MANAGED BY:
RABU
20 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 22 Februari 2019 11:00
Rangsang Minat Baca dengan Mengangkat Kearifan Lokal

Mengenal Iqbal Ardianto, Penulis yang Peduli Dengan Dunia Pendidikan (Bagian-1)

PEDULI PENDIDIKAN: Iqbal Ardianto menunjukkan beberapa karya tulis miliknya. Selain menulis, ia juga aktif dalam kegiatan pendidikan. DOKUMEN PRIBADI

PROKAL.CO, Menjadi seorang penulis merupakan impian Iqbal Ardianto sejak dulu. Motivasi itu membawa pria kelahiran 1990 mulai mewujudkan mimpinya pada 2015. Karya pertamanya berupa sebuah novel berjudul ‘Kurikulum Cinta Langit Sulawesi’. Selain menulis, Iqbal juga aktif dalam upaya memajukan dunia pendidikan.

JANURIANSYAH

BERAWAL dari kegemarannya membaca berbagai jenis buku saat duduk di bangku SMP, Iqbal tertarik untuk menjadi penulis agar karyanya bisa dibaca semua orang.

Pada tahun 2006, pria kelahiran Pinrang ini mulai serius untuk menjadi seorang penulis dengan mengusung konsep tema berkaitan dengan kearifan lokal, budaya, adat dan istiadat di daerahnya. Setelah bertahun-tahun menulis, akhirnya kesempatan pertamanya terwujud pada 2015 yang berjudul ‘Kurikulum Cinta Langit Sulawesi’ yang diterbitkan oleh salah satu penerbit di Yogyakarta.

Setelah karya pertama, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan  Hj. P. Nur’aeni Doppa dan  H. P. Sudirman Sinring mulai tekun membuat karya tulis, di antaranya Belajar Itu Asyik (2015), Uang Panai (2016), My Destiny (2017), Makkunrai, Perempuan Bugis (2018) dan Alena (2018).

“Memang awalnya saya kurang pede untuk menerbitkan sebuah buku. Namun berbekal motivasi bila penulis lain bisa, kenapa saya tidak bisa, membuat saya berani menerbitkan buku, memang ketika menerbitkan suatu karya pasti ada kritikan, namun kritikan itu bisa menjadikan masukan agar ke depannya lebih baik lagi,” tutur pria yang juga Presiden Cendekia Mind Institute Indonesia (CMII) ini.

Dari sekian buku yang diterbitkan, Uang Panai dan Makkunrai, Perempuan Bugis menjadi buku yang paling populer dan paling banyak dicari orang. Kepopuleran kedua buku tersebut tidak lepas dari tema yang diangkat karena berkaitan dengan kearifan lokal, budaya, adat dan istiadat suku Bugis yang masih banyak belum diketahui orang. Tema yang diangkat menurutnya merupakan tema yang sangat jarang diangkat oleh penulis lainnya.

“Kedua buku ini memberikan informasi kepada pembaca terkait kearifan lokal, budaya, adat dan istiadat suku Bugis, bahkan saking populernya kedua buku ini, sudah ada yang dikirim ke Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Spanyol yang dipesan oleh teman-teman kita yang ada di perantauan sana,” bebernya.

“Kenapa rata-rata yang diangkat berkaitan dengan kearifan lokal, karena saya ingin mengenalkan budaya yang ada di Indonesia khususnya budaya suku Bugis, tujuannya tidak lain sebagai referensi kepada pembaca untuk lebih dalam mengetahui adat dan istiadat yang ada di dalamnya,” tuturnya.

Melihat pendidikan saat ini khususnya literasi, dirinya anggap  hal tersebut sangat penting untuk mendapatkan informasi yang benar-benar bermanfaat. Seiring perkembangan teknologi dan mudahnya mendapatkan informasi, tidak menjadikan kemudahan saat ini orang-orang khususnya pelajar terlena.

“Memang ada positif dan negatifnya, tinggal dari individunya masing-masing saja yang memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang tidak, serta tidak hoaks,” tuturnya.

Dirinya berharap dengan kemajuan teknologi dan kemudahan mendapatkan informasi saat ini bisa dimanfaatkan semua orang terutama pelajar untuk menambah ilmu yang dimilikinya.

“Jangan malas membaca, karena dengan membaca kita bisa mengetahui berbagai hal yang bermanfaat untuk kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.

Kini selain sebagai penulis, kesibukan lain alumni Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) ini adalah ikut aktif dalam berbagai kegiatan upaya memajukan dunia pendidikan, di mana dirinya sering diundang ke beberapa sekolah di Sulawesi Selatan (Sulsel), Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara) untuk melaksanakan kegiatan pelatihan pelajar inspiratif.

“Dalam Training Pelajar Inspiratif, kami mengenalkan kepada pelajar bagaimana caranya belajar tanpa harus terbebani, intinya kami memotivasi pelajar agar lebih semangat dan senang dalam belajar maupun menerima pelajaran,” ujarnya.

Di dalam kegiatan itu, ia mengenalkan 3 konsep untuk memotivasi pelajar agar lebih semangat dan senang dalam belajar maupun menerima pelajaran. Tiga konsep itu di antaranya memberikan pemahaman bahwa belajar itu asyik, pelajar diharapkan mampu memahami gaya belajar sesuai dengan karakter belajarnya. Konsep kedua mengkampanyekan gerakan Ayo Membaca, pelajar diharapkan mampu menumbuhkan semangat literasi di daerah atau lingkungannya. Konsep ketiga adalah smart hypno learning dan hypno motivation, di mana pelajar diharapkan memahami dirinya. Kapasitas dirinya sebagai seorang siswa, menumbuhkan skill dan kompetensi siswa, dan meningkatkan semangatnya tentang pentingnya pendidikan.

“Selama pelaksanaan Training Pelajar Inspiratif di beberapa sekolah di Tarakan yakni SMA Muhammadiyah, MAN, SMA 1 dan SMK 2 saya mengapresiasi animo pelajar yang mengikuti, karena melebih ekspektasi saya. Bahkan di SMK 2 di mana ada lebih dari 1.200 peserta yang ikut,” bebernya.

Dirinya juga mengapresiasi pemerintah daerah yang telah memperhatikan sarana prasarana penunjang pelajar di Kaltara khususnya Tarakan.

“Karena merupakan  provinsi termuda, ekpektasi saya sarana dan prasarana pedidikannya masih jauh dari daerah lain, kenyataannya sarana prasarananya sudah sangat baik, hal ini membuktikan pemerintah daerahnya sangat memperhatikan pendidikan generasi penerusnya,” ujarnya.

Dirinya menceritakan saat Jepang kalah dalam Perang Dunia II, negeri Matahari Terbit tersebut terpuruk. Sebagai pimpinan tertinggi, Sang Kaisar Hirohito harus melakukan sesuatu agar negaranya tak runtuh. Hal pertama yang ditanyakan; berapa guru yang masih dimiliki? “Ibarat bangunan, pendidikan merupakan salah satu tiang penyangga agar bangunan tersebut berdiri lebih tegap dan kuat. Indonesia, negara yang memiliki lebih dari 240 juta jiwa penduduk, memang sudah seharusnya mengedepankan pendidikan untuk memajukan peradaban sehingga bisa berdiri lebih kuat lagi dalam menghadapi perkembangan zaman,” tuturnya.

Dirinya sangat menyayangkan, saat ini masih banyak lapisan masyarakat yang kurang atau bahkan belum peduli akan pendidikan. Banyak penduduk yang kebanyakan kalangan bawah, masih mengesampingkan pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka. Banyak dari mereka yang berpendapat bahwa pendidikan itu masih nomor sekian, yang terpenting adalah bagaimana untuk berjuang bertahan hidup. Data UNICEF 2011 menyebut, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia yang seharusnya bersekolah tidak dapat menikmati pendidikan: 600.000 anak usia sekolah dasar dan 1,9 juta anak usia sekolah menengah pertama (13-15 tahun).

“Padahal, jika mereka menyadari pentingnya pendidikan, akan membuat hidup mereka terangkat. Setidaknya bisa menjadi bekal untuk mencari sumber-sumber kehidupan yang lebih baik. Beruntung, founding fathers kita sejak awal sudah menyadari pentingnya pendidikan. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi pertama yang lahir menegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Hal itu mencerminkan keseriusan negara ini dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Kini, dengan pendidikan dasar wajib 9 tahun yang ditetapkan pemerintah, ditambah adanya bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar, pendidikan Indonesia akan makin maju. Makin banyak orang yang sadar, pendidikan itu memang penting. Apalagi, jika menilik data hasil penelitian di Amerika Serikat di tahun 2010 ini. Center for Economic and Policy Research (CEPR) yang menyebutkan hanya 17 persen orang akan sukses jika tidak memiliki pendidikan yang cukup. Sebaliknya, mereka yang punya bekal pendidikan lebih tinggi, kemungkinan suksesnya naik hingga 34 persen.

Bila setiap lapisan masyarakat menyadari pentingnya pendidikan, kemuliaan atau kesejahteraan penduduk Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Cita-cita dari Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara juga bakal terwujud. Ki Hadjar pernah berujar, “lawan sastra ngesti mulya” alias “dengan ilmu kita menuju kemuliaan”. 

“Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan. Kita bisa menggunakan filosofi dari Ki Hajar untuk memperbaiki ketertinggalan kita dalam hal ilmu dan pendidikan. Bila negara lain seperti Jepang bisa melakukannya, kita pun pasti bisa melakukannya,” pungkasnya. (*/bersambung/lim)

 


BACA JUGA

Selasa, 19 Maret 2019 11:40

Gas PGN Normal, Kok Listrik PLN Ngga Nyala-Nyala...

TARAKAN - PT Medco EP menjamin pekerja yang menjadi korban…

Selasa, 19 Maret 2019 11:38

Tak Ada Jaminan PLN Sampai Kapan Padam

SEHUBUNGAN dengan adanya insiden ledakan di Stasiun Pengumpul Gas Utama…

Selasa, 19 Maret 2019 11:35

Terdengar Letupan Usai Genset Mati

TARAKAN - Diduga adanya arus pendek listrik, satu rumah di…

Selasa, 19 Maret 2019 11:30

Sukses Ungkap 10 Kg Narkoba, Kapolres Beri Target Baru

KAPOLRES Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan mengapresiasi terhadap kinerja Satreskoba Polres…

Selasa, 19 Maret 2019 10:39

Sebagian Ekspor Masih Singgah Surabaya

TARAKAN- Meski ekspor plywood di Bumi Paguntaka saat ini telah…

Selasa, 19 Maret 2019 10:37

TNI Siap Bantu Polri Mengamankan Pemilu

TARAKAN – Komandan Kodim (Dandim) 0907 Tarakan  Letkol Inf Eko…

Selasa, 19 Maret 2019 10:33

Warga di Sini Harap Banget Pengaspalan Tahun Ini

TARAKAN - Jalan yang masih bertekstur tanah dan pasir selalu…

Senin, 18 Maret 2019 11:00

BLARRRR...!! Satu Pekerja Tewas di Stasiun G-8 Medco E&P

TARAKAN – Sudarman (35) dan Boy (40) berada di sekitar…

Senin, 18 Maret 2019 10:58

KUMAT LAGI..!! Pemadaman Listrik Bergiliran 4 Jam

PEMADAMAN yang direncanakan selama 14 jam meleset jauh dari jadwal…

Senin, 18 Maret 2019 10:57

14 Jam Gas PGN Terhenti

KEPOLISIAN masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan di area Stasiun Pengumpul…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*