MANAGED BY:
KAMIS
27 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 05 November 2018 12:01
Mariani, Terpisah dengan Anaknya Selama Dua Tahun
DIHUBUNGKAN RFL: Mariani (kiri) terisak ketika men dengar suara anaknya melalui telepon seluler di Sigi, Sulteng. DOKUMENTASI PMI KALTARA

PROKAL.CO, TARAKAN – Memasuki hari ke-35 pasca gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), atas koordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kaltara dan PMI Sulteng, PMI Nunukan berhasil menghubungkan komunikasi antara keluarga di lokasi bencana. Kepala Markas PMI Kaltara Amrin mengatakan, keberhasilan pihaknya menghubungkan komunikasi keluarga di lokasi bencana berkat adanya laporan dari layanan restoring family links (RFL) yaitu ‘saya mencari’ laporan diinput oleh PMI Nunukan atas nama Fadli bin Ruslin yang merupakan salah satu tenaga kerja indonesia (TKI) yang dideportasi dari Tawau, Malaysia.

“Fadli ini merupakan salah satu dari 97 TKI yang dideportasi dari Tawau pada 1 November, sebelumnya dideportasi di tahanan di Pusat Tahanan Sementara Papar dan Manggatal Kota Kinabalu,” tuturnya, Sabtu (3/11).

Permintaan Fadli untuk dapat menghubungi orang tuanya yang berada di Kabupaten Sigi difasilitasi relawan PMI Nunukan yang sedang melakukan pendampingan terhadap TKI yang tiba di Pelabuhan Tunon Taka. Relawan PMI Nunukan sedang memberikan layanan RFL kepada TKI dengan melakukan pendataan dan pemberian layanan telepon gratis.

“Ketika sedang memberikan layanan RFL, seorang TKI bernama Fadli datang meminta untuk dapat berkomunikasi dengan orang tuanya yang berada di Kabupaten Sigi,” tuturnya.

Dari keterangan yang disampaikan Fadli kepada relawan PMI Nunukan, diketahui Fadli sejak tahun 2009 telah meninggalkan Kabupaten Sigi menuju ke Sabah untuk bekerja sebagai TKI. Selama 7 tahun terakhir Fadli masih aktif berkomunikasi dengan orang tuanya di kampung.

“Komunikasi dengan orang tuanya terputus setelah dia (Fadli) ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia di Sabah pada tahun 2016 karena bermasalah pada dokumen paspor dan izin tinggal habis masa berlakunya. Sejak saat itu saudari Fadli tidak bisa lagi berkomunikasi secara langsung kepada orang tuanya yang ada di kampung,” ungkapnya.

Bencana di Sulteng membuatnya khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya. “Keingintahuan dari Fadli terkait kondisi orang tuanya, membuat Fadli meminta bantuan kepada relawan PMI Nunukan melalui layanan RFL. PMI Sulteng menindaklanjuti, di mana laporannya tersebut ditindaklanjuti Koordinator RFL Sulteng Andi Satar menuju ke alamat yang diketahui merupakan tempat tinggal Mariani binti Rasid yang merupakan ibu kandung Fadli,” ujarnya.

Pencarian alamat yang dimaksud dilakukan pada 2 November, di mana koordinator RFL Sulteng Andi Satar menuju ke lokasi yang dimaksud oleh Fadli. Proses pencarian sempat mengalami kendala, karena alamat yang dimaksud bangunannya kini sudah mengalami kerusakan parah.

“Pada saat tiba di lokasi, bangunan tempat tinggal keluarganya Fadli tersebut sudah rusak parah dan tidak bisa ditinggali lagi, namun seorang tetangga Mariani berhasil kami temui dan bersedia mengantarkan ke tempat tinggal Mariani saat ini,” ungkapnya.

Tak lama kemudian tim menjumpai seorang ibu yang mengenakan baju kemeja warna ungu dengan menggunakan sarung sedang duduk di teras rumah yang sangat senderhana. Kemudian tim menyapa ibu tersebut dan bertanya apakah benar ibu ini adalah Mariani binti Rasid. Ternyata benar bahwa ibu tersebut merupakan orang dicari.

“Andi Satar selaku koordinator langsung menyampaikan maksud dan tujuan datang untuk menemui Ibu Mariani binti Rasid dan sekaligus mengkonfirmasi permohonan pencarian yang diminta oleh Fadli,” tuturnya.

Dari pengakuan Mariani, dirinya sudah sekitar 2 tahun tidak berkomunikasi dengan anak kandungnya Fadli yang bekerja sebagai TKI di Sabah. Mendengar pengakuan Mariani, relawan PMI memberikan layanan telepon untuk menghubungkannya kepada anak kandungnya tersebut, tangis dan air mata pecah ketika Mariani mendengarkan suara anaknya yang sudah 2 tahun tidak didengar. Di akhir pembicaraan antara ibu anak tersebut, Mariani berharap anaknya segera kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya lagi. (jnr/lim)


BACA JUGA

Rabu, 26 Juni 2019 10:32

PPDB, Orangtua Hampir Pingsan Menunggu Antrean

TARAKAN – Hari kedua pendaftaran peserta didik baru (PPDB) di…

Rabu, 26 Juni 2019 10:28

“Saya Kehilangan Orang Terbaik di Hidup Saya”

TARAKAN – Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun , ibunda…

Rabu, 26 Juni 2019 10:27

Larangan Aktivitas Bongkat Muat Kukuh Diberlakukan di Pelabuhan Ini

TARAKAN – Surat edaran yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan Kalimantan…

Rabu, 26 Juni 2019 10:24

Cegah Hoaks-Ujaran Kebencian dengan Komsos

TARAKAN – Upaya menjalin persatuan dan kesatuan untuk mempererat Kebhinekaan masyarakat…

Rabu, 26 Juni 2019 10:22

Kumpul Material Bekas untuk Membangun Gubuk

Petrunaila Inalaini atau lebih dikenal Mama Angel, yang kini membiayai…

Rabu, 26 Juni 2019 09:51

Jalan Rusak Parah, Ganggu Aktivitas Pengendara

TARAKAN – Badan Jalan Aki Balak, yang berada tepat di…

Rabu, 26 Juni 2019 09:41

Peminat Samsat Keliling Masih Minim

TARAKAN – Meski sudah dioperasikan, namun masyarakat yang membayar pajak…

Rabu, 26 Juni 2019 09:37

Tidak Ada Penerangan, Rawan Kecelakaan

TARAKAN - Tidak adanya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) di…

Selasa, 25 Juni 2019 10:04

Antre dari Pagi, Demi Sekolah Baru

TARAKAN - Hari pertama Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) pada…

Selasa, 25 Juni 2019 10:02

Laporan Tahun Lalu Terdapat Silpa

TARAKAN – Rapat paripurna tentang laporan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*