MANAGED BY:
RABU
20 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 09 Januari 2019 14:13
“174 KL Bisa Dipakai Mandi-Mandi”

Nelayan Justru Antre Panjang di APMS

WAJIB REKOMENDASI: Jejeran jeriken di APMS Dahlia Jakaria, Lingkas Ujung menunggu diisi petugas, kemarin (8/1). JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Untuk kesekian kalinya, sejumlah instansi teknis duduk bersama menyikapi keluhan bahan bakar minyak (BBM) nelayan. Kali ini, atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan.

Produktivitas para nelayan menjadi berkurang karena harus antre berjam-jam hingga berhari-hari di agen penyalur minyak dan solar (APMS) sebelum melaut.

Sahude HM, wakil ketua Perhimpunan Nelayan Kecil (PNK) Tarakan mengaku sudah menjadi pemandangan biasa setiap harinya, nelayan yang harusnya melaut, justru masih mengantre BBM. “Nelayan itu berbagai macam dilakukannya jika naik ke darat, artinya kalau sudah tidak melaut. Memperbaiki armada, kapal, alat tangkap dan lainnya. Sementara ketika kami harus mengantre, maka pekerjaan seperti ini terabaikan. Kalau BBM aman, hati kami lega. Ini mau beli BBM saja susah,” ungkapnya kepada Radar Tarakan, Selasa (8/1).

Bahar, sekretaris PNK hanya bisa melaut dua kali dalam sebulan. Untuk 600 liter BBM jenis solar, harus menunggu hingga sepekan. Antre setiap hari. “Kapalnya memang butuh sebanyak itu kalau sekali melaut. Antre enam hari, di laut selama seminggu. Jadi sebulan cuma bisa dua kali. Kalau BBM lancar, bisa 3-4 kali melaut dalam sebulan,” terang warga RT 27, Selumit Pantai, Tarakan Barat ini.

Jumlah nelayan yang terdata di PNK sekira 5.600-an. Dengan berbagai klasifikasi armada dan alat tangkap.

Klasifikasi itu juga menentukan kapan mereka harus melaut, mengikuti pasang surutnya air laut. “Orang namakan guris. Ada yang turun pas guris satu, guris dua dan lain-lain. Semuanya enggak bersamaan melaut,” kata Ketua PNK Tarakan Zainuddin menimpali.

Segala bentuk persyaratan seperti yang diinginkan pemerintah telah dipenuhi. Rekomendasi yang dipegang harus diperbaharui setiap tiga bulan. Memulai dari awal, menyiapkan berbagai dokumen hingga verifikasi armada. “Melihat masyarakat nelayan, kelihatannya bertabrakan di lapangan, jenis premium dan solar. Sekarang menumpuk di APMS Persemaian. Maunya sosialisasi dulu, sebelum ada kebijakan pengalihan distribusi. Jangan begitu,” jelas Zainuddin.

 

 

 

Muddain, wakil ketua DPRD Tarakan mengungkap jika nelayan Tarakan Tengah dan Timur diminta ke Persemaian mengantre BBM. Berkenaan dengan pengalihan lokasi distribusi. Di antara APMS, ada yang melebihi kuota penyalurannya, ada pula yang belum memenuhi kuota hingga akhir bulan. Seperti diungkap Pemkot, kata dia, kuota 600 KL, namun yang diserap berdasar rekomendasi hanya 426 KL setiap bulannya. Masih tersisa 174 KL.

“Istilahnya enggak ada kekuranga, malah lebih. Ada 170-an KL yang bisa kita pakai mandi-mandi,” Muddain berkelakar mengenai persoalan BBM yang tak kunjung usai.

Dampak dari antrean panjang itu juga dialami pembudidaya rumput laut. Dahlan, salah satu koordinator nelayan di Juata Laut mengungkap seringkali nelayan kekurangan BBM. Ia mempertanyakan kendaraan yang membeli tanpa rekomendasi, justru nelayan diwajibkan rekomendasi.

“Itu enak masuk saja, ambil BBM,” tanyanya.

ADM Sales Executive Retail III Pertamina Kaltara-Berau Wawan menuturkan bahwa pihaknya telah mengatakan tak ada kendala distribusi ke dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). SPBU Kusuma Bangsa dijatah 220 KL setiap bulan, sedang SPBU Mulawarman sebanyak 190 KL setiap bulannya. Kuota ini tidak termasuk 600 KL yang disalurkan ke seluruh APMS dan SPBB. “Ke depannya akan kami bicarakan bersama pusat, kalau bisa nanti APMS itu ditugaskan untuk nelayan saja, SPBU ini 410 KL suda cukup memenuhi kuota kendaraan yang ada,” ujarnya.

Tinjauan lapangan menyebutkan rerata satu truk hanya menghabiskan 40 liter BBM jenis solar untuk 2-3 hari pemakaian. “Ada juga saya perhatikan beberapa mobil yang 2 sampai 3 kali melakukan pengisian dan itu enggak satu SPBU saja. Kalau solar itu dari pusat sudah dialokasikan, ke depannya enggak akan bisa ditambah kalau solar, malah berkurang,” jelasnya.

“Kalau bisa ada aturan khusus BBM, jadi tidak hanya seminggu atau dua minggu sanksinya,” harapnya.

 

TOLAK REKOMENDASI ABAL-ABAL

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPPP) Tarakan Ersant Dirgantara mengatakan bahwa dirinya tak dapat berbicara mengenai dugaan adanya rekomendasi lain di luar yang diterbitkan pihaknya. “Tapi, sudah ada ditegaskan oleh kepala Disdagkop-UKM bahwa mereka tidak mengeluarkan surat rekomendasi. Kalau kami memang tidak pernah mengeluarkan rekomendasi untuk nelayan, kalau UMKM itu memang ranah Disdagkop,” tegasnya.

Nelayan terbagi menjadi beberapa kriteria, yakni nelayan yang menggunakan ketinting, mesin tempel, dan diesel. Berdasarkan data yang dimiliki DPPP, jumlah nelayan mencapai seribu orang, hanya untuk mendapatkan rekomendasi, setiap nelayan harus menyertakan persyaratan, salah satunya adalah pas kecil. “Surat rekomendasi itu berlaku per tiga bulan, setelah itu tidak berlaku lagi dan harus diperbaharui, jadi harus membawa rekomendasi yang lama,” katanya.

Nah, di tahun ini pihaknya telah melakukan verifikasi langsung ke lapangan. Sebab pihaknya telah menemukan beberapa nelayan yang sudah tidak lagi memiliki kapal tetapi masih mengantongi rekomendasi.

“Per 2 Januari 2019 yang kami terbitkan, itu semua hasil verifikasi di lapangan. Jadi kami jamin semua itu ada kapalnya, yang kami keluarkan ada 345 rekomendasi. Kalau tahun lalu, perkiraan kemarin sekitar 500 kapal dengan rekomendasi kuota 441 KL. Makanya sebenarnya permasalahannya ada di distribusinya,” ucapnya.

Dalam peraturan Menteri ESDM, kewenangan DPPP ialah hanya menerbitkan rekomendasi, sedang pengawasan merupakan ranah aparat penegak hukum.

“Intinya harus melibatkan aparat, sesuai dengan aturan main. Kalau kami melakukan pengawasan, ya sudah pasti salah,” tutupnya.

Ketua Fraksi Hanura H. Rusli Jabba juga merekomendasikan hal yang sama. Penataan pada distribusi BBM. Kendati sebelumnya ia menyarankan, agar benang kusut mengenai pengetap tak dipahami pengetap eceran jenis bensin  yang sering ditemui di pinggir jalan. “Muara konsumsi BBM itu juga sebagian besar nelayan. Orang yang bawa motor dan sebagainya itu, jualnya ke sesama nelayan. Saran saya APMS jangan layani mobil. Dan APMS melayani sesuai rekomendasi, misalnya bunyi dalam rekomendasi sekian liter, yah segitu yang dilayani,” imbuhnya.

Ketua DPRD Tarakan Salman Aradeng mengatakan, DPRD bersama Pemkot dan Pertamina akan melakukan pertemuan bersama guna menjamin pasokan solar bagi nelayan dapat terpenuhi.

“Intinya kami minta kepada keluarga dan masyarakat untuk berani melapor, karena kelangkaan solar ini kunci utamanya terjadi karena solar tidak terdistribusi seluruhnya untuk nelayan dan banyak pengetap. Laporkan pengetapnya, telepon saya. Saya teruskan ke kepolisian,” tegasnya.

Pada dasarnya, pemberian solar bersubsidi memang diperuntukkan khusus bagi nelayan dan jatah yang diberikan Pertamina lebih dari cukup bagi nelayan. Untuk itu, pihaknya meminta kepada kepolisian untuk melakukan pengawasan secara langsung di lapangan agar penyaluran solar bersubsidi tidak salah sasaran.

“Tugas kami untuk membuat tim agar ini tidak berlarut-larut, kasihan masyarakat nelayan yang ingin melaut tapi solarnya bukan untuk nelayan, ya disitulah tugas kami,” tuturnya.

Salman menegaskan agar yang diduga melakukan pelanggaran wajib menindaklanjuti secara hukum. Menurutnya, payung hukum khusus terhadap para nelayan merupakan sebuah hal penting untuk ditindaklanjuti. “Kami selesaikan sesegera mungkin. Kami dengan pemerintah akan membicarakan itu, tidak tahu kapan selesainya kalau belum rapat, tidak boleh berandai-andai,” terangnya. (*/shy/lim)


BACA JUGA

Selasa, 19 Maret 2019 11:40

Gas PGN Normal, Kok Listrik PLN Ngga Nyala-Nyala...

TARAKAN - PT Medco EP menjamin pekerja yang menjadi korban…

Selasa, 19 Maret 2019 11:38

Tak Ada Jaminan PLN Sampai Kapan Padam

SEHUBUNGAN dengan adanya insiden ledakan di Stasiun Pengumpul Gas Utama…

Selasa, 19 Maret 2019 11:35

Terdengar Letupan Usai Genset Mati

TARAKAN - Diduga adanya arus pendek listrik, satu rumah di…

Selasa, 19 Maret 2019 11:30

Sukses Ungkap 10 Kg Narkoba, Kapolres Beri Target Baru

KAPOLRES Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan mengapresiasi terhadap kinerja Satreskoba Polres…

Selasa, 19 Maret 2019 10:39

Sebagian Ekspor Masih Singgah Surabaya

TARAKAN- Meski ekspor plywood di Bumi Paguntaka saat ini telah…

Selasa, 19 Maret 2019 10:37

TNI Siap Bantu Polri Mengamankan Pemilu

TARAKAN – Komandan Kodim (Dandim) 0907 Tarakan  Letkol Inf Eko…

Selasa, 19 Maret 2019 10:33

Warga di Sini Harap Banget Pengaspalan Tahun Ini

TARAKAN - Jalan yang masih bertekstur tanah dan pasir selalu…

Senin, 18 Maret 2019 11:00

BLARRRR...!! Satu Pekerja Tewas di Stasiun G-8 Medco E&P

TARAKAN – Sudarman (35) dan Boy (40) berada di sekitar…

Senin, 18 Maret 2019 10:58

KUMAT LAGI..!! Pemadaman Listrik Bergiliran 4 Jam

PEMADAMAN yang direncanakan selama 14 jam meleset jauh dari jadwal…

Senin, 18 Maret 2019 10:57

14 Jam Gas PGN Terhenti

KEPOLISIAN masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan di area Stasiun Pengumpul…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*