MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 19 Oktober 2018 12:24
Setahun, Hasil Laut Lenyap Rp 1,4 T
ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, NUNUKAN – Kekayaan alam Indonesia sudah sangat terkenal banyak di dunia. Termasuk hasil laut yang begitu melimpah. Namun sayangnya, tidak semua hasil laut berupa hasil perikanan yang dimiliki dinikmati sendiri masyarakatnya. Bahkan, di wilayah perbatasan, hasil laut sebagai kekayaan alam itu justru dijarah dan dinikmati bangsa lain.

Kekayaan laut berupa ikan, udang dan kepiting selama ini begitu melimpah. Seperti yang dialami warga di Kalimantan Utara (Kaltara). Namun sayangnya, kekayaan laut itu harus rela dijarah Malaysia lantaran pengawasan pemerintah pusat tak maksimal lagi. Selain Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana pendukungnya membuat pengawasan kekayaan laut itu akhirnya dapat dinikmati negara tetangga.  

“Setiap bulan itu diperkirakan ada 20 ton kepiting yang dikirim ke Tawau secara ilegal. Jika dihitung setiap tahunnya, bisa mencapai ratusan ton. Harganya ini mencapai Rp 1,4 triliun,” ungkap H. Aidi Hendrik, Penasehatan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nunukan dalam acara sinergi, koodinasi dan kerja sama di wilayah perbatasan yang digelar Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM) Kota Tarakan di ruang pertemuan lantai 4 Kantor Bupati Nunukan, Kamis (18/10).

Menurutnya, hasil perikanan yang besar itu seharusnya tidak dijarah begitu saja.Estimasi jumlah kerugian negara itu dapat saja lebih. Sebab, yang dihitung hanya satu jenis saja. Namun, jika melihat potensi hasil laut lainnya, seperti ikan tentunya dapat melebihi jumlah itu. “Itulah yang terjadi di Kaltara. Kita yang punya laut, Malaysia yang menikmatinya,” ujarnya.

Sekretrais Kabupaten (Sekkab) Nunukan Serfianus mengatakan, memang selama ini hasil laut di wilayah Kaltara, khususnya nelayan Nunukan itu menjual ikannya ke Tawau, Malaysia. Selain persoalan harga jual yang lebih tinggi, sarana dan prasarana yang dimiliki pengusahaan Malaysia itu jauh lebih siap. Salah satunya keberadaan cold storage. Karena dapat menampung hasil laut dalam jumlah besar dan waktu yang cukup lama. “Kalau di Nunukan ini belum ada. Makanya, pemerintah pusat itu sudah sejak dulu membangun cold storage di Sebatik. Nah, kalau sudah beroperasi saya rasa harga jualnya bisa lebih tinggi lagi,” ungkap Serfianus saat dikonfirmasi usai pembukaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, masalah yang terjadi ini sudah ditemukan solusinya. Hanya tinggal dijalankan saja. Salah satunya pengoperasian cold storage yang ada di Pulau Sebatik. Keberadaan sarana dan prasarana itu dapat memaksimalkan pengelolaan hasil laut di wilayah perbatasan. “Semoga saja, keberadaan cold storage di Sebatik segera beroperasi dan dan hasil tangkapan nelayan Indonesia itu tidak lagi langsung dibawa ke Tawau lagi. Tapi dapat dikelola di Nunkan lalu dibeli pemerintah Malaysia,” ujarnya.

Kepala Pusat Standarisasi Sistem dan Kepatuham Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Ir. Teguh Samudro tak menampik informasi tersebut. Ia mengatakan, peristiwa ini menjadi perhatian serius pihaknya. Sehingga dilakukan kegiatan untuk mencari solusi yang lebih konkret guna mempersempit potensi pemasukan dan pengeluaran yang ilegal. “Tentunya dengan keterbatasan jumlah petugas kami ini dan banyaknya jalur ilegal tentunya  sangat membutuhkan bantuan dari instansi terkait,” kata Samudro saat dikonfirmasi.

Keberadaan sentra kelautan dan perikanan terpadu yang dibangun Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) menjadi salah satu cara pemerintah pusat mengatasi persoalan serius tersebut di Pulau Sebatik. “Kami berharap adanya bangunan itu dapat meningkatkan perputaran perekonomian perikanan secara tersentral. Sehingga, dapat lebih terkendali, terkontrol baik yang masuk dan keluar,” ujarnya.

Dikatakan,  peta risiko dan informasi dari masyarakat sudah masuk dan siap dilakukan langkah terpadu. Yakni, melakukan pemantauan di sejumlah di wilayah perairan Kaltara yang disinyalir menjadi jalus perlintasan barang ilegal tersebut. “Operasi bersama dilakukan secara berkelanjutan yang melibatkan instansi terkait. Hal ini menjadi salah satu output dari pertemuan yang selama ini dilakukan dengan pihak-pihak terkait pula,” pungkasnya. (oya/udn)         


BACA JUGA

Senin, 19 November 2018 15:25

Beddumang Gorok Leher, Luka Menganga 14 Cm

SEBATIK – Warga RT 9 Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Sebatik…

Senin, 19 November 2018 15:11

Hanya 22 Peserta Lulus Passing Grade

NUNUKAN – Dari 1.175 peserta yang mengikuti seleksi kompetensi dasar…

Senin, 19 November 2018 15:10

Warga Bingung, Pelabuhan Sei Pancang Berubah Nama

NUNUKAN – Pelabuhan Sei Pancang, Kecamatan Sebatik Utara, kini menjadi…

Senin, 19 November 2018 15:09

Bertemu Pacar, Ayah Dibui

NUNUKAN – Seorang anak di bawah umur (13 tahun), sebut…

Senin, 19 November 2018 10:33

Resahkan Warga, Lima WNA Diamankan

NUNUKAN – Sejumlah Warga Negara Asing (WNA) asal India sempat…

Senin, 19 November 2018 10:32

Ratusan Formasi Terancam Kosong

NUNUKAN – Minimnya peserta calon aparatur sipil negara (ASN) yang…

Senin, 19 November 2018 10:31

Jalin Kedekatan dengan Kunjungi Sekolah di Pelosok

Menjadi pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan,…

Senin, 19 November 2018 10:26

DPO Pencuri Mesin Air Terciduk

NUNUKAN – Seorang pria paruh baya yang sudah masuk dalam…

Senin, 19 November 2018 09:41

GILAA..!! Nelayan Ini Selundupkan Sabu 4,5 Kg

NUNUKAN – Hati YN (52) tak sanggup menolak upah mahal…

Senin, 19 November 2018 09:14

Media Pembawa Hama Penyakit Dimusnahkan

NUNUKAN – Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan Wilayah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .