MANAGED BY:
MINGGU
24 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 05 Januari 2019 10:04
Ekspor Perikanan Mau Dibawa ke Mana?
BELUM MENGGEMBIRAKAN: Luas areal tambak di Kaltara cukup besar. Namun tak berbanding dengan hasil produksinya. RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Ekspor perikanan di Kaltara utamanya komoditas udang belum maksimal. Beberapa persepsi yang masih ada saat ini, seperti harga tinggi, dimainkan eksportir/cold storage, dan harga ditentukan dari dalam negeri.

Persoalan lain yang membelit petambak yakni permodalan. Di antara petani banyak yang belum dapat mandiri. Mereka pun terikat kontrak tak tertulis dengan pihak-pihak tertentu seperti pengepul.

Dalam penelusuran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KKPU) menindaklanjuti keluhan sejumlah petani tambak udang menemukan sejumlah fakta lain. Persepsi di kalangan petani tambak tak sepenuhnya benar.

“Pertambakan di Kaltara pernah berjaya, harga udang selangit, tinggi. Kemudian sekarang tidak seperti dulu lagi. Yang ada di pikiran petambak, apakah perubahan itu sedemikian cepatnya, begitu signifikan? Ternyata temuan kami, harga itu selalu bergerak, dari luar ke dalam negeri,” beber Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Balikpapan Abdul Hakim Pasaribu kepada Radar Tarakan, beberapa waktu lalu.

Indonesia bukanlah penentu harga. Sehingga sangat tergantung kondisi pasar internasional. Tergantung dari permintaan negara pengimpor, seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Jepang, China dan beberapa negara Asean lainnya. “Ada pertanyaan kenapa yang turun (harga) itu, di size yang banyak dipanen? Jawabannya, produk itu banyak di situ. Harga dunia sangat memengaruhi harga domestik,” sebutnya.

KPPU juga membandingkan dengan kondisi petambak di Kalimantan Timur. Juga bertemu dengan sejumlah pengepul. Dari temuan mereka, beberapa bulan terakhir ekspor tersendat, terutama ke Jepang. Data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), udang Indonesia mengalami perlambatan permintaan.

“Menyoal transparansi harga, ada situs yang bisa dilihat. Tetapi lebih komoditas udang, bukan per size. Size itu hanya ada di cold storage (eksportir Indonesia). Jepang itu tidak sedetail itu. Beda sama Amerika misalnya,” ujarnya.

Bukan tidak mungkin harga dalam negeri dapat diintervensi pemerintah. Kementerian Perdagangan (Kemendag), kata dia, menyarankan agar pemerintah daerah di Kaltara mempelajari yang dilakukan di Sumatera Selatan dengan menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 43/2013 tentang Pedoman Penentuan Harga Dasar Udang.

“Di Sumsel, pemerintah mengatur tentang penetapan harga di cold storage. Hampir sama dengan sawit. Itu per dua minggu ada perbaruan mengenai harga. Kalau ini mau diterapkan, bisa dipelajari. Ini tidak mungkin di level kota, harus provinsi. Sumber budi daya ini ada di banyak daerah, ada Tana Tidung, Bulungan, Tarakan sampai Nunukan,” sebut Hakim, sapaannya.

“Di India dan Thailand, membuat acuan harga terendah, pada saat panen melimpah harus mengacu harga tersebut. Tapi, kebijakan seperti ini perlu dikaji payung hukumnya. Di samping itu DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) juga harus aktif mencari harga dunia, membuat rilis update harga. Harganya ini harus dicari,” sarannya.

Diperlukan kontrol harga secara berkesinambungan sehingga saat harga tinggi, juga membawa dampak yang baik bagi petambak, berikut rantai ekonomi di dalamnya. “KPPU masih mengawasi, karena struktur oligopoli, maka kecenderungannya kartel. Kalau itu terjadi, kami masuk ke ranah hukumnya. Kami belum di situ (persaingan tidak sehat), fungsi KPPU berjalan di situ. Kita harus bedakan fungsi KPPU dan pemerintah,” kata Hakim membeberkan fokus lembaganya.

Saran lain yang disampaikan pihaknya, yakni para eksportir di Kaltara harus didorong mencari pasar baru. Hal itu juga harus diikuti dengan pengelolaan tambak yang ramah lingkungan di tingkat petani. “Seperti pasar Uni Eropa. Agak ribet syaratnya masuk ke sana. Tapi duit itu ada di sana, kenapa tidak kita mencoba. Harus berani melirik pasar lain, seperti Eropa. Selain itu, improve terhadap petambak, meninggalkan cara yang konvensional, namun tetap memperhatikan lingkungan,” kata Hakim.

Dalam pertemuan tahunan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalimantan Utara pertengahan Desember lalu, juga mengemukakan jika peningkatan ekonomi dapat dipacu   dengan penguatan ekspor. Secara garis besar, kekuatan ekonomi ditopang dari kepariwisataan, ekspor dan investasi.

Kepala KPw Bank Indonesia Kaltara Hendik Sudaryanto mengatakan ekspor sangat memungkinkan untuk didorong pertumbuhannya. Selama ini Kaltara telah mengekspor sejumlah komoditas. Hanya akan lebih baik lagi jika ditambahkan nilainya.

Menurutnya, ekspor perikanan yang telah berjalan dapat terus ditingkatkan. Sepanjang pasarnya ada, tidak akan menjadi masalah.

Dikatakan, ada buyer yang bisa menyalurkan, baik domestik maupun ekspor. Namun peluang yang ada harus dimanfaatkan oleh pelaku usaha atau didukung pemerintah dan bersinergi dengan instansi terkait. Peluang yang dimaksud dari hulu sampai hilir akan menghasilkan suatu budi daya perikanan menjadi komoditas ekspor.

Di sisi lain, adanya biaya pengiriman yang tinggi. “Biaya ekspor saat ini, dari Tarakan, Surabaya kemudian ke Jepang. Secara geografis, Tarakan lebih dekat dengan Jepang jika dilakukan secara langsung tanpa harus transit Surabaya,” kata Hendik.

Beberapa penggiat usaha meyakini Kaltara sanggup mengekspor sejumlah komoditas. Di pertambakan udang, tantangannya sangat besar. Salah satunya karena padat modal. Belum lagi risiko dan kompetitor dari negara lain yang cukup kuat, seperti Vietnam, India dan beberapa negara lain Asean.

Pertambakan membutuhkan solusi. Sehingga patut dicoba komoditas bandeng. Selain serapan lokal yang tinggi, juga ekspor tinggi. Ekspor dengan standar khusus, sisanya dapat diserap pasar lokal. Berbanding terbalik dengan udang, ketika ada masalah di pasar dunia, lokal tidak bisa menyerap.

Potensi ekspor bandeng sangat banyak, dan dipisahkan menjadi dua fungsi. Pertama untuk konsumsi manusia diekspor ke Korea Selatan, Timur Tengah, Taiwan dan beberapa negara lain. Kedua bisa digunakan sebagai bahan umpan untuk ukuran yang kecil.

Bandeng sebagai bahan umpan bisa diekspor ke Korea, Taiwan, China, Republik Palau, dan negara lain. Untuk nilai harga ekspor bandeng tidak terlalu tinggi, per kilo hanya dihargai 1,3 USD saja. Tetapi tentunya menjadi bernilai, karena di Kaltara terkadang dibuang tanpa dimanfaatkan.

Selain bandeng, komoditas berikutnya yakni nila salin. Nila salin yakni ikan nila yang bisa dibudidayakan di air payau. Menjadi potensi karena di Jawa di keramba jaring apung.

Budi daya nila dan bandeng tidak terlalu sulit dan lebih tahan penyakit. Menjaganya tidak serumit udang. Nila juga ekspornya sama seperti bandeng, tetapi yang paling besar ke Korea. Pasar lainnya yakni ke Timur Tengah atau Arab. (lim)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Maret 2019 11:29

Kampanye, Dilarang Menyoal Pancasila

TARAKAN - Jika pelaksanaan kampanye terbuka pada pemilihan kepala daerah…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:27

Kapolda: Jangan Bagi Berita Enggak Jelas Sumbernya

TARAKAN – Menjelang pelaksanaan pemungutan suara pada pemilihan legislatif dan…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:16

Akun FB Dipolisikan, Iwan Sebut Kritikan

TANJUNG SELOR - Sahabat Irianto Lambire melaporkan akun media sosial…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:14

Curi Motor Teman Sendiri

TARAKAN – Nekat membawa kabur motor teman sendiri, wanita berinisial…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:14

Pencuri Spesialis Waktu Subuh Dibekuk Polisi

TARAKAN – Anggota reskrim di Kepolisian Kawasan Sektor Pelabuhan (KSKP)…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:12

Jalan Terbelah, Pengendara Resah

TARAKAN - Terlihat ada jalan nyaris terbelah 2 di Jalan…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:38

“Aldy Melawan Kejahatan Tingkat Tinggi”

TARAKAN – “Iyaaa mamiku.” Diakhiri dengan emoji penuh cinta. Itulah…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:34

Pemadaman Bergilir, RSUD Tarakan Paling Terdampak

TARAKAN – Selama pemadaman listrik bergilir diberlakukan  keluhan tidak hanya…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:32

Tanpa Izin Edar, Produk Beku Disita

TARAKAN – Penindakan terhadap produk beku di salah satu gedung…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:27

Divonis Mati, Dua Terpidana Sabu 4 Kg Banding

TARAKAN- Usia divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*