MANAGED BY:
SENIN
20 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Minggu, 14 Oktober 2018 23:29
Bertahan di Indekos, Ikut Menjarah demi Bertahan Hidup

Kisah Mahasiswa Kaltara yang Selamat dari Sulteng (Bagian-5)

SELAMAT: Sella Euis Viona (jilbab merah) bersama adiknya Adelia Larasati (baju biru) dan rekannya Muhammad Khairul saat tiba di Pelabuhan Kayan II, Tanjung Selor, Selasa (9/10). FIJAI PASIRAJA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Gempa seketika mengguncang Palu. Seluruh warga berhamburan menyelamatkan diri, Jumat 28 September petang. Sella Euis Viona, warga Tanjung Selor memilih bertahan di indekosnya. Ia tidak ingin meninggalkan indekosnya tanpa hijab.

ASRULLAH

JUMAT (28/9) gempa menimpa Palu dengan kekuatan 7,4 skala richter (SR), disusul tsunami. Sella Euis Viona, mahasiswa semester akhir jurusan sosiologi Universitas Tadulako (Untad) Palu asal Tanjung Selor, tak menyangka sore itu menjadi yang terakhir menjalani perkuliahan di gedung yang kemudian hancur nyaris rata dengan tanah.

Usai beraktivitas bersama rekannya di kampus, Sella memilih kembali ke indekosnya yang tak jauh dari lokasi favorit warga Palu, Jembatan Palu IV atau Jembatan Ponulele atau Jembatan Kuning yang diresmikan pada 2006 lalu. Sella berniat beristirahat. Tak berapa lama berada di dalam indekos, gempa terjadi.

Penghuni indekos dan warga sekitar berhamburan di jalan menyelamatkan diri. Sella memilih bertahan di indekosnya. Bukan tidak ingin selamat. Hanya, yang ada dipikirannya saat itu tidak mengenakan hijab sehingga memilih bertahan. Ia mencari jilbab sebelum meninggalkan indekosnya.

“Masih di dalam indekos pokoknya, tidak mau keluar karena tidak pakai jilbab. Setelah reda namun masih terasa goyang karena gempa tidak cuma sekali. Cari jilbab, setelah pakai baru keluar indekos,” ujar Sella.

Saat itu, ia tidak tahu harus menyelamatkan diri ke mana. Situasi di jalan begitu mencekam. Kacau. Semua orang berlarian, suara tangisan di mana-mana. Ia hanya mengikuti warga yang berlarian ke arah gunung. Sekira 30 menit untuk sampai lokasi yang dinyatakan aman itu.

Setelah situasi dirasakan aman, ia memutuskan mencari sang adik. Hari pertama dilewati dengan tinggal di jalan. Ia memilih terus melakukan pencarian terhadap adiknya. Selama empat hari menelusuri lokasi pengungsian dan menemukan Adelia Larasati.

Saat mengingat kembali perjuangan mencari keluarganya, sesekali ia mengusap air mata. Bagaimana tidak, selama empat hari terlantar ia tinggal di jalan. Untuk bertahan hidup hanya menikmati air mineral dan makanan ringan yang ia ambil tanpa izin pemilik toko.

Sella mengaku terpaksa. Sebab, di lokasi pengungsian, ada yang meninggal dunia karena kelaparan. Tiga hari pasca kejadian belum ada bantuan dari datang. “Jujur waktu belum ketemu kakak dan adik sempat ikut menjarah di sejumlah toko untuk cari makanan dan minuman. Pakaian hanya di badan sampai ketemu keluarga,” tambahnya.

Hingga meninggalkan Palu menuju Poso, korban terlantar menjadi pemandangan selama di perjalanan. Bantuan yang datang hanya terpusat di wilayah kota. Bahkan, sejumlah relawan dokter ada yang ingin kembali lantaran dipaksa harus membuka pos di wilayah kota. Sedangkan sejumlah kawasan lain sangat membutuhkan bantuan.

Tekadnya ingin kembali ke Palu menjadi relawan. Sebab, kondisi di Palu sangat membutuhkan tenaga relawan untuk membantu korban. Belum lagi banyaknya warga belum ditemukan. “Minggu ini rencana sama teman-teman kembali jadi relawan. Karena yang sangat dibutuhkan saat ini relawan,” ujarnya. (***/bersambung/lim)


BACA JUGA

Senin, 20 Mei 2019 13:29

Masih Pada Tahan ‘Napas’

Usai pemilihan umum (pemilu) presiden dan anggota legislatif serentak pada…

Senin, 20 Mei 2019 13:28

Masjid Daarussa’aadah, Konstruksi Mirip Rumah Adat

Ragam ciri masjid di Kota Tarakan. Tak hanya bergaya Timur…

Senin, 20 Mei 2019 13:25

Empat Periode Berkat Doa Mustajab Seorang Ibu

Menjabat empat periode sebagai salah seorang wakil rakyat, tak semua…

Senin, 20 Mei 2019 12:55

Sopir Minibus Terbakar Belum Datangi Polisi

TARAKAN-Perkara terbakarnya satu minibus berwarna hitam di Jalan Kusuma Bangsa…

Senin, 20 Mei 2019 12:52

Minim Penyiringan Tanah, Timbunan Terbawa Air

TARAKAN -  Beberapa item pembangunan di lingkungan RT 59, Kelurahan…

Senin, 20 Mei 2019 11:35

Partai Kecil Wait and See

TARAKAN – Partai Persatuan Indonesia (Perindo) merupakan satu dari tiga…

Senin, 20 Mei 2019 11:34

Penyelesaian Cinema XXI Sudah 85 Persen

TARAKAN – Dari luar gedung Grand Tarakan Mall (GTM) terlihat…

Senin, 20 Mei 2019 11:33

Jelang Mudik, Penambahan Kapasitas 76 Persen

TARAKAN – Menghadapi lonjakan penumpang, khususnya perantauan  yang ingin pulang…

Senin, 20 Mei 2019 11:32

Masjid Fastabiqul Khairat Dibangun dari Donasi Warga Tionghoa

Masjid Fastabiqul Khairat merupakan salah satu masjid terbesar Kelurahan Lingkas…

Senin, 20 Mei 2019 11:30

Effendhi: Lewat Doa, Mereka Rindu Orang Tua

Berkumpul dan berbuka bersama keluarga di Bulan Ramadan merupakan sebuah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*