MANAGED BY:
SENIN
24 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 09 Maret 2019 12:36
“Beliau Pembimbing, Guru, Loyal, seperti Keluarga”

Sosok Panus Agung Sakai di Mata RSUD Tarakan

PUTRA TERBAIK RSUD: Panus Agung Sakai, S.ST, semasa hidup. DOKUMENTASI RSUD TARAKAN

PROKAL.CO, Kematian bisa menghampiri siapa saja dan di mana saja. Bagaimana pun kondisi kita. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kematian menghampiri. Kematian juga meninggalkan duka. Di tengah keluarga, pun bagi mereka pernah dekat. Kepergian Panus Agung Sakai, S.ST, meninggalkan duka bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.

 

AGUS DIAN ZAKARIA


MENDIANG Panus Agung Sakai, pensiun setahun lalu dari pekerjaannya sebagai perawat. Sosok pria yang dikenal pekerja keras tersebut menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Ahmad Berahim, Tideng Pale pada Kamis (7/3) sekira pukul 17.10 WITA.

Kepergian mendiang Panus tidak hanya membawa duka bagi keluarga. Hal yang sama juga dirasakan rekan-rekan kerja saat beliau masih aktif di RSUD Tarakan. Salah satu rekan kerja yang turut kehilangan adalah Direktur RSUD Tarakan dr. Muhammad Hasbi Hasyim, Sp.PD.

Rekan-rekan kerja tidak menyangka Panus lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Menurut Hasbi, tiga bulan lalu ia bertemu dengan mendiang dalam kondisi sangat sehat. “Sehari sebelum meninggal, beliau kecelakaan saat perjalanan dari Malinau menuju Tanjung Selor. Posisinya itu di jalan trans wilayah Tana Tidung. Saya komunikasi secara normal dengan beliau sekitar 3 bulan lalu. Tidak ada tanda-tanda kalau mau pergi, beliau kelihatan sehat walafiat,” terang Hasbi, kemarin (8/3).

Firasat lain dialami oleh rekan-rekan kerja lainnya beberapa minggu sebelum kecelakaan terjadi. “Teman teman di rumah sakit cerita, beberapa minggu lalu itu beliau datang ke rumah sakit berkeliling menemui semua teman-teman. Dia tidak minta maaf, cuma tumben saja berkeliling menyapa teman satu-satu. Itulah yang teman-teman pikir, apa kemarin ini tanda dia mau pamit?” ujar Hasbi kepada Radar Tarakan.

Semasa hidup dan berkarir, Panus dikenal sebagai sosok pria pekerja keras dan memiliki kepribadian yang santun. Itulah yang paling melekat di ingatan rekan-rekan kerja di tempat mendiang mengabdi.

Selain itu, juga dikenal sebagai salah satu senior yang jiwa pembimbing. Selama pensiun, Panus masih sangat peduli dengan RSUD Tarakan. Kerap berkunjung, entah memberikan masukan dan saran kepada rekan-rekan yang masih aktif berdinas. “Beliau adalah sosok pekerja keras dan mudah berkomunikasi dengan siapa pun. Beliau sudah pensiun tahun lalu. Jabatan terakhir beliau Kepala Bidang Keperawatan. Saya mengenal beliau sudah sejak lama. Ketika saya baru bertugas di Tarakan sekitar tahun 2003. Saya dapat banyak pelajaran dari beliau,” ucapnya.

Dikisahkan Hasbi, kala ia ditempatkan di bidang keperawatan di RSUD. Awalnya merasa bingung. Beruntung mendiang Panus memberikan bimbingan sehingga Hasbi mampu mengerjakan tugas. “Dulu saya pernah ditempatkan di bidang keperawatan saat baru berdinas. Jadi memang saya tidak terlalu paham bidang perawat, nah beliaulah yang menjadi salah satu guru saya waktu itu. Saya berterima kasih kepada beliau yang memberikan saya bimbingan. Kalau tidak ada beliau siapa lagi yang dapat membimbing saya waktu itu. Itulah hal yang paling berkesan saya dari beliau,” ungkap Hasbi.

Hal yang paling membuat sosok Panus sulit dilupakan adalah loyalitas terhadap sesama. Meskipun tidak hidup dalam kondisi mewah, namun selalu dapat membantu sesama dalam berbagai situasi. Dalam pergaulan di luar pekerjaan, karakter beliau tidak berubah.

 

“Sama saja. Mudah bergaul dan tingkat kepeduliannya sangat tinggi. Jadi kalau ada saudara-saudara kita yang bertugas dari pedalaman, dialah orang yang memberikan fasilitas di sini. Beliau orangnya sangat loyal kepada siapa saja. Itu alasan kami menganggap beliau bukan hanya rekan kerja, tapi seperti keluarga kami sendiri,” imbuhnya.

Kematian beliau tidak hanya menyisakan pilu bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun juga kepergian beliau membuat RSUD Tarakan merasa kehilangan salah satu putra terbaiknya.

“Jadi tentu saja, berita kepergian beliau membuat kami sangat merasa kehilangan, walaupun beliau sudah pensiun. Karena beliau sudah menganggap kami semua seperti keluarganya sendiri. Ada yang dianggap sebagai anaknya, adiknya maupun saudara sebayanya,” kata Hasbi. (***/lim)

 


BACA JUGA

Senin, 24 Juni 2019 12:10

Tekankan Pentingnya Pengamanan Wilayah Perbatasan

BANGKOK – Ini menjadi kebanggaan bagi Kalimantan Utara (Kaltara). Gubernur…

Senin, 24 Juni 2019 12:09

Generasi Milenial Dominan Jadi Korban Kecelakaan

TARAKAN – Generasi milenial dianggap lebih dominan menjadi korban kecelakaan…

Senin, 24 Juni 2019 12:08

Intens Monitoring Kegiatan Keagamaan

TARAKAN - Isu terkait dugaan indikasi paham radikal yang masuk…

Senin, 24 Juni 2019 12:07

Tak Terapkan Setelan Hitam-Hitam

TARAKAN – Surat edaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri…

Senin, 24 Juni 2019 11:47

Pengadilan Tinggi Kuatkan Hukuman Mati Herman

TARAKAN- Usai mengajukan banding terhadap putusan hukuman mati ke Pengadilan…

Senin, 24 Juni 2019 11:46

Agar Kuat, Penambang Emas Pakai Sabu

TARAKAN- Beralasan ingin kuat dalam bekerja, KM yang berkerja sebagai…

Senin, 24 Juni 2019 11:43

Penuhi Kebutuhan Berbagai Sektor

TARAKAN – Pelaksanaan Sensus Penduduk 2020 dinilai sebagai cara pemerintah…

Senin, 24 Juni 2019 11:42

Berharap Perbaikan Jalan Dituntaskan

TARAKAN – Usulan perbaikan jalan kerap diupayakan para Ketua RT…

Senin, 24 Juni 2019 11:26

Industri Rumput Laut Menjanjikan

TARAKAN - Sebagai kota penghasil sektor perikanan dan hasil laut…

Senin, 24 Juni 2019 11:24

PKL Dapat Meningkatkan Potensi Daerah

TARAKAN - Semakin menjamurnya pedagang kaki lima (pkl) di Kota…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*