MANAGED BY:
MINGGU
24 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 09 November 2018 13:18
Target Tiga Tahun Taklukkan Nusantara

Mukti, Keliling Indoneisa dengan Jalan Kaki

KELILING INDONESIA: Mukti, saat berjalan kaki dan melintas di Jalan Sengkawit, Tanjung Selor, Kamis (8/11). IWAN KURNIAWAN/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Tak semua orang mampu berjalan kaki dengan jarak yang jauh tanpa pendampingan dan dukungan. Terlebih sampai keliling Indonesia. Namun dengan tekad, niat serta kemauan yang kuat, Mukti (46) mampu melakukannya dan telah sampai di Kaltara.

IWAN KURNIAWAN

TERIKNYA sinar matahari menjadi saksi bisu perjalanan Mukti saat melintas di Tanjung Selor, Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara), Kamis (8/11). Ternyata, pria berbadan gempal itu sudah cukup lama bergelut dengan alam.

Disapa awak Radar Kaltara saat melintas di Jalan Sengkawit sekitar pukul 11.37 Wita, pria kelahiran Jambi, 1 Januari 1972 itu langsung membuka penutup wajahnya dan menyapa kembali sembari mengelap keringat di wajahnya.

Tanpa basa basi, awak media ini langsung menggali informasi mengenai Mukti yang berjalan kaki sembari memikul ranselnya yang berisi pakaian ganti serta diselipkan matras di bawahnya dan bendera merah putih di bagian atas sebagai tanda kecintaan terhadap Tanah Air. Terbukti dengan tindakan nekatnya keliling Indonesia.

“Saya memulai perjalanan dari Sabang. Ini sudah masuk bulan ke 13 saya berjalan. Saya sudah menaklukkan daratan Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan,” ujar Mukti.

Untuk di Kalimantan Utara (Kaltara), pria yang mengenakan kaus oblong warna hitam dan celana setengah tiang itu memulai perjalanannya dari Bulungan, lalu ke Tarakan, Tana Tidung, Malinau, dan terakhir Nunukan. Setelah itu baru menyeberang ke Sulawesi, Maluku dan terakhir ke Papua.

“Ke sini (Tanjung Selor, Red) tadi, saya jalan dari Berau. Target saya tiga tahun selesai keliling Indonesia. Jadi masih lama lagi. Masih hampir dua tahun lagi,” katanya.

Sejauh ini, yang paling lama dikelilinginya ada dua daerah, yakni Sumatera dan Kalimantan. Salah satu penyebabnya kondiai geografis daerah yang cukup luas dan berbukit-bukit. Adapun untuk istirahat, tidak menentu. Tergantung kondisi. Artinya, kapan dan di mana ia lelah, di situlah ia istirahat.

Bahkan, ia tidak berbekalkan tenda untuk istirahat. Jadi, saat tidur, ia hanya menggunakan matras yang dibawanya, tanpa menggunakan atap. Sehingga, saat hujan, ia kehujanan dan panas ia kepanasan. “Saya tidak pernah lama juga istirahatnya. Kalau sudah bangun, lanjut lagi perjalanan. Apakah itu siang ataupun malam, itu sama saja,” katanya. 

Untuk kesehatan tubuhnya selama perjalanan, pria yang hanya mengenakan sendal jepit itu mengaku tidak ada masalah yang prinsip. Jikapun pernah kurang fit, paling hanya sedikit karena kelelahan turun naik bukit. Tidak pernah ada yang sampai parah. Kemungkinan itu karena badan selalu gerak. 

Diakuinya pula, selama perjalanan ia tidak membawa bekal makanan. Jadi, untuk makan, ia hanya diberikan orang di jalan. “Alhamdulillah ada saja saudara kita yang menunjukkan kepeduliannya,” kata Mukti.

Pada perjalanan ini, Mukti mengaku membawa pesan moral untuk seluruh masyarakat Indonesia. Karena semua orang harus tahu, bahwa meskipun banyak perbedaan suku dan agama di Tanah Air ini, tapi pada dasarnya semuanya tetap dalam satu naungan Pancasila.

Ia mengaku miris melihat negeri ini yang sudah banyak terkontaminasi dengan kemajuan teknologi. Sehingga pemahaman tentang sejarah menjadi kurang. Jadi ini merupakan inspirasi bagi yang lain agar ada yang menilai bahwa masih ada yang peduli dengan Indonesia dan Pancasila.

Untuk keluh kesahnya selama berjalan kaki di negeri ini, ia mengaku enggan membeberkannya terlalu jauh. “Biar saya sendiri yang mengetahui seperti apa keluh kesah selama saja berjalan kaki,” tuturnya.

“Namanya perjalanan pasti seperti itu. Tentu ada suka dan duka yang dialami,” sambungnya.

Kenapa memilih jalan ini? Mukti mengaku hanya demi negeri. Karena anak, istri dan keluarganya sudah tidak ada. Mereka sudah terlebih dahulu menghadap sang pencipta. Mereka menjadi korban tsunami Aceh 2004 silam.

Ia mengaku saat kejadian sedang kerja di Sabang. Sementara anak dan istrinya tinggal di Aceh. Bahkan, setelah kejadian itu ia tidak bisa langsung datang ke Aceh karena kapal tidak ada yang berani menyeberang. Setelah dipastikan aman, baru ada yang berani masuk ke Aceh.

“Di situ saya hanya menemukan jasad mereka (anak dan istrinya, Red). Tapi... maaf, kondisinya sudah tidak utuh lagi,” kenangnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia itu sudah ada takdirnya masing-masing. Jadi perjalanan yang dilakukannya itu juga merupakan salah satu cara mempraktikkan sebuah keyakinan bahwa Allah itu ada.

Faktanya, dengan jalan kaki dan tanpa biaya pun ia dapat mengelilingi Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Untuk menyeberang pulau, ia mendapatkan tumpangan gratis. 

“Mari kita banyak-banyak ibadah dan berdoa semoga Indonesia dapat lebih baik. Mari kita kembali ke koridor kehidupan yaitu kembali ke keyakinan kita. Jangan terlalu percaya dengan teknologi yang nyatanya juga bisa salah,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia mengajak semua masyarakat untuk berbenah. Ia mengingatkan, boleh menggunakan teknologi, tapi jangan lalai dan jangan lupa dengan siapa diri kita yang sebenarnya. (***/eza)

Target Tiga Tahun Taklukkan Nusantara


BACA JUGA

Sabtu, 23 Maret 2019 11:26

PLN Kaltimra Cek Kondisi PLTU, Ini yang Ditemukan

TANJUNG SELOR - Guna mendapatkan informasi mengenai pemadaman bergilir yang…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:25

KPU Diserang, Satu Demonstran Ditembak

TANJUNG SELOR – Massa tiba-tiba menyerbu kantor Komisi Pemilihan Umum…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:23

Ribuan Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Pemilu

TANJUNG SELOR - Ribuan personel siap dikerahkan guna mengamankan pelaksanaan…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:22

Tak Netral, ASN Dapat Dipidanakan

TANJUNG SELOR – Menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Sekretaris Provinsi (Sekprov)…

Sabtu, 23 Maret 2019 11:21

Dua Bus Damri Akan Dikomersilkan

TANJUNG SELOR – Jika sesuai rencana, dalam waktu dekat ini…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:25

Mampu Jadi Penopang Ekonomi Indonesia

TANJUNG SELOR - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:23

SOA Barang Masih Proses Lelang

TANJUNG SELOR - Subsidi ongkos angkut (SOA) barang yang diprogramkan…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:23

Kaltara Miliki Prospek Pengembangan Transportasi Darat

Sejak 22 Februari 2019, Tri Wijono Djati resmi mengepalai jabatan …

Sabtu, 23 Maret 2019 10:22

Caleg Stres, RSD Siapkan Dokter Kejiwaan

TANJUNG SELOR - Meskipun di beberapa rumah sakit (RS) di…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:19

Tak Disiplin, Diskualifikasi Menanti

TANJUNG SELOR - Sebanyak 453 calon pegawai negeri sipil (CPNS)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*