MANAGED BY:
MINGGU
16 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 04 Maret 2019 11:34
Sudah 15 Tahun, Dijadikan Jalan Pahala

Keluarga Hakim, Berbagi Air di Tengah Krisis

NIAT MEMBANTU: Hakim menunjukkan sumber air yang biasa digunakan warga yang membutuhkan, kemarin (3/3). JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Air merupakan kebutuhan utama manusia dalam menjalani kehidupannya. Sebagian besar aktivitas penting yang kita lakukan selalu membutuhkan air. Seperti mandi, mencuci, memasak, minum.

---

KRISIS air yang dialami warga Tarakan tentulah merupakan sebuah musibah, tidak sedikit warga harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan air dalam situasi yang sulit ini. Meski demikian, ada sebuah keluarga di Kota Tarakan yang bersedia memberikan airnya kepada orang lain secara cuma-cuma.

Ia keluarga Bapak Hakim (50) dan Ibu Sarita (45) yang beralamat RT 08 Kelurahan Kampung Enam No 68. Meski terlihat seperti keluarga biasa pada umumnya, namun keluarga tersebut sudah membagikan airnya kepada tetangga secara cuma-cuma sejak 15 tahun lalu. Sarita merupakan anak seorang penemu mata air di Kelurahan Kampung Enam itu mengaku, kebiasaannya memberikan air secara cuma-cuma kepada warga setempat tidak terlepas dari pengalaman buruk yang dialami keluarganya. Sejak pertama kali menghuni wilayah tersebut keluarganya sangat kesulitan mendapatkan air. Ia mengingat betul bagaimana perjuangan keluarganya untuk mendapatkan air setiap harinya.

"Awalnya dulu kan orang tua kami, sampai sekarang. Sumur bornya ini dari tahun 2004. Bisa saja kami jual, cuma buat apa? Kami ingat juga sewaktu kesulitan air kami mau belinya saja susah. Waktu kami pindah ke sini, sangat susah sekali air. Jadi begitu, buat sumur bor bapak saya ingatkan saya jangan sekali-kali menjual air kepada orang lain," ungkapnya, kemarin (3/3).

Air melimpah dari mata air yang ia dapatkan, keluarganya berprinsip jika air tidak dijual itu menjadi jalan untuk membantu sesama. Dirinya mengakui, berbagai tawaran datang untuk menjalin kerja sama mendapatkan pundi-pundi rupiah. Semua tawaran itu ia tolak mentah-mentah karena mengetahui bagaimana sulitnya mendapatkan air apalagi untuk masyarakat kelas ekonomi ke bawah.

"Jadi kalau saya ingat-ingat sedih juga. Sekarang sudah diberi sama yang di atas, yah kita harus berbagi ke sesama. Kalau ada yang ambil berapa pun dia butuhkan silakan saja berapa pun yang ia butuhkan. Tapi ngambilnya hanya bisa pakai ember atau jeriken saja, tidak bisa pakai profil. Selain kerannya kecil, dikhawatirkan airnya dijual sama orang lain," tuturnya.

Sarita menjelaskan awal mula rumahnya banyak didatangi orang untuk mengambil air terjadi setelah mendengar Tarakan sedang dilanda krisis air. Anak perempuannya mengumumkan melalui media sosial untuk mempersilakan siapa saja yang membutuhkan air untuk datang mengambil air. Meski demikian, untuk mencegah hal itu dimanfaatkan untuk dijadikan bisnis sehingga ia tidak memperkenankan warga untuk membawa tangki profil.

"Kemarin itu kan banyak dengar orang susah cari air, saya bilang sama orang-orang yang datang kalau butuh air datang saja kapan pun, tengah malam juga tidak apa-apa. Yang penting tidak ada lagi orang yang kesusahan air, kami siap bantu. Kalau kita sulit air bagaimana sih rasanya. Semua kegiatan orang pakai air mandi,cuci masak," ujarnya.

Semakin banyak warga mengetahui ia menyediakan air secara gratis. Warga yang datang mengambil air tidak hanya berasal dari Kelurahan Kampung Enam saja, melainkan juga berasal dari kelurahan yang jauh dari kediamannya.

"Awalnya yang mengambil tetangga-tetangga dekat rumah. Tapi, setelah lama kelamaan semakin banyak yang tahu banyak yang dari jauh juga. Bahkan ada yang dari Selumit datang ke sini," bebernya.

Ia mengaku jika pompa air miliknya sedang macet, kerap merasa bersalah karena tidak dapat menyediakan air bersih kepada warga.

"Karena hanya ini yang bisa kami sedekah kepada orang lain. Walaupun orang mau membeli, kami tidak akan jual. Kalau mau ambil, ambil saja berapa pun asalkan untuk kebutuhan.  Pikiran kami, cukuplah benda yang lain yang bisa diperjual belikan, tapi air jangan. Itulah pesan orang tua kami. Karena air ini kebutuhan utama manusia. Jadi kami anggap airlah yang menjadi jalan pahala kami di akhirat," tutupnya. (***/lim)

 

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 15 Juni 2019 10:55

Melihat Kreativitas Warga Binaan Lapas Kelas II-A Tarakan (Bagian-3)

Memanfaatkan waktu luang, puluhan tas hasil rajutan warga binaan perempuan…

Sabtu, 15 Juni 2019 10:50

Dari Diskusi PMI di Tengah Hoaks Kesehatan

Takut gemuk karena donor darah adalah hoaks. Pasalnya, akan ada…

Sabtu, 15 Juni 2019 10:32

Pengawas Pertandingan dari IMI Pusat

TARAKAN - Kejuaraan Kapolres Bhayangkara Open grasstrack yang digelar di…

Sabtu, 15 Juni 2019 10:27

DLH Berharap Peran RT dan Lurah

TARAKAN - Usai perayaan Idulfitri aktivitas pembuangan sampah nampaknya semakin…

Sabtu, 15 Juni 2019 10:24

PLIISS BAH..!! Masyarakat Butuh Penerangan Jalan

TARAKAN - Tidak adanya fasilitas penerangan jalan yang berada di…

Sabtu, 15 Juni 2019 10:20

Kesadaran Bayar Pajak Sudah Tinggi

TARAKAN - Setelah adanya cuti bersama hari raya Idulfitri pada…

Jumat, 14 Juni 2019 14:34

Ramadan, Produksi Sampah Warga Tarakan Rerata Lebih 123 Ton Sehari

TARAKAN – Peningkatan volume sampah terjadi sebesar 10 hingga 15…

Jumat, 14 Juni 2019 14:33

Bangun Perusahaan dengan Semangat Kebersamaan

TARAKAN – Dalam rangka menjalin silaturahmi antarkaryawan, Radar Tarakan Group…

Jumat, 14 Juni 2019 14:31

Bangun Kanreg, BKN Pilih Tarakan

TARAKAN - Pada Kamis (13/6) pagi sekira pukul 10.30 WITA…

Jumat, 14 Juni 2019 11:16

Sidang PHPU, TNI Polri Siaga

TARAKAN - Sidang penetapan hasil pemilihan umum (PHPU) akan berlangsung…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*