MANAGED BY:
RABU
21 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 09 November 2018 13:39
15 Orang Tepergok Memukat Malam
TERJARING PATROLI: 15 pemukat malam yang diberi arahan di Posal Pantai Amal, Rabu (7/11). AZWARD HALIM/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Air masih surut di perairan sebelah timur Pantai Amal, Tarakan Timur sekira pukul 23.20 WITA, Rabu (7/11). Kamaruddin (59) berdiri dengan terus mengarahkan senter ke sejumlah perahu yang ditambatkan di sebuah tugu, sejenis alat tangkap ikan. Beberapa mesinnya telah dicopot. “Ini mesinnya Pak. Ada enam,” kata Kamaruddin menyambut rombongan tim Dinas Kelautan dan Perikanan yang turut menyisir sejak pukul 21.00 WITA dari arah Pelabuhan SDF.

Kamaruddin bersama Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas) VIII, bentukan DKP telah berpatroli sejak bakda isya. Kamaruddin mengaku tak butuh waktu lama tim itu menemukan pemukat rumput laut yang beraktivitas di malam hari. “Selalu kami diserahkan ke Pak Lurah, setelahnya dilepas lagi. Turun lagi warga mencari. Ada lagi, begitu terus,” ujar warga RT 13 Pantai Amal ini.

Konflik antara pembudidaya dengan pemukat malam telah berlangsung sejak lima tahun terakhir. Kesepakatan yang difasilitasi pemerintah pun tak cukup. Kesepakatan hanya ucapan di mulut. Faktanya, masih banyak yang memukat di malam hari. “Setiap kali didapat, cuma bohong saja kalau mengaku masih baru. Perahunya sering kami tangkap, mereka bukan warga asing. Kalau menurut kami, sanksinya harus jelas, denda, misalnya paling sedikit Rp 15 juta,” harapnya.

“Kami pembudidaya sering kehilangan tali bettang (media tanam), putus tali fondasi. Di kelompok saya ada sembilan orang, rata-rata pernah mengalami hal yang sama. Kalau putus fondasi, yah rugi, paling sedikit Rp 30 juta, sekitar 200 tali,” urai Kamaruddin.

Menurut Kamaruddin, seharusnya setiap warga di Pantai Amal menghormati kesepakatan yang tidak sekali difasilitasi pemerintah. Kesepakatan itu pula sebagai jaminan, perekonomian utama warga dari rumput laut dapat terus berlanjut.

“Mereka ini (pemukat), bilangnya memukat, tapi perahu bisa sampai penuh. Kami tanya kenapa enggak memukat siang? Katanya kurang dapat. Apa bedanya memukat malam dengan siang. Kenapa malam, baru bilang banyak? Ini bukan ikan, (rumput laut) enggak berenang kayak ikan,” sebutnya.

Kekhawatiran itu juga menyelimuti Burhanuddin (52). Ia begitu bersemangat ketika diminta ikut bergabung dalam tim patroli malam itu. “Ditelepon DKP, ada penunjuk jalan enggak. Saya jawab, biar saya Pak, temani turun (patroli). Patroli ini sudah beberapa kali kami lakukan. Mau enggak mau, namanya berusaha, artinya kita saling menjaga,” kata dia dalam perjalanan berjam-jam menyusuri area perairan Pantai Amal yang padat dengan budi daya rumput laut.

Ketua RT 12 Pantai Amal itu sudah 20 tahun mendiami Pantai Amal. Awal berbudidaya sekitar 2012 lalu. Rumput laut menjanjikan. Seiring cerita dari Nunukan yang nelayannya lebih dulu memulai.

“Alhamdulillah, harga cukup bagus saat ini Rp 15.000 per kilo. Tapi, kalau banyak yang memukat malam, waswas juga kita. Bukan apanya, kerugian itu sangat berpotensi ada. Bukan menuduh yah. Kegiatan malam itu siapa yang pantau, siapa yang jamin. Dulu, sebelum ada pemukat malam, kami enak budi daya. Nah, sekarang pemukat malah dapat lebih banyak dari budi daya,” katanya.

Menurut Burhanuddin, sering ditemui pembudidaya merugi, hanya karena fondasi jaringan media tanam berikut bibit rumput lautnya hilang. “Banyak yang mengalami (kehilangan), kami tidak menuduh siapa. Tetapi, solusinya memang satu, jangan memukat malam. Dan perlu ada tindak tegas kepada yang tertangkap memukat malam. Bukan sekali dua kali. Banyak yang sudah ditangkap, habis itu dilepaskan lagi,” kata Burhanuddin.

Pria kelahiran Pinrang itu menganggap sanksi seperti menahan mesin perahu sudah tidak relevan. Butuh aturan serius, agar kegiatan memukat malam tidak menjadi ‘hantu’ para pembudidaya.

“Itu (aturan) yang kita butuh. Bisa dilihat, baru beberapa hari lalu, kami duduk bersama Wali Kota. Pak Sofian (Ir. Sofian Raga) sudah memutuskan bersama dengan para peserta rapat, kalau memukat malam dilarang. Tapi, buktinya masih ada,” imbuhnya.

Sejumlah pemukat yang tertangkap patroli tim dari DKP Kaltara berdalih baru pertama kali memukat di malam hari. “Baru ini,” kata Martan (27) menjawab pertanyaan petugas.

 

BUTUH REGULASI YANG LEBIH JELAS

Marthen (51), ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas) VIII yang dibentuk DKP Kaltara mengaku sejak intensif melakukan pengawasan, pemukat malam belum juga mereda. Konflik di tengah masyarakat pun, kata dia, harus disikapi serius pemerintah. Bila tidak, persoalan yang sama akan berlarut.

“Sekitar lima tahun banyak masalah yang timbul, antara pemukat dengan pembudidaya. Yang perlu ditegakkan, kesepakatan, dengan pemerintah. Disepakati malam enggak boleh malam, tapi masih ada. Ini kegiatan (memukat malam) yang sensitif. Siapa yang bertanggung jawab? Kemudian juga praduga tak bersalah, kerusakan banyak, tali, fondasi dan macam-macam. Kita indikasikan yang banyak berpotensi merusak ini, kegiatan malam,” terangnya.

Menurutnya lagi, perlu regulasi lebih jelas dan ditegakkan. Sanksinya kembali kepada pemerintah. “Tahunya masyarakat, dinas terkait mengatur ini. Saran saya, harus ada aturan main, supaya nyaman cari rezeki. Padahal semua diberi kesempatan yang sama, siang hari. Budi daya dan pemukat, ada aturan mainnya di sini,” jelasnya.

Ia khawatir akan terjadi kontak yang tidak sehat antara pembudidaya dengan pemukat. “(Patroli) Kalau tidak ada petugas, mereka bisa kontak fisik. Terima kasih kepada DKP telah terjun langsung ke lapangan. Kapasitas kami selama ini, sosialisasi di siang hari. Saya punya agenda rutin dan tergantung laporan masyarakat, banyak berkoordinasi dengan pembudidaya,” urainya.

Danposal Pantai Amal Sertu SAA Nikolaus Yohanis G kepada media ini mengaku pihaknya beberapa melakukan kegiatan serupa. Patroli terhadap pemukat malam.  Di antara mereka yang tertangkap merupakan wajah lama. “Kami sudah enam kali, dua kali bersama DKP. Dapat pemukat. Banyak yang sudah ditangkap, kembali lagi memukat malam,” katanya.

Petugas atau dinas teknis menindaklanjuti setiap kali ada laporan masyarakat. Kawasan RT 10, RT 12 dan RT 14 yang paling lazim menjadi korban kehilangan budi daya. “Kami menindaklanjuti laporan masyarakat. Kami minta dia (pemukat malam) buat pernyataan,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengawasan Perikanan dan Kelautan pada DKP Kaltara Rukhi Syayahdin membeberkan jika petugas bersama warga selama enam jam berpatroli mengamankan 15 orang pemukat berikut 14 mesin tempel 15 PK. Mesin-mesin tersebut pun kemudian ditahan di Posal Pantai Amal.

“Apa yang kami kerjakan ini bagian dari menjaga kondusifitas. Kegiatan malam itu tidak menjaga kondusifitas. Dan lagi pun dibolehkan pada siang hari. Enggak ada yang melarang memukat, tapi di siang hari,” kata Rukhi.

Rukhi mengungkap jika konflik pembudidaya dengan pemukat hanya ada di Kaltara. Ini karena adanya kegiatan memukat. “Di luar daerah yang ada rumput lautnya enggak ada konflik seperti ini. Karena memang enggak ada yang memukat. Dan yang malam ini enggak masuk akal kalau ngomong baru pertama kali memukat. Melewati tali bettang itu, kalau bukan orang yang terbiasa bawa kapal malam, maka akan kesusahan cari jalurnya. Ini mereka bisa sampai jauh begitu,” terang Rukhi.

“Menahan mesin itu sebenarnya tidak cukup. Harus ada payung hukum yang lebih tinggi. Kami mendorong ada pergub atau perda. Karena ini dibutuhkan aturan mengikat,” jelasnya.

Para pemukat yang diamankan hanya diberi pembinaan oleh petugas. Menurut Rukhi, perlu memberi pemahaman kepada seluruh masyarakat nelayan di Pantai Amal agar kegiatan memukat tidak dilakukan di malam hari. “Masyarakat Pantai Amal harus pandai bersyukur, rumput laut membawa berkah, bisa dibudidaya di Kaltara. Banyak perairan tidak bisa berbudidaya rumput laut. Maka kita harus menjamin keberlangsungannya. Dengan tidak mengganggu budi daya yang ada. Tidak dilarang memukat, tetapi jangan malam,” sebutnya.

 

Rukhi juga mengungkap tiga pilar pengelolaan kelautan dan perikanan, yaitu kedaulatan, kesejahteraan, dan berkelanjutan. Kegiatan patroli perikanan seperti disebutkan dalam Pasal 66 Ayat 2 UU 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. Selain meningkatkan produktifitas pada kegiatan penangkapan ikan dan budi daya, dan  memberikan nilai tambah dari produk, tidak kalah pentingnya adalah peran pengawasan.

“Apapun kegiatan tersebut, manakala dilaksanakan tanpa adanya pengawasan terkadang hasilnya berjalan tidak maksimal, bahkan tidak menutupkemungkinan cepat atau lambat dapat merugikan masyarakat (nelayan, Red) juga merusak sumber daya kelautan itu sendiri,” ujarnya.

Saat ini sudah ada kelompok kerja (pokja) di Kaltara yaitu tim pengawasan kelautan perikanan terpadu yang berasal dari semua unsur sesuai dengan objek pengawasannya. Misal objek pengawasan berkaitan dengan penggunaan formalin, maka pihaknya melakukan pengawasan bersama instansi di bidang kesehatan. Kemudian melibatkan TNI AL dan Polair dalam penanganan objek illegal fishing.

Kamis 1 November lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan mengundang unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), bersama pemukat rumput laut dan pembudidaya melaksanakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut perlu dicarikan solusi karena diketahui di lapangan telah terjadi gesekan horizontal antara pemukat dan pembudidaya rumput laut. Sehingga dalam pertemuan tersebut Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga  menekankan bahwa hal yang efektif terhadap masalah tersebut, yaitu agar semua pihak melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.

“Tanggal 30 Maret 2016 lalu telah dibuat kesepakatan bersama, di antaranya adalah kesepakatan untuk tidak melakukan kegiatan memukat rumput laut pada malam hari,” tuturnya.

 

ANCAMAN NELAYAN FILIPINA

Kamis (8/11) pagi, DKP Kaltara kembali melakukan pengawasan dengan menyisir perairan Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan hingga perbatasan dengan wilayah perairan negara Filipina. “Disinyalir masih ada nelayan Filipina yang mencuri hasil laut Indonesia. Dalam pengawasan menyisir beberapa titik yang dimulai sejak pukul 07.00 WITA hingga pukul 11.00 WITA tersebut tidak ditemukannya nelayan asing yang beroperasi di perairan Kaltara,” tuturnya.

Meski demikian pihaknya akan kembali melaksanakan pengawasan rutin dan instensif dalam 2 bulan ini. Waktu pelaksanaan yang belum dapat ditentukan sesuai dengan kondisi di lapangan. Pihaknya juga memiliki tim tersendiri di beberapa tempat yang akan memberikan informasi adanya kemungkinan terjadinya pelanggaran.

“Sebenarnya ada banyak pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang telah kami lakukan. Untuk saat ini kami melaksanakan pengawasan Terpadu 12,” tegasnya. (lim/*/jhn/lim)

 

 


BACA JUGA

Selasa, 20 November 2018 15:26

Almarhumah Dikenal Penyayang Keluarga

TARAKAN - Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Dedy Triwahyudi, SH.…

Senin, 19 November 2018 15:28

Utang Prioritas, TPP Dipangkas?

Pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2019 masih bergulir…

Senin, 19 November 2018 15:27

Penghuni Rumah Lompat Lewat Jendela

TARAKAN– Hujan lebat yang mengguyur Tarakan menyebabkan dua rumah di…

Senin, 19 November 2018 15:21

Nilai Kerugian di Bawah Rp 500 Juta

TARAKAN – Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Widyahwan membeberkan jika perhitungan…

Senin, 19 November 2018 15:06

Menanti Ajang Green and Clean

TARAKAN – Pernah masuk dalam kategori lingkungan green and clean,…

Senin, 19 November 2018 15:04

KPU Belum Beri Putusan Sanksi Pelanggaran APK

TARAKAN - Meski alat peraga kampanye (APK) telah berada di…

Senin, 19 November 2018 10:46

Pemilih di Lapas Belum Klir

TARAKAN – Potensi pemilih masih meninggalkan polemik. Khususnya pada pemilih…

Senin, 19 November 2018 10:44

Gugup Dinilai Juri dari Negara Asia Tenggara Lainnya

Gadis kelahiran Malinau 26 Oktober 2002 membanggakan. Tidak hanya membawa…

Senin, 19 November 2018 10:42

MEREKA KEPALA BATU..!! Ngotot Jajakan Jualan di Dermaga Pelabuhan

TARAKAN - Meski diimbau untuk tidak lagi menjual makanan di…

Senin, 19 November 2018 10:29

Tukarkan Uang Sebelum Tidak Laku

TARAKAN - Dalam pelaksaanan tugas mengatur dan menjaga kelancaran sistem…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .