai. “Semua kan asalnya dari air hujan, air sungai pun berasal dari hujan. Cuma ada yang kapasitasnya besar, ada yang kecil. Kebetulan kan sungai kita ini kecil-kecil dan sudah dirambah. Kalau kita lihat pakai drone sudah tidak ada lagi sungai yang airnya bisa diambil,” tuturnya.

Soal penilaian yang dialamatkan segelintir pihak pada PDAM sebagai perusahaan yang minim upaya dalam mencari terobosan air baku, menurutnya adalah bentuk ungkapan berpikir praktis. Ia menjelaskan kondisi masyarakat Tarakan yang berbeda dengan kondisi masyarakat luar negeri. Terapan teknologi tinggi bisa saja direalisasikan. Namun memerlukan biaya besar. Jika itu dipaksakan juga akan berdampak pada tarif.

“Tarakan memang mengandalkan hujan saja. Semua air memang bisa diolah, air laut bisa diolah, air bor juga bisa. Tapi biayanya sangat besar. Setahu saya di Indonesia belum ada satu pun PDAM yang mengelola untuk masyarakat luas. Kalau pun ada itu pihak swasta, bukan PDAM. Kalau untuk mal bisa, untuk komplek wisata seperti di Jakarta bisa. Untuk kapal perang bisa, kalau untuk skala melayani di bawah seribu orang masih bisa. Tapi kalau sudah menyuplai buat ratusan ribu, belum ada PDAM yang sanggup dengan biaya operasionalnya,” imbuhnya.

Menurutnya, ide menggunakan air laut sebagai air baku merupakan pola pikir instan. Jika PDAM Tarakan menggunakan teknologi tersebut, dikhawatirkan dapat menjadi beban besar bagi masyarakat pelanggan.

Air yang terbilang murah saat ini, masih belum dapat dijangkau bagi sebagian pelanggan. “Bukannya tidak bisa mengelola, tarifnya bisa tidak masyarakat bayar? Sedangkan Rp 1.200 per kubik saja, banyak yang menunggak 3 bulan. Setiap bulan ada 3 ribu sambungan yang menunggak pembayaran air, bahkan ada yang menunggak sampai 7 bulan. Bagaimana kami mau ikut teknologi di luar negeri kalau yang murah saja kita tidak mampu bayar,” ucapnya.

PDAM sejak lama memikirkan upaya desalinasi itu. Pihaknya telah lama memikirkan terobosan tersebut. Namun sangat disayangkan kondisi geografis Tarakan sangat tidak mendukung merealisasikan teknologi tersebut.

“Di Tarakan tidak bisa mengebor dengan mengambil air dengan jumlah besar. Ingat Tarakan ini pulau kecil, bukan daerah daratan luas. Jika kita mengebor jumlah besar akan jadi lubang menganga di bawah tanah, dan itu risikonya lama kelamaan Tarakan bisa tenggelam,” tuturnya.

“Kita tidak bisa berpikir sesederhana itu, PDAM ini perusahaan besar, perusahaan negara yang harus mengikuti SOP. Beda dengan usaha galonan atau bisnis jualan air profil. Aktivitas kita mengambil air dalam jumlah besar bukan main-main. Sekali kita melakukan kesalahan, kehidupan manusia dan Pulau Tarakan jadi taruhannya. Ini tidak main-main bukan seperti gali sumur,” ujarnya.

Beberapa tahun lalu PDAM pernah meminta persetujuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) melalui Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) untuk melakukan pengeboran. Namun usulan tersebut ditolak.

“Kami pernah meminta persetujuan Kementrian (Kemen-PUPR) terhadap pengeboran air, tapi tidak dianjurkan. Karena Tarakan ini rawan kalau bertambah kegiatan pengeboran skala besar. Kami bukan tanpa upaya, cuma orang di luar tidak memikirkan dampaknya jika dilakukan pengeboran. Kami sudah lama memikirkan itu,” urainya.

 

Sementara di Nunukan, hujan menjadi satu-satunya sumber air baku bagi PDAM Nunukan. Sumber air dari tanah yang berharap dari keberadaan pohon sungguh sangat sulit diperoleh. Khususnya untuk Pulau Nunukan dan Sebatik.

Keberadaan Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) di Pulau tidak dapat maksimal membantu. Bahkan saat ini kondisinya semakin terancam. Pembalakan liar terus terjadi. Pohon-pohon besar yang diharapkan berfungsi sebagai penopang ketersediaan air alam sudah tak dapat diandalkan.

Lahan-lahan yang ada berubah menjadi perkebunan kepala sawit. Sungguh memprihatinkan. Dari 5 ribu hektare lahan kini hanya tersisa sekitar 2 ribu hektare saja. Luas hutan berfungsi dalam ketersediaan sumber air bersih ini sudah semakin sempit. Penjarahan terjadi.

Ironisnya, KBK sebagai kawasan hutan yang dilindungi dan dilarang dieksploitasi lantaran kekayaan hayati dan ekosistem di dalamnya justru digarap dan dikuasai oleh sejumlah oknum pejabat penting di Nunukan. Kayunya diambil untuk kepentingan bisnis pribadi dan alasan institusi. Lalu, diganti dengan perkebunan kelapa sawit.

“Hutan lindung sekarang keadaannya sangat kritis. Cadangan air memang sudah sulit ditemukan kalau tidak berharap dari embung saja,” kata Pendiri Generasi Hijau (GnH), komunitas pecinta lingkungan Nunukan, Asrul Samsul Masri kepada media ini beberapa waktu lalu.

Pria yang juga merupakan polisi hutan (polhut) pada Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini mengatakan, untuk mengimbangi minimnya sumber mata air dari alam, bersama rekan-rekan di komunitas senantiasa melakukan penanaman pohon di area KBK. Termasuk di sekitar embung milik PDAM Nunukan. “Intinya, kita harus berbuat jika ingin menghasilkan sesuatu. Apalagi untuk masa depan anak cucu kita,” ujarnya.

Direktur Utama (Dirut) PDAM Nunukan Masdi, S.E, tak menampik hal itu. Ia mengatakan, saat ini sumber air yang digunakan memang hanya dari sejumlah embung saja. Tidak menggunakan sumur bor dari mata air. Karena, embung dibangun memang khusus untuk menampung air hujan dan beberapa aliran sungai kecil yang ada. “Kalau bukan air hujan dari embung, sulit kita dapat air,” kata Masdi kepada media ini.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi air baku di Nunukan. Sebab, ketersediaan air bersih itu harusnya sejak dulu dipikirkan. Sebab, bukan untuk masyarakat saat ini saja. Tapi, untuk masa depan generasi yang akan datang. “Kalau bukan sekarang disiapkan, kapan lagi. Apakah kita ini tega melihat generasi mendatang sudah tidak bisa menikmati air bersih karena ulah oknum tertentu yang hanya memikirkan kepentingan pribadi mereka saja,” imbuhnya.

Andre Pratama mengaku jika persoalan air bersih juga dialami masyarakat Sebatik. Apa yang terjadi di Nunukan dan Tarakan, sama dengan yang terjadi di Sebatik. Kekurangan sumber air baku.

Menurutnya, terapan teknologi yang bisa direalisasikan tidak hanya desalinasi air laut. “Sehari lalu ada pertemuan soal Kota Baru Mandiri di Tanjung Selor, pada kesempatan itu ada Kepala Pengembangan Infrastruktur Wilayah Hadi Sucahyono, ada rencana pembangunan embung di Sungai Limau, 2020 harus selesai. Itu salah satu solusi air bersih di Sebatik. Diharapkan sebelum selesai, PDAM Nunukan menyiapkan infrastruktur, pipa sambungan rumah tangganya. Sehingga setelah selesai sudah bisa dinikmati airnya,” ujar pria yang mencalonkan diri sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan Daerah Pemilihan (Dapil) Sebatik ini.

“Untuk di Sebatik, saya pun merasakan air bersih cuma dari hujan. Cuma bisa ditampung di tangki. Kenapa tidak diaplikasikan dari dana desa, dengan membuat sumur resapan. Kala butuh air, ada yang bisa kita gunakan,” sambungnya.

Pria yang mencalonkan diri melalui Partai Bulan Bintang (PBB) ini mengaku mengatasi persoalan air bersih bisa dilakukan dengan beberapa cara. “Itu (sumur resapan) yang biasa orang ciptakan di daerah yang sulit air. Sumur resapan itu tetap digali, air disimpan di dalam. Ada juga aplikasi tandon tertutup. Sebagai sumber cadangan air. Kita memikirkan air hujan ini jangan terbuang. Bisa dipakai dalam waktu yang lama. Seperti embung, tapi aplikasinya per rukun tetangga,” imbuhnya.

Selama bertahun-tahun di Kabupaten Nunukan, Andre menilai jika persoalan dasar itu yang harus diperjuangkan, baik pemerintah maupun stakeholder terkait lainnya. “Cara ini juga sangat cocok untuk mengatasi berkurangnya kawasan resapan air hujan akibat pembangunan perumahan atau pembukaan lahan. Di Nunukan, Embung Sungai Bilal beberapa kali kering. Di Sebatik juga mengalami tantangan yang sama, air bersih. Se-Kaltara, Tanjung Selor, Malinau dan Tana Tidung yang bahan baku air bersihnya melimpah, dari sungai,” jelasnya. (*/zac/oya/lim) 

 


BACA JUGA

Sabtu, 20 Juli 2019 10:39

Ada yang Padam Dua Kali Sehari

TARAKAN – Mulai hari ini, Sabtu (20/7) PT PLN (Persero)…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:37

Kembali ke THM, Minibus Putih Ditembak

TARAKAN - Satreskrim Polres Tarakan melakukan penyelidikan perkara penembakan terhadap…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:36

HM yang Ancam Kapolri, Sempat Demo di Jakarta

TARAKAN – Diduga melayangkan ancaman melalui media sosial (medsos) kepada…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:31

Pemkot Dukung Penuh Pawai Pembangunan

TARAKAN - Rencana pelaksanaan pawai pembangunan oleh Radar Tarakan dan…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:28

Hibahkan 2 Hektare untuk Bangun BPOM

TARAKAN – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berencana mendirikan…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:25

Lokasi Sekolah Baru Belum Final

ADANYA penambahan dua sekolah menengah pertama (SMP) pada 2019-2020, disambut…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:03

Koperasi di Kaltara Terlilit Utang Lama

TARAKAN - Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:01

Akses Embung Bengawan Dibenahi Sementara

TARAKAN- Kondisi akses jalan lingkungan menuju Embung Bengawan, Kelurahan Juata…

Sabtu, 20 Juli 2019 09:55

Perbaikan hanya Janji Belaka

TARAKAN - Rusaknya jalan yang terdapat di Jalan Aki Balak…

Jumat, 19 Juli 2019 09:44

Ramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Pawai pembangunan akan dilaksanakan dalam 31 hari lagi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*