MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 31 Desember 2018 10:13
Hadiri Undangan, Tiba di Kota Setelah Acara Selesai

Potret Aparatur di Desa Long Sule dan Long Pipa, Kabupaten Malinau (Bagian-2)

MENGABDI: Kepala SMPN 2 Kayan Hilir Wesley Amos. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Memperoleh akses kesehatan dan pendidikan yang seluas-luasnya merupakan hak setiap warga negara. Aspek penting dalam kemajuan masyarakat. Di tengah keseriusan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan kesehatan saat ini, warga Kecamatan Kayan Hilir belum seutuhnya menikmati dua kebutuhan dasar itu.

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

MODA transportasi yang minim berdampak pada kebutuhan masyarakat desa. Satu fasilitas kesehatan berupa pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) tak cukup melayani ketika ada warga sakit. Mereka yang sakit keras harus menunggu berhari-hari. Menunggu pesawat datang, milik Mission Aviation Fellowship (MAF) atau Susi Air.

Lisnawaty (32), kepala perawat Puskesmas Desa Long Sule mengungkap, stok obat sering kurang. Pengiriman oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau terhambat, karena cuaca atau kerusakan pesawat. Mereka yang sakit diberi obat seadanya. “Setahun tiga kali pengiriman. Kadang kalau sudah seharusnya datang, tapi tidak datang. Kadang sudah kita butuhkan, belum datang, bahkan tidak bisa,” ungkapnya Rabu (21/11).

Bisa dibayangkan, jika ada warga yang sakit parah, namun puskesmas tidak memiliki stok obat. Bagi warga Long Sule dan Long Pipa, puskesmas hanyalah tempat untuk mengobati penyakit ringan saja. Masyarakat yang menderita sakit parah masyarakat mengandalkan dukun atau berdoa. Dengan keadaan terbatas, puskesmas sangat tidak mungkin menyembuhkan.

“Kalau di sini pas stok obat habis mungkin sakit gigi atau tertusuk paku, kami bisa akali dengan menggunakan obat penahan sakit. Tapi kalau untuk sakit parah, kami tidak bisa berbuat banyak lagi,” tuturnya menceritakan pernah menangani korban penikaman, hanya dijahit dan diperban.

Sebagai warga asli Long Sule, Lisnawaty tak ingin meninggalkan desanya. Hampir empat tahun menempuh pendidikan di Samarinda, Kalimantan Timur semuanya ia niatkan untuk warga desanya. “Mau bagaimana lagi, kalau orang asli di sini enggak betah di sini, siapa yang akan peduli,” kata dia.

Beberapa tahun lalu, Lisnawaty ditawari untuk bekerja di rumah sakit di Tarakan atau Samarinda. Ia menolak halus. Lisnawaty punya harapan yang sama dengan warga lainnya, akses transportasi yang mudah. Peralatan kesehatan dapat terdistribusi dengan lancar.

 

GAJI GURU ‘LEWAT’ PEDAGANG

Serupa, selain pelayanan kesehatan proses belajar dan mengajar terbentur transportasi yang tak memadai. Salah satu dampak yang dirasakan tenaga pendidik mengenai peningkatan kompetensi.

Tenaga pengajar atau pun lainnya yang memiliki urusan di Kota Malinau atau Tanjung Selor kerap kali tidak bisa hadir tepat waktu. Perjalanan pergi butuh waktu lama.

Supriadi (33), mendaftar tes seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Pemkab Malinau pada 2014 lalu dengan penempatan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 13 Long Sule. Guru bahasa Indonesia.

Dia turut mendampingi rombongan dari Kayan Hilir dalam Pesta Budaya Irau Malinau Oktober lalu.

2015, tahun pertama bertugas di Long Sule, sekali dalam tiga bulan menuju Kota Malinau. Mengambil gaji, rapel. Supriadi sengaja melakukan itu, biaya perjalanan ke Kota Malinau cukup mahal. Hitung-hitung berhemat.

Urusan di kota lainnya, seperti mengantar laporan para guru acap kali tertahan di perjalanan berminggu-minggu. Murid di Long Sule, sering belajar tanpa guru. Materi belajar dititip sebelum meninggalkan Long Sule. Di antara murid, ada yang memahami, ada pula yang memilih tak belajar saat guru mereka jalan.

Setiap bulan, Supriadi mengetahui gajinya masuk dari SMS-banking. Pemberitahuan transaksi rekening bank di ponsel. Uang tunai dia terima dari pedagang. “Ibaratnya gaji saya dari pedagang. Yang punya duit tunai banyak, cuma pedagang. Saya SMS-banking saja, transfer ke pedagangnya. Mau keluar ke Wahau, biaya lagi untuk narik duit,” jelasnya.

“Kalau transportasi lancar, enak untuk menyelesaikan segala urusan. Mendatangkan bahan untuk proses belajar mengajar di sekolah ini. Saya pikir kalau transportasi darat lancar, segala yang kami butuhkan setidaknya bisa lebih mudah. Ditambah dengan internet, kalau ada. Akan memudahkan kami,” tutur Supriadi kepada Radar Tarakan.

 

PILIH MAKANAN ATAU BUKU

Jangankan komputer, di sekolah itu buku mata pelajaran terbitan terbaru, merupakan fasilitas mewah. Sebagian besar buku-buku yang dipakai merupakan cetakan 2008. Jauh tertinggal dari Kota Malinau.

Buku diantar via penerbangan? Bisa, tapi akan mengorbankan kebutuhan utama mereka, pangan. Pesawat mengangkut beban terbatas, penumpang harus tahu diri. Maka memilih yang mana kebutuhan yang diprioritaskan untuk dibawa dari luar.

“Keadaannya begini, ya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mau dibawa lewat darat, risikonya tinggi, terendam walau dibungkus misalnya. Perjalanan yang dilalui itu bukan mudah. Pesawat terbatas. Itu kalau ada, sekarang sudah susah penerbangan itu,” keluh Supriadi mengungkap kekecewaannya terhadap maskapai Susi Air yang disubsidi pemerintah.

Supriadi tidak hanya mengajar bahasa Indonesia. Dia juga mengajar matematika. Guru di Long Sule harus bisa mengajar lebih dari satu mata pelajaran karena kurangnya tenaga pengajar. Mengajar di semua kelas yang siswanya bejumlah 50 orang.

Sudah 8 tahun menumpang di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Kayan Hilir yang bangunannya darurat. Berdinding dan berlantai papan. Jendela ditutupi ram, bukan kaca.

Agar para siswa bisa belajar, tiga ruangan disekat. Berbagi dengan SMPN 2.

Para siswa SMAN 13 belum tahu nasib mereka, tahun depan akan belajar di mana. SMPN 2 merencanakan akan menggunakan seluruh ruangan untuk keperluan ekstrakurikuler.

Angin segar dari 2016 belum juga terealisasi. Pemkab Malinau merencanakan pembangunan sekolah, teranggarkan. Sudah tiga tahun. Belum mewujud.

Harga material bangunan di kota, jauh lebih murah dibanding di Long Sule. Satu sak semen dihargai Rp 1,3 juta. Pemangku jabatan enggan mempertaruhkan diri, khawatir kegiatan pembangunan memunculkan penilaian negatif. Korup atau semacamnya.

“Perencanaan itu menggunakan standar harga di kota. Sementara di sini tidak mungkin mendapatkan material dengan harga yang sama. Dari beberapa pergantian kepala sekolah tidak ada yang berani menjalankan pembangunan sekolah ini,” ujar pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini.

Wesley Amos, usianya masih muda. Baru 32 tahun. Juga warga asli Long Sule. Diberi amanah sebagai kepala SMPN 2 Kayan Hilir dari 2017.

Ia memilih tak hanyut dalam segala keterbatasan. Tidak sekali ditegur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Malinau, dianggap mengabaikan urusan kedinasan. “Kami berupaya hadir. Sampai di sana (Kota Malinau) setelah acara selesai berhari-hari. Undangan disampaikan dua hari sebelum kegiatan. Kadang seminggu sebelum acara. Atau disampaikan melalui pesan SMS (short message service),” imbuhnya.

“Bulan lalu saya diundang pertemuan di Disdikbud kabupaten, mereka mengirimkan informasi seminggu sebelum acara. Ketika saya ke sana lewat darat, ternyata saya sampai setelah seminggu acara itu selesai. Kadang juga sudah lewat sebulan, undangan baru kami terima,” tukasnya.

Wesley berharap ada solusi dari dua pemerintah provinsi (pemprov), Kaltim dan Kaltara. “Kami berharap kedua gubernur bisa saling bertemu, membahas nasib kami. Karena bagaimana pun kami termasuk bagian dari Malinau, tapi kenyataannya geografis kami lebih dekat dengan Kalimantan Timur. Sehingga jalur dari Kalimantan Timur adalah akses utama,” pinta Wesley. (***/bersambung/lim)

 

 


BACA JUGA

Rabu, 26 Juni 2019 10:28

“Saya Kehilangan Orang Terbaik di Hidup Saya”

TARAKAN – Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun , ibunda…

Rabu, 26 Juni 2019 10:27

Larangan Aktivitas Bongkat Muat Kukuh Diberlakukan di Pelabuhan Ini

TARAKAN – Surat edaran yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan Kalimantan…

Rabu, 26 Juni 2019 10:24

Cegah Hoaks-Ujaran Kebencian dengan Komsos

TARAKAN – Upaya menjalin persatuan dan kesatuan untuk mempererat Kebhinekaan masyarakat…

Rabu, 26 Juni 2019 10:22

Kumpul Material Bekas untuk Membangun Gubuk

Petrunaila Inalaini atau lebih dikenal Mama Angel, yang kini membiayai…

Rabu, 26 Juni 2019 09:51

Jalan Rusak Parah, Ganggu Aktivitas Pengendara

TARAKAN – Badan Jalan Aki Balak, yang berada tepat di…

Rabu, 26 Juni 2019 09:41

Peminat Samsat Keliling Masih Minim

TARAKAN – Meski sudah dioperasikan, namun masyarakat yang membayar pajak…

Rabu, 26 Juni 2019 09:37

Tidak Ada Penerangan, Rawan Kecelakaan

TARAKAN - Tidak adanya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) di…

Selasa, 25 Juni 2019 10:04

Antre dari Pagi, Demi Sekolah Baru

TARAKAN - Hari pertama Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) pada…

Selasa, 25 Juni 2019 10:02

Laporan Tahun Lalu Terdapat Silpa

TARAKAN – Rapat paripurna tentang laporan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD…

Selasa, 25 Juni 2019 10:00
Aktivitas Pengangkutan Buruh Dihentikan Sementara

“Bagaimana Kami Menafkahi Keluarga”

TARAKAN – Ratusan buruh Pelabuhan SDF Tarakan protes. Sejak dikeluarkannya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*