MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 19 Desember 2018 14:15
Saran Bos BI Kaltara, Ini Sektor yang Harus Diseriusi
RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong penguatan ekspor dalam diskusi dengan sejumlah stakeholder, kemarin (18/12). Diskusi dalam pertemuan tahunan itu, secara keseluruhan membahas kondisi ekonomi Kaltara. Secara garis besar, kekuatan ekonomi ditopang dari kepariwisataan, ekspor dan investasi.

Kepala KPw Bank Indonesia Kaltara Hendik Sudaryanto mengatakan ekspor sangat memungkinkan untuk didorong pertumbuhannya. Selama ini Kaltara telah mengekspor sejumlah komoditas. Hanya akan lebih baik lagi jika ditambahkan nilainya. “Bagi Indonesia secara keseluruhan, bisa menambah devisa masuk,” tuturnya.

Satu hal utama yakni potensi perikanan. Menurutnya, ekspor perikanan yang telah berjalan dapat terus dipacu. Sepanjang pasarnya ada, tidak akan menjadi masalah.

Dikatakan, ada buyer yang bisa menyalurkan, baik domestik maupun ekspor. Namun peluang yang ada harus dimanfaatkan oleh pelaku usaha atau didukung pemerintah dan bersinergi dengan instansi terkait. Peluang yang dimaksud dari hulu sampai hilir akan menghasilkan suatu budi daya perikanan menjadi komoditas ekspor.

Di sisi lain, adanya biaya pengiriman yang tinggi. Biaya ekspor saat ini, dari Tarakan, Surabaya kemudian ke Jepang. Secara geografis, Tarakan lebih dekat dengan Jepang jika dilakukan secara langsung tanpa harus transit Surabaya.

Itu juga akan lebih menguntungkan bagi para pelaku di Kaltara. Hal lain mengenai kekurangan jumlah yang diekspor. Padahal di lapangan sangat banyak, sementara ini belum dikumpulkan.

“Nah ini yang akan dilakukan tindak lanjut untuk didiskusikan. Sejauh mana memenuhi kekurangan itu,” terang Hendik.

Sementara itu, Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie memberi gambaran global perekonomian Kaltara dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), kemarin (18/12). Pertemuan tersebut mendorong ekspor sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. “Pertama, saya ingin mengomentari dulu data dari BI. Data ini aktual, update, valid dan solid. Juga ada upaya inovasi atau perubahan baru. Terkait topik hari ini, pada pertumbuhan ekonomi 2018, kawasan timur Indonesia termasuk yang paling rendah kontribusinya untuk mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Padahal, SDA (sumber daya alam) itu ada di kawasan ini, utamanya Kalimantan,” ujar Gubernur mengawali paparannya.

Menurutnya, perlu ada usaha keras sehingga Indonesia dalam unggul dalam hal produksi. “Negara ini masih bertumpu pada konsumsi, belum pada sisi produksi. Apabila ingin menjadi negara modern, kita harus mengarah ke ekspor dan perdagangan,” imbuhnya.

Pada kondisi saat ini, Pulau Jawa termasuk yang cukup mampu meningkatkan perekonomiannya dari sisi produksi. “Dari itu, pemerintah di masa mendatang, harus ada upaya untuk mengubahnya. Kita bicara Indonesia-sentris, bukan Jawa-sentris. Ini berbahaya dari sisi politik dan pertahanan-keamanan,” nilainya.

Menyoal inflasi, selama pemerintahan saat ini, inflasi sangat terkendali. Hanya defisit transaksi berjalan perlu upaya lebih keras. Angka kredit juga menunjukkan pertumbuhan yang baik. “DPK juga perlu mendapat perhatian khusus,” imbuhnya.

Hal lain yang dapat menguatkan seperti disampaikan Gubernur, adalah pola konsumsi dan investasi. Di antara masyarakat Kaltara, khususnya yang berlatar belakangan pengusaha dalam skala menengah ke atas, lebih cenderung berinvestasi ke luar Kaltara. “Artinya mencari penghidupan di Kaltara, namun berinvestasi di luar Kaltara. Saya menyarankan, hal itu untuk dikurangi dengan banyak menabung di perbankan di Kaltara. Inflow selalu lebih kecil dari outflow, inilah yang menjadi bentuk kebocoran wilayah,” urai mantan Sekretaris Provinsi Kalimantan Timur ini.

Dari data yang ada, pertambangan masih menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di Kaltara. Selain itu, investasi yang menyumbang 32 persen. “Ini berasal dari investasi pemerintah, APBN dan APBD. Kita mampu menarik dana pusat cukup besar, pada 2018 saja dana APBN yang dialokasikan untuk Kaltara baik yang dilaksanakan, transfer ke daerah dan dana desa (TKDD), dan lainnya sekitar Rp 10 triliun lebih, sementara penduduknya kurang dari 1 juta jiwa,” bebernya.

Perikanan merupakan sektor yang paling tinggi dan menjanjikan sebagai komoditas ekspor. Komoditas baru yang dapat dikembangkan selain udang, yakni ikan bandeng dan juga nila salin.

Praktisi usaha kecil dan menengah (UKM) Kalimantan Utara (Kaltara) Mumfaizin meyakini Kaltara sanggup mengekspor sejumlah komoditas.

Di pertambakan udang, tantangannya sangat besar. Salah satunya karena padat modal. Belum lagi risiko dan kompetitor dari negara lain yang cukup kuat, seperti Vietnam, India dan beberapa negara lain Asean.

Pertambakan membutuhkan solusi. Sehingga mencoba bandeng, karena selain serapan lokal yang tinggi, juga ekspor tinggi. Ekspor dengan standar khusus, sisanya dapat diserap pasar lokal. Jika berbicara udang, yang harganya melambung tinggi. Berbanding terbalik dengan udang, ketika ada masalah di pasar dunia, lokal tidak bisa menyerap.

“Masyarakat tidak akan mampu untuk membeli dengan harga yang sangat mahal. Dan pastinya berpikir dua kali untuk membelinya,” ungkapnya.

Menurut Mumfaizin potensi ekspor bandeng sangat banyak, dan dipisahkan menjadi dua fungsi. Pertama untuk konsumsi manusia diekspor ke Korea Selatan, Timur Tengah, Taiwan dan beberapa negara lain. Kedua bisa digunakan sebagai bahan umpan untuk ukuran yang kecil.

“Satu kilonya bisa berisi 7 ekor, karena di Kaltara biasanya dibuang saja. Jadinya dijual ke pasar ekspor,” ungkapnya.

Bandeng sebagai bahan umpan bisa diekspor ke Korea, Taiwan, China, Republik Palau, dan negara lain dengan industri perikanan lautnya yang tinggi. Untuk nilai harga ekspor bandeng tidak terlalu tinggi, per kilo hanya bisa mendapatkan 1,3 USD saja. Tetapi tentunya menjadi bernilai, karena di Kaltara hanya dibuang tanpa dimanfaatkan.

“Sedangkan ekspor ikan bandeng untuk konsumsi sedikit lebih tinggi, karena perlu proses untuk dikemas. Itu bisa di atas 2 USD per kilonya,” jelasnya.

Selain bandeng, karena karakteristiknya budi daya tambak, maka komoditas berikutnya yakni nila salin. Nila salin yakni, ikan nila yang bisa dibudidayakan di air payau. Menjadi potensi karena di Jawa di keramba jaring apung. Sekarang sudah tidak boleh dan dikurangi dan ditertibkan. “Jadi volume yang sekian banyak itu harus digantikan dari mana. Otomatis dari budi daya alternatif khususnya dari tambak yang diharapkan,” imbuhnya.

Untuk budi daya nila dan bandeng tidak terlalu sulit dan lebih tahan penyakit dan tidak sering sakit seperti udang, kemudian kualitas air juga tidak serumit udang. Nila juga ekspornya sama seperti bandeng, tetapi yang paling besar dilakukan ke Korea. Pasar lainnya yakni ke Timur Tengah atau Arab.

“Arab disuplai dari Mesir, karena nila hitamnya luar biasa. Bahkan kami kalah saingan dari Mesir. Karena mereka lebih dekat, transportasi lebih pendek,” jelasnya.

Permintaan dua komoditas ini juga cukup besar, di Arab, per bulannya membutuhkan 100 hingga 150 ton. Di Korea Selatan, kebutuhan nila dibandingkan bandeng tiga kali lipat. Dan harga jual juga cukup bagus.

“Kaltara ini sebenarnya ada semua, termasuk pertanian. Tetapi kami sudah melakukan, hanya masih kecil volumenya,” ujarnya. (*/naa/lim)


BACA JUGA

Kamis, 21 Maret 2019 11:18

Pasokan Listrik Segera Pulih Bertahap

TARAKAN – Proses pigging atau pembersihan pipa akhirnya rampung dilakukan…

Kamis, 21 Maret 2019 11:14

ADA APA INI..?? Empat Sukhoi Mengudara di Perbatasan Kaltara

TARAKAN – Empat pesawat Sukhoi jenis SU-27 dan SU-30 dari…

Kamis, 21 Maret 2019 11:13

CIHUYY ..!! Ngga Lama Lagi di Tarakan Ada Cinema XXI

TARAKAN – Pertengahan tahun ini, Cinema XXI di lantai empat…

Kamis, 21 Maret 2019 11:11

4 ASN Mangkir Kerja, 2 Kampanye di Medsos

TARAKAN - Menjadi anggota aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan untuk…

Kamis, 21 Maret 2019 10:37

Cabuli Anak di Bawah Umur, CK Diringkus Polisi

TARAKAN – Perbuatan yang dilakukan oleh pria berinsial CK (37)…

Kamis, 21 Maret 2019 10:31

Besi Bermunculan di Badan Jalan

TARAKAN – Minimnya perawatan jalan lingkungan, kerusakan semenisasi jalan pun…

Rabu, 20 Maret 2019 11:17

Pigging Klir, Listrik Berangsur Pulih

TARAKAN – PT Medco E&P Tarakan tengah berusaha merampungkan proses…

Rabu, 20 Maret 2019 11:15

Kelalaian Warga, Lahan Kembali Terbakar

TARAKAN - Kebakaran lahan kembali terjadi di RT 05 Kelurahan…

Rabu, 20 Maret 2019 11:13

“WTP Bukanlah Tanda Kelulusan, tapi Kewajiban”

Dalam kaitan membangun Indonesia, masyarakat perlu memiliki pemahaman cukup untuk…

Rabu, 20 Maret 2019 11:12

Kampanyekan Heart of Borneo Jadi Wisata Dunia

JAKARTA - Tak hanya kekayaan sumber daya alam berupa minyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*