MANAGED BY:
KAMIS
21 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 20 Oktober 2018 15:10
Daging Alana Ilegal Masih Sulit Dibendung
ILEGAL: Daging alana ilegal masih sering didatangkan dari Tawau, Malaysia yang membuat daging alana dalam negeri dan daging lokal sulit bersaing. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Daging kerbau jenis alana yang beredar di Nunukan, masih banyak yang didatangkan secara ilegal dari Tawau, Malaysia. Hal itu masih sulit dibendung, karena memiliki harga yang lebih murah dibandingkan daging lokal.

Salah seorang penjual daging H. Tangga mengatakan, di Nunukan tidak pernah mengalami kekurangan daging, namun yang menjadi persoalan adalah terkait harga. Sebab, sebagai wilayah perbatasan perekonomiannya masih banyak bergantung dengan Malaysia.

“Berbeda dengan pedagang di Pulau Jawa. Sebab, transportasi dan proses pembeliannya menggunakan mata uang Indonesia saja,” kata H. Tangga.

Menurutnya, selama ini harga daging seharga Rp 80 ribu. Harga daging yang diperoleh dari Tawau di atasnya lagi. Begitu pula dengan daging lokal. Justru daging lokal yang masih segar harganya lebih tinggi lagi. “Bisa mencapai Rp 125 ribu per kg, harga daging lokal membutuhkan modal lebih besar ketimbang menggunakan daging impor. Sebab faktor jarak yang menjadi pertimbangannya,” ujarnya. 

Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan, Wilayah Kerja (Wilker) Nunukan, Sapto Hudaya mengatakan, harga daging alana yang dibeli secara legal masih sangat sulit bersaing dengan harga daging alana yang ilegal. “Saya yakin masih banyak daging alana illegal yang beredar di Nunukan ini,” kata Sapto Hudaya.

Menurutnya, daging alana legal telah disiapkan oleh pemerintah, harga daging tersebut telah disubsidi. Namun masih saja ada daging alana illegal yang masuk ke Nunukan. Seharusnya, para pedagang daging mendukung dan membeli daging alana yang disubsidi pemerintah.

Menurutnya, harga daging alana yang legal sekira Rp 80 ribu per kilogram (kg). Namun harga tersebut sulit diterapkan di Nunukan, karena harus dihitung dari ongkos transportasi. Daging tersebut didatangkan dari Tanjung Priok, Jakarta lalu ke Tarakan setelah itu baru diangkut ke Nunukan.

“Jadi di Nunukan dijual sekira Rp 90 ribu per kg, namun masih sulit bersaing harga dengan daging alana dari Tawau, Malaysia. Karena dapat dijual sekira Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kg,” ujarnya. (nal/eza)


BACA JUGA

Rabu, 20 Maret 2019 17:12

Baku Tembak dengan KKSB, Anggota Brimob Asal Nunukan Gugur di Papua

NUNUKAN – Muhammad Aldy, Putra Kabupaten Nunukan berprofesi sebagai salah…

Rabu, 20 Maret 2019 10:55

SKPT Tidak Dimanfaatkan Masyarakat

NUNUKAN – Permasalahan nelayan di Sebatik tak pernah berhenti. Walaupun…

Rabu, 20 Maret 2019 10:46

25 Maret, Terbang Perdana ke Krayan

NUNUKAN - Subsidi Ongkos Angkutan (SOA) penumpang tujuan Nunukan-Long Bawan,…

Rabu, 20 Maret 2019 10:43

Terlambat, Bupati Tegur ASN di Acara Musrenbang

NUNUKAN – Sikap dan tingkah laku aparatur sipil negara (ASN)…

Rabu, 20 Maret 2019 10:41

Data KPM Tak Menjadi Dasar Penyaluran LPG 3 Kg

NUNUKAN – Meskipun diklaim tak langka, keberadaan Liquefied Petroleum Gas…

Rabu, 20 Maret 2019 10:38

Persediaan Air Bersih PDAM Menipis

NUNUKAN – Persediaan air bersih di Perusahaan Daerah Air Minum…

Selasa, 19 Maret 2019 11:02

Proyek Dihentikan, Dermaga Terancam Mangkrak?

NUNUKAN – Rute penyeberangan kapal feri ke dermaga feri Semaja,…

Selasa, 19 Maret 2019 11:00

Minta Segera Lunasi Utang Petani

NUNUKAN – Harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit masih…

Selasa, 19 Maret 2019 10:44

Terkendala SDM, Banyak Warga Tak Membayar Retribusi

NUNUKAN – Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan belum maksimal…

Selasa, 19 Maret 2019 10:43

Administrasi Nelayan Ribet Banget, Begini Reaksi Nelayan

NUNUKAN – Para nelayan di Sebatik mengeluhkan proses administrasi atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*