MANAGED BY:
SELASA
23 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 19 Maret 2019 10:44
Terkendala SDM, Banyak Warga Tak Membayar Retribusi
PABRIK KOMPOS: Sejumlah tenaga kerja yang mengolah bahan organik menjadi kompos di pabrik kompos Jalan Sei Bilal, Nunukan Barat. DLH UNTUK RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan belum maksimal melakukan pemungutan retribusi sampah di lingkungan masyarakat, lantaran terkendala Sumber Daya Manusia (SDM). Kendati begitu, target jumlah retribusi per tahun sebesar Rp 120 juta mampu dicapai. Dalam setahun terakhir, DLH sudah mendapatkan dana dari retribusi mencapai Rp 130 juta.

Kepala Bidang (Kabid) Persampahan DLH Nunukan Joned mengatakan, memang pihaknya punya kendala SDM pemungut retribusi yang masih minim. Saat ini, hanya berjumlah tujuh orang yang bertugas menjalankan aktivitas tersebut se-Kabupaten Nunukan. “Ya, kendalanya hanya dari orang yang melakukan pemungutan retribusi dari rumah ke rumah saja yang masih minim,” ungkap Joned.

Disamping itu, Joned mengatakan sejauh ini pihaknya terus melakukan peningkatan penanganan sampah. Itu dilakukan guna mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Dengan memilah sejumlah sampah yang masih bisa didaur ulang, tentu akan membuat volume sampah berkurang. Hal itu sudah dilakukan sejak 2017 lalu. “Jadi memang sebelum masuk ke TPA, sampah-sampah sudah kami pilah terlebih dahulu, ada yang masuk ke bank sampah, ada juga yang tidak. Hanya sampah yang tidak bisa didaur ulang saja yang masuk ke TPA,” tambah Joned.

Sehingga dari pemilahan tersebut, cara tersebut berhasil membuat sampah yang masuk ke TPA mengalami penurunan dalam setiap bulannya. Sampah yang dipilah pun bukan hanya sampah organik namun juga anorganik. Sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos, sementara anorganik barang yang memungkinkan masih bisa didaur ulang seperti seperti plastik juga kertas.

Untuk produksi kompos sendiri, DLH memproduksi 2 sampai 3 ton setiap kali produksi. Kompos dijual Rp 20 ribu per-20 kilogram. Pihaknya memproduksi jika bahan pembuat tersedia atas laporan masyarakat. Hal ini juga membantu sejumlah petani yang membutuhkan. “Jadi langsung dijual ke masyarakat Nunukan. Sejauh ini produksi masih berlangsung. Kami berharap nantinya pabrik kompos bisa dikembangkan,” harap Joned. (raw/ash)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 22 Juli 2019 13:16

Bupati Suarakan Penundaan PP 34/2019

JAKARTA - Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid SE MM…

Senin, 22 Juli 2019 10:25

Butuh Waktu Panjang Selesaikan Persoalan PLB

NUNUKAN – Kondisi perdagangan lintas batas (PLB) masih menjadi perbincangan…

Senin, 22 Juli 2019 10:23

Ditinggal Sarapan, Pondok Kecil Ludes

NUNUKAN – Pondok kecil berukuran 3x5 meter di Jalan Sianak…

Senin, 22 Juli 2019 10:22

Demokrat Prioritas Kader Sendiri

MESKI tahapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 di Kabupaten Nunukan…

Senin, 22 Juli 2019 09:07

Lagi, Puluhan WNI Dipulangkan

NUNUKAN – Baru berselang sepekan setelah mendeportasi ratusan Pekerja Migran…

Senin, 22 Juli 2019 09:04

Personel Satgas Pamtas Jadi Guru ‘Dadakan’

NUNUKAN – Sejumlah personel Satuan Tugas Pengaman Perbatasan (Satgas Pamtas)…

Senin, 22 Juli 2019 09:02

Temukan Pecandu, Harus Berani Melapor

NUNUKAN – Ratusan pelajar hampir di seluruh Sekolah Menengah Atas…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:10

Laura Diprediksi Bersaing dengan Basri

NUNUKAN – Bupati Nunukan, Hj Asmin Laura telah menyampaikan kesiapannya…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:08

Ingatkan Jangan Hanya ‘Kejar Setoran’

NUNUKAN – Pengemudi mobil pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa…

Sabtu, 20 Juli 2019 10:07

Komplotan Pencuri Rumah Kosong Dibekuk

NUNUKAN – Tiga orang pelaku komplotan pencurian berencana yang sudah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*