MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 19 Desember 2018 13:43
Buruh Migran Ilegal Tak Ada Habis-Habisnya
MASIH BEBAS: Para PMI yang pulang dari Tawau, Malaysia melalui Dermaga Desa Bambangan yang merupakan jalur tidak resmi. ENAL/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Aktivitas keluar masuk pekerja buruh migran yang bekerja di Tawau, Malaysia tak kunjung habis. Walaupun tak menggunakan jalur resmi, para PMI tetap dapat masuk maupun keluar melalui Sebatik.

Seperti yang terjadi di dermaga Desa Bambangan, Kecamatan Sebatik Barat. Aktivitas penyeberangan yang dilakukan pekerja terlihat ramai. Barang bawaan pekerja diangkut menggunakan kendaraan roda empat sangat banyak.

Salah seorang pekerja yang telah kembali dari Tawau, Malaysia, Roadi mengaku terpaksa menggunakan jalur tidak resmi atau lebih akrab disebut lewat samping. Karena dokumen yang digunakan, tak dapat dicap keluar. “Paspor yang digunakan masih jaminan, karena memiliki batas waktu kapan harus dicap keluar,” kata Roadi kepada media ini.

Menurutnya, menggunakan jalur Tawau ke Sebatik, karena sebelumnya telah menggunakan jalur yang sama. Ingin menggunakan jalur resmi, namun paspor yang digunakan tak pernah dicap keluar di Imigrasi, Tawau, Malaysia.

Lebih dari 10 pekerja yang pulang dari Tawau, Malaysia terpaksa menggunakan jalur ilegal. Keinginan untuk menggunakan jalur resmi ada, namun ada juga pekerja yang tak memiliki paspor. Jadi terpaksa membayar mahal agar dapat tembus ke Sebatik. Menyeberang dari Tawau, Malaysia menggunakan jasa pengurus yang menyiapkan semua kenderaan, termasuk perahu yang digunakan dari Tawau hingga ke  Nunukan. “Sisa menyiapkan biaya yang diminta oleh pengurus. Biayanya bervariasi, tergantung barang. Jika dilihat banyak barang maka akan dibayar lebih mahal,” ujarnya.

Pembayaran yang dikeluarkan untuk penyeberangan dari Tawau, Malaysia ke Sebatik. Jika tak memiliki dokumen dikenakan biaya paling tinggi terkadang Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Sedangkan bagi yang telah memiliki dokumen terkadang diminta Rp 1 juta. “Soal biaya kami tidak terlalu pikirkan, yang utama adalah bagaimana bisa pulang kampung,” tambahnya.

Sebelumnya telah disampaikan, Kepala Pos Imigrasi Sebatik, Muhammad Anas, bahwa aktivitas ilegal di Sebatik khusus untuk pekerja dilakukan ketika ada kapal tiba di Pelabuhan Tunon Taka. Penyeberangan Tawau ke Sebatik tak mengenal waktu. “Jika ada kapal pelni atau kapal swasta tiba, pasti banyak lagi pekerja yang menggunakan jalur ilegal di Sebatik,” singkat Muhammad Anas. (nal/fly)

 

 


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*