MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 04 Februari 2019 11:59
Sangat Rapi, 6,4 Kg Sabu di Dalam Elpiji

Danlantamal: Ada Alat Pelindung Narkoba di Dalamnya

MODUS BARU: Sabtu (2/2), Danlantamal XIII Laksamana Pertama TNI Judijanto (kiri) menunjukkan barang bukti narkoba jenis sabu yang diselundupkan Agus (tengah) bersama Rustam menggunakan tabung elpiji dari Malaysia. JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Rustam (45) lari ke dalam hutan, sore Selasa 29 Januari lalu. Meninggalkan istri dan anaknya di sebuah rumah di Desa Pancang, Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan. Dia merasa telah dibuntuti aparat.

Tim gabungan dari Lantamal XIII, Badan Narkotika Nasional (BNN), Satgas Marinir Ambalat XXIII, Yonmarhanlan XIII serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan pengejaran atas informasi adanya pengiriman narkoba jenis sabu-sabu yang dimasukkan ke dalam tabung elpiji dari Malaysia. Tabung berukuran 14 kg itu bertulis ‘S’ sebanyak 13 unit. Bakal dikirim dari Pulau Sebatik menuju Kota Tarakan.

Aparat mematangkan segala temuan di lapangan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hingga akhirnya mengarah ke sebuah rumah di Desa Pancang. Berikut ciri-ciri barang seperti dalam informasi yang diterima tim gabungan.

Barang dimaksud adalah barang milik Rustam dan Agus (31). Keluarga Rustam pun akhirnya kooperatif setelah dimintai keterangan oleh petugas. Agus ditangkap lebih dulu, malam itu sekira pukul 23.00 WITA.

Rabu (30/1) tengah malam sekira pukul 02.30 WITA, petugas menggeser belasan tabung gas tersebut menuju Kantor Pengawasan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Nunukan. Berangkat dari Dermaga Bambangan, Sebatik.

Komandan Lantamal XIII Laksamana Pertama TNI Judijanto mengatakan, 13 tabung pun dipindai menggunakan mesin X-ray KPPBC Tipe Madya Pabean C Nunukan sekira pukul 03.25 WITA. Diidentifikasi terdapat 6 tabung yang berisi narkoba.

“Setelah kami buka tabung gas tersebut, kami temukan sabu sebanyak 6,45 kg yang sudah di-packing rapat dan rapi, ini merupakan modus baru yang digunakan bandar dari negara tetangga dalam upaya menyelundupkan sabu ke wilayah kita. Ini juga sangat rapi, menggunakan alat agas gasnya tidak merusak sabu-sabu di dalamnya. Tabungnya berisi gas. Ketika dicek, keluar gas, ini untuk mengelabui pemeriksaan,” tutur perwira tinggi tersebut, Sabtu (2/2).

Saat Rustam masih buron, tabung dibuka petugas dengan menggunakan mesin pemotong besi di depan keluarganya. Diakui Danlantamal Judijanto modus baru yang digunakan bandar kali ini menyulitkan petugas di lapangan dalam mendeteksi.

“Selain diisi gas, untuk mengetahui mana tabung gas yang berisi sabu dan tidak, ternyata ada inisial huruf pada tabung gas, untuk kasus kali ini kami menemukan inisial S pada tabung gas yang berisikan narkoba, jadi kalau ada tabung gas dengan inisial S patut kita curigai,” bebernya.

Siang setelah barang bukti dibuka, keluarga Rustam pun dibawa kembali menuju Pulau Sebatik.

Dari pengakuan salah satu tersangka barang haram tersebut rencananya akan dikirim ke Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

“Salah satu pelaku berinisial R memang sempat melarikan diri masuk ke dalam hutan, namun dengan kesigapan dari tim gabungan yang ada di lapangan, pelaku berhasil diamankan,” tuturnya.

Pada hari yang sama tim gabungan juga berhasil mengamankan pelaku berinisial RG (21) berikut barang bukti sabu sebanyak 300 gram. Pelaku bersama barang bukti diamankan di salah satu penginapan yang ada di Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

“Kami menduga RG ini masih satu jaringan dengan dengan A dan R yang kami amankan terlebih dahulu dikarenakan modusnya sama, bila A dan R menyembunyikan sabu di dalam tabung gas 14 kg, RG menyembunyikannya di dalam stabilizer aki yang dibungkus dengan kardus blender,” tuturnya.

Terkait siapa pemesan dan dari mana ketiga pelaku ini mendapatkan barang haram ini, pihaknya masih melakukan pendalaman. Termasuk sudah berapa kali ketiganya mengirimkan barang haram tersebut masih dilakukan pendalaman. “Yang jelas mereka bertiga ini merupakan kurir yang disuruh seseorang mengantarkan kepada pemesannya,” ujarnya.

Ketiganya dikenakan Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1, Pasal 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. “Mengingat rawannya penyelundupan narkotika di wilayah Kaltara, maka sinergi semua aparat penegak hukum mulai dari TNI, Polri, BNN, Bea Cukai, lembaga yudikatif, lembaga permasyarakatan, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota, masyarakat dan penegak hukum lainnya sangat dibutuhkan untuk melawan musuh bersama yaitu narkotika,” ujarnya.

Terpisah, Kasubdit Interdiksi Wilayah Darat dan Lintas Perbatasan BNN Kombes Heri Hestu mengatakan, modus yang digunakan bandar kali ini cukup sulit terdeteksi bila tidak dipindai melalui mesin X-ray. Sehingga informasi dari masyarakat yang jadi awal mula pengungkapan sangat berharga untuk dapat mengungkap kasus serupa ke depannya.

“Adanya laporan dari masyarakat terkait hal ini juga ikut membantu aparat penegak hukum dalam upaya memberantas narkoba, ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam upaya membantu memberantas narkoba,” tuturnya.

Kasi Penindakan Narkotika pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal BeadanCukai Balikpapan Dian Unggul mengatakan, terkait adanya salah satu komoditas dari negara tetangga yakni tabung gas yang digunakan untuk menyelundupkan narkoba, perlu ada sinergi seluruh instansi, aparat penegak hukum serta masyarakat. Dalam hal upaya mengantisipasi masuknya barang haram tersebut ke wilayah Indonesia, khususnya Kaltara.

“Pengungkapan ini tidak lepas dari peran serta masyarakat yang memberikan informasi, sehingga bila menemukan hal serupa silakan untuk melaporkan ke aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti,” tuturnya.

Terkait apakah komoditas dari negara tetangga yang rawan disusupi narkoba bisa dihentikan pendistribusiannya ke daerah perbatasan. Hal tersebut dinilai tidak mungkin bisa dilakukan mengingat saat ini pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan daerah perbatasan.

“Kami tidak bisa melarang masuknya komoditas ini, karena saat ini belum bisa dipenuhi, selain itu sudah ada juga perjanjian antaranegara terkait hal ini dalam bentuk BTA (border trade agreement),” ujarnya. (jnr/lim)


BACA JUGA

Kamis, 21 Maret 2019 11:18

Pasokan Listrik Segera Pulih Bertahap

TARAKAN – Proses pigging atau pembersihan pipa akhirnya rampung dilakukan…

Kamis, 21 Maret 2019 11:14

ADA APA INI..?? Empat Sukhoi Mengudara di Perbatasan Kaltara

TARAKAN – Empat pesawat Sukhoi jenis SU-27 dan SU-30 dari…

Kamis, 21 Maret 2019 11:13

CIHUYY ..!! Ngga Lama Lagi di Tarakan Ada Cinema XXI

TARAKAN – Pertengahan tahun ini, Cinema XXI di lantai empat…

Kamis, 21 Maret 2019 11:11

4 ASN Mangkir Kerja, 2 Kampanye di Medsos

TARAKAN - Menjadi anggota aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan untuk…

Kamis, 21 Maret 2019 10:37

Cabuli Anak di Bawah Umur, CK Diringkus Polisi

TARAKAN – Perbuatan yang dilakukan oleh pria berinsial CK (37)…

Kamis, 21 Maret 2019 10:31

Besi Bermunculan di Badan Jalan

TARAKAN – Minimnya perawatan jalan lingkungan, kerusakan semenisasi jalan pun…

Rabu, 20 Maret 2019 11:17

Pigging Klir, Listrik Berangsur Pulih

TARAKAN – PT Medco E&P Tarakan tengah berusaha merampungkan proses…

Rabu, 20 Maret 2019 11:15

Kelalaian Warga, Lahan Kembali Terbakar

TARAKAN - Kebakaran lahan kembali terjadi di RT 05 Kelurahan…

Rabu, 20 Maret 2019 11:13

“WTP Bukanlah Tanda Kelulusan, tapi Kewajiban”

Dalam kaitan membangun Indonesia, masyarakat perlu memiliki pemahaman cukup untuk…

Rabu, 20 Maret 2019 11:12

Kampanyekan Heart of Borneo Jadi Wisata Dunia

JAKARTA - Tak hanya kekayaan sumber daya alam berupa minyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*