MANAGED BY:
MINGGU
24 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 09 Januari 2019 14:00
Wujud Rasa Syukur, Ramaikan dengan Pakaian Adat

Tradisi Meja Panjang, Wujud Warisan Budaya Desa Pimping

BERBAUR: Masyarakat di Desa Pimping dan masyarakat sekitar lainnya saat merayakan Pesta Adat Meja Panjang di Desa Pimping. RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Seiring perkembangan   zaman,   adat   dan   budaya terkadang kerap tergerus oleh waktu. Namun, berbeda halnya   bagi   masyarakat   di   Desa   Pimping,   Kecamatan Tanjung   Palas   Utara.   Diketahui, secara   rutin   sejak tahun 1987 sampai saat ini tetap menggelar Pesta Adat Meja Panjang. Berikut liputannya.

RACHMAD RHOMADHANI

LAUTAN manusia kala itu tampak jelas terlihat di salah satu   jalur   jalan   pedesaaan   di   Desa   Pimping   saat berlangsungnya Pesta Adat Meja Panjang. Tua muda hingga anak-anak yang masih baru belajar merangkak berjalan ikut meramaikan dan terlibat   dalam   pesta   adat   itu.   Itu yang menambah  suasana   semaraknya   gelaran acara setahun sekali tersebut.

Mereka yang hadir tak sekadar berpenampilan ala kadarnya.  Di  sore   itu  sekira   pukul   16.00   Wita, ratusan masyarakat dari wilayah hulu maupun hilir diDesa   Pimping   dengan   saling   berbaur dan mengenakan pakaian adat kebanggaannya. Itu menjadi  daya  tarik tersendiri   bagi   masyarakat   lain   di   sekitar   desa   itu. Sehingga tak jarang, pada Pesta Adat Meja Panjang itu tak hanya diikuti oleh masyarakat lokal saja. Tetapi juga masyarakat luar juga ikut dalam menyemarakkannya.

Lantas apa sih makna perayaan Pesta Adat Meja Pimping tersebut? Kata Alan Bilung, Kepala Desa Pimping,   tujuan   utama digelarnya   Pesta   Adat   Meja   Panjang   ini   juga   sebagai bentuk  rasa   syukur  masyarakat  terhadap   Tuhan  Yang Maha   Esa.   Sebab,   selama   kurun   waktu   setahun terakhir,   telah   diberi   segala   rezeki   dan   keselamatan hingga tiba di awal tahun ini.“Dalam   pesta   adat   ini,   semua   masyarakat   saling berbaur   tanpa   membedakan   status   pendidikan   dan kedudukan,” ungkap Alan.

Dijelaskannya juga, untuk meja panjang harus  berjajar di sisi kiri dan kanan jalan. Alan menyebutkan, masing-masing memiliki panjang lebih dari 200 meter. Tentunya, hal itu bertujuan untuk menampung semua masyarakat yang hadir agar dapat bersama menikmati makanan yang ada di meja. Mulai dari kacang rebus, jagung,   umbi-umbian   dan   buah-buahan   segar   hasil bumi di desa setempat.

“Makanan ini alami dari hasil kerja keras masyarakat. Tidak   beli   di   warung.   Dan   proses   pelayanan   biasa secara bergantian antara blok hulu dan hilir,” bebernya.

Alan menambahkan juga, tujuan lain Meja Panjang ini adalah   sebagai   sarana   silaturahmi   dan   memberikan nasihat   kepada   generasi   muda.   Apalagi,   zaman semakin   berkembang.   Maka,   dikhawatirkan   ke   depan, warisan tradisi nenek moyang bisa saja punah. Pesta adat ini sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang sejak 1987 lalu.

“Jadi hal seperti itu yang perlu diantisipasi. Untuk itulah dalam   acara   Meja   Panjang   sekaligus   menyampaikan tradisi leluhur kepada para generasi muda,” katanya.

Alan   mengatakan   kembali,   generasi   muda   memang perlu   dilakukan   pembinaan.   Oleh   karenanya,   saat   ini pihaknya   meminta   kepada   seluruh   masyarakat   yang berjenis   kelamin   laki-laki   agar   memiliki   satu   perisai. Tentunya,   perisai   itu   sebagai   bentuk   pertahanan   dan perlindungan.

“Semua laki-laki harus mempunyai perisai. Ini sebagai bentuk pengenalan terhadap adat istiadat,” tuturnya.

Diketahui,   dalam   Pesta   Adat   Meja   Panjang   ini   juga melaksanakan   doa   agar   selama   setahun   ke   depan dapat   diberikan   keselamatan   dan   kelancaran   dalam segala hal dan dapat bertemu lagi di tradisi serupa di tahun yang  akan   datang.   Masyarakat  yang  hadir  pun berdoa bersama sebelum menikmati jajanan yang ada.“Tradisi ini akan terus kami lakukan hingga anak cucu kami,” jelas Alan.

Tak lupa ia juga mengungapkan rasa syukur   akan kehadiran orang – orang hebat di acara Pesta Adat Meja Panjang itu. Bagi Alan dan seluruh warga Pimping, itu merupakan suatu kehormatan baginya dan masyarakat di Desa Pimping.

“Kami merasa terhormat  akan  kehadiran   Bapak Wakil Bupati dan Kepala Disdikbud Kaltara,’’ katanya.

Dalam perayaan tersebut, memang tampak Wakil   Bupati   (Wabup)   Bulungan, Ingkong   Ala     dan   Kepala   Disdikbud   Kaltara,   Sigit Muryono ikut berbaur dalam kegiatan. Pihaknya juga memberikan  pujian akan konsistennya Desa Pimping yang mempertahankan tradisi. Seperti diungkapkan   Wabup   Bulungan,   Ingkong   Ala. Ia sangat   mengapresiasi   atas   terus dilestarikannya   adat   dan   budaya   di   Desa   Pimping. Menurutnya, tidak mudah dalam menjaga suatu tradisi. Apalagi,   di tengah   kemajuan   zaman   saat   ini   yang banyak   membuat   paradigma   hidup   berubah. Utamanya,   yang   kerap   menyasar   kepada   generasi muda.

“Tapi, saya bersyukur masyarakat di Desa Pimping ini tetap   konsisten   dalam   menggelar   Pesta   Adat   Meja Panjang ini,’’ ungkap Ingkong Ala. Ia berharap,   warisan   budaya   seperti   ini   dapat terus terjaga. Sehingga ke depan akan semakin banyak desa-desa   wisata   di   Kabupaten   Bulungan   ini.   Oleh karenanya,   atas   nama   pemerintah   daerah   pihaknya memberikan   respons   yang   positif   akan kekonsistenan desa itu.“ Desa   wisata   mungkin   bisa   semakin   banyak   di Bulungan.   Ini   juga   salah   satu   yang   kami   harapkan,’’ tuturnya.

Senada   dikatakan   Kepala   Disdikbud   Kaltara,   Sigit Muryono, pihaknya   tentu   sangat mendukung  akan   perkembangan   kebudayaan  di   desa tersebut.   Untuk   itu,   perlu   dijaga   dan dilestarikan secara terus-menerus.“Kita sebagai OPD (organisasi perangkat daerah) yang terlibat di dalamnya soal budaya akan terus mendukung tentang pelestarian warisan budaya itu,’’ ungkapnya.

Di sisi lain, pihaknya berpesan agar seluruh masyarakat dapat   terus   menjaga   warisan   itu.   Meski,   saat   ini di tengah   kemajuan   zaman   serba   teknologi.   Namun,khususnya alat musik tradisional untuk tetap dijaga dan dilestarikan.

“Mudah-mudahan   dengan   semangat   tinggi   masyarakat   di Desa   Pimping, apa   yang   menjadi   harapannya dapat tercapai semuanya,’’ tuturnya.(***/zia)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Maret 2019 11:26

PLN Kaltimra Cek Kondisi PLTU, Ini yang Ditemukan

TANJUNG SELOR - Guna mendapatkan informasi mengenai pemadaman bergilir yang…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:25

KPU Diserang, Satu Demonstran Ditembak

TANJUNG SELOR – Massa tiba-tiba menyerbu kantor Komisi Pemilihan Umum…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:23

Ribuan Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Pemilu

TANJUNG SELOR - Ribuan personel siap dikerahkan guna mengamankan pelaksanaan…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:22

Tak Netral, ASN Dapat Dipidanakan

TANJUNG SELOR – Menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Sekretaris Provinsi (Sekprov)…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:21

Dua Bus Damri Akan Dikomersilkan

TANJUNG SELOR – Jika sesuai rencana, dalam waktu dekat ini…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:25

Mampu Jadi Penopang Ekonomi Indonesia

TANJUNG SELOR - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:23

SOA Barang Masih Proses Lelang

TANJUNG SELOR - Subsidi ongkos angkut (SOA) barang yang diprogramkan…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:23

Kaltara Miliki Prospek Pengembangan Transportasi Darat

Sejak 22 Februari 2019, Tri Wijono Djati resmi mengepalai jabatan …

Sabtu, 23 Maret 2019 10:22

Caleg Stres, RSD Siapkan Dokter Kejiwaan

TANJUNG SELOR - Meskipun di beberapa rumah sakit (RS) di…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:19

Tak Disiplin, Diskualifikasi Menanti

TANJUNG SELOR - Sebanyak 453 calon pegawai negeri sipil (CPNS)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*