MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 29 Oktober 2018 11:49
Kecewa dengan Pemerintah Daerah

Di Balik Sengketa Lahan di Empat RT Karang Anyar

KECEWA: Safari, warga RT 15 Karang Anyar menunjukkan kwitansi permohonan PTSL yang telah dilunasi. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Warga di empat rukun tetangga (RT), RT 11, 14, 15 dan 16, Karang Anyar, Tarakan Barat berharap muncul kebijakan atau keputusan terbaik menyoal status lahan yang mereka diami dalam pertemuan warga di Kementerian Pertahanan (Kemenhan) November mendatang. Sebagian kawasan di Kampung Bugis itu belakangan diketahui terdaftar sebagai milik TNI AL sesuai rilis Badan Pertanahan Nasional (BPN).

SAFARI, usianya sudah menginjak 60 tahun.Mendiami kawasan RT 15, Karang Anyar, Tarakan Barat sejak 11 tahun silam. Ia bersama ratusan kepala keluarga lainnya diliputi cemas.

Kecemasan itu bukan kali pertama. Untuk kesekian kalinya. Safari menyadari, lahan yang mereka tempati statusnya belum aman, belum klir. Apalagi setelah permohonan mereka untuk Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) ditolak BPN. Peta bidang menunjukkan lahan di empat RT itu berstatus milik TNI AL.

Sebagai seorang warga yang taat, tentunya ia juga ingin mendapatkan hak legalitas atas tanah yang ia tinggali. Agar ia dapat menikmati masa tuanya di rumah kecil sederhananya.

“Itulah kami agak kaget, padahal orang sini punya surat dari Bupati Bulungan dulu. Harusnya luasnya jelas, jangan diklaim semua. Kami ini maunya bebas kan. Namanya kami di sini sudah tinggal puluhan tahun kok,” ungkapnya, Jumat (26/10). 

Safari menggantungkan harapan, seperti para kepala keluarga lainnya di kawasan itu. Dimintai ganti rugi sekalipun, kata dia, sangat berat bagi warga. “Maksudnya kemarin ada opsi ganti rugi, tapi tidak mungkin kita membayar kan orang kita punya surat. Tapi kalau dari jalur hukum jelas kita yang salah karena dianggap melawan negara. Harapan kami itu pemerintah dapat membantu untuk membayar ganti rugi yang diminta,” tukasnya.

Ia menerangkan, dalam situasi seperti ini seharusnya pemerintah tidak menutup mata. Mengingat persoalan agraria antara militer dan rakyat kerap terjadi. “Kemarin maunya warga ini pemerintah bisa menjadi penengah lah buat masyarakat karena yang keluarkan surat warga ini dari pemerintah juga. Ini pemerintah sekarang lepas tangan,” bebernya.

Selain itu, ia menerangkan saat proses pengukuran peta bidang PTSL, seluruh warga telah membayar operasionalnya. Meski demikian, hasil pengukuran tersebut dirasa membuat warga khawatir karena keterangan kepemilikannya.

“Kemarin pas pengukuran kami sudah bayar juga sama RT. Pas pengukuran juga ada semua, lurah, tentara, polisi, pertanahan. Saat itu tidak ada pemberitahuan kalau kawasan ini milik TNI AL. Baru peta bidang itu keluar kami kaget ternyata daerah yang kami tinggali dalam keterangan peta bidang masuk wilayah Angkatan Laut,” jelasnya.

Hidup di usia senja tentulah tidak mudah bagi Safari jika kemungkinan buruk terjadi. Ia mengaku sudah tak dapat membangun rumah baru lagi.

“Anak saya empat, dua sudah berkeluarga, duanya lagi belum. Saya hanya penjual mainan keliling yang hasilnya tidak seberapa. Rumah inilah satu-satunya harta saya. Kalau tanahnya diklaim kami nanti tinggal di mana,” tuturnya.

Di kawasan itu juga berdiri sejumlah fasilitas seperti rumah ibadah di RT 14. Meski demikian, menurut Sukirno ketua RT 14 sekaligus pengurus masjid itu, jika TNI AL berkomitmen memberi pengecualian.

Ia juga menerangkan jika TNI AL berjanji tidak akan melakukan pengusiran dan memilih mencari solusi terbaik agar tidak merugikan masyarakat. “Masjid ini juga masuk lahan Angkatan Laut, tapi kemarin komandannya sudah bilang ke kami kalau masjid ini dimasukkan dalam status khusus yang tidak mendapatkan gugatan. Tapi sebenarnya komandannya juga bilang kalau semua rumah di empat RT ini diusahakan mendapat solusi terbaik,” yakinnya.

Safari dan Sukirno berharap semoga perkara status kepemilikan lahan tersebut dapat berpihak kepada masyarakat. (*/zac/lim)


BACA JUGA

Sabtu, 19 Januari 2019 21:02

Selumit Membara, Dua Rumah Warga Diamuk Si Jago Merah

 TARAKAN - Kebakaran hebat terjadi di Kelurahan Selumit  perbatasan RT…

Jumat, 18 Januari 2019 12:23

Hasil Debat Pengaruhi Pilihan

TARAKAN – Aksi saling sindir mewarnai debat perdana pasangan calon…

Jumat, 18 Januari 2019 12:20

Lima Bulan Terakhir, Produksi Sampah Berkurang

TARAKAN - Meski Tempat Pembuangan Sampah (TPA) saat ini sangat…

Jumat, 18 Januari 2019 12:17

Ditemukan Dompeng, Diduga Milik Rustan

TARAKAN - Tim SAR gabungan yang melakukan pencarian terhadap warga…

Jumat, 18 Januari 2019 12:15

Dahlan Iskan: Pers Itu Lembaga Perjuangan

SAMARINDA - Pers tak hanya sekadar pekerjaan yang dapat dijadikan…

Jumat, 18 Januari 2019 12:13

Sembilan ASN Melanggar, Diberikan Pembinaan

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan telah melakukan pengawasan dan…

Jumat, 18 Januari 2019 12:12

Jadwal Ujian Nasional Dimajukan

TARAKAN - Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang akan diselenggarakan pada…

Jumat, 18 Januari 2019 11:43

Terdakwa Mengaku Hanya Iseng Membuat Video

TARAKAN – Terdakwa terduga terorisme yaitu Agus Salim mengungkapkan alasan…

Jumat, 18 Januari 2019 11:24

Beli Sabu, Petani Rumput Laut Diamankan Anggota Marinir

TARAKAN – Dua pria yang diketahui merupakan petani rumput laut…

Jumat, 18 Januari 2019 10:32

Ilmu Kepemimpinan Harus Dimiliki Kepala Sekolah

TARAKAN - Panggilan menjadi seorang pemimpin di sekolah bukanlah hal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*