MANAGED BY:
SELASA
23 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 01 Februari 2019 12:03
Galau Menyebut Kartel

Harga Tiket Masih Tinggi

ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, Pelaku usaha penerbangan domestik yang mengecil berpotensi menimbulkan permainan tiket jadi mahal. Membuka ruang praktik oligopoli.

-----

PAPAN tulis yang semula bersih tanpa goresan seketika penuh coretan tinta warna hitam. Isinya angka dan rangka. “Struktur pasar sebelumnya kan, Lion Group, Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group. Kekhawatiran kami, karena struktur pasar semakin mengecil, dari oligopili jadi duopoli. Itu kekhawatiran kami,” tutur Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan (Kaltim-Kaltara) Abdul Hakim Pasaribu kepada Kaltim Post (Kaltim Post Group) saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/1) siang.

Pria asal Sumatera Utara (Sumut) itu secara khusus mengulas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di balik mahalnya tiket pesawat sebulan terakhir. Terlebih, rute via Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan dan Bandara Juwata Tarakan.

“Acuan Balikpapan misalnya, mengalami kenaikan hampir lebih 100 persen dari harga normal. Padahal momentumnya bukan peak season. Setelah libur Natal dan Tahun Baru, tujuan Jakarta bisa dapat Rp 600-700 ribu. Ini Rp 1,8 juta. Menuju hampir tarif batas atas. Ada sesuatu,” imbuhnya.

Pria penyuka buah durian itu melanjutkan, sesuatu yang dimaksud adalah, harga tiket domestik yang semula serentak melonjak, kemudian bisa turun setelah ada desakan dari masyarakat.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau INACA sepakat menurunkan tarif tiket pesawat terbang yang melambung dalam beberapa pekan terakhir. “Nyatanya harga tiket bisa turun secara bersama,” katanya. Dirinya tak menampik, harga avtur dan komponen pesawat yang dinilai dengan mata uang dolar AS di setiap transaksi menjadi penyebab INACA menaikkan harga tiket.

Abdul Hakim melanjutkan analisis. Menurutnya, bila dicermati, kenaikan harga tiket mulai naik pertengahan 2018. Pergerakan harga tiket pesawat domestik terus merangkak. Dimulai ketika Garuda Indonesia Group melalui anak usahanya PT Citilink Indonesia, mengambil alih pengelolaan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air.

Hal ini direalisasikan dalam bentuk kerja sama operasi (KSO) yang dilakukan oleh PT Citilink Indonesia (Citilink) dengan PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air. KSO tersebut ditandatangani pada 9 November 2018. Nantinya, keseluruhan operasional Sriwijaya Group termasuk finansial akan berada di bawah pengelolaan dari KSO tersebut. 

Sejak saat itu, pelaku usaha penerbangan domestik praktis dikuasai dua grup. Garuda Indonesia Group dengan Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air dan NAM Air. Sementara Lion Group disokong Batik Air, Lion Air dan Wings Air. Persaingan Lion Group dan Garuda Indonesia Group kini dalam radar KPPU menyusul naiknya harga tiket beberapa pekan terakhir. “Dalam penelitian kami. Sejauh mana, persaingan yang semakin mengecil membuat harga tiket mahal,” sebutnya.  

Berkaca pada prinsip ekonomi, ucap Abdul Hakim, semakin banyak pelaku usaha, maka semakin susah melakukan kesepakatan atau kesepahaman harga. “Kalau dari sisi teori memungkinkan oligopoli. Untuk membuktikan itu dalam penelusuran KPPU,” terangnya. Melanjutkan penjelasan prinsip ekonomi, dirinya menyatakan, semakin sedikit pelaku usaha, maka semakin rentan struktur pasar terkonsentrasi. Mengecil. Sehingga berpotensi mengatur harga antarpelaku usaha.

“Pilihannya, Lion Group akan perang dengan Garuda Indonesia Group atau sepakat. Mana yang menguntungkan menurut mereka. Pasti ada pilihan,” katanya. Kemungkinan itu sedang diteliti KPPU. “Pilihan mau perang atau sepakat. Kalau perang untungnya berapa. Sepakat berapa. Mana yang lebih tinggi,” bebernya.

Kecenderungannya, lanjut dia, beberapa rute penerbangan domestik yang turut dipanaskan maskapai Air Asia, harga tiket lebih murah. “Tapi apakah ini murni karena Air Asia atau ada faktor lain masih diteliti. Bisa jadi Air Asia tidak mau bermain dalam kesepakatan itu. Ke Kuala Lumpur pemainnya banyak. Sehingga harganya hampir hanya Rp 400 ribu,” ungkapnya.

Seperti saat diwawancarai Radar Tarakan, KPPU terus mencari alat bukti, mengenai potensi yang karte; dimaksud. Misalnya rute pembanding dengan beberapa maskapai lain. “Kami cari di rute lain, misalnya yang masih ada AirAsia. Kami pernah bandingkan Jakarta-Jogja, rute yang hampir sama. Harganya bisa setengah, dari yang tidak ada AirAsia. Terutama rute yang didominasi Garuda dan Lion. Di situlah, kenaikan harga tidak bisa dilihat itu langsung kartel. Makanya kami mencari alat bukti. Jangan sampai ke pengadilan, kita lemah di mata hukum,” tukasnya.

KPPU mencari dokumen, adakah tindakan kesepakatan oleh operator penerbangan yang indikasinya mengarah ke kartel. KKPU juga membandingkan lagi dengan penerbangan internasional. Contohnya Jakarta-Malaysia, masih dapat Rp 400 ribu. Dengan jarak Jakarta-Medan, malah lebih murah. “Menurut macam-macam (alasan), itu kan pembenaran mereka. Tapi, kami KPPU mencari alat bukti, jangan sampai melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dampaknya masyarakat membayar mahal, dengan mahalnya, inflasi daerah tinggi,” sebutnya.

Hal itu, kata dia, semakin diperparah dengan adanya pembatasan bagasi, atau pre paid baggage.

“Sudah double-double. Bagasi berbayar itu terlalu mahal. Sementara menurut pemerintah itu tidak diatur. Karena tidak diatur pemerintah, ini bisa menjadi ksewenang-wenangan Lion menerapkan bagasi berbayar itu. Ada dampak di masyarakat dan di konsumen. KPPU belum bisa memasukkan ini ke tahap penegakan hukum,” urainya lagi.

Namun dirinya menegaskan, meskipun potensi oligopoli ada, untuk membuktikan adanya praktik kartel dalam tiket pesawat domestik perlu bukti kuat. “Kami harus hati-hati,” sebutnya.

 

TBA-TBB MALAH DIWACANAKAN NAIK

Pertemuan antara Kementerian Perhubungan dan INACA dua pekan lalu memutuskan maskapai sepakat untuk melakukan penyesuaian tarif penerbangan secara bertahap.

Misalnya pada rute tertentu seperti Jakarta -Surabaya, Jakarta-Denpasar, Jakarta-Jogjakarta, dan sebagainya. Namun sayang, penyesuaian tarif ini belum signifikan pada penerbangan melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan dan Bandara Juwata Tarakan. “Sudah turun harga tiket, walau tidak signifikan dan sesuai keinginan masyarakat. Jadi penyesuaian tarif ini sudah berjalan, tapi masih bertahap,” timpal Kepala Otoritas Bandara (Otban) Wilayah VII Balikpapan Alexander Rita.

Sejauh ini, Otban telah melakukan tugasnya dalam bentuk pengawasan dan pengendalian, termasuk memantau agar harga tiket pesawat tidak melampau tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB). Di mana, aturan tarif ini telah tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016.

Alex mengatakan, sejak momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga kini harga tiket pesawat yang melalui Bandara SAMS Sepinggan terpantau masih aman dan normal. Belum melebihi TBA dan TBB, artinya maskapai tidak melakukan pelanggaran. “Tapi memang yang dikeluhkan masyarakat, kenapa tiket sampai sekarang masih terhitung tinggi padahal musim libur sudah berakhir. Penurunan yang terjadi belum sesuai harapan konsumen,” ucapnya.

Alex menegaskan, mahalnya tiket pesawat selama Januari ini tidak berindikasi pada praktik kartel. Seperti yang didesuskan akibat bisnis penerbangan domestik hanya menyisakan dua pemain besar yaitu Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.

Dia meyakini, maskapai tidak akan berani bermain. Sebab konsekuensinya, maskapai berujung ditinggal konsumen. “Bisnis penerbangan di pengaruhi besar oleh kondisi pasar. Jadi masih pasar yang permainkan,” imbuhnya. Alex memberi contoh kasus seperti maskapai Japan Airlines dan Air France yang hampir bangkrut karena besarnya pengaruh pasar.

Dalam bisnis penerbangan di luar negeri, jarak antarkota dekat dan bisa ditempuh dengan darat. Berbeda dengan Indonesia, bisnis penerbangan domestik begitu kuat karena letak geografis yang mendukung. Walau saat ini, tidak seluruh daerah di tanah air telah tersentuh rute penerbangan.

Sebab maskapai tentu perlu perhitungan untuk membuka rute secara bisnis akan menguntungkan atau tidak. Pria asal Toraja, Sulawesi Selatan ini menjelaskan, maskapai baru dapat break event minimal setengah kapasitas pesawat atau kursi terpenuhi. Komponen paling besar yang memengaruhi biaya tiket adalah pemeliharaan pesawat dan avtur. Apalagi dua hal itu dipengaruhi oleh nilai mata uang dolar yang terus berubah setiap saat. Kemudian komponen pendukung operasional seperti kru, biaya landing, asuransi, dan lainnya.

“Sedangkan pemerintah sudah mengikat maskapai dengan tarif batas atas dan bawah lagi,” ujarnya. Alex berpendapat, harga tarif penerbangan yang masih cukup tinggi ini merupakan bagian dari strategi bisnis. Seperti biasa mengikuti teori penawaran dan permintaan atau supply and demand.

Sehingga sudah jadi hukum pasar, saat permintaan sepi maka maskapai akan memberikan harga tiket murah untuk menarik pengguna. “Kemudian saat permintaan tinggi, maskapai baru bisa bermain mahal. Maskapai ambil untung saat momen peak season saja, selebihnya mereka banyak jual harga murah,” imbuhnya.

Hal ini membuktikan dalam bisnis penerbangan, pasar masih menjadi penentu. Maskapai tidak akan berani pasang tarif tinggi daripada tidak laku. Sementara itu, pemerintah yang diwakili Otban juga terus mengawasi permainan tarif penerbangan agar sesuai aturan TBA dan TBB.

Walau bisnis penerbangan ini masih bergantung pada pasar, pemerintah juga belum bisa lepas sepenuhnya ke pasar. “Tidak berani lepas murni ke pasar karena yang kuat bisa matikan yang kecil, ada perang tarif. Kalau itu sudah terjadi, kasihan yang kecil hanya punya pesawat sedikit bagaimana bisa menutupi biaya operasional,” jelasnya.

Maka dari itu, pemerintah masih harus turut campur tangan. Menurutnya posisi pemerintah yakni menjaga tarif sekaligus mendorong pengusaha berkembang, tapi tidak saling mematikan. Dia pun berharap semakin banyak pemain dalam bisnis penerbangan agar menciptakan persaingan lebih sehat. “Kami tidak bisa secara detail mengatur perusahaan. Pemerintah hanya membatasi ruang gerak dengan mengeluarkan aturan tarif batas atas dan bawah,” ucapnya.

Ketika maskapai terbukti melakukan pelanggaran, maka Otban dapat memberikan sanksi secara bertahap. Tahapannya mulai dari teguran, denda administrasi, pembekuan rute, hingga pencabutan izin rute. Dia mengimbau masyarakat sebagai konsumen dapat mengerti sembari proses penyesuaian tarif berlangsung. Tak lagi merasa rugi atas kondisi ini, namun dapat berpikir justru saling menguntungkan dan mendukung.

“Apalagi sudah dijanjikan oleh INACA akan menyesuaikan tarif mulai dari beberapa rute tertentu. Berapa lama penyesuaian pasti maskapai melihat pasar,” tuturnya. Dia mengatakan, saat ini pemerintah berencana melakukan evaluasi terhadap aturan TBA dan TBB.

Sebab peraturan sudah cukup lama, selama tiga tahun terakhir belum mengalami perubahan. Padahal mungkin saja kondisi sekarang sudah cukup berat bagi maskapai. Melihat dari kurs dolar AS yang sudah berubah hingga inflasi.

Terkait evaluasi TBA dan TBB, Otban Wilayah VII sudah memberikan rekomendasi dan pertimbangan kepada Kementerian Perhubungan. Rekomendasi ini berdasarkan diskusi Otban bersama Gubernur Kaltim, Bank Indonesia Kaltim, Badan Pusat Statistik saat pembahasan kenaikan inflasi daerah beberapa waktu lalu. Saat itu, harga tiket pesawat mendapat sorotan khusus. Indikasi utama pemicu inflasi karena harga tiket yang mahal saat musim libur.

“Hasil diskusi bersama ini yakni rekomendasi kemungkinan memperkecil gap (jarak) antara TBA dan TBB, kami berharap bisa menjadi pertimbangan dalam evaluasi tarif. Ini sudah saya sampaikan ke pusat,” katanya. Dia meyakini, tarif penerbangan yang masih tinggi ini belum berpengaruh pada jumlah penumpang di bandara. Sebab frekuensi penerbangan masih sama.

Hanya saja jumlah penumpang di Bandara SAMS Sepinggan memang berkurang karena terpecah dengan beroperasinya Bandara APT Pranoto. “Tapi belum terasa penurunan jumlah penumpang akibat mahalnya tiket,” ucapnya. Begitu pula dengan pemberlakuan biaya bagasi, belum berdampak pada jumlah penumpang di Bandara SAMS Sepinggan.

Menurutnya kebijakan pemberlakuan biaya bagasi sepenuhnya kewenangan maskapai. Terutama maskapai yang masuk kategori pelayanan standar minimum atau no frills, boleh melakukan penarikan biaya dari bagasi. Namun sekali lagi harus mengikuti aturan yang berlaku. “Dalam aturannya memang diperbolehkan sama saja seperti Air Asia Indonesia yang sudah lebih dahulu memberlakukan biaya bagasi,” ungkapnya.

Sebagai informasi, pemerintah sudah membuat tiga kategori dalam bisnis transportasi udara. Di antaranya full service, medium service, dan no frills. Saat ini maskapai pelayanan full service di Indonesia yakni Garuda Indonesia dan Batik Air. Kemudian medium service yaitu Trigana Air, Travel express, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Transnusa Air Service. Terakhir kategori no frills  di antaranya Lion Air, Wings Air, Air Asia Indonesia, Citilink Indonesia, dan Susi Air.

Dalam kelompok pelayanan ini berlaku standar pelayanan yang tidak sama. Termasuk dalam fasilitas membawa bagasi tercatat. Ketersediaan bagasi tercatat dalam seluruh kelompok pelayanan diberikan oleh maskapai penerbangan dengan ketentuan khusus. Mulai dari kelompok full service paling banyak 20 kilogram tanpa dikenakan biaya. Kemudian kelompok medium service maksimal 15 kilogram tanpa dikenakan biaya, dan kelompok no frills dapat dikenakan biaya.

“Kembali lagi ke pasar, tinggal masyarakat yang memilih. Masyarakat juga sudah pintar dan bisa berhitung lebih untung naik maskapai mana. Jadi masyarakat sudah dikasih pilihan, tinggal mau yang mana sesuai kemampuan,” tutupnya. (tim KPG/lim)

 

Galau Menyebut Kartel

 


BACA JUGA

Sabtu, 20 April 2019 11:02

Empat Partai Kejar-kejaran

TARAKAN – Data Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 di Sistem Informasi…

Sabtu, 20 April 2019 11:00

Memperingati Sekaligus Menaikkan Rasa Syukur

TARAKAN – Perayaan Jumat Agung dalam memperingati kematian Tuhan Yesus…

Sabtu, 20 April 2019 10:57

Rencana UNBK pada Tingkatan SD

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan, berencana menerapkan sistem Ujian…

Sabtu, 20 April 2019 10:35

Pergi Mandi, Dua HP Raib

TARAKAN – Kelalaian dari masyarakat akan menjadi kesempatan bagi pelaku…

Sabtu, 20 April 2019 10:33

Berharap Alokasi Anggaran Terealisasi

TARAKAN – Menikmati jalan mulus belum sepenuhnya dirasakan warga RT…

Sabtu, 20 April 2019 10:08

2020, Optimistis Layani e-ID

TARAKAN - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tarakan, optimistis…

Sabtu, 20 April 2019 10:04

UNBK dan USBN Dilaksanakan Bersamaan

TARAKAN - Sebanyak 30 sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan…

Sabtu, 20 April 2019 09:53

Warga Kerap Terganggu Aroma Sampah

TARAKAN - Keberadaan depo sampah yang terletak di area strategis…

Kamis, 18 April 2019 09:49

Di Kaltara, Jokowi-Amin Unggul 20-an Persen

Hasil sejumlah quick count nasional mengunggulkan pasangan calon presiden dan…

Kamis, 18 April 2019 09:47

Ratusan Surat Suara Tertukar

TERTUKARNYA ratusan surat suara terjadi di beberapa tempat pemungutan suara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*