MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 02 November 2018 15:46
Mesin Lion Bermasalah, Penumpang Naik Turun
GAGAL BERANGKAT: JT-267 di parkiran Bandara Internasional Juwata Tarakan, tadi malam. JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Penerbangan Lion Air JT-267 Tarakan-Surabaya dibatalkan Lion Air, kemarin (1/11). Calon penumpang dalam penerbangan yang terjadwal berangkat pukul 09.30 WITA dan tiba di Surabaya pada pukul 11.00 WITA itu pun dibuat waswas.

Airport Manager Lion Air Tarakan Muhammad Arif yang ditemui di Bandara Internasional Juwata Tarakan mengatakan, prosedur penerbangan yang dijalankan pihaknya sudah benar. Hanya dua kali muncul masalah pada mesin dan mengharuskan penerbangan dibatalkan.

Masalah pertama pada satu mesin pesawat di sisi kiri, sehingga penumpang harus diturunkan melalui pintu sebelah kanan. Meski tak merinci, kendala yang ditemukan jika mesin dimatikan maka muncul masalah lain. Beberapa jam kemudian, kendala tersebut teratasi, penumpang kembali diminta masuk ke pesawat.

Namun, nyatanya masalah belum selesai. Saat akan berangkat, muncul masalah lagi. Arief mengatakan, jika penerbangan dipaksakan akan membahayakan. “Diputuskan untuk tidak jadi berangkat dan pesawat harus ditangani oleh ahlinya. Sehingga dengan terpaksa penumpang diturunkan. Menyangkut keselamatan awak pesawat dan juga penumpang,” ujarnya.

Penumpang yang berjumlah 120 orang itu diturunkan, dan semua diberi kompensasi delay sebesar Rp 300 ribu ditambah makanan ringan dan berat. Sekitar 30 orang, diberangkatkan hari dengan penerbangan lain. Mereka yang tidak berangkat juga diberi kompensasi penginapan dan tiket untuk penerbangan selanjutnya hari ini.

“Kami tidak bisa berangkatkan hari ini (kemarin) juga semuanya, dan harus dibagi karena seat pesawat tidak cukup. Kompensasi delay semua penumpang diberikan, termasuk yang akan diberangkatkan pada Jumat juga kami tanggung tiketnya,” ungkapnya.

Arief menegaskan, para penumpang tak perlu khawatir, pasti tetap diberangkatkan. Dengan kejadian ini, memicu delay di beberapa rute lain. JT 267 merupakan pesawat dengan rute penerbangan panjang. Seperti dengan rute Cengkareng-Tarakan, Tarakan-Banjarmasin-Surabaya dan sebaliknya.

Sementara itu Ahmad Rois (51), warga RT 1, Kelurahan Mamburungan, Tarakan Timur yang turut dalam penerbangan JT 267 merasa perlu mengikuti aturan yang berlaku. Pasalnya jika dipaksakan berangkat tentu akan sangat membahayakan.

Dikatakan Ahmad, pada pukul 09.30 WITA pesawat seharusnya sudah berangkat. Tetapi saat sudah berada di dalam pesawat, beberapa menit kemudian penumpang diminta untuk turun. Tetapi setelah itu kembali diminta untuk naik. Sekira setengah jam di dalam pesawat, penumpang kembali diminta turun berikut barang bawaan yang sudah dimasukkan dalam kabin.

“Kami lalu menunggu di ruang tunggu dan dijelaskan kalau tidak bisa berangkat karena ada masalah dan menyangkut keselamatan,” ujarnya.

Seyogyanya ia dan lima anggota keluarganya sudah sampai di Surabaya menghadiri acara sebuah pernikahan keluarga. Tetapi karena kejadian yang tidak diinginkan ini, Ahmad pasrah tidak. “Tentunya rugi waktu karena harus terlambat, tetapi demi keselamatan tetap harus diikuti,” tuturnya.

Dirinya berharap dapat berangkat secepatnya dan tidak ditunda pada penerbangan hari ini. Ia pun mengakui jika telah menerima ganti rugi sesuai prosedur. “Saya sudah sering naik Lion Air, tetapi baru kali ini terjadi seperti ini. Yah, mau bagaimana, yang penting selamat,” terangnya.

Rahmadani Nandar, warga Markoni, Tarakan Tengah yang akhirnya diberangkat Lion dengan pesawat JT-369 mengaku jika awalnya dia memesan tiket direct dari Tarakan ke Surabaya. “Pas baru masuk tadi pagi itu, kemudian disuruh turun. Mesinnya rusak. Belum isi bensin katanya. Lewat jam 10, diminta naik lagi pesawat yang sama. Ada 15 menit. Bingung semua, nanya. Ada yang kecewa. Setengah 11, turun lagi. Jam 12 ada pengumuman. Habis itu dikasih kompensasi,” kata Rahmadani sesaat tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, tadi malam sekira pukul 20.00 WITA.

“Ini dikasih tiket enggak direct, singgah Balikpapan. Pindah pesawat. Lain lagi yang ke Surabaya,” ungkap pria yang akrab disapa Nandar ini.

CVR SEMPAT TERDETEKSI PING

Sementara dari lokasi jatuhnya Lion Air Jt-610, satu dari dua black box pesawat dengan registrasi PK LQP sudah ditemukan pagi kemarin (1/11). Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto menduga kuat kotak hitam yang sebenarnya berwarna oranye itu adalah flight data recorder (FDR).

Isinya data-data penerbangan seperti ketinggian, arah, dan kecepatan pesawat. FDR punya kapasitas merekam selama 25 jam dari penerbangan. Sehingga data penerbangan sebelumnya pun bisa terbaca dari FDR.

Selain FDR, ada pula cockpit voice recorder (CVR) yang berisi rekaman percakapan pilot dengan kopilot dan kru kabin, suara di kokpit, serta percakapan dengan petugas menara pengawas. Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menemukan titik FDR dengan peralatan canggih di Kapal Baruna Jaya I itu yakin bisa mendeteksi pula lokasi CVR hari ini (2/11).

Sekitar pukul 18.20 WIB, FDR yang dimasukkan ke dalam kotak khusus berisi air itu tiba di dermaga JICT oleh kapal RIB Taifib. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, bersama Ketua KNKT Soerjanto, dan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M.

Ilyas menjelaskan temuan yang bisa menjadi petunjuk penyebab Lion Air penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang itu celaka. ”Semoga dengan diperolehnya FDR ini kami harapkan, kami bisa meneliti lebih jauh,” kata Menteri Budi.

Kepala KNKT Soerjanto menuturkan FDR yang ditemukan itu sudah lepas dari cangkang. Hanya menyisakan crash protection box yang berisi kartu memori. Nah di kartu itulah data-data penerbangan tersimpan. Sehingga bisa dianalisis untuk menemukan petunjuk utama penyebab kecelakaan pesawat Lion Air. Butuh waktu dua hingga tiga pekan untuk menganalisis data. Dia memastikan penyelidikan yang sepenuhnya di Indonesia itu akan independen.

”Tidak ada kaitannya  Airbus dengan ini ya. Kami menyelidikinya masalah kenapa kecelakaan ini, ya independen,” tegas dia. Dia yakin bahwa benda yang dari kejauhan terlihat seperti tabung itu adalah FDR. Tapi, untuk memastikan perlu ada penelitian lebih lanjut di laboratorium. 

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyas mengungkapkan sejak hari kedua pencarian atau Selasa (30/10) sebenarnya sinyal dari black box itu sudah diketahui. Tapi, para peneliti masih belum sepenuhnya yakin.

Hingga berulangkali dipastikan petugas di Kapal Baruna Jaya I yang membawa alat multibeam echosounder hydrosweeps DS, side scan sonar edgetech 4125, G-882 marine magnetometer, dan remote operated vehicle (ROV)-seaeye 12196 falcon.

”Sinyal itu dipastikan dengan ping locator milik KNKT Indonesia dan Singapura. Ada sumber frekuensi dari black box. Kami pastikan lagi dengan transponder,” kata Ilyas.

Caranya, menurut Ilyas, dengan mengirimkan sinyal berkekuatan 37,5 kilohertz sesuai dengan sinyal yang dimiliki black box. Dengan alat penerima sinyal itu bisa dideteksi lokasinya dengan metode triangulasi data. Jadi, pengecekan dengan cara menembakkan sinyal itu dari tiga lokasi berbeda. Titik lokasi itu lantas diberikan kepada penyelam dari TNI dan Basarnas.

Penyelam yang membawa ping locator milik KNKT mendeteksi ke area yang lebih kecil. Cara kerjanya semakin dekat dengan lokasi semakin terdengar suara ping. Hingga akhirnya anggota Batalyon Intai Amfibi 1 Marinir Sertu Hendra Syahputra menemukan FDR di kedalaman 35 meter. Lokasi koordinat temuan itu di S 05 48 48.051-E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545-E 107 07 38. Temuan itu sekitar pukul 10.30 WIB.

Hari ini (2/11), tim dari BPPT masih punya pekerjaan besar untuk mencari VCR. Lokasinya sebenarnya sudah diketahui kemarin. Tapi, lokasi perkiraan itu berada sekitar 250 meter dari pipa Pertamina. Sehingga kapal Baruna Jaya pun harus bergeser hingga 600 meter dari lokasi yang diduga VCR yang ditandai dengan inisial C 31 itu. Sesuai standar, kapal hanya boleh lego jangkar dengan jarak lebih dari 550 meter dari pipa.

”Sudah tidak terdengar lagi ping-nya. Tidak terdeteksi kami punya kapal. Dan tadi juga turun dengan rubber boat, dengan ping locator dan KNKT Singapura dan Indonesia tidak ada bunyi,” ujarnya.

Sore kemarin ada penyelaman oleh anggota TNI dan Basarnas dengan membawa ping locator untuk mencari lokasi VCR. ”Mudah-mudahan mengetahui, oh sudah ada bunyi. Berarti masih di situ,” kata Ilyas.

Strategi yang akan dilakukan tim di kapal BPPT itu hari ini dengan tetap menurunkan jangkar 600 meter dari pipa Pertamina. Tapi, dengan ROV yang punya kabel sepanjang 1.200 meter itu bisa menjelajah ke lokasi tersebut. ”Bunyi ping tidak terdengar itu bisa jadi karena lumpur. Informasi dari penyelam lumpur bisa selutut,” ungkap dia.

 

LEBIH PARAH DARIPADA KORBAN AIRASIA

Proses identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air memiliki tingkat kesulitan tinggi. Hingga kemarin (1/11) tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri belum menambah jumlah korban yang bisa dikenali. Bagian tubuh korban yang ditemukan belum representatif untuk diidentifikasi menggunakan metode struktur gigi dan sidik jari.

Kondisi itu menuntun pada betapa parahnya tubrukan atau crash yang terjadi pada pesawat bernomor penerbangan JT-610 itu. Bahkan, diprediksi crash yang terjadi lebih dahsyat dibanding pesawat AirAsia QZ 8501 yang jatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 2014 lalu.

Kepala Bidang DVI Polri Kombes Pol Lisda Cancer menuturkan, jenazah korban yang berupa bagian tubuh atau body part hanya memungkinkan dikenali menggunakan metode tes DNA. Artinya, body part yang ada memang tidak ada bagian gigi dan sidik jari. ”Ini yang terjadi,” jelasnya.

Bahkan, secara wujud body part yang diterima tim DVI ini hanya bagian-bagian kecil. Seperti, kulit, daging, atau tulang. Bila dibandingkan dengan kondisi jenazah korban kecelakaan AirAsia, kondisi jenazah korban jatuhnya Lion Air lebih parah. ”Saat AirAsia, masih banyak jenazah yang utuh. Tapi, Lion Air ini jenazah korban sama sekali tidak ada yang utuh,” tuturnya.

Meski begitu, dia tidak bisa menyimpulkan apakah kondisi ini terjadi karena parahnya crash yang terjadi pada Lion Air JT-610. ”Apa yang menyebabkan dan bagaimana kecelakaan terjadi, saya tidak bisa menyimpulkan. Nanti itu berhubungan dengan kewenangan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT),” ungkapnya.

Sementara mantan Direktur Eksekutif DVI Kombes Pol (Pur) Anton Castilani membeberkan, kondisi jenazah korban kecelakaan itu berbanding lurus dengan parahnya tubrukan yang terjadi dalam kecelakaan tersebut. ”Semakin rusak berarti semakin dahsyat kecelakaannya,” jelasnya.

Menurut dia, hal itu bisa terjadi karena gaya sentrifugal atau percepatan yang terjadi pada pesawat Lion Air dibanding kecelakaan pesawat lainnya lebih besar. ”Tapi, untuk mengetahui bagaimana kecelakaan tentunya perlu kerjasama antara DVI dengan KNKT dan lainnya,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia, untuk mengetahui betapa parahnya kecelakaan berdasar kondisi jenazah ini bisa dilakukan. Namun, selama ini metode tersebut belum pernah dilakukan secara real. ”Sebab, biasanya ini untuk kepentingan perusahaan pembuat pesawat, dalam konteks perbaikan desain agar lebih aman,” paparnya.

Dia menuturkan, kejadian kecelakaan ini memberikan kesadaran betapa pentingnya data antemortem bagi penumpang pesawat. Bila tidak bisa sepenuhnya untuk penumpang, setidaknya perlu untuk membuat regulasi mewajibkan data antemortem bagi yang berprofesi high risk, seperti TNI, Polri atau pegawai yang pekerjaannya memiliki potensi kecelakaan.

Sementara Wakil Kepala RS Polri Kombes Pol Haryanto mengatakan, dari 189 korban jatuhnya Lion Air, hingga kemarin baru didapatkan 152 sampel DNA. Dengan begitu, masih ada 37 keluarga penumpang yang belum bisa diambil sampel DNA-nya.

”Ini kemungkinan karena dua sebab,” ujarnya.

Pertama, ada satu keluarga menjadi korban di pesawat nahas tersebut. Kedua, keluarga yang akan diambil sampel DNA tidak datang. ”Data dari tim antemortem itu setidaknya ada dua keluarga, yang semua keluarga inti menjadi korban. Dari ayah, ibu dan anak,” tuturnya.

Satu keluarga berisi empat orang dan satu keluarga lainnya berisi tiga orang. Total, ada tujuh orang dari dua keluarga yang menjadi korban. ”Kami masih berupaya,” papar polisi dengan tiga melati di pundaknya tersebut. (*/naa/jun/idr/agm/lim)


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 12:55

Herdiansyah Sempat Pinjam Uang Rp 100 Juta

TARAKAN – Sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan bahan ajar di…

Senin, 10 Desember 2018 09:56

PPPK Menanti Kebijakan Pemimpin Baru

TARAKAN - Pemerintah pusat kembali mengeluarkan pernyataan bakal membuka lagi…

Senin, 10 Desember 2018 09:55

Dari Sepeda Mengenal Negara Lain dan Banyak Komunitas

Olahraga dapat menjadi hobi yang sehat bagi penikmatnya. Selain sehat…

Senin, 10 Desember 2018 09:53

Saling Susul di Rute Sepanjang 26 Km

TARAKAN - Sebanyak 180 goweser ikut berpartisipasi dalam Jambore Sepeda,…

Senin, 10 Desember 2018 09:52

Masih Ada Pengundian Sekali Lagi

TARAKAN - Surat kabar harian (SKH) Radar Tarakan dan Sinar…

Senin, 10 Desember 2018 09:50

Pengusaha Bertarung dengan Upah Tinggi

BESARNYA ketentuan upah di Kota Tarakan membuat para pengusaha harus…

Senin, 10 Desember 2018 09:30

Ada Sekolah, Tak Ada Jalan Utama

TARAKAN - Ketua RT 66, Kelurahan Karang Anyar, Saimun mengatakan,…

Senin, 10 Desember 2018 09:04

Barat dan Utara Rawan Longsor

TARAKAN – Masyarakat patut waspada seiring intensitas hujan yang tinggi.…

Senin, 10 Desember 2018 09:01

HUT, Tetap Mengundang Artis

TARAKAN – Hari Ulang Tahun ke-21 Kota Tarakan yang jatuh…

Senin, 10 Desember 2018 08:59

Jarak Pandang Terbatas, Speedboat Kandas

CUACA buruk juga berdampak pada pelayaran, kemarin (7/12). Sebuah speedboat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .