MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 12 Maret 2019 15:20
Tak Ada Bahan Baku, Diganti Ikan dan Kapah

Nasib Penjual Kerang Dara di Tengah Gelombang Besar

NADIRAH: Seorang pengepul sekaligus penjual tudai di Pasar Tenguyun, baru mendapatkan pasokan tudai setelah dua bulan kosong. MEGA WULANDARY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Di salah satu sudut wilayah Tarakan Timur, terdapat permukiman warga RT 17, Kelurahan Lingkas Ujung, yang biasanya disebut Kampung Tudai. Ya, memasuki Gang Tudai, sepanjang jalan dipenuhi cangkang dara, atau orang lokal menyebutnya tudai. Konon cangkang tudai ini dijadikan bahan timbunan rumah oleh warga setempat.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

DARI namanya saja otomatis perkampungan ini penghasil komoditas tudai atau cangkang dara di Tarakan. Tak heran, memasuki Kampung Tudai ini, dihiasi tumpukan cangkang tudai. Tak ada pengolahan khusus limbah tudai ini. Biasanya hanya dikumpulkan oleh anak-anak atau pelajar yang mendapat tugas sekolah, dibuat kerajinan tangan.

Namun sangat disayangkan, memasuki 2019 ini tudai sulit didapatkan. Maklum kondisi alam tak bersahabat. Besarnya gelombang menghambat haluan perahu. Nadirah salah seorang ibu yang kesehariannya menjual tudai. Baik di rumahnya maupun di pasar tradisional Boom Panjang Tarakan. Wanita berusia 47 tahun ini mengaku hampir dua bulan stok tudai kosong.

“Bukan tidak ada, tapi kurang karena ombak besar. Jadi biar mau melaut, tidak bisa. Ada kemenakan yang melaut,” jelasnya.

Bila cuaca normal, biasanya dapat 20 karung sekali melaut. Berbeda pula dengan akhir-akhir ini, hanya dua atau tiga karung itu sekitar 60 kilogram. Untuk mengumpulkan tudai, biasanya melaut satu hingga dua malam. Itu pun tak boleh lewat dari dua malam. Karena kondisi tudai yang mudah rusak.

“Jadi paling lama itu dua malam, tidak bisa tiga malam karena busuk. Jadi yang dibawa ke pasar itu yang baru,” katanya.

Sebenarnya peristiwa ini dialami setiap tahunnya. Biasanya kembali normal setelah tiga hingga empat bulan. Namun yang patut disyukuri, tahun ini kapah justru berlimpah. Konon tahun-tahun sebelumnya, bila gelombang besar, tudai tak dapat, kapah pun tidak ada.

“Ini mulai normal, baru-baru lagi ada tudai setelah dua bulan kosong. Mungkin bulan empat sudah kembali bagus. Sekarang kapah banyak, itu gantinya. Alhamdulillah ada gantinya, karena tahun lalu tidak ada kapah, tidak ada tudai juga,” bebernya.

Ibu empat anak ini sudah mulai berjualan tudai sejak sembilan tahun silam. Stok tudai ini tentu memengaruhi pula harganya. Untuk tudai yang ukuran kecil dikenakan Rp 10 ribu per kilogram. Sementara ukuran besar seharga Rp 15 ribu per kilogram.

“Itu yang masih ada cangkangnya. Kalau normalnya atau banyak tudai, yang kecil Rp 5 ribu per kilogram, dan yang besar Rp 10 ribu per kilogram. Kalau kapah Rp 7 ribu per kilogram,” jelasnya.

Di manakah lokasi pencarian kerang dara ini? Biasanya nelayan bermuara di perairan Tias, Tudang dan sekitarnya. Konon dari hasil penjualan tudai ini untuk menghidupi sekaligus menyekolahkan empat anaknya hingga selesai. Tak hanya seorang ibu, tetapi juga menjadi kepala rumah tangga.

“Dari 2010 menjual, ya dari penjualan ini saja saya dapat sekolahkan anak-anak. Ini tinggal yang bungsu sekolah. Karena suami juga sudah meninggal. Sekarang ikan pun kujual, karena tidak ada tudai,” katanya.

Jika tudai melimpah, biasanya penghasilan yang didapatkannya sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari. Secara tidak langsung, ia pun membuka lapangan pekerjaan. Karena ia memperkerjakan setidaknya dua atau tiga orang untuk mengupas tudai. “Kalau satu karung itu diupah Rp 15 ribu, jadi kita kasih kerja orang juga,” tutupnya. (***/lim)

 


BACA JUGA

Sabtu, 20 April 2019 11:00

Memperingati Sekaligus Menaikkan Rasa Syukur

TARAKAN – Perayaan Jumat Agung dalam memperingati kematian Tuhan Yesus…

Sabtu, 20 April 2019 10:57

Rencana UNBK pada Tingkatan SD

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan, berencana menerapkan sistem Ujian…

Sabtu, 20 April 2019 10:35

Pergi Mandi, Dua HP Raib

TARAKAN – Kelalaian dari masyarakat akan menjadi kesempatan bagi pelaku…

Sabtu, 20 April 2019 10:33

Berharap Alokasi Anggaran Terealisasi

TARAKAN – Menikmati jalan mulus belum sepenuhnya dirasakan warga RT…

Sabtu, 20 April 2019 10:08

2020, Optimistis Layani e-ID

TARAKAN - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tarakan, optimistis…

Sabtu, 20 April 2019 10:04

UNBK dan USBN Dilaksanakan Bersamaan

TARAKAN - Sebanyak 30 sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan…

Sabtu, 20 April 2019 09:53

Warga Kerap Terganggu Aroma Sampah

TARAKAN - Keberadaan depo sampah yang terletak di area strategis…

Kamis, 18 April 2019 09:49

Di Kaltara, Jokowi-Amin Unggul 20-an Persen

Hasil sejumlah quick count nasional mengunggulkan pasangan calon presiden dan…

Kamis, 18 April 2019 09:47

Ratusan Surat Suara Tertukar

TERTUKARNYA ratusan surat suara terjadi di beberapa tempat pemungutan suara…

Kamis, 18 April 2019 09:46

Idolakan Joko Widodo, Ada yang Prediksi Prabowo Menang

Antusias embah-embah di panti jompo, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Panti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*