MANAGED BY:
MINGGU
16 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 12 Maret 2019 15:27
Hujan, 10 Ribu Rumah Masih Terganggu
MASIH KERING: Kondisi Embung Binalatung setelah diguyur hujan, Senin (11/3). AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir belum berdampak Embung Binalatung di Kampung Satu yang mengering sejak awal Maret. Air di embung tersebut pun belum dapat dimanfaatkan.

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan Said Usman Assegaf mengungkapkan jika hujan beberapa hari terakhir tak menaikkan debit air di Embung Binalatung. Pompa yang menyedot air pun tidak dapat bekerja.

"Belum bisa diambil. Untuk Embung Persemaian itu tidak ada masalah. Perkiraan masih perlu hujan lebat satu minggu, baru air embung bisa tersedot pompa," ungkap Said Usman Assegaf, kemarin (11/3).

Meski demikian, ia menerangkan masih terdapat distribusi air pada Embung Binalatung. Alirannya berasal dari sungai kecil di sekitar embung. "Itu dari 140 liter per detik. Sekarang yang beroperasi cuma 40 liter per detik itu pun pompanya ngambil air dari sungai di samping embung saja," tuturnya.

Mengenai adanya pemadaman yang berlangsung kurun waktu satu minggu lebih, ia membenarkan informasi tersebut. Dampak kekeringan pada Embung Binalatung membuat aliran air pada beberapa kawasan tidak dapat didistribusikan.

"Iya benar. Memang ada beberapa daerah yang memang tidak bisa dialirkan air. Jadi kalau sudah bicara 140 liter per detik artinya untuk 14 ribu rumah. Itu sudah turun jadi 40 liter per detik, berarti itu sudah hanya mengaliri 4 ribu rumah saja. Karena kapasitas itu kan menentukan air yang keluar. Kawasan yang airnya mati itu Kampung Empat, Kampung Enam, Kampung Satu, Mamburungan, sebagian Ladang, Kelurahan Pamusian itu kan ada yang jalan ada yang tidak," terangnya.

Dikatakan, meski dapat melakukan pengalihan saluran, namun terbatasnya bahan baku air serta peralatan instalasi yang dimiliki, membuat pihaknya sulit melakukan pengalihan tersebut.

"Karena jalur pipanya berbeda-beda, kita belum bisa mengatur booster-booster karena kami masih kurang juga. Kemudian district meter area (DMA) untuk mengatur zoning, kami juga belum bisa diatur. Ada yang alirannya kencang ada yang pelan ada yang tidak bisa mengalir. Masih banyak peralatan yang kita butuhkan untuk mengatur aliran air. Kita kan masih terbatas soal itu," keluhnya.

Ia meluruskan, terkait belum berdampaknya Embung Binalatung Kampung Satu dengan adanya hujan, menurutnya disebabkan adanya perbedaan cuaca pada setiap wilayah. Sehingga turunnya hujan tidak dapat menjamin dapat dirasakan seluruh kawasan di Kota Tarakan.

"Jadi begini, hujan ini kan turunnya tidak merata di semua wilayah, meskipun misalnya di Markoni hujan, di Kampung Satu belum tentu turun hujan. Selain itu walaupun di Markoni turun hujan lebat intensitas tinggi, tapi di Kampung Satu bisa saja hanya terjadi hujan gerimis yang tidak terlalu berpengaruh terhadap embung. Keringnya air di Embung Kampung Satu juga itu berpengaruh terhadap instalasi Kampung Bugis, Kampung Bugis ini kan kritis juga, karena sudah tidak bisa dipasok dari Kampung Satu," jelasnya.

Sedangkan Sungai Kampung Bugis berasal dari limbah rumah tangga, ia membenarkan hal tersebut. Mulai mengecilnya aliran air pada Sungai Kampung Bugis, serta posisinya yang berdekatan langsung dengan permukiman warga. Sehingga air limbah rumah tangga di sekitar sungai ikut tersedot dan juga digunakan sebagai bahan baku.

"Betul jadi Sungai Kampung Bugis kan berada di pinggir permukiman warga, nah kita tidak punya alternatif lain. Karena kita tidak bisa memisahkan itu. Tapi kan ada laboraturium, air ini kan diuji Labkesda. Standarnya kan ada, jadi walaupun air sungai k