MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 16 Oktober 2018 17:07
JADI BESI TUA..!! Proyek SPBE ‘Mati Suri’

Penetrasi Bright Gas di Perbatasan Bisa Tersendat

BELUM SIGNIFIKAN: Lokasi rencana pembangunan SPBE di Jalan Pangeran Aji Iskandar, Kelurahan Juata, Tarakan Utara. JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Rencana pembangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Kota Tarakan sempat bergulir pada 2015 lalu. Namun kemudian gaung Perusahan Daerah (Perusda) Tarakan meredup usai berupaya mendatangkan sejumlah calon investor dari luar Tarakan.

Tigor Nainggolan, mantan Direktur Utama Perusda Tarakan ini mengungkap jika rencana pembangunan disetop di eranya. Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan tak kunjung menemui kata sepakat dengan calon investor. “Masalah sewa lahan, lokasi pembangunan SPBE yang mahal, sehingga investor tersebut mundur,” tuturnya, Senin (15/10).

SPBE itu direncanakan dibangun di Jalan Pangeran Aji Iskandar, Kelurahan Juata dengan luas lahan 60x120 meter sesuai dengan surat penunjukan lokasi (SPL) yang diterbitkan Pemkot saat itu. “Padahal pada saat sudah ada desain bangunan SPBE dan sudah ada pengerjaan awal penggalian tanah tempat lokasi pembangunan, namun dihentikan setelah tidak adanya kesepakatan soal harga,” tuturnya.

Terkait apakah saat ini rencana pembangunan SPBE di Tarakan masih dilanjutkan, dirinya tidak mengetahui secara pasti, namun dirinya mendengar bahwa Pemkot Tarakan menemukan calon investor yang siap membangun SPBE. “Yang jelas usai investor itu mundur, rencana pembangunan SPBE diambil alih Pemkot Tarakan, untuk kelanjutannya mungkin bisa tanyakan langsung ke Pemkot Tarakan, karena saya mendengar ada rencana investor lagi yang mau membangun,” ungkapnya.

Bila Tarakan nantinya memiliki SPBE, keberadaannya nanti dapat ikut andil meningkatkan perekonomian Tarakan, hal tersebut diungkapkan pakar ekonomi Dr. Ana Sriekaningsih, S.E., M.M. “Kenapa saya bilang dapat ikut andil mendorong perekonomian di Tarakan, karena selain memudahkan masyarakat mendapatkan elpiji, juga ikut mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berkembang,” tuturnya.

Selama ini elpiji yang ada didistribusikan dari luar Tarakan, dijual mengikuti penghitungan ongkos pengiriman. “Kalau SPBE sudah ada di Tarakan, barang-barang yang dijual oleh pelaku UMKM pastinya lebih murah dibandingkan sebelumnya, karena harga elpijinya juga murah,” tuturnya.

Tidak hanya itu, dirinya menilai dampak keberadaan SPBE menggairahkan sektor pariwisata. “Produk yang murah pasti banyak dicari wisatawan, hal ini tentunya berdampak positif pada UMKM dan sumber pendapatan asli daerah (PAD) Tarakan,” katanya optimistis.

 

PEMKOT: MASIH BERPROSES

Rencananya penyaluran LPG tidak hanya mengandalkan rute dari Balikpapan saja. Penyaluran juga akan dilakukan dari Kota Tarakan. Sehingga dibangun Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Kota Tarakan.

Sales Executive LPG Wilayah Tarakan Ahmad Ubaidillah Maksum mengatakan sebelumnya ada wacana membangun Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) beberapa tahun lalu dari perusahaan daerah (perusda). Namun sudah tidak berjalan karena alasan tertentu. “Yang 2015 sudah tidak berjalan, perusahaan daerah (perusda)-nya tidak sanggup,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (15/10).

Baru 2018 ini dilanjutkan oleh PT Pertamina yang menggandeng investor dari PT Kayan Group. Dengan SPBE ini sekiranya dapat mengakomodir permasalahan gas LPG di Tarakan dan utamanya di Kaltara.

Pembangunan SPBE pun sementara berproses yang letak lokasinya di Jalan Pangeran Aji Iskandar, Kelurahan Juata, Tarakan Utara. Adapun pembangunan ini ditargetkan selesai dalam jangka waktu satu tahun ke depan. “Di komplek PT Kayan Group Juata. Ini sedang proses pembangunan,” bebernya singkat.

Polemik mengenai gas di tengah masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara) memang tak ada habisnya. Maka dari itu, Pertamina siap menyediakan stok LPG Bright Gas untuk kebutuhan konsumsi nonsubsidi. Tidak hanya nonsubsidi, SPBE juga menyuplai LPG 3 kilogram (kg) yang disubsidi untuk masyarakat menengah ke bawah.

Harga LPG Bright Gas ini pun sangat fantastis. Apabila di Nunukan isi ulangnya kisaran Rp 180 ribu dengan tabung 12 kg, di Tarakan sekitar Rp 200 ribu.

Dijelaskannya lebih rinci, Bright Gas ini dinilai lebih aman lantaran menggunakan teknologi katup pengaman ganda atau double spindle valve system (DSVS). Sistem yang ada membuat tabung gas aman dari kebocoran.

Sembari menunggu pembangunan SPBE di Tarakan selesai, pemenuhan kebutuhan nonsubsidi di Tarakan ini sekitar empat ribu tabung per bulannya yang didatangkan dari Balikpapan. “Menggunakan teknologi DSVS, jauh lebih aman. Sejauh ini masih dikirim dari Balikpapan menggunakan kapal,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian Perekonomian di Sekretariat Kota (Sekot) Tarakan Amir Hamzah mengatakan, dalam rencana pembangunan SPBE tentu mendapatkan dukungan yang positif dari Pemerintah Kota (Pemkot) .

“Dukungannya dalam bentuk proses perizinan. Karena tidak serta merta langsung dibangun pasti ada izin lingkungan, nah itu melalui Pemerintah Kota,” terang Amir.

Dilanjutkannya, sejauh ini pihak terkait sudah mengurus perizinan yang diperlukan. Ia berharap pembangunan selesai dengan tepat waktu. “Mereka sudah mengurus, ini kan sudah sementara proses. Kalau investor dari Pertamina langsung, kami dukung dengan memberi izin,” tutupnya.

Pembangunan SPBE di Tarakan menjadi tumpuan bagi masyarakat lainnya di Kaltara. Seperti di Nunukan misalnya, Pertamina kembali melakukan penetrasi melalui Bright Gas 12 kg. Perlahan berupaya menekan penggunaan elpiji Petronas kemasan 14 kg. Namun masyarakat pengguna masih sangsi menyoal suplai isi ulang yang berkelanjutan.

Sebelumnya Region Manager Domestic Gas Pertamina MOR VI Tiara Tesaufi Hmengaku siap menyediakan stok untuk kebutuhan di perbatasan. Termasuk kebutuhan masyarakat yang bersifat penugasan atau subdisi.  “Insyaallah, kami masih menunggu selesainya pembangunan SPBE di Kota Tarakan. Kalau sudah kelar, maka kebutuhan masyarakat di Nunukan sudah dapat terpenuhi dengan lancar,” tegasnya.

Menurutnya, khusus kemasan 12 kg, LPG Pertamina sudah lama di Nunukan. Hanya, tidak terorganisir dengan baik. Karena titik suplai atau sub penyalurnya tidak ada. Makanya hampir setahun tidak terdengar gaungnya. “Sekarang mulai ditingkatkan lagi. Salah satunya bagaimana cara penyediaan stok, khususnya ketahanan stok,” bebernya. (jnr/*/one/lim)


BACA JUGA

Kamis, 21 Maret 2019 11:18

Pasokan Listrik Segera Pulih Bertahap

TARAKAN – Proses pigging atau pembersihan pipa akhirnya rampung dilakukan…

Kamis, 21 Maret 2019 11:14

ADA APA INI..?? Empat Sukhoi Mengudara di Perbatasan Kaltara

TARAKAN – Empat pesawat Sukhoi jenis SU-27 dan SU-30 dari…

Kamis, 21 Maret 2019 11:13

CIHUYY ..!! Ngga Lama Lagi di Tarakan Ada Cinema XXI

TARAKAN – Pertengahan tahun ini, Cinema XXI di lantai empat…

Kamis, 21 Maret 2019 11:11

4 ASN Mangkir Kerja, 2 Kampanye di Medsos

TARAKAN - Menjadi anggota aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan untuk…

Kamis, 21 Maret 2019 10:37

Cabuli Anak di Bawah Umur, CK Diringkus Polisi

TARAKAN – Perbuatan yang dilakukan oleh pria berinsial CK (37)…

Kamis, 21 Maret 2019 10:31

Besi Bermunculan di Badan Jalan

TARAKAN – Minimnya perawatan jalan lingkungan, kerusakan semenisasi jalan pun…

Rabu, 20 Maret 2019 11:17

Pigging Klir, Listrik Berangsur Pulih

TARAKAN – PT Medco E&P Tarakan tengah berusaha merampungkan proses…

Rabu, 20 Maret 2019 11:15

Kelalaian Warga, Lahan Kembali Terbakar

TARAKAN - Kebakaran lahan kembali terjadi di RT 05 Kelurahan…

Rabu, 20 Maret 2019 11:13

“WTP Bukanlah Tanda Kelulusan, tapi Kewajiban”

Dalam kaitan membangun Indonesia, masyarakat perlu memiliki pemahaman cukup untuk…

Rabu, 20 Maret 2019 11:12

Kampanyekan Heart of Borneo Jadi Wisata Dunia

JAKARTA - Tak hanya kekayaan sumber daya alam berupa minyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*