MANAGED BY:
MINGGU
17 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Minggu, 14 Oktober 2018 23:38
Karena Ini, Pedagang Lintas Batas Gelisah
BERLABEL MALAYSIA: Produk asal negeri tetangga yang mudah masuk ke Nunukan, namun sering menjadi incaran aparat. BANK DATA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Penangkapan oleh lintas instansi terhadap produk asal Malaysia di perbatasan Nunukan akhir-akhir ini memantik kegelisahan di kalangan pengusaha. Para pengusaha atau pedagang lintas batas yang telah akrab berbelanja barang di Tawau, Malaysia merasa takut membawa produk Malaysia masuk Nunukan.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pedagang lintas batas, Hasan. Sejak dilakukan beberapa kali penangkapan terhadap kapal yang mengangkut barang dari Tawau, para pengusaha mengurangi kegiatan mereka. “Pasti tidak ada yang ingin jadi korban, jadi saat ini lebih hati-hati saja membawa produk Malaysia ke Nunukan. Karena menjadi incaran aparat,” beber Hasan kepada media ini, kemarin (12/10).

Menurutnya, perdagangan lintas batas sulit dihilangkan. Semakin sering dilakukan penangkapan, tentu yang dirugikan adalah para pedagang. Klaim dia, selama ini produk Malaysia yang dibawa masuk ke Nunukan memiliki legalitas, bukan masuk sebagai barang selundupan.

Ia mengaku penangkapan produk Malaysia semakin intens dilakukan beberapa bulan terakhir. Seperti produk Malaysia yang diamankan di Jembatan Bongkok, Sei Bolong, Kelurahan Nunukan Utara, serta penangkapan kapal sembako. Padahal aktivitas tersebut dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu.

“Jika memang dilarang, sekalian tutup saja pintu masuk dan keluar di daerah perbatasan. Agar masyarakat tidak ada yang mengonsumsi atau menggunakan produk Malaysia,” kesalnya.

Sementara Ketua Himpunan Pedagang Lintas Batas (HPLB) Nunukan H. Andi Mutamir mengaku jika kegelisahan itu dialami rerata pedagang lintas batas. Menurutnya, indikasi paling jelas akhir-akhir ini, menurunnya stok barang-barang kebutuhan asal Malaysia. “Perubahannya sangat jelas. Baik barang-barang dari Sebatik maupun langsung ke Nunukan. Volume barangnya terbatas. Harga tinggi, karena langka,” kata ayah empat anak ini, kemarin (12/10).

Menurutnya, sejumlah kebutuhan pokok asal Malaysia masih sangat dibutuhkan masyarakat Nunukan. Utamanya gula pasir dan elpiji atau tong gas.

Menurut Mutamir, perdagangan lintas batas tidak cukup berkurang dibanding beberapa tahun lalu. “Pasti ketika stok cukup untuk konsumsi Nunukan, harganya turun. Dua saja yang paling kami butuhkan, khusus sembako. Lainnya mengikut saja. Pemda belum bisa menyanggupi ini. Menghadirkan elpiji dan gula pasir dengan harga terjangkau,” sebutnya.

Diakui Mutamir, beberapa pedagang yang ditangkap harus mengembalikan barangnya ke Tawau. “Ada yang dikembalikan juga ke Tawau. Yang terbaru, pakan ayam, ditahan Balai Karantina Pertanian (BKP). Sampai sekarang kami tidak tahu. Membuat pedagang resah. Pakan ayam itu, untuk peternakan. Daging ayam naik juga nanti. Kalau enggak ada kearifan lokal, yah tunggu saja harga mahal semua,” sebutnya.

Ia mencontohkan, harga gula pasir yang biasa dijual di toko kelontong, paling mahal Rp 13 ribu/kg. Harga saat ini, lebih dari itu, hingga Rp 16 ribu/kg. Elpiji 14 kg menyentuh harga Rp 300 ribu.

“Yang paling ditunggu pedagang itu ada kejelasan dari pemda, bupati dan stakeholder terkait. Kearifan lokal seperti apa? Yang mana kearifan lokal antarnegara. Sebagai stakeholder, harus ada pertemuan atau coffee morning membahas ini. Kasihan masyarakat di bawah, yang berusaha. Bagaimana aturan mainnya. Walaupun itu dipahami tidak sesuai dengan UU, tetapi bagaimana kepala daerah bisa menjamin keberlangsungan usaha dan kebutuhan masyarakatnya. Bisa melaksanakan kegiatan seperti sediakala,” sarannya.

Menurutnya lagi, perdagangan tradisional telah berlangsung sejak Nunukan masih berstatus kecamatan. “Ini bagaimana dijadikan kearifan lokal. Enggak usah seperti dulu, misalnya untuk barang-barang tertentu saja. Diperbaiki regulasi yang ada. Sampai daerah bisa memenuhi kebutuhan pokok. Seperti tong gas dan gula tadi. Yang konsumsi kan masyarakat Kabupaten Nunukan. Persoalan keluar dari Nunukan, silakan ditindak. Itu kan oknum. Jangan gara-gara itu, semua kena. Sementara warga Nunukan membutuhkan barang tersebut,” belanya.

Saran lain, kepala daerah Nunukan dapat menyambung komunikasi dengan pejabat di Tawau, Malaysia. Pertemuan tersebut berjalan resmi sesuai dengan kewenangan masing-masing. “Kalau kewenangan petugas (aparat) memang iya. Mereka berhak melaksanakan kewenangan mereka. Tetapi patut menjadi pertimbangan, kami masih membutuhkan komoditi dari Malaysia. Pertemuan seluruh stakeholder. Dihadirkan semua, baik dari kodim, polres, bea cukai. Apabila misalnya gula dan tong gas keluar Nunukan, tangkap. Di luar itu silakan ditangkap. Bukan kesepakatan resmi, hanya kearifan lokal saja,” pintanya.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan telah membahas persoalan ini secara terbatas. Komisi II telah menyikapi dan berencana menginisiasi pertemuan lintas instansi. “Ini sudah kami sampaikan kepada ketua DPRD, dan ketua Komisi II. Dan sudah ada inisiatif menjadi inisiator pertemuan stakeholder. Kalau enggak ada kejelasan, semua ego sektoral main semua, masing-masing. Ini muaranya ke kepala daerah. Harus berani mengambil inisiatif,” usulnya lagi.

Produk Malaysia di Jembatan Bongkok, Sei Bolong diamankan Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan Wilayah Kerja (Wilker) Nunukan berupa pakan ayam. Kepala BKP Wilker Nunukan Sapto Hudaya mengatakan, bahwa saat dilakukan penangkapan pakan ayam, masih banyak produk Malaysia yang lain. Namun yang dapat diperiksa dari BKP Wilker Nunukan hanya pakan ayam.

Sesuai dengan fungsi dan tugas, sedangkan produk yang lain diperiksa instansi lain. “Sebanyak 77 karung pakan ayam yang telah diamankan pada 3 Oktober lalu, dalam satu karung seberat 50 kg, ” kata Sapto Hudaya, kemarin.

Menurutnya, pakan ayam tersebut diamankan, karena tidak melalui pelabuhan resmi dan tidak memiliki dokumen. Sementara untuk pemilik pakan ayam tersebut tidak diamankan. “Hanya barangnya yang diamankan, sedangkan untuk pemilik barang tunggu keputusan dari pimpinan. Begitu pula dengan pakan ayam tersebut apakan nanti dimusnahkan atau dikembalikan ke Malaysia,” ujarnya. (nal/lim)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Februari 2019 10:06

Apa Kabar Pengerjaan Terminal Baru Pelabuhan Tunon Taka..??

NUNUKAN – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Nunukan menargetkan pengerjaan…

Sabtu, 16 Februari 2019 10:03

Lahan Tidur Disulap Kebun Jagung

NUNUKAN – Untuk membantu menambah penghasilan para petani, perlu ada…

Sabtu, 16 Februari 2019 10:02

Waspada! Penipu Online Catut Foto ASN

NUNUKAN – Belum lama ini, beredar foto dari salah seorang…

Jumat, 15 Februari 2019 15:14

BPK Beraksi, Bupati Akui Gelisah

NUNUKAN – Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Republi Indonesia (RI) Provinsi…

Jumat, 15 Februari 2019 15:12

Pemerintah Malaysia Kembali Deportasi 153 WNI

NUNUKAN – Sebanyak 153 warga negara Indonesia (WNI), terpaksa dipulangkan…

Jumat, 15 Februari 2019 14:57

Dewan Pusat Malaysia Pantau Sektor Perikanan di Sebatik

NUNUKAN – Dewan Pusat Malaysia berkunjung ke Pulau Sebatik, melihat…

Jumat, 15 Februari 2019 14:55

Perusahaan Tetap Akan Bayar Hutang

NUNUKAN – PT Sempurna yang berlokasi di Desa Bambangan, Kecamatan…

Kamis, 14 Februari 2019 10:18

Utang Rp 10 M, Perusahaan Berhenti Beroperasi, Petani Sawit Menuntut Pelunasan

NUNUKAN – Perusahaaan yang mengelola tanda buah sawit menjadi minyak…

Kamis, 14 Februari 2019 10:16

Penarikan Retribusi Alun-Alun Terbentur Aturan

NUNUKAN – Tuntutan pemerintah daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah…

Rabu, 13 Februari 2019 13:59

Pembangunan PLBN di Krayan Berjalan Mulus

NUNUKAN – Jika pembangunan pos lintas batas negara (PLBN) di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*