MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 27 Oktober 2018 09:20
Tampilkan Nyingiang, Pengobatan Tradisional dari Suku Dayak Bulusu
TANPA SEKAT: Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si saat berada di tengah-tengah warga Dayak Bulusu di Arena Pelangi Intimung, Rabu (24/10). Tampak juga prosesi pengobatan tradisional yang dilakukan oleh Dayak Bulusu. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU -Dari zaman dahulu sampai sekarang, pengobatan tradisional masih banyak dilakukan. Salah satunya yang dilakukan oleh Suku Dayak Bulusu yang ada di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Malinau ke-19 dan Irau ke-9 ini, Rabu (24/10) Suku Dayak Bulusu menampilkan upacara adat pengobatan orang sakit dengan cara tradisional yang disebut Nyingiang.

Nyingiang adalah ritual adat untuk orang sakit yang merupakan tindakan terakhir yang dalam bahasa Bulusu (Sitiar) yang ditempuh oleh keluarga yang butuh pengobatan alternatif jika ada anggota keluarga yang tidak kunjung sembuh. Ketua Lembaga Adat Bulusu, Drs. Jabin Jantje menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau yang telah memberikan kesempatan kepada suku-suku terutama hari ini suku Dayak Bulusu untuk menampilkan upacara adatnya. Tentunya hal ini untuk menjaga kearifan lokal agar tetap lestari dan dijaga secara turun temurun juga mempererat persatuan dan kesatuan antar suku dan paguyuban yang ada di Malinau.

Sebelum mengambil keputusan untuk Nyingiang, keluarga yang memilih alternatif ini akan melakukan musyawarah (Bapakot/Buputu) karena semua anggota Nyingiang akan diberikan imbalan berupa tempayan (Belanai Laid) yaitu tempayan dengan nilai tinggi. Ritual dilakukan selama 3-4 hari berturut-turut dipimpin oleh orang tua yang sudah berpengalaman dalam ritual ini serta telah menyembuhkan orang banyak (Bilian) dengan anggota Nyingiang berjumlah 6-20 orang dan pemain musik berjumlah 2 orang.

“Suatu penampilan yang membanggakan dari suku Dayak Bulusu yang menginspirasi dan memotivasi kita semua dalam rangka kita membangun Kabupaten Malinau,” ucap Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si saat menyampaikan sambutannya.

Bupati Yansen banyak menerima pertanyaan mengapa lembaga adat dan paguyuban diminta untuk menampilkan upacara adat atau seni budayanya. Bupati menjawab bahwa pada hakikatnya masyarakat Malinau yang tersebar sampai dipelosok desa memiliki kebudayaan yang harus di munculkan. Jika tidak dimunculkan maka desa atau budaya itu akan tertinggal dari daerah lainnya. “Disebut Dayak tapi tidak ada aktivitas, disebut Jawa tidak ada aktivitas, hanya nama saja sehingga kerangka budayanya tidak berarti apa-apa,” tegasnya.

Dayak Bulusu mungkin hampir sama dengan suku dayak lainnya, tetapi tetap ada bedanya. “Perbedaan ini harus nyata, itulah artinya kita bersatu. Mahal. Kesempatan kita untuk mengekspresikan budaya kita, ini yang mahal. Mari bangkitkan semangat budaya kita sebagai identitas kita. Bangun pikiran positif, utamakan hal-hal baik dipiran kita,” ujar Bupati. (hms/fly)


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 16:00

Pukuli Anak, KW Terancam Penjara Lima Tahun

<p>&nbsp;TARAKAN &ndash; Polres Tarakan menetapkan KW warga Jalan Cendana, Kelurahan Karang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*