MANAGED BY:
SENIN
20 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 04 Februari 2019 11:59
Sangat Rapi, 6,4 Kg Sabu di Dalam Elpiji

Danlantamal: Ada Alat Pelindung Narkoba di Dalamnya

MODUS BARU: Sabtu (2/2), Danlantamal XIII Laksamana Pertama TNI Judijanto (kiri) menunjukkan barang bukti narkoba jenis sabu yang diselundupkan Agus (tengah) bersama Rustam menggunakan tabung elpiji dari Malaysia. JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Rustam (45) lari ke dalam hutan, sore Selasa 29 Januari lalu. Meninggalkan istri dan anaknya di sebuah rumah di Desa Pancang, Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan. Dia merasa telah dibuntuti aparat.

Tim gabungan dari Lantamal XIII, Badan Narkotika Nasional (BNN), Satgas Marinir Ambalat XXIII, Yonmarhanlan XIII serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan pengejaran atas informasi adanya pengiriman narkoba jenis sabu-sabu yang dimasukkan ke dalam tabung elpiji dari Malaysia. Tabung berukuran 14 kg itu bertulis ‘S’ sebanyak 13 unit. Bakal dikirim dari Pulau Sebatik menuju Kota Tarakan.

Aparat mematangkan segala temuan di lapangan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hingga akhirnya mengarah ke sebuah rumah di Desa Pancang. Berikut ciri-ciri barang seperti dalam informasi yang diterima tim gabungan.

Barang dimaksud adalah barang milik Rustam dan Agus (31). Keluarga Rustam pun akhirnya kooperatif setelah dimintai keterangan oleh petugas. Agus ditangkap lebih dulu, malam itu sekira pukul 23.00 WITA.

Rabu (30/1) tengah malam sekira pukul 02.30 WITA, petugas menggeser belasan tabung gas tersebut menuju Kantor Pengawasan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Nunukan. Berangkat dari Dermaga Bambangan, Sebatik.

Komandan Lantamal XIII Laksamana Pertama TNI Judijanto mengatakan, 13 tabung pun dipindai menggunakan mesin X-ray KPPBC Tipe Madya Pabean C Nunukan sekira pukul 03.25 WITA. Diidentifikasi terdapat 6 tabung yang berisi narkoba.

“Setelah kami buka tabung gas tersebut, kami temukan sabu sebanyak 6,45 kg yang sudah di-packing rapat dan rapi, ini merupakan modus baru yang digunakan bandar dari negara tetangga dalam upaya menyelundupkan sabu ke wilayah kita. Ini juga sangat rapi, menggunakan alat agas gasnya tidak merusak sabu-sabu di dalamnya. Tabungnya berisi gas. Ketika dicek, keluar gas, ini untuk mengelabui pemeriksaan,” tutur perwira tinggi tersebut, Sabtu (2/2).

Saat Rustam masih buron, tabung dibuka petugas dengan menggunakan mesin pemotong besi di depan keluarganya. Diakui Danlantamal Judijanto modus baru yang digunakan bandar kali ini menyulitkan petugas di lapangan dalam mendeteksi.

“Selain diisi gas, untuk mengetahui mana tabung gas yang berisi sabu dan tidak, ternyata ada inisial huruf pada tabung gas, untuk kasus kali ini kami menemukan inisial S pada tabung gas yang berisikan narkoba, jadi kalau ada tabung gas dengan inisial S patut kita curigai,” bebernya.

Siang setelah barang bukti dibuka, keluarga Rustam pun dibawa kembali menuju Pulau Sebatik.

Dari pengakuan salah satu tersangka barang haram tersebut rencananya akan dikirim ke Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

“Salah satu pelaku berinisial R memang sempat melarikan diri masuk ke dalam hutan, namun dengan kesigapan dari tim gabungan yang ada di lapangan, pelaku berhasil diamankan,” tuturnya.

Pada hari yang sama tim gabungan juga berhasil mengamankan pelaku berinisial RG (21) berikut barang bukti sabu sebanyak 300 gram. Pelaku bersama barang bukti diamankan di salah satu penginapan yang ada di Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

“Kami menduga RG ini masih satu jaringan dengan dengan A dan R yang kami amankan terlebih dahulu dikarenakan modusnya sama, bila A dan R menyembunyikan sabu di dalam tabung gas 14 kg, RG menyembunyikannya di dalam stabilizer aki yang dibungkus dengan kardus blender,” tuturnya.

Terkait siapa pemesan dan dari mana ketiga pelaku ini mendapatkan barang haram ini, pihaknya masih melakukan pendalaman. Termasuk sudah berapa kali ketiganya mengirimkan barang haram tersebut masih dilakukan pendalaman. “Yang jelas mereka bertiga ini merupakan kurir yang disuruh seseorang mengantarkan kepada pemesannya,” ujarnya.

Ketiganya dikenakan Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1, Pasal 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. “Mengingat rawannya penyelundupan narkotika di wilayah Kaltara, maka sinergi semua aparat penegak hukum mulai dari TNI, Polri, BNN, Bea Cukai, lembaga yudikatif, lembaga permasyarakatan, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota, masyarakat dan penegak hukum lainnya sangat dibutuhkan untuk melawan musuh bersama yaitu narkotika,” ujarnya.

Terpisah, Kasubdit Interdiksi Wilayah Darat dan Lintas Perbatasan BNN Kombes Heri Hestu mengatakan, modus yang digunakan bandar kali ini cukup sulit terdeteksi bila tidak dipindai melalui mesin X-ray. Sehingga informasi dari masyarakat yang jadi awal mula pengungkapan sangat berharga untuk dapat mengungkap kasus serupa ke depannya.

“Adanya laporan dari masyarakat terkait hal ini juga ikut membantu aparat penegak hukum dalam upaya memberantas narkoba, ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam upaya membantu memberantas narkoba,” tuturnya.

Kasi Penindakan Narkotika pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal BeadanCukai Balikpapan Dian Unggul mengatakan, terkait adanya salah satu komoditas dari negara tetangga yakni tabung gas yang digunakan untuk menyelundupkan narkoba, perlu ada sinergi seluruh instansi, aparat penegak hukum serta masyarakat. Dalam hal upaya mengantisipasi masuknya barang haram tersebut ke wilayah Indonesia, khususnya Kaltara.

“Pengungkapan ini tidak lepas dari peran serta masyarakat yang memberikan informasi, sehingga bila menemukan hal serupa silakan untuk melaporkan ke aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti,” tuturnya.

Terkait apakah komoditas dari negara tetangga yang rawan disusupi narkoba bisa dihentikan pendistribusiannya ke daerah perbatasan. Hal tersebut dinilai tidak mungkin bisa dilakukan mengingat saat ini pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan daerah perbatasan.

“Kami tidak bisa melarang masuknya komoditas ini, karena saat ini belum bisa dipenuhi, selain itu sudah ada juga perjanjian antaranegara terkait hal ini dalam bentuk BTA (border trade agreement),” ujarnya. (jnr/lim)


BACA JUGA

Senin, 20 Mei 2019 13:29

Masih Pada Tahan ‘Napas’

Usai pemilihan umum (pemilu) presiden dan anggota legislatif serentak pada…

Senin, 20 Mei 2019 13:28

Masjid Daarussa’aadah, Konstruksi Mirip Rumah Adat

Ragam ciri masjid di Kota Tarakan. Tak hanya bergaya Timur…

Senin, 20 Mei 2019 13:25

Empat Periode Berkat Doa Mustajab Seorang Ibu

Menjabat empat periode sebagai salah seorang wakil rakyat, tak semua…

Senin, 20 Mei 2019 12:55

Sopir Minibus Terbakar Belum Datangi Polisi

TARAKAN-Perkara terbakarnya satu minibus berwarna hitam di Jalan Kusuma Bangsa…

Senin, 20 Mei 2019 12:52

Minim Penyiringan Tanah, Timbunan Terbawa Air

TARAKAN -  Beberapa item pembangunan di lingkungan RT 59, Kelurahan…

Senin, 20 Mei 2019 11:35

Partai Kecil Wait and See

TARAKAN – Partai Persatuan Indonesia (Perindo) merupakan satu dari tiga…

Senin, 20 Mei 2019 11:34

Penyelesaian Cinema XXI Sudah 85 Persen

TARAKAN – Dari luar gedung Grand Tarakan Mall (GTM) terlihat…

Senin, 20 Mei 2019 11:33

Jelang Mudik, Penambahan Kapasitas 76 Persen

TARAKAN – Menghadapi lonjakan penumpang, khususnya perantauan  yang ingin pulang…

Senin, 20 Mei 2019 11:32

Masjid Fastabiqul Khairat Dibangun dari Donasi Warga Tionghoa

Masjid Fastabiqul Khairat merupakan salah satu masjid terbesar Kelurahan Lingkas…

Senin, 20 Mei 2019 11:30

Effendhi: Lewat Doa, Mereka Rindu Orang Tua

Berkumpul dan berbuka bersama keluarga di Bulan Ramadan merupakan sebuah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*