MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 11 Maret 2019 13:39
Hutan dan Lahan Jadi Arang

Duduki Peringkat Ketiga Nasional

HANGUS: Petugas pemadam kebakaran saat berupaya memadamkan api kebakaran hutan lahan di kabupaten/kota yang ada di Kaltara. RADAR KALTARA

PROKAL.CO, HUTAN dan lahan di Kalimantan Utara (Kaltara) masih terus diintai si jago merah. Bahkan sempat membara di awal tahun ini dalam dua bulan terakhir akibat cuaca yang panas dan kering ditambah ulah sejumlah oknum pembakar lahan yang membuat sejumlah wilayah mengalami hujan abu.

Dalam dua bulan itu, sedikitnya telah terjadi 12 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi ke-34 ini. Dari 12 kasus tersebut, yang paling banyak terjadi di Kabupaten Nunukan dengan jumlah 10 titik. Kemudian disusul Bulungan dan Tana Tidung yang masing-masing satu titik. Atas kejadian ini, Kaltara menjadi perhatian serius pemerintah mengenai kasus karhutla.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara, Suwardi mengatakan, berbagai upaya sebagai tindak lanjut penanganan karhutla ini masih terus dilakukan. Salah satunya dengan cara memantau titik panas (hot spot).

“Kita juga melakukan koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, pemadam kebakaran (PMK), Satpol PP, hingga TNI/Polri,” ujar Suwardi kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor belum lama ini.

Menurutnya, karhutla di provinsi termuda Indonesia ini harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Namun, BPBD Kaltara juga menegaskan sudah mempersiapkan diri untuk menyikapi jika terjadinya hal terburuk, seperti karhutla.

“Pastinya, pada kondisi seperti ini, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas pembakaran. Karena jika tidak, maka akan berakibat fatal,” tegasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Kesiapsiagaan BPBD Kaltara, Zainudin menambahkan, berdasarkan data yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa karhutla di Kaltara menduduki peringkat tiga nasional.

Sedangkan, peringkat pertama adalah Riau, lalu disusul Kalimantan Timur (Kaltim) di peringkat kedua. Disebutkannya, kondisi yang terjadi saat ini lebih parah dari tahun sebelumnya. Karena pada tahun lalu, Kaltara berada di peringkat 10 nasional mengenai karhutla, dan karhutla sepanjang tahun 2018 hanya terjadi di lima titik.

Kondisi cuaca di provinsi ke-34 ini memang tidak dapat ditebak. Makanya jika saat ini dikatakan musim kemarau, menurutnya tidak juga. Tapi karena gejala fenomena el nino, maka kekeringan atau tidak hujan sekitar tiga pekan, terbilang sudah cukup lama. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu terjadinya karhutla.

“Ini (karhutla, Red) harus kita antisipasi. Jangan sampai terjadi karhutla yang skalanya lebih besar lagi dari yang sudah terjadi beberapa waktu lalu,” tuturnya.

Adapun pemicu karhutla yang terjadi di Bulungan dan Nunukan, itu sama. Yakni pembakaran lahan masyarakat. Dimungkinkan kebakaran itu terjadi akibat dari ketidakhati-hatian masyarakat dalam melakukan aktivitas pembakaran. “Berbeda dengan di Tarakan. Di daerah ini karena ada orang iseng melakukan pembakaran. Ini juga perlu diperhatikan, jika ditemukan harus ditindak sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

Sekretaris Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, Maryanto mengatakan, untuk memantau dan menjaga kondisi hutan di Kaltara, pihaknya menyebarkan 25 polisi hutan (polhut) di lima Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (PKH).

Masing-masing kabupaten/kota memiliki satu UPT PKH. Namun, untuk jumlah sebarannya tidak merata. Maryanto menyebutkan, daerah yang paling sedikit polhut-nya adalah Bulungan dengan jumlah satu orang. “Tapi, peralatannya masih ada. Beda dengan Tana Tidung yang hingga kini sama sekali tidak ada peralatan untuk pemadaman jika terjadi kebakaran,” ungkapnya.

Keberadaan polhut ini untuk mengawasi masyarakat yang merambah hutan. Jika ditemukan, maka akan ditindaklanjuti sesuai ketentuannya, karena masyarakat yang merambah hutan identik dengan pembakaran supaya prosesnya bisa lebih cepat.

“Ini yang harus disikapi oleh polhut. Tapi, lagi-lagi keluhan mereka itu mengenai kekurangan sarpras (sarana dan prasaranan) di UPT PKH,” sebutnya.

Sementara, pihaknya tidak diperbolehkan melakukan pengadaan peralatan pemadam kebakaran, karena dalam surat keputusan (SK) Kementerian Kehutanan, Kaltara ditetapkan sebagai daerah tidak rawan kebakaran.

Melihat kondisi Kaltara menduduki urutan ketiga nasional mengenai karhutla, maka pihaknya bersurat ke Kementerian Kehutanan untuk meminta dilakukan revisi SK penetapan daerah rawan kebakaran tersebut.

“Paling tidak dengan ditetapkan sebagai daerah rawan kebakaran, kita bisa melakukan pengadaan peralatan untuk UPT PKH itu. Karena, intensitas karhutla di Kaltara ini meningkat,” bebernya.

Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan berbagai upaya lain untuk penjagaan hutan di Kaltara ini, yakni dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk menyikapi masalah kebakaran hutan supaya itu tidak ada terjadi.

“Tapi, kalau sudah berbicara masalah karhutla yang terjadi, itu sudah tim gabungan yang turun melakukan penanganan. Semoga kejadian karhutla di Kaltara tidak semakin parah lagi,” tuturnya.

28 Kasus Karhutla di Tarakan

Berdasarkan data Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan PMK) Tarakan, tercatat ada 28 kejadian kebakaran lahan dan hutan yang terjadi mulai Januari hingga 7 Maret tahun ini.

Hal tersebut diungkapkan Staf Analisis Kebakaran Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko bahwa banyaknya kejadian kebakaran selama tiga bulan ini disebabkan dua faktor yakni manusia dan alam. “Kondisi Tarakan yang kering karena tidak turun hujan, membuat lahan mudah terbakar, apalagi bila ada pemicunya dari alam seperti di belakang STIE yang terbakar akibat batu bara,” bebernya.

Sementara pemicu api dari manusia disebabkan masyarakat yang sengaja membakar lahan ataupun hutan untuk digunakan berkebun. “Mayoritas dari 28 kejadian ini kebanyakan disebabkan masyarakat yang sengaja membakarnya untuk membuka lahan perkebunan baru,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Satpol PP dan PMK Tarakan, kejadian kebakaran hutan dan lahan terbanyak terjadi di Kecamatan Tarakan Utara yakni 13 kejadian. “Paling banyak Kecamatan Tarakan Utara 13 kejadian, Kecamatan Tarakan Timur 6 kejadian, Kecamatan Tarakan Barat 3 kejadian dan Kecamatan Tarakan Tengah 6 kejadian,” ujarnya.

Sejauh ini kendala yang dihadapi tidak lain jarak dan waktu tempuh ke lokasi kebakaran hutan dan lahan, sehingga hal ini menjadi penghambat Satpol PP dan PMK Tarakan dalam upaya memadamkan api.

“Selain jarak dan waktu tempuh, lokasi yang sulit dijangkau juga menjadi kendala lain yang harus kami hadapi, seperti kebakaran hutan yang terjadi di belakang STIE, kita sempat tidak bisa menuju titik api karena tidak adanya akses masuk kendaraan pemadam ke lokasi,” bebernya.

Terkait hal ini pihaknya juga sudah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan membakar, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi timbulkan kebakaran  lahan maupun hutan. “Himbauan sudah sering kita sampaikan ke masyarakat melalui Bidang Pencegahan Satpol PP dan PMK Tarakan, saya harapkan masyarakat mengerti dan memahami kondisi saat ini,” pungkasnya.

30 Hektare Lahan Terbakar di Nunukan

Periode Januari hingga Februari 2019, luas lahan yang terbakar diduga akibat ulah manusia mencapai 30 hektare (ha) di Kabupaten Nunukan. Bahkan hingga awal Maret, jumlahnya terus bertambah. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, saat ini luas lahan yang terbakar lebih dari 36 hektare.

Itu diungkapkan Kepala BPBD Nunukan, Rahmadji kepada media ini. Data tersebut ia katakan masih data sementara yang sudah terkumpul di BPBD Nunukan. Masih ada jumlah luas lahan yang terbakar, khususnya di daerah Kecamatan Sebatik, yang belum didata.

“Ya, data terakhir yang masuk sudah mencapai 36 hektare hingga Maret ini. Maish kurang yang dari daerah Sebatik, karena datanya belum masuk,” ungkap Rahmadji ketika dikonfirmasi.

Dibandingkan tahun 2018 lalu dengan periode yang sama, angka kebakaran lahan meningkat drastis. Kebakaran lahan hanya terjadi 3 kali di periode yang sama. Bahkan dalam setahun hanya terjadi 11 kali. Luas lahan yang terbakar paling besar juga hanya 5 hektare. (iwk/jnr/raw/eza)

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 20 April 2019 10:54

Tablo Jalan Salib, Mengenang Penebus Dosa

TANJUNG SELOR – Perayaan Jumat Agung umat Katolik di Gereja…

Sabtu, 20 April 2019 10:51

Operasi Pasar Disiapkan Jelang Ramadan

TANJUNG SELOR – Mengantisipasi terjadinya lonjakan harga komoditas pokok, seperti…

Sabtu, 20 April 2019 10:48

Pengamanan Pengembalian Logistik Tetap Berlapis

TANJUNG SELOR – Menjaga agar seluruh logistik tidak rusak pada…

Sabtu, 20 April 2019 10:45

Jokowi-Amin Dominasi Suara di Bulungan-KTT

TANJUNG SELOR – Berdasarkan dari pantauan Radar Kaltara, pasangan calon…

Sabtu, 20 April 2019 10:43

Geografis Sulit, Cakupan Pelayanan PDAM Rendah

TANJUNG SELOR – Secara geografis Kabupaten Bulungan masih relatif sulit…

Sabtu, 20 April 2019 10:01

Dari Pakaian Adat Hingga Seragam Pramuka Lengkap Hiasi TPS

Untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke tempat pemungutan suara (TPS)…

Sabtu, 20 April 2019 10:00

Eksikusi Mati Tunggu Putusan PK

TANJUNG SELOR - Sejak di vonis hukuman mati oleh Mahkamah…

Sabtu, 20 April 2019 09:58

Sarana Transportasi Ditingkatkan

TANJUNG SELOR – Pada tahun 2018 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan…

Kamis, 18 April 2019 09:45

Salah Gunakan C6, Tiga Orang Diamankan

TANJUNG SELOR – Panitia Pengawas Pemilihan Kecamatan (Panwascam) Tanjung Selor…

Kamis, 18 April 2019 09:42

Surat Suara di Rutan Dimasukkan di Kantong Plastik

TANJUNG SELOR - Penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Polres Bulungan antusias…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*