MANAGED BY:
RABU
20 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 05 November 2018 12:01
Mariani, Terpisah dengan Anaknya Selama Dua Tahun
DIHUBUNGKAN RFL: Mariani (kiri) terisak ketika men dengar suara anaknya melalui telepon seluler di Sigi, Sulteng. DOKUMENTASI PMI KALTARA

PROKAL.CO, TARAKAN – Memasuki hari ke-35 pasca gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), atas koordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kaltara dan PMI Sulteng, PMI Nunukan berhasil menghubungkan komunikasi antara keluarga di lokasi bencana. Kepala Markas PMI Kaltara Amrin mengatakan, keberhasilan pihaknya menghubungkan komunikasi keluarga di lokasi bencana berkat adanya laporan dari layanan restoring family links (RFL) yaitu ‘saya mencari’ laporan diinput oleh PMI Nunukan atas nama Fadli bin Ruslin yang merupakan salah satu tenaga kerja indonesia (TKI) yang dideportasi dari Tawau, Malaysia.

“Fadli ini merupakan salah satu dari 97 TKI yang dideportasi dari Tawau pada 1 November, sebelumnya dideportasi di tahanan di Pusat Tahanan Sementara Papar dan Manggatal Kota Kinabalu,” tuturnya, Sabtu (3/11).

Permintaan Fadli untuk dapat menghubungi orang tuanya yang berada di Kabupaten Sigi difasilitasi relawan PMI Nunukan yang sedang melakukan pendampingan terhadap TKI yang tiba di Pelabuhan Tunon Taka. Relawan PMI Nunukan sedang memberikan layanan RFL kepada TKI dengan melakukan pendataan dan pemberian layanan telepon gratis.

“Ketika sedang memberikan layanan RFL, seorang TKI bernama Fadli datang meminta untuk dapat berkomunikasi dengan orang tuanya yang berada di Kabupaten Sigi,” tuturnya.

Dari keterangan yang disampaikan Fadli kepada relawan PMI Nunukan, diketahui Fadli sejak tahun 2009 telah meninggalkan Kabupaten Sigi menuju ke Sabah untuk bekerja sebagai TKI. Selama 7 tahun terakhir Fadli masih aktif berkomunikasi dengan orang tuanya di kampung.

“Komunikasi dengan orang tuanya terputus setelah dia (Fadli) ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia di Sabah pada tahun 2016 karena bermasalah pada dokumen paspor dan izin tinggal habis masa berlakunya. Sejak saat itu saudari Fadli tidak bisa lagi berkomunikasi secara langsung kepada orang tuanya yang ada di kampung,” ungkapnya.

Bencana di Sulteng membuatnya khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya. “Keingintahuan dari Fadli terkait kondisi orang tuanya, membuat Fadli meminta bantuan kepada relawan PMI Nunukan melalui layanan RFL. PMI Sulteng menindaklanjuti, di mana laporannya tersebut ditindaklanjuti Koordinator RFL Sulteng Andi Satar menuju ke alamat yang diketahui merupakan tempat tinggal Mariani binti Rasid yang merupakan ibu kandung Fadli,” ujarnya.

Pencarian alamat yang dimaksud dilakukan pada 2 November, di mana koordinator RFL Sulteng Andi Satar menuju ke lokasi yang dimaksud oleh Fadli. Proses pencarian sempat mengalami kendala, karena alamat yang dimaksud bangunannya kini sudah mengalami kerusakan parah.

“Pada saat tiba di lokasi, bangunan tempat tinggal keluarganya Fadli tersebut sudah rusak parah dan tidak bisa ditinggali lagi, namun seorang tetangga Mariani berhasil kami temui dan bersedia mengantarkan ke tempat tinggal Mariani saat ini,” ungkapnya.

Tak lama kemudian tim menjumpai seorang ibu yang mengenakan baju kemeja warna ungu dengan menggunakan sarung sedang duduk di teras rumah yang sangat senderhana. Kemudian tim menyapa ibu tersebut dan bertanya apakah benar ibu ini adalah Mariani binti Rasid. Ternyata benar bahwa ibu tersebut merupakan orang dicari.

“Andi Satar selaku koordinator langsung menyampaikan maksud dan tujuan datang untuk menemui Ibu Mariani binti Rasid dan sekaligus mengkonfirmasi permohonan pencarian yang diminta oleh Fadli,” tuturnya.

Dari pengakuan Mariani, dirinya sudah sekitar 2 tahun tidak berkomunikasi dengan anak kandungnya Fadli yang bekerja sebagai TKI di Sabah. Mendengar pengakuan Mariani, relawan PMI memberikan layanan telepon untuk menghubungkannya kepada anak kandungnya tersebut, tangis dan air mata pecah ketika Mariani mendengarkan suara anaknya yang sudah 2 tahun tidak didengar. Di akhir pembicaraan antara ibu anak tersebut, Mariani berharap anaknya segera kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya lagi. (jnr/lim)


BACA JUGA

Selasa, 19 Maret 2019 11:40

Gas PGN Normal, Kok Listrik PLN Ngga Nyala-Nyala...

TARAKAN - PT Medco EP menjamin pekerja yang menjadi korban…

Selasa, 19 Maret 2019 11:38

Tak Ada Jaminan PLN Sampai Kapan Padam

SEHUBUNGAN dengan adanya insiden ledakan di Stasiun Pengumpul Gas Utama…

Selasa, 19 Maret 2019 11:35

Terdengar Letupan Usai Genset Mati

TARAKAN - Diduga adanya arus pendek listrik, satu rumah di…

Selasa, 19 Maret 2019 11:30

Sukses Ungkap 10 Kg Narkoba, Kapolres Beri Target Baru

KAPOLRES Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan mengapresiasi terhadap kinerja Satreskoba Polres…

Selasa, 19 Maret 2019 10:39

Sebagian Ekspor Masih Singgah Surabaya

TARAKAN- Meski ekspor plywood di Bumi Paguntaka saat ini telah…

Selasa, 19 Maret 2019 10:37

TNI Siap Bantu Polri Mengamankan Pemilu

TARAKAN – Komandan Kodim (Dandim) 0907 Tarakan  Letkol Inf Eko…

Selasa, 19 Maret 2019 10:33

Warga di Sini Harap Banget Pengaspalan Tahun Ini

TARAKAN - Jalan yang masih bertekstur tanah dan pasir selalu…

Senin, 18 Maret 2019 11:00

BLARRRR...!! Satu Pekerja Tewas di Stasiun G-8 Medco E&P

TARAKAN – Sudarman (35) dan Boy (40) berada di sekitar…

Senin, 18 Maret 2019 10:58

KUMAT LAGI..!! Pemadaman Listrik Bergiliran 4 Jam

PEMADAMAN yang direncanakan selama 14 jam meleset jauh dari jadwal…

Senin, 18 Maret 2019 10:57

14 Jam Gas PGN Terhenti

KEPOLISIAN masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan di area Stasiun Pengumpul…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*