MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 05 November 2018 12:01
Mariani, Terpisah dengan Anaknya Selama Dua Tahun
DIHUBUNGKAN RFL: Mariani (kiri) terisak ketika men dengar suara anaknya melalui telepon seluler di Sigi, Sulteng. DOKUMENTASI PMI KALTARA

PROKAL.CO, TARAKAN – Memasuki hari ke-35 pasca gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), atas koordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kaltara dan PMI Sulteng, PMI Nunukan berhasil menghubungkan komunikasi antara keluarga di lokasi bencana. Kepala Markas PMI Kaltara Amrin mengatakan, keberhasilan pihaknya menghubungkan komunikasi keluarga di lokasi bencana berkat adanya laporan dari layanan restoring family links (RFL) yaitu ‘saya mencari’ laporan diinput oleh PMI Nunukan atas nama Fadli bin Ruslin yang merupakan salah satu tenaga kerja indonesia (TKI) yang dideportasi dari Tawau, Malaysia.

“Fadli ini merupakan salah satu dari 97 TKI yang dideportasi dari Tawau pada 1 November, sebelumnya dideportasi di tahanan di Pusat Tahanan Sementara Papar dan Manggatal Kota Kinabalu,” tuturnya, Sabtu (3/11).

Permintaan Fadli untuk dapat menghubungi orang tuanya yang berada di Kabupaten Sigi difasilitasi relawan PMI Nunukan yang sedang melakukan pendampingan terhadap TKI yang tiba di Pelabuhan Tunon Taka. Relawan PMI Nunukan sedang memberikan layanan RFL kepada TKI dengan melakukan pendataan dan pemberian layanan telepon gratis.

“Ketika sedang memberikan layanan RFL, seorang TKI bernama Fadli datang meminta untuk dapat berkomunikasi dengan orang tuanya yang berada di Kabupaten Sigi,” tuturnya.

Dari keterangan yang disampaikan Fadli kepada relawan PMI Nunukan, diketahui Fadli sejak tahun 2009 telah meninggalkan Kabupaten Sigi menuju ke Sabah untuk bekerja sebagai TKI. Selama 7 tahun terakhir Fadli masih aktif berkomunikasi dengan orang tuanya di kampung.

“Komunikasi dengan orang tuanya terputus setelah dia (Fadli) ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia di Sabah pada tahun 2016 karena bermasalah pada dokumen paspor dan izin tinggal habis masa berlakunya. Sejak saat itu saudari Fadli tidak bisa lagi berkomunikasi secara langsung kepada orang tuanya yang ada di kampung,” ungkapnya.

Bencana di Sulteng membuatnya khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya. “Keingintahuan dari Fadli terkait kondisi orang tuanya, membuat Fadli meminta bantuan kepada relawan PMI Nunukan melalui layanan RFL. PMI Sulteng menindaklanjuti, di mana laporannya tersebut ditindaklanjuti Koordinator RFL Sulteng Andi Satar menuju ke alamat yang diketahui merupakan tempat tinggal Mariani binti Rasid yang merupakan ibu kandung Fadli,” ujarnya.

Pencarian alamat yang dimaksud dilakukan pada 2 November, di mana koordinator RFL Sulteng Andi Satar menuju ke lokasi yang dimaksud oleh Fadli. Proses pencarian sempat mengalami kendala, karena alamat yang dimaksud bangunannya kini sudah mengalami kerusakan parah.

“Pada saat tiba di lokasi, bangunan tempat tinggal keluarganya Fadli tersebut sudah rusak parah dan tidak bisa ditinggali lagi, namun seorang tetangga Mariani berhasil kami temui dan bersedia mengantarkan ke tempat tinggal Mariani saat ini,” ungkapnya.

Tak lama kemudian tim menjumpai seorang ibu yang mengenakan baju kemeja warna ungu dengan menggunakan sarung sedang duduk di teras rumah yang sangat senderhana. Kemudian tim menyapa ibu tersebut dan bertanya apakah benar ibu ini adalah Mariani binti Rasid. Ternyata benar bahwa ibu tersebut merupakan orang dicari.

“Andi Satar selaku koordinator langsung menyampaikan maksud dan tujuan datang untuk menemui Ibu Mariani binti Rasid dan sekaligus mengkonfirmasi permohonan pencarian yang diminta oleh Fadli,” tuturnya.

Dari pengakuan Mariani, dirinya sudah sekitar 2 tahun tidak berkomunikasi dengan anak kandungnya Fadli yang bekerja sebagai TKI di Sabah. Mendengar pengakuan Mariani, relawan PMI memberikan layanan telepon untuk menghubungkannya kepada anak kandungnya tersebut, tangis dan air mata pecah ketika Mariani mendengarkan suara anaknya yang sudah 2 tahun tidak didengar. Di akhir pembicaraan antara ibu anak tersebut, Mariani berharap anaknya segera kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya lagi. (jnr/lim)


BACA JUGA

Selasa, 15 Januari 2019 19:20

Yos Sudarso Gugur Bersama Tiga KRI dengan Heroik

TARAKAN – Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) XIII Laksamana…

Selasa, 15 Januari 2019 14:04

Tiket Pesawat Mahal, Beralih ke Jalur Laut

TARAKAN - Kenaikan harga tiket pesawat membawa dampak luas kepada…

Selasa, 15 Januari 2019 14:01

Merasa Cukup dengan Langganan Carteran

Ojek pangkalan (opal) menjadi salah satu alternatif transportasi masyarakat. Juga…

Selasa, 15 Januari 2019 13:58

Keluarga Korban Menagih Janji Polisi

TARAKAN - Kesedihan masih bergelayut di kediaman almarhumah Rahma (77)…

Selasa, 15 Januari 2019 13:27

Dua Pekan, Tujuh Pelaku Kejahatan Dibekuk

TARAKAN – Kinerja Satreskrim Polres Tarakan patut diacungi jempol. Dua…

Selasa, 15 Januari 2019 13:25

Millennial Road Safety, Upaya Kepolisian Tekan Angka Lakalantas

TARAKAN – Tinggi angka kecelakaan lalu lintas khususnya di Tarakan,…

Selasa, 15 Januari 2019 13:13

Dibutuhkan Relawan Demokrasi

MASIH ada segelintir masyarakat yang belum mengetahui adanya Pemilu 2019.…

Selasa, 15 Januari 2019 13:11

Jalan Utama Sempit Dilewati

TARAKAN – Infrastruktur jalan selalu saja disoroti warga. Bagaimana tidak,…

Senin, 14 Januari 2019 15:28

“Kenaikan Harga Masih Batas Normal”

TARAKAN – Tarif pesawat yang melambung, satu persatu akan turun…

Senin, 14 Januari 2019 15:26

Darurat, Setop Gunakan Kantong Plastik

TARAKAN – Persoalan penggunaan plastik masih tinggi di Bumi Paguntaka.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*