MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 04 Desember 2018 13:38
ANEH..!! Tempat Pelacuran Batal Ditutup, Hanya Berganti Nama

Lokalisasi Akan Beroperasi Kembali

DIBINA: Penyuluh agama Islam dari Kemenag Nunukan saat memberikan pembinaan kepada puluhan WTS yang berada di lokalisasi Jalan Persemaian, Nunukan Tengah belum lama ini. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Batalnya penutupan lokalisasi di Jalan Persemaian, Kelurahan Nunukan Tengah, Kecamatan Nunukan, menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Sebab, di tengah persiapan matang penutupan pun harus ditunda lantaran anggaran jaminan hidup (jadup) dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah dialihkan ke korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).  

Tak ayal, aktivitas di lokalisasi yang berdiri sejak 1990-an itu pun dikhawatirkan akan kembali eksis. Padahal, jadwal penutupan dan program bebas prostitusi 2019 telah disepakati. Karena, hingga saat ini bangunan yang berstatus miliki pribadi dan bersertifikat itu masih utuh.

“Kalau misalnya tempatnya dipaksakan ditutup, tapi biaya pulang dan biaya lainnya untuk WTS ini tidak diberikan. Ya, berkeliaran jadinya mereka. Makanya, terpaksa ditunda dulu,” ungkap Yaksi Belanning Pratiwi kepada media ini kemarin.

Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Nunukan ini mengungkapkan, meskipun tertunda, penutupan tersebut tetap dilakukan. Karena, informasi yang diterima dari Kemensos, Januari-Februari 2019 dana jaminan hidup telah disiapkan. “Sebenarnya, kami ingin penutupan secara resmi. Disaksikan pejabat dan masyarakat sekitar. Tapi masalahnya, setelah penutupan itu, WTS-nya masih ada dan belum dipulangkan. Nanti jadi masalah lagi,” ujarnya.

Dikatakan, saat ini nama lokalisasi telah berganti. Papan namanya telah dibukan dan digantikan. Namun, sayangnya aktivitas di lokasi itu tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Sebab, ada hiburan berupa karaoke. “Informasinya itu, sebagian dari WTS ingin diperkerjakan di sana. Tapi, masih informasi saja. Inilah yang ingin kami telusuri,” ujarnya.

Sebelumnya, persiapan penutupan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Pemkab baru saja menerima surat dari Kemensos melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.

“Memang ada pergeseran, bukan dari Pemkab Nunukan, bukan juga dari Pemprov. Anggaran untuk biaya hidup dan transportasi lokal. Itu yang digeser. Ada miskomunikasi dalam hal ini,” terang Yaksi kepada Radar Tarakan, Jumat (30/11).

Biaya yang dimaksud sebesar Rp 5,5 juta per orang.

“Kami membuat surat, sekali itu kami pikir sudah selesai. Enggak tahunya surat itu harus di-follow up terus. Kami sudah bersurat dari Oktober lalu, ternyata ada kesalahan komunikasi. Anggarannya yang di kementerian digeser, penutupan tetap akan dilakukan. Menunggu dua anggaran itu,” jelasnya.

Menurut Yaksi, seluruh tahapan seperti yang diinstruksikan Kemensos dijalankan Dinsos Nunukan. Termasuk biaya yang akan diberi kepada para eks WTS. “Kami sejak awal membahas ini, kemudian sesuai instruksi itu akan ada bekal pembiayaan. Kalau enggak dikasih, yah sama saja mengusir orang, enggak dikasih apa-apa,” ujarnya.

Lanjut Yaksi, sesuai janji Kemensos penutupan akan dilakukan awal 2019 mendatang, berikut anggaran jaminan hidup dan transportasi lokal. Transportasi lokal meliputi biaya dari Bandara Nunukan menuju lokasi rumah masing-masing.

“Mereka diantarkan sampai pada provinsi asal masing-masing, rumah masing-masing, dipulangkan, betul enggak dia pulang, diserahkan ke masing-masing provinsi,” bebernya.

Sementara pembiayaan yang ditanggung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara terhadap 33 orang tersebut adalah modal usaha ekonomi produktif (UEP). UEP sebesar Rp 3 juta per orang untuk digunakan usaha sendiri di kampung masing-masing.

“Usaha itu harus dibuka di kampung asal mereka. Kami selama beberapa pekan terakhir aktif memberi pendampingan, ada pelatihan masak-memasak. Kalau jenis kegiatan usaha ini dapat berjalan meski dengan modal kecil, dan bisa menghasilkan lebih besar. Perputarannya bagus. Kalau kemampuannya di situ, bisa menghasilkan uang cepat. Salon, cukup banyak yang minta, tetapi mahal, dan bisa jadi salon-salonan, hanya kedok di kemudian hari,” urai Yaksi.

Para eks WTS juga turut didampingi oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Ruhama. Pendampingan dilakukan LKS yang bermitra dengan Kemensos. Salah satu pertimbangannya, LKS memilih lebih banyak tenaga. “LKS sudah diatur pendampingannya, pelaporannya langsung ke Kemensos,” terangnya.

Penutupan lokalisasi di Nunukan sejatinya dibahas sejak awal tahun. Hingga akhirnya mengerucut keputusan, hingga pelaksanannya. Dinsos bahkan menargetkan penutupan dapat dilakukan pada November kemarin. Namun, karena adanya kekeliruan komunikasi, sehingga harus dialihkan ke tahun 2019.

“Mereka (eks WTS) menyambut, mereka berharap jangan secepat itu saat pertama kali bertemu, kami masih punya utang. Mereka welcome, kami minta data, mereka enak juga. Ketika ada kegiatan kami cuma informasikan kumpul jam sekian, enggak tahunya mereka ikut sampai habis. Rata-rata mereka aktif. Di dalam kegiatan itu, tidak sibuk dengan dirinya. Mulai dari pendalaman agama, keterampilan, kesehatan mereka aktif,” sebutnya.

Kepala Bidang Sosial Dinsos Nunukan Alis Sujono menambahkan, pihaknya saat ini hanya dapat memantau aktivitas di lokalisasi saja. Apakah kembali terbuka atau tidak. Namun, yang jelas pihaknya telah meminta agar pemiliknya menutup dan tidak lagi beraktivitas. “Kami sudah mengimbau ke pemiliknya. Walaupun sebenarnya ini berat, tapi harus dilakukan juga. Karena, belum ada aksi pemulangan terhadap WTS itu tadi,” akunya.

Untuk itu,  pihaknya tidak dapat berbuat banyak jika lokalisasi tersebut kembali beroperasi. Sebab, plang yang menyatakan jika usaha tersebut tutup tidak ada. Sehingga, apapun aktivitas yang dilakukan belum dapat dihentikan. “Selama beluma ada penutupan maka selama ini juga aktivitas mereka berjalan. Jadi, masih beroperasi karena belum ada plang larangan terpasang,” pungkasnya.

 (oya/nri) 

 

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 11:52

Jelang Nataru, Pelni Tidak Tambah Armada

NUNUKAN – Menghadapi arus mudik penumpang tujuan Balikpapan, Parepare, Makassar…

Sabtu, 15 Desember 2018 11:50

Sebulan, Polisi Ungkap 28 Kasus Pencurian

NUNUKAN – Selama bulan November-Desember, Polres Nunukan berhasil mengungkap 28…

Sabtu, 15 Desember 2018 11:49

Perketat Pengawasan Miras di Tahun Baru

PERAYAAN tahun baru 2019 sisa dua pekan. Berbagai kegiatan akan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:37

Data Beasiswa Sering Dipalsukan

NUNUKAN – Beasiswa Nunukan Cerdas untuk 2018 telah disalurkan. Namun…

Jumat, 14 Desember 2018 14:35

LPG 3 Kg Langka, Beralih ke Gas Malaysia

NUNUKAN – Jelang Natal dan Tahun Baru, Liquefied Petroleum Gas…

Jumat, 14 Desember 2018 14:33

Pengoperasian Paras Perbatasan Molor

NUNUKAN - Wacana pemerintah meresmikan paras perbatasan di Jalan Lingkar,…

Jumat, 14 Desember 2018 14:32

Sudah Putusan, Masih Berpolemik

NUNUKAN – Permasalahan lahan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sebatik Semakin…

Jumat, 14 Desember 2018 14:23

Barang Ilegal Dimusnahkan

NUNUKAN – Pemusnahan barang milik negara hasil sitaan telah dilakukan…

Kamis, 13 Desember 2018 12:16

Pengoperasian RS Pratama Tertunda

NUNUKAN – Rencana pemerintah untuk meresmikan Rumah Sakit Pratama Sebatik…

Kamis, 13 Desember 2018 12:15

Stok Melimpah, Peternak Rebutan Pelanggan

NUNUKAN – Melimpahnya stok daging ayam belakangan ini membuat harga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .