MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 12 Desember 2018 12:43
Operasi Kembali, Mengutang Kantong Darah
NORMAL: PMI Nunukan kembali menerima setiap pendonor darah yang masuk. Pelayanan transfusi darah kini kembali normal. SYAMSUL/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Setelah sempat terhenti, pelayanan donor darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Nunukan kini kembali normal. Kebutuhan darah yang terus meningkat hingga 10 persen dari hari biasanya membuat pihak PMI Nunukan harus mengambil langkah cepat.

Di tengah keterbatasan, mereka memilih meminjam sejumlah bahan untuk transfusi darah ke PMI Tarakan. Karena, bahan dan alat untuk melakukan transfusi darah dari pendonor kepada pasien yang membutuhkan tidak dapat dikirim distributor lantaran utang yang sebelumnya belum terbayar.  

Kepala Bidang Teknis Transfusi Darah PMI Nunukan Muhammad Hasbullah membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, setelah mendapatkan pinjaman kantong darah dari PMI Tarakan, pihaknya akhirnya kembali melayani pendonor darah.

“Sudah normal lagi. Kami memang sempat berhenti karena kantong darah yang kosong. Kami dipinjamkan, jadi namanya utang. Diberikan waktu dua pekan untuk dapat gantikan bahan yang diambil,” kata Hasbullah, saat ditemui media ini di kantor PMI Nunukan, kemarin. 

Hasbullah menyakinkan, untuk stok kebutuhan darah tetap masih ada. Hanya saja, alat untuk menampung darah dan bahan pencocokan golongan darah yang habis. Sehingga untuk memberikan kebutuhan darah ke pasien tidak dapat dilakukan. “Cairan pengencer darah dan bahan mencocokan darah dengan pasien itu sangat vital. Kalau bahan itu tidak ada maka tidak dapat memberikan darah ke pasien,” jelasnya.

Setelah mendapatkan pinjaman yang diberikan waktu 2 pekan tersebut maka pelayanan transfusi darah dapat dilakukan. Selain itu, utang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan

Diungkapkan, setiap kantong darah yang diambil pasien di PMI Nunukan itu seharusnya menebus dengan harga Rp 360 ribu. Sejatinya, uang sebesar Rp 360 ribu yang dibebankan kepada penerima darah donor bukanlah “harga jual” darah seperti yang sering disematkan publik. Angka tersebut merupakan Biaya Pengganti Proses Pengolahan Darah (BPPD) yang meliputi biaya-biaya terkait proses pengolahan darah sebelum bisa didistribusikan ke pasien.

“Nah, yang biasanya diambil dari rumah sakit itu tidak dilakukan utang. Ketika tidak dibayar, maka kami juga tidak bisa membayar distributor penyedia kantong darah dan bahan-bahan laboratorium untuk transfusi darah itu,” jelasnya.

Sebab, darah tak bisa langsung digunakan begitu saja seperti saat pertama kali diambil dari pendonornya. Harus ada tahapan-tahapan proses yang dilalui untuk menjadikan darah tersebut aman digunakan. Selain itu, darah juga terdiri dari beberapa komponen yang tidak semuanya dibutuhkan pasien. Sebelum darah bisa digunakan, alur pengolahannya dimulai dari proses pengambilan darah dari donor. Dari proses itu saja sudah dikeluarkan biaya guna formulir calon donor, kapas, alat untuk mengecek HB donor, selang, serta kantong penyimpanan darah.

“Jarumnya hanya boleh sekali pakai, lalu kantong darahnya masih impor dari luar negeri. Indonesia belum bisa produksi sendiri. Nah, itu butuh biaya juga dan tidak murah,” jelas Hasbullah.

Jika persoalan kebutuhan darah dan pelayanan pendonor darah telah berjalan normal, berbeda dengan honorer staf PMI Nunukan. Belasan relawan tersebut sudah 4 bulan dan kini memasuki bulan ke 5 belum menerima honorer mereka. Kejadian ini menjadi yang pertama kali. “Iya, sudah masuk 5 bulan dengan bulan Desember ini. Semoga saja Januari 2019 bisa diterima,” aku salah seorang relawan yang ditemui di PMI Nunukan kemarin.

Ia mengaku, meskipun belum terbayar honorer mereka, namun tugas untuk memberikan pelayanan kemanusiaan tetap saja dilakukan. Tidak ada perubahan. Namun, ketika persoalannya menyangkut dengan alat dan bahan-bahan untuk digunakan habis, maka dengan terpaksa tidak dapat memberikan pelayanan. “Karena membantu pemerintah, jadi kami juga harus bekerja dengan baik. Semoga saja semua masalah dan pemerintah dapat membantu kami juga,” pungkasnya. (oya/nri)

 


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*