MANAGED BY:
SABTU
20 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 02 Maret 2019 09:47
Berharap Sambungan Pipa dari Bulungan
KEKERINGAN: Penampakan di Embung Persemaian yang mulai kering. Hal ini membuat suplai air bersih ke masyarakat terganggu. JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Kian hari, ketersediaan air PDAM di Kota Tarakan kian mengkhawatirkan. Parahnya, hanya air hujan yang menjadi sumber utama persediaan air di Kota Tarakan.

Kepada Radar Tarakan, Kepala Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan, Usman Assegaf mengatakan bahwa saat ini belum terjadi hujan di Kota Tarakan, sehingga kondisi air masih bertahan dalam posisi 30 liter per detik dari jumlah ipa 180 liter per detik.

“Embung Kampung Satu dan Kampung Bugis lumpuh karena tidak ada air. Tapi yang masih berjalan ini embung Persemaian, jadi separuh Tarakan lumpuh,” ungkapnya.

Meski begitu, jika masih terdapat air kecil yang mengalir, hal tersebut dikarenakan instalasi yang dimatikan selama 4 jam. Nah, setelah air tertampung kembali, barulah instalasi tersebut dihidupkan kembali selama 2 jam, kemudian dimatikan kembali selama 4 jam.

“Jadi tunggu airnya terkumpul, baru air bisa jalan. Embung sudah nggak bisa siapa-apain, karena air itu posisinya sudah dibawah gorong-gorong jadi tidak bisa masuk sudah,” jelasnya.

Usman menyatakan, selain mengharapkan air hujan, pihaknya sudah tidak memiliki opsi lain untuk menyediakan air di Kota Tarakan. Sementara itu, rencana proses penyambungan pipa dari PDAM telah direncanakan pihaknya sejak 2 tahun lalu, namun karena anggaran terbatas sehingga belum dapat terlaksana.

“Sudah perencanaan, paparan dan semuanya sudah dilakukan, tapi tidak ada anggaran. Tapi kalau pengelolaan air asin menjadi air tawar itu sangat mahal. Kalau untuk perumahan biasa atau hotel, bisa beli, karena harganya standar. Tapi kalau massal, PDAM di Indonesia belum bisa, air asin itu hanya untuk pariwisata, hotel, mall, kapal perang, tapi kalau produksi massal masyarakat, belum ada yang sanggup,” jelasnya.

Harga penggunaan alat air asin menjadi tawar diperkirakan mencapai Rp 40 ribu per kubik, jika masyarakat Kota Tarakan menggunakan 30 kubik, maka akan menghasilkan biaya yang cukup besar, sedang harga pembayaran air yang mencapai Rp 500 ribu saja PDAM sudah mendapatkan komplain dari masyarakat, sehingga hal ini dinilai sulit.

Untuk diketahui, rata-rata masyarakat Kota Tarakan menggunakan air 30 hingga 36 kubik per rumah tangga setiap harinya, sedang penggunaan air yang normal seharusnya mencaapi 10 hingga 15 kubik karena subsidi air rata-rata setiap harinya mencapai 10 kubik.

“Diatas 10 kubik itu sudah tidak disubsidi lagi,” tegasnya.

Nah, air yang diproduksi PDAM setiap hari mencapai 35 hingga 45 ribu kubik perhari, hingga dalam astu bulan mencapai 1,2 hingga 1,5 juta kubik per bulan. Sedang air yang berada di dalam embung hanya mencapai 600 ribu kubik air.

Sementara itu, untuk sambungan air yang baru, Usman menyatakan bahwa pihaknya masih kekurangan infrastruktur pipa dan mesin, serta kekurangan air baku, sehingga jika air baku stabil barulah pihaknya dapat aman melakukan sambungan air PDAM.

“Tapi 2 bulan kedepan saya prediksi aman, karena booster sudah terpasang. Tapi belum diuji coba, karena airnya tidak ada. Kemarin air ada, boosternya nggak ada, sekarang boosternya ada, airnya nggak ada,” tutupnya.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul mengatakan pihaknya akan melakukan sambungan pipa PDAM terhadap 3000 rumah yang belum memiliki PDAM. Nah, terkait permasalahan air baku ini, Khairul menyatakan bahwa pihaknya masih mengupayakan bersama kementerian terkait dengan bantuan pemerintah provinsi dibawah kepemimpinan Gubernur Kaltara untuk dapat mempercepat realisasi perpipaan dari Bulungan ke Tarakan, agar pasokan air bersih dapat terjamin dengan baik.

“Kami perhatikan, embung yang ada ini, walaupun secara kapasitas sebenarnya sudah cukup memenuhi kebutuhan, tapi yang jadi masalah adalah kalau kemarau seluruh embung jadi kering dan itulah yang mengakibatkan pasokan air berkurang di Tarakan,” bebernya.

Menurut Khairul, inovasi air laut diubah menjadi air tawar menurutnya masih terbilang mahal namun hal ini masih terpikirkan oleh pihaknya bersama dengan daerah penanganan banji yang belum terselesaikan, akan diselesaikan secara bertahap. (*/shy/udn)


BACA JUGA

Jumat, 19 Juli 2019 09:44

Ramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Pawai pembangunan akan dilaksanakan dalam 31 hari lagi,…

Jumat, 19 Juli 2019 09:42

Tingkatkan Pengawasan dan Ajak Kerja Sama Mitra di Perbatasan

TARAKAN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus berupaya…

Jumat, 19 Juli 2019 09:41

Dulu Sering Disumpahi, Sekarang Tidur Lebih Nyenyak

Said Usman Assegaf telah terbiasa dengan perannya sebelum menjadi direktur…

Jumat, 19 Juli 2019 09:06

Disdikbud Nilai Tarakan Belum Butuh SMA Baru

TARAKAN - Pembentukan 2 SMP baru oleh Dinas Pendidikan dan…

Jumat, 19 Juli 2019 09:05

Nilai Ada Perusahaan Nakal yang ‘Bebas’

TARAKAN - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalan Himpunan Mahasiswa Islam…

Jumat, 19 Juli 2019 08:40

Harapkan Jalan Semenisasi Dilakukan Peningkatan

TARAKAN - Perlunya peningkatan terhadap jalan semenisasi yang ada di…

Kamis, 18 Juli 2019 10:32

Dikalungkan Bunga Oleh Polisi Cilik

TARAKAN - Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito…

Kamis, 18 Juli 2019 10:31

Minim Akses, Penanganan Lantung Tak Dilakukan

TARAKAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengharapkan adanya penanganan terhadap…

Kamis, 18 Juli 2019 10:30

Tampilkan Seragam Kebanggaan Ekstrakurikuler

TARAKAN – Sudah siapkah Anda dengan pawai pembangunan, yang dilaksanakan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:30

Enam Ekor Ikan Napoleon Gagal Diselundupkan

TARAKAN - Selama Mei hingga Juli tahun ini, Balai Karantina…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*