MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 12 Maret 2019 15:27
Hujan, 10 Ribu Rumah Masih Terganggu
MASIH KERING: Kondisi Embung Binalatung setelah diguyur hujan, Senin (11/3). AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir belum berdampak Embung Binalatung di Kampung Satu yang mengering sejak awal Maret. Air di embung tersebut pun belum dapat dimanfaatkan.

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan Said Usman Assegaf mengungkapkan jika hujan beberapa hari terakhir tak menaikkan debit air di Embung Binalatung. Pompa yang menyedot air pun tidak dapat bekerja.

"Belum bisa diambil. Untuk Embung Persemaian itu tidak ada masalah. Perkiraan masih perlu hujan lebat satu minggu, baru air embung bisa tersedot pompa," ungkap Said Usman Assegaf, kemarin (11/3).

Meski demikian, ia menerangkan masih terdapat distribusi air pada Embung Binalatung. Alirannya berasal dari sungai kecil di sekitar embung. "Itu dari 140 liter per detik. Sekarang yang beroperasi cuma 40 liter per detik itu pun pompanya ngambil air dari sungai di samping embung saja," tuturnya.

Mengenai adanya pemadaman yang berlangsung kurun waktu satu minggu lebih, ia membenarkan informasi tersebut. Dampak kekeringan pada Embung Binalatung membuat aliran air pada beberapa kawasan tidak dapat didistribusikan.

"Iya benar. Memang ada beberapa daerah yang memang tidak bisa dialirkan air. Jadi kalau sudah bicara 140 liter per detik artinya untuk 14 ribu rumah. Itu sudah turun jadi 40 liter per detik, berarti itu sudah hanya mengaliri 4 ribu rumah saja. Karena kapasitas itu kan menentukan air yang keluar. Kawasan yang airnya mati itu Kampung Empat, Kampung Enam, Kampung Satu, Mamburungan, sebagian Ladang, Kelurahan Pamusian itu kan ada yang jalan ada yang tidak," terangnya.

Dikatakan, meski dapat melakukan pengalihan saluran, namun terbatasnya bahan baku air serta peralatan instalasi yang dimiliki, membuat pihaknya sulit melakukan pengalihan tersebut.

"Karena jalur pipanya berbeda-beda, kita belum bisa mengatur booster-booster karena kami masih kurang juga. Kemudian district meter area (DMA) untuk mengatur zoning, kami juga belum bisa diatur. Ada yang alirannya kencang ada yang pelan ada yang tidak bisa mengalir. Masih banyak peralatan yang kita butuhkan untuk mengatur aliran air. Kita kan masih terbatas soal itu," keluhnya.

Ia meluruskan, terkait belum berdampaknya Embung Binalatung Kampung Satu dengan adanya hujan, menurutnya disebabkan adanya perbedaan cuaca pada setiap wilayah. Sehingga turunnya hujan tidak dapat menjamin dapat dirasakan seluruh kawasan di Kota Tarakan.

"Jadi begini, hujan ini kan turunnya tidak merata di semua wilayah, meskipun misalnya di Markoni hujan, di Kampung Satu belum tentu turun hujan. Selain itu walaupun di Markoni turun hujan lebat intensitas tinggi, tapi di Kampung Satu bisa saja hanya terjadi hujan gerimis yang tidak terlalu berpengaruh terhadap embung. Keringnya air di Embung Kampung Satu juga itu berpengaruh terhadap instalasi Kampung Bugis, Kampung Bugis ini kan kritis juga, karena sudah tidak bisa dipasok dari Kampung Satu," jelasnya.

Sedangkan Sungai Kampung Bugis berasal dari limbah rumah tangga, ia membenarkan hal tersebut. Mulai mengecilnya aliran air pada Sungai Kampung Bugis, serta posisinya yang berdekatan langsung dengan permukiman warga. Sehingga air limbah rumah tangga di sekitar sungai ikut tersedot dan juga digunakan sebagai bahan baku.

"Betul jadi Sungai Kampung Bugis kan berada di pinggir permukiman warga, nah kita tidak punya alternatif lain. Karena kita tidak bisa memisahkan itu. Tapi kan ada laboraturium, air ini kan diuji Labkesda. Standarnya kan ada, jadi walaupun air sungai kalau tidak menggunakan standar juga bisa membawa penyakit. Makanya air itu diproses di laboratorium untuk disterilkan," imbuhnya.

 

BMKG PREDIKSI HUJAN PEKAN INI

Apa yang terjadi di Kalimantan Utara (Kaltara) khususnya Tarakan adalah musim pancaroba yaitu masa peralihan dari kemarau memasuki musim penghujan. Hal tersebut diungkapkan Prakirawan Cuaca Badan Mitrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Wiliam Sinaga.

Hujan yang menguyur kota Tarakan pada Senin pagi hingga siang menandakan kemarau panjang telah berakhir.

Ia menjelaskan saat ini hujan yang mengguyur Kota Tarakan dalam kategori ringan atau sedang. Itu melihat pembentukan awan hujan yang diprediksi disusul hujan dalam beberapa hari ke depan.

"Jadi sejak malam Kota Tarakan diguyur hujan hingga menjelang siang. Untuk Kaltara cuaca memang hujan ringan. Itu karena pola angin di wilayah Kaltara ada belokan, jadi massa uap air mengumpul dan membentuk awan hujan. Saat ini kategori hujan sedang. Kalau dari perkembangannya hujan sedang ini bisa memiliki durasi sampai 6 jam dalam sekali hujan. Untuk 1 minggu ke depan potensi hujan masih ada," ungkapnya, Senin (11/3).

Saat ini ketinggian gelombang berada pada 0,25 hingga 1 meter. Karena adanya potensi hujan dalam beberapa hari terakhir sehingga BMKG memprediksikan ketinggian gelombang air laut dalam 1 minggu ke depan berapa pada kisaran tersebut.

"Tinggi gelombang untuk wilayah Kaltara itu 0,25 sampai 1 meter, besok juga diprediksi sama. Masih aman untuk aktivitas di laut. Tapi tetap harus waspada. Anginnya berkisar 10 sampai 15 knot. Untuk musim di Indonesia masuk musim pancaroba atau musim peralihan kemarau dan penghujan," jelasnya.

Turunnya hujan juga mengeliminasi hotspot yang terlihat di beberapa wilayah satu minggu lalu. "Dari pantauan saat ini untuk wilayah Kaltara sudah tidak ada untuk potensinya juga kecil karena hotspot itu muncul ketika wilayah itu kering seperti minggu yang lalu jadi potensi," ujarnya.

Walau demikian, ia menerangkan jika potensi angin kencang dapat terjadi, sehingga imbauan kepada masyarakat agar tetap membawa mantel dan jaket saat bepergian. Selain itu ia mengimbau kepada nelayan agar tetap waspada saat beraktivitas karena kenaikan gelombang air laut dapat berubah seketika. "Jadi seminggu ke depan Tarakan ini karakteristiknya hujan lokal. Kadang tidak merata potensi angin kencang juga ada. Jadi untuk masyarakat tetap waspada khususnya masyarakat yang beraktivitas di laut," imbuhnya. (*/zac/lim)

 

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 20 April 2019 11:00

Memperingati Sekaligus Menaikkan Rasa Syukur

TARAKAN – Perayaan Jumat Agung dalam memperingati kematian Tuhan Yesus…

Sabtu, 20 April 2019 10:57

Rencana UNBK pada Tingkatan SD

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan, berencana menerapkan sistem Ujian…

Sabtu, 20 April 2019 10:35

Pergi Mandi, Dua HP Raib

TARAKAN – Kelalaian dari masyarakat akan menjadi kesempatan bagi pelaku…

Sabtu, 20 April 2019 10:33

Berharap Alokasi Anggaran Terealisasi

TARAKAN – Menikmati jalan mulus belum sepenuhnya dirasakan warga RT…

Sabtu, 20 April 2019 10:08

2020, Optimistis Layani e-ID

TARAKAN - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tarakan, optimistis…

Sabtu, 20 April 2019 10:04

UNBK dan USBN Dilaksanakan Bersamaan

TARAKAN - Sebanyak 30 sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan…

Sabtu, 20 April 2019 09:53

Warga Kerap Terganggu Aroma Sampah

TARAKAN - Keberadaan depo sampah yang terletak di area strategis…

Kamis, 18 April 2019 09:49

Di Kaltara, Jokowi-Amin Unggul 20-an Persen

Hasil sejumlah quick count nasional mengunggulkan pasangan calon presiden dan…

Kamis, 18 April 2019 09:47

Ratusan Surat Suara Tertukar

TERTUKARNYA ratusan surat suara terjadi di beberapa tempat pemungutan suara…

Kamis, 18 April 2019 09:46

Idolakan Joko Widodo, Ada yang Prediksi Prabowo Menang

Antusias embah-embah di panti jompo, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Panti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*