MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 10 Desember 2018 13:22
Menghadapi Bonus Demografi di Tarakan, Banyak Kerja Tak Sesuai Pendidikan
ILUSTRASI/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Kota Tarakan sedang menghadapi bonus demografi hingga beberapa tahun yang akan datang. Bonus demografi merupakan suatu kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif cukup besar. Penduduk usia produktif merupakan penduduk yang berusia 15 tahun hingga 64 tahun. Bagaimana kaitannya dengan dunia kerja?

 

----

 

LAPANGAN pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, cukup berpengaruh dalam mengurangi angka pencari kerja (pencaker). Bahkan yang sudah bekerja, juga masih mencari pekerjaan.

Kepala Bidang Ketenagakerjaan Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disnakerperin) Tarakan Hanto Bismoko mengatakan, sejauh ini pencaker tak serta merta pengangguran atau tidak bekerja. Dalam artian, yang sudah memiliki pekerjaan justru mengurus kartu kuning sebagai salah satu syarat administrasi mencari pekerjaan.

“Seperti kemarin ada yang ikut job fair, sudah kerja di bandara tapi karena kontraknya mau habis, jadi cari kerja lagi. Yang sudah kerja banyak urus kartu kuning, karena itu dibutuhkan saat melamar pekerjaan. Sebenarnya banyak sudah yang bekerja,” terangnya kepada Radar Tarakan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (5/12).

Dapat dikatakan faktor gengsi juga mempengaruhi bertambahnya pencaker. Apalagi bagi pencaker yang memiliki latar belakang pendidikan lulusan sarjana.

Sederet latar belakang pendidikan yang tidak didukung dengan lapangan pekerjaan yang sesuai. Misalnya saja setiap tahunnya masing-masing universitas yang ada di Tarakan ini mencetak ratusan lulusan sarjana. Namun sangat disayangkan, justru lapangan pekerjaan yang banyak tersedia di Tarakan ini dalam bidang industri, perdagangan dan jasa.

“Misalnya dia lulusan sarjana pendidikan tapi kerja di apotek, perusahaan juga tidak mau terima. Atau di industri bagian pengupasan, nggak sekolah juga bisa kupas-kupas udang. Jadi banyak pekerjaan yang tidak sesuai,” bebernya.

Selain itu, lokasi penempatan kerja juga cukup mempengaruhi minat pencaker. Hanto mengatakan, di Kalimantan Utara (Kaltara) peluang kerja di sektor pertambangan cukup besar. Hanya, melihat lokasi kerjanya yang akan ditempatkan di luar Kota Tarakan, pencaker pun memilih mundur.

“Terutama di camp batu bara. Kemarin ada penyerapan di camp, tapi karena di luar kota jadi mereka mundur. Mungkin karena jauh, atau upahnya juga beda. Kalau di Tarakan sektor perdagangan juga banyak, tapi karena sarjana jadi pilih-pilih pekerjaan. Itulah kendala kita,” katanya.

Namun sesuai yang terdata di Disnakerperin, pencaker lebih didominasi dengan latar pendidikan SLTA atau SMA. Entah itu murni lulusan SMA yang langsung mencari pekerjaan, atau yang sementara melanjutkan pendidikan di bangku kuliah.

“Pencari kerja yang paling banyak itu lulusan SLTA. Mungkin karena desakan ekonomi. Tapi kami enggak tahu juga, mungkin sementara kuliah atau bagaimana,” jelasnya.

Saat disinggung mengenai bonus demografi, tentu bisa menjadi peluang untuk memajukan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Dengan catatan, usia produktif memiliki kualitas sumber daya yang dapat menunjang dan berkontribusi di daerahnya.

“Makanya program kami ke depan bagaimana meningkatkan SDM pencari kerja melalui pelatihan-pelatihan,” katanya.

Ia mengaku, baru-baru ini Lembaga Latihan Kerja (LKK) Medan menawarkan pelatihan gratis yang akan dilaksanakan di Medan. Adapun bidang yang ditawarkan adalah bagian pariwisata dan bangunan.

Ia menilai ini merupakan peluang bagus. Apalagi pelatihan ini akan dibekali sertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Tentunya sertifikasi ini diakui se-nasional.

“Ini peluang kerja untuk di Kaltara. Karena tenaga bangunan, teknis pertukangan harus punya sertifikasi. Kalau tidak ada sertifikasi, susah dapat proyek. Pembangunan kan membutuhkan pekerja yang sudah terverifikasi,” bebernya.

Pelatihan-pelatihan yang diprogramkan sebenarnya salah satu upaya mempersiapkan SDM yang memiliki keahlian. Sehingga sangat disayangkan jika tenaga SDM dari luar kota yang turut andil membangun pembangunan di Tarakan maupun Kaltara.

“Kemarin yang terdata sekitar 63 orang, mungkin akan bertambah karena Januari sudah start. Kita target 100-an orang ikut, karena ini kesempatan. 2019 kan anggaran baru, proyek ada di mana-mana apalagi di Kaltara. Mereka harus kami berdayakan, jangan sampai orang dari luar yang masuk ke Tarakan atau di Kaltara,” tutupnya.

 

PENGANGGURAN DIDORONG MINAT STUDI

Jumlah penduduk Kota Tarakan pada 2017 sebanyak 253.026 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.008,88 jiwa/km persegi. Sedangkan pada tahun 2018 jumlah penduduk mengalami peningkatan menjadi 262.025 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.044,76 jiwa/km persegi.

Pada tahun 2018 ini, penduduk di Kota Tarakan berusia 15 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan atau ijazah tertinggi didominasi oleh penduduk yang berijasah SMA sederajat yaitu sebanyak 30,25 persen, SMP sederajat sebanyak 24,85 persen,  SD sederajat sebanyak 17,73 persen, D-IV/S-1 sebanyak 8,18 persen, SMK sebanyak 6,11 persen, D-I/D-II/D-III/akademi sebanyak 2,9 persen, dan S-2 sebanyak 0,52 persen. (lihat grafis)

“Sementara yang tidak atau belum  memiliki ijasah SD sebanyak 7,34 persen dan tidak atau belum pernah sekolah sebanyak 2,11 persen,” tutur Kepala Seksi Statistik Sosial pada Badan Pusat Statistik Kota Tarakan Anis Setiyorini ketika di temui Radar Tarakan, Rabu (5/12).

Jumlah penduduk usia kerja atau 15 tahun ke atas pada tahun 2018 sebanyak 187.607 jiwa, bertambah 7.548 jiwa dibandingkan tahun 2017. “Penurunan jumlah angkatan kerja dari yang terjadi dari tahun 2017 ke tahun 2018, paling banyak disebabkan bertambahnya penduduk usia kerja yang bersekolah dan mengurus rumah tangga,” ungkap Anis, sapaan akrabnya.

Ada sedikit peningkatan jumlah pengangguran sebanyak 286 jiwa pada jumlah penduduk usia kerja. Namun setelah pihaknya melakukan penelitian lebih mendalam, ada indikasi kuat disebabkan adanya peningkatan sebesar 2.232 jiwa pada struktur menempuh pendidikan atau sekolah.

“Dalam artian, yang langsung memilih bekerja setelah lulus sekolah jumlahnya berkurang. Hal tersebut dikarenakan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya.

Meningkatnya jumlah pengangguran tidak selalu mengindikasikan kondisi perekonomian di suatu daerah kurang baik. Pada umumnya daerah perkotaan dengan tingkat kemiskinan yang rendah pun memiliki tingkat pengangguran terbuka yang lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.

“Salah satunya adalah daerah perkotaan yang didominasi oleh penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi dibandingkan pedesaan, lebih memilih menganggur dan mencari pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pekerjaan yang dimiliki dibandingkan menerima pekerjaan yang ada seperti pekerja serabutan, buruh tani, atau berwirausaha di sektor informal,” terangnya.

Untuk diketahui, tingkat pengangguran terbuka pada 2018 sebesar 5,94 persen, mengalami kenaikan sebesar 0,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tingkat pengangguran terbuka selalu diiringi dengan penurunan tingkat kesempatan kerja, di mana 2018 sebesar 94,06 persen mengalami penuruan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 94,41 persen. “Kalau melihat tingkat pendidikan, pada tingkat universitas, sebanyak 12.298 jiwa bekerja dan 615 jiwa pengangguran,” ujarnya.

Penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut status pekerjaan di Kota Tarakan tahun 2018, sebanyak 64,35 persen  merupakan buruh/karyawan/pegawai, sebanyak 17,1 persen merupakan kategori berusaha sendiri, 6,84 persen merupakan pekerja bebas di pertanian, 5,28 persen berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja keluarga/tidak dibayar, dan sebanyak 4,33 persen berusaha dibantu buruh tetap/dibayar.

“Persentase terkecil berstatus sebagai pekerja bebas pertanian dan pekerja bebas nonpertanian masing-masing sebesar 0,01 persen dan 2,08 persen,” ungkapnya.

Dilihat dari indikator dependency ratio, berdasarkan pendataan yang telah dilakukan BPS, pada 2017 dependency ratio Kota Tarakan sebesar 46,93 dan pada 2018 sebesar 46,57. “Dependency ratio adalah jumlah usia produktif dibandingkan jumlah usia nonproduktif dikali 100. Sebenarnya dependency ratio di Kota Tarakan mengalami penurunan yang sangat kecil yaitu sebesar 0,36. Dalam pengertian yang masih sama, yaitu rata-rata 100 penduduk usia produktif menanggung 46 sampai 47 penduduk tidak produktif,” jelas Anis.

 

USAH SENDIRI LEBIH MENGGAIRAHKAN

Menginjak usia Kota Tarakan yang ke 21 tahun pada 15 Desember mendatang, terdapat bonus demografi atau besarnya penduduk usia produktif. Dapat dilihat dari banyaknya lulusan universitas di Tarakan setiap tahunnya yang mencapai ratusan orang.

Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Drs. Adri Patton, M.Si mengatakan setiap lulusan Universitas Borneo Tarakan (UBT) akan selalu dipantau dimana saja berada meski telah menjadi alumni. Apalagi saat ini pihaknya membuat aplikasi tracer study, sehingga para alumni hanya tinggal  membuka aplikasi saja dan bisa melacak para alumni.

“Ini dilakukan untuk usaha kami memahami dimana para alumni berada, karena Universitas akan maju dan berkembang jika alumninya diketahui berada dimana saja,” kata Adri.

Dikatakannya, melihat dari pengalaman tahun ini ada hampir 800 hingga 900 mahasiswa yang diluluskan dari UBT, dan sebagian besar diakuinya sudah memiliki pekerjaan. Meski begitu tentu ada saja lulusan yang masih menganggur, dengan berbagai alasan. Pihaknya sendiri tidak serta merta merasa lepas tangan dan membiarkan hal ini terjadi.

Tentunya dari lulusan yang bekerja, pihaknya tentu akan memberdayakan. Seperti mengambil prioritas lulusan UBT terutama yang berprestasi untuk dapat bekerja di UBT, jika memang ada formasi jabatan yang bisa diambil oleh alumni. Dan banyak dari alumni-alumni UBT yang diprioritaskan untuk dapat diterima.

“Selama dari pantauan saya, lulusan UBT itu banyak yang sudah bekerja. Dari itu ada juga yang bekerja tidak sesuai jurusan, tetapi tetap ada sangkut pautnya,” imbuhnya.

Meski ada yang bekerja di berbagai instansi dan juga kantor, pihaknya juga tentu lebih dahulu memberikan solusi. Diakuinya, di UBT memberikan mata kuliah entrepreneurship atau kewirausahaan yang diajarkan kepada mahasiswa. Dan setiap mahasiswa juga dibimbing dan dibina untuk dapat menjadi wirausaha agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Artinya, diharapkan meskipun mereka tidak bekerja, bisa membuka usaha sendiri dengan bekal ilmu yang didapatka. Menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.

Sementara it, Rektor Sekolah Tinggi Ilmu ekonomi (STIE) Bulungan Tarakan, Drs. R Philipus L., S.E., M.M mengatakan selama ini pihaknya juga terus memantau setiap alumni, karena selama lima tahun sekali pihaknya akan menghitung dan melihat para alumni. Diakuinya, dalam lima tahun terakhir ini ada sekitar 75 persen alumni yang bekerja, dan sisanya tidak diketahui keberadaannya.

“Artinya, ada yang keluar dari Kaltara. Jadi tidak dapat dipantau, karena sudah keluar dari pengawasan dan pantauan kami,” tuturnya.

Pihaknya juga tidak semata-mata hanya membiarkan para alumni lulus untuk bekerja tetapi juga harus mandiri. Dengan bimbingan yang dilakukan pihaknya agar para lulusan bisa menjadi seorang wirausaha menciptakan lapangan pekerjaan setelah keluar dari kampus.

Selain itu juga, banyak dari lulusan yang terjun ke bidang politik, atau bidang lainnya selain menjadi pegawai. Karena diakuinya lulusan bisa dan mampu untuk menjadi lebih terdepan dengan berbagai ilmu yang telah didapati dahulu di kampus untuk dapat diaplikasikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*/one/*/jhn/*/naa/lim)

 

Kerja Tak Sesuai Pendidikan

 

 

 

 

 

SIKLUS KETENAGAKERJAAN 2018

 

PENCARI KERJA

PENDIDIKAN  JUMLAH

SD                12

SLTP            63

SLTA            945

Diploma       195

S1                322

S2                4

Total            1.541

 

LOWONGAN DAN PENEMPATAN KERJA

PENDIDIKAN  JUMLAH

SD                7

SLTP            3

SLTA            897

Diploma       0

S1                1

S2                0

Total            908

 

SUMBER: DISNAKERPERIN TARAKAN

 

 

 

 

STRUKTUR KETENAGAKERJAAN

Penduduk usia kerja           : 187.607 orang

Angkatan kerja                   : 116.959 orang (62,34 persen)

Bekerja                             : 110.012 orang (94,06 persen)

Pengangguran                    :  6.947 orang (5,94 persen)

Bukan angkatan kerja         : 70.648 orang

Mengurus rumah tangga      : 41.310 orang (58,47 persen)

Sekolah                            : 21.653 orang (30,65 persen)

Lainnya                             : 7.685 orang (10,88 persen)

       

JUMLAH PENDUDUK USIA 15 TAHUN KE ATAS 2017-2018

URAIAN KEGIATAN             2017         2018

Angkatan Kerja                  119.169     116.959

Bekerja                             112.508     110.012

Pengangguran                    6.661        6.947

Bukan Angkatan Kerja         60.890       70.648

Sekolah                             19.421       21.653

Mengurus rumah tangga      35.544       41.310

Lainnya                             5.925        7.685

Penduduk usia kerja           180.059     187607

 

 

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Juli 2019 09:44

Ramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Pawai pembangunan akan dilaksanakan dalam 31 hari lagi,…

Jumat, 19 Juli 2019 09:42

Tingkatkan Pengawasan dan Ajak Kerja Sama Mitra di Perbatasan

TARAKAN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus berupaya…

Jumat, 19 Juli 2019 09:41

Dulu Sering Disumpahi, Sekarang Tidur Lebih Nyenyak

Said Usman Assegaf telah terbiasa dengan perannya sebelum menjadi direktur…

Jumat, 19 Juli 2019 09:06

Disdikbud Nilai Tarakan Belum Butuh SMA Baru

TARAKAN - Pembentukan 2 SMP baru oleh Dinas Pendidikan dan…

Jumat, 19 Juli 2019 09:05

Nilai Ada Perusahaan Nakal yang ‘Bebas’

TARAKAN - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalan Himpunan Mahasiswa Islam…

Jumat, 19 Juli 2019 08:40

Harapkan Jalan Semenisasi Dilakukan Peningkatan

TARAKAN - Perlunya peningkatan terhadap jalan semenisasi yang ada di…

Kamis, 18 Juli 2019 10:32

Dikalungkan Bunga Oleh Polisi Cilik

TARAKAN - Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito…

Kamis, 18 Juli 2019 10:31

Minim Akses, Penanganan Lantung Tak Dilakukan

TARAKAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengharapkan adanya penanganan terhadap…

Kamis, 18 Juli 2019 10:30

Tampilkan Seragam Kebanggaan Ekstrakurikuler

TARAKAN – Sudah siapkah Anda dengan pawai pembangunan, yang dilaksanakan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:30

Enam Ekor Ikan Napoleon Gagal Diselundupkan

TARAKAN - Selama Mei hingga Juli tahun ini, Balai Karantina…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*