MANAGED BY:
RABU
21 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 18 Oktober 2018 15:20
KOMITMEN GENERASI MUDA MELESTARIKAN BUDAYA
DILESTARIKAN: Tari masal Lawe Ayu' Idi Raben Ulun Fufu Lundayeh yang dilestarikan para generasi muda Dayak Lundayeh. YUSTINA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Perayaan budaya Irau di Malinau memberikan kesan tersendiri, berbagai atraksi budaya ditampilkan. Mulai dari tari-tarian, prosesi adat, dan keseharian masyarakat Malinau disuguhkan kepada masyarkaat. Seperti tari-tarian masal yang disuguhkan dari para muda-mudi Dayak Lundayeh pada perayaan irau di Malinau.

Tarian masal dengan tema Lawe Ayu' Idi Raben Ulun Fufu Lundayeh ini menceritakan sejarah asal usul dan dinamika kehidupan suku Dayak Lundayeh. Mulai dari kuatnya adat istiadat kepercayaan lama para leluhur suku Dayak Lundayeh di kampung asalnya di pedalaman, sampai pada masuknya agama yg dibawa oleh para Missionaris.

Sampai pada perubahan pola pikir dan sikap hidup yang sangat mementingkan persaudaraan, persatuan di kalangan warga Dayak Lundayeh dan pendidikan bagi putra putri Lundayeh. Persekutuan masyarakat Dayak Lundayeh begitu kuat dari manapun, hadir dan diceritakan dalam tarian masal yang dilakukan.

Tarian masal ini dibagi menjadi 7 segmen tarian, dan setiap segmen bercerita tentang kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh dari zaman dahulu kala hingga perkembangan masyarakat Lundayeh saat ini.

Persiapan yang dilakukan untuk tarian ini hanya mencapai satu bulan saja, tetapi karena telah menjadi tradisi sehingga dilakukan dengan mudah dan baik. Karena sesuai dengan kehidupan dari masyarakat dahulu hingga saat ini, jadi mengatur tarian per segmennya menjadi lebih mudah.

"Komitmen anak muda yang menarikannya juga sungguh luar biasa mencintai budayanya dengan baik. Sehingga mereka menarikannya dengan sangat baik," tutur Dolvina Damus,  Koreografer Tari.

Sekitar 150 putra putri Dayak Lundayeh yang menarikan tarian ini termasuk pemusik yang mengiringi tarian. Untuk penari dilakukan siswa SMP dan SMA, dan termasuk SD. Bahkan cukup banyak putra putri yang ingin ikut berpartisipasi dalam tarian, hal ini menandakan animo untuk mencintai dan melestarikan budaya sendiri sangat besar dan luar biasa. Dari kecil telah menanamkan dalam diri untuk mencintai budaya.

Tarian ini dikisahkan dalam berbagai segmen yang saling sambung menyambung antara kehidupan dahulu hingga saat ini. Dimulai dari segmen yang pertama yakni Arang Fun Terunan. Dalam sastra lisan Dayak Lundayeh, yang dituturkan turun temurun oleh nenek moyang Dayak Lundayeh melalui tradisi lisan "Nginan" yaitu garis silsilah asal usul keturunan keluarga Lundayeh, bahwa seluruh silsilah Keluarga Dayak Lundayeh berawal dan berpunca pada Fun Terunan, Fun Buri Bulan, Fun Rang Dungo,  Fun Terur Aco. 

Dikisahkan, pada mulanya ada 2 (dua) langit yang terpisah.  Adalah Rang Dungo yang berasal dari Matahari yang tercipta oleh suatu tangan gaib Sang Pencipta.  Rang Dungo  yang sendirian ufun eme' iring langit selifaa, idi Eme’ iring langit Selifaa" , dari langit yang satu ke langit lainnya, mencari ciptaan Sang Pencipta lainnya. Perjalanan  demi  perjalanan  dilakukan, sampai ke  Gunung  Batu  Afui  (Gunung  Batu  Api), namun  panasnya  Gunung  Batu  Afui  membuat  Rang  Dungo  gagal  menuju  puncak. 

Hingga akhirnya petuah  pun  didapatkan  melalui  mimpi, bahwa  untuk  mendaki  puncak Gunung  Batu  Afui Rang  Dungo  harusmenggunakan  baju  dan  alas  kaki  dari  Batang  Pisang  (SIBAK).  Perjalanan  Rang  Dungo  ke  puncak  Gunung  Batu  Afui pun  dilanjutkan.

Setelah itu dilanjutkan dengan segmen kedua yakni Tarian Sisit atau Siredu adalah tari tradisional Dayak Lundayeh yang menjadi  ciri khas gerak tari Dayak Lundayeh melambangkan sukacita Ferisanang, menyambut para tamu kehormatan atau Sakai dan sebagai ungkapan kegembiraan Anak Adi’ Lundayeh untuk memperkenalkan seni budaya Dayak Lundayeh kepada seluruh Sakai yang hadir pada Irau  Raye  Ulung  Buaye ini.

Arang sisit yang ditarikan oleh Anak Adi Lundayeh ini juga sebagai upaya generasi muda Lundayeh untuk mencintai, menghargai dan  memahami makna dan nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur dimasa lampau dalam bentuk seni budaya tradisional Dayak  Lundayeh sehingga generasi  muda  Lundayeh  memiliki kecintaan, dapat menghargai serta terpacu gairah dan kepeduliannya untuk ikut melindungi, melestarikan dan memelihara budaya leluhur.

Setelah itu dilanjutkan dengan tarian Arang Ngerani, di mana keseharian suku Dayak Lundayeh sejak awalnya hidup harmonis dengan alam, yang bermukim nun di dekat Danau Riberuh Bulan menurut Tutur Lisan Legenda Mumuh. Masyarakat suku Dayak Lundayehsenantiasa hidup selaras ditengah alam, memenuhi kebutuhan hidup sehari hari dari keterampilan para lelaki Lundayeh berburu, mencari ikan dan bercocok tanam.

Dayak Lundayeh sejak lama telah mengenal cara bercocok tanam dan diceritakan dalam tutur Lisan  LegendaYasai Ngabang Abpa’, Tin Berine Mifi’ Tana’, i Buek Ngisu’ Arur, I Buek daat ngisu’ fegkung dan dalam Legenda Yufai Semaring mengalahkan Ada' Fiak , pula disebutkan dalam tutur lisan tradisi Nginan. Konon Yasai berasal dari Cina dan menikah dengan seorang anak gadis keturunan Dayak Lundayeh di Danau Riberuh Bulan, Wanita itu ialah Tin Berine.

Lalu dilanjutkan dengan segmen Arang Baweh yang menceriakan pada awalnya masyarakat Dayak Lundayeh hidup dalam Ruma' Kadang dengan tetek tetek ruma' yang hidup mengelompok dan terpisah pada masing-masing bawang atau kampung berdasarkan satu rumpun keluarga  yang disebut wa'. Nenek moyang Dayak Lundayeh percaya akan benda-benda dan kekuatan gaib yang astral dan sebagaimana kehidupan dan kepercayaan lama.

Hari hari yang tenang di kampung kerap diisi dengan Baweh atau serangan antar Bawang (kampung) , antar Ruma' Kadang, bahkan antar Wa' dengan Ngeleb atau Febunu' yang  dipicu kadang-kadang hanya oleh alasan kecil, sehingga kehidupan keseharian nenek moyang Dayak Lundayeh diwarnai dengan permusuhan antar bawang, keselarasan dan keharmonisan hidup terancam dan selalu dibayangi oleh serangan Baweh.

Sebelum menuju Baweh, beberapa upacara adat untuk mengantarkan para ksatria Baweh maju ke medan pertempuran didahului dengan Tengadan untuk mengobarkan semangat  pasukanBaweh. Tengadan menyimbolkan bahwa Suku  Dayak Lundayeh memiliki sikap yang optimis, gagah berani dalam menghadapi musuh, sekali melangkah maju akan terus maju menghadang musuh dengan semangat yang digelorakan melalui teriakan Ngudup, yang menandakan kesiapan pasukan Baweh maju febunu' menggunakan senjata Felefet (parang panjang/samurai), busu (tombak) dan Ufit  (sumpit), dilengkapi dengan Utap atau perisai, dan bayang atau baju jirah.

Kemudian masuk ada segmen tari Arang Techung. Ada yang merayakan kemenangannya atas Baweh dengan Fekuab, Kukuy dan Siga' , namun ada lebih banyak kesedihan panjang yang dahulu melalui budaya adat lama, upacara adat kematian, yaitu ritual mengantarkan roh leluhur ke alam baka, proses penguburan jasad yang panjang, melalui tahapan  memasukkan tulang ke dalam Bebatan  atau Rubi Moon (tempayan atau guci), yaitu tahapan upacara kematian sebelum pemakaman biasa maupun pemakaman dengan  upacara adat Ferupun.

Luapan kesedihan yang disimbolkan dengan  keharusan mengikuti  Budaya  Nedcung', yaitu kewajiban bagi para wanita yang ditinggalkan para pahlawan dan ksatria yang gugur di medan Baweh  untuk  menutup kepala dan wajah, bahkan harus mengasingkan diri dan mengubur diri dalam kesedihan.

Kesedihan karena kepedihan ditinggalkan orang yang dikasihi, yang adalah pahlawan bagi Wa' atau keluarga dari bawang yang satu, ataupun  kemenangan yang dirayakan para ksatria bang bawang lainnya, silih berganti mengisi hari-hari nenek moyang Dayak Lundayeh dalam adat kepercayaan lama.

Di satu sisi, para pahlawan Baweh menarikan arakan-arakan Kukuy mengelilingi Ulung Buaye dengan melangkah bersama, beriringan, saling memegang bahu, yang mengandung makna kebersamaan, menggambarkan kuat dan eratnya persatuan dengan Ferurum, Fekimet Fekuyut, yang akhirnya berbuahkan kemenangan.

Di sisi lainnya, bagi perempuan yang ditinggalkan orang terkasihnya, menjalani masa duka yang lama dengan keharusan mengasingkan diri bahkan harus menjauh dari anak- anaknya selama menggunakan Techung atau kain penutup kepala meratapi kesedihannya.

Masa kesedihan yang gelap dan panjang itu, barulah berakhir apabila sanak keluarga berkenan membuka tudung kesedihan “Nedcung" di kepala para wanita yang ditinggalkan tersebut.

Kemudian dilanjutkan kembali pada segmen Arang Ngubur Ngadan Tuhan. Yang dikisahkan  tentang kedatangan Missionaris Kristen yang menyebarkan kabar baik, kebenaran dan cinta kasih pada sesama. Kedatangan misionaris ini merubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh.

Misi kabar baik yang dibawa oleh para missionaris yang mengajarkan cinta kasih dan anugerah Tuhan pencipta yang Esa, perlahan menyingkirkan rasa permusuhan, perselisihan berkepanjangan dan dendam antar sesama dan akhirnya menghapuskan budaya dan adat Febunu atau Baweh dan adat kepercayaan lama lainnya, yang dianut oleh para leluhur.

Lalu masuk pada segmen terakhir yakni Arang Busak Baku dan Ferisanang yang meluapkan Rasa  syukur  dan  sukacita  atas terselenggranya "Irau Raye Ulung Buaye yang diekspresikan melalui Tari Busak Baku yang diawali dengan gerak tari bersama Feritubang, Ferisanang, Feritubung, Ferisayung bersama.  Melalui gerak Ferisanang bersama ini, Anak Adi Lundayeh menggelolarakan semangat dan sukacita bersatu. Arang Ferisanang yang dilakukan Feruyud  (oleh orang banyak) ini melambangkan tekad generasi Lundayeh untuk terus menjaga persatuan, karena sejak dulu warga Dayak Lundayeh telah mengenal prinsip Berbeda tetapi Tetap Satu, Bhinneka Tunggal Ika.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika tercermin pada syair  lagu tradisional Lundayeh Tudeh Tudeh. Berbeda beda namun tetap harus bersatu, Nalan fatad na mefatad,  Mefatad teu Mefusag. Terpisah dimana mana tempat sampai keujung negeri, namun selalu bersatu, itulah hakikat keberadaan Fufu Rayeh Lundayeh atau segenap warga keluarga besar Dayak Lundayeh.

"Semangat persatuan suku  Dayak  Lundayeh yang terus dijaga, dijunjung dan kini diteladani oleh Anak Adi Lundayeh yang dilambangkan dengan Kuntum Bunga Baku atau Busak Baku, yang terdiri ratusan  kelopak yang kemudian mekar menjadi bunga atau Busak Baku yang indah dan memiliki berbagai manfaat. Itulah harapan Anak Adi Lundayeh, bermanfaat bagi masyarakat  Dayak  Lundayeh, bersatu  membangun  Bangsa  dan  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  tercinta," pungkasnya. (*/naa/nri)


BACA JUGA

Senin, 19 November 2018 14:10

Halaman Kantor Bupati Lebih Hidup dan Berwarna

MALINAU – Halaman Kantor Bupati Malinau yang biasa dipakai untuk…

Senin, 19 November 2018 14:09

Menteri PPPA Sebut Istri Bupati Malinau Kreatif

TARAKAN – Nama Ping Ding, atau yang dikenal dengan sebutan…

Senin, 19 November 2018 08:55

Ketidakpahaman Akan Berujung Penjara

MALINAU – Rawanya penyalahgunaan dana desa yang masih sering terjadi…

Senin, 19 November 2018 08:53

Assessment untuk Tentukan Bidang Sesuai Tanggung Jawab

MALINAU – Dalam upaya memberikan peningkatan keterampilan dan kompetensi di…

Jumat, 16 November 2018 13:46

Asesmen Lumrah Bagi ASN

MALINAU – Terkait pelaksanaan asesmen terhadap pejabat struktural eselon II,…

Jumat, 16 November 2018 13:44

Ping Yansen Terima Penghargaan dari Menteri PPPA

MALINAU – Kiprah dari wanita yang satu ini memang tidak…

Jumat, 16 November 2018 13:42

Pejabat Diharapkan Loyal Terhadap Nilai Pengabdian

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si saat menyampaikan…

Kamis, 15 November 2018 11:25

Komitmen Isi Kemerdekaan dengan Membangun Desa

MALINAU – Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si berpesan agar…

Kamis, 15 November 2018 11:24

Pemkab Malinau Gelar Asesmen Pejabat Struktural

MALINAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau bekerja sama dengan Universitas…

Kamis, 15 November 2018 11:23

Bupati Ajak DPRD Menundukkan Kepala 60 Detik

MALINAU – Apa yang dilakukan Bupati Malinau Dr. Yansen TP,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .