MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 11 Oktober 2018 14:56
Bertahan di Kampus Selama Tiga Hari, Dilema Lanjutkan Kuliah

Kisah Mahasiswa Kaltara yang Selamat dari Sulteng (Bagian-3)

BERTAHAN: Tidur di tempat seadannya pasca gempa bumi dan tsunami di Kota Palu pada Jumat (28/9) lalu. ISNAIMA UNTUK RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, Meski sudah kembali ke Bumi Benuanta, namun para mahasiswa asal Sebatik yang kuliah di Kota Palu masih merasakan trauma yang mendalam, akibat peristiwa gempa bumi dan tsunami beberapa waktu lalu.

SABRI

Trauma masih terasa hingga saat ini, dialami para mahasiswa asal Sebatik, yang kuliah di beberapa perguruan tinggi di Kota Palu. Bagaimana tidak, ini pertama kali mereka rasakan mengalami gempa bumi dengan kekuatan 7,7 skala richter (SR). Ditambah dengan tsunami yang menghancurkan bibir pantai Kota Palu yang mengakibatkan syok berat.

Salah seorang mahasiswa asal Sebatik yang kuliah di Universitas Tadulako (Untad) Kota Palu, Isnaima juga menjadi salah seorang korban yang masih trauma akibat kejadian ini. Rasa ketakutan terus menghantuinya dan berpikir untuk kembali melanjutkan pendidikan di Kota Palu.

Ia menceritakan, saat pertama terjadi gempa dengan kekuatan 7,7 SR sekira pukul 18.00 Wita, dirinya masih berada di kampus dan sedang mengikuti perkuliahan. Seluruh mahasiswa yang ada di Untad pada waktu itu, berlarian keluar dari ruang kuliah.

“Semua berlarian ada yang jatuh, karena saat lari masih terguncang kuat. Bahkan beberapa gedung ada yang hancur,” kata Isnaima, kepada media ini kemarin.

Saat  itu, para mahasiwa panik dan sambil menangis untuk menyelamatkan diri. Namun bingung ingin ke mana, hanya melihat orang berlarian ingin menyelematkan diri dari guncangan gempa bumi dan tsunami.

Posisi Universitas Tadulako yang berada di Jalan Pendidikan, memang jauh dari bibir pantai. Sehingga tsunami tidak naik hingga ke wilayah kampus. Sehingga masyarakat sekitar banyak yang berlarian naik ke daerah kampus untuk mencari tempat yang lebih aman.

Ketika gempa, listrik padam, jaringan telekomunikasi lenyap menyulitkan untuk berkomunikasi. Saat itu Isnaima langsung  ingin menghubungi orang tua di Sebatik namun sangat sulit, selama tiga hari tak memberikan kabar kepada keluarga, karena telepon seluler yang digunakan kehabisan daya listrik.

Para mahasiswa di kampus selama tiga hari, hanya makan seadanya. Beruntung ada kantin kampus yang memiliki banyak stok makanan. Sehingga mahasiswa hanya berharap konsumsi dari kantin kampus. Para dosen pun sibuk untuk menenangkan para mahasiswa.

Setelah tiga berdiam di kampus, mereka dipindahkan ke tempat pengungsian, seluruh mahasiswa Sebatik pun dipindahkan ke Pondok Pesantren Al-Khairat. Itu pun, mereka bisa berkumpul kembali karena dibantu oleh mahasiswa asal Sebatik lainnya yang pergi mencari ke Universitas Tadulako, Palu.

“Mau kembali ke asrama, masih takut karena masih sering terjadi guncangan,” ujarnya.

Setelah berada di pengungsian sekira seminggu, mereka mendapat kabar baik dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, bahwa akan ada pemulangan yang akan dilakukan menggunakan kapal laut. Para mahasiswa lainnya tentu tidak sabar untuk keluar dari Kota Palu untuk sementara waktu.

Diakuinya, berada di lokasi bencana, tentu pikiran tidak pernah tenang. Bahkan rasa ketakutan dengan gempa sulit akan hilang. Sehingga dia dan keluarga pun, akan berpikir dua kali untuk kembali ke Kota Palu, jika kondisi masih rawan dari gempa bumi.

“Jika dapat pindah ke kampus lain, maka itu pilihan yang lebih baik, untuk diikuti sementara waktu, sambil menunggu kondisi Kota Palu. Benar-benar aman untuk ditinggali,” tambahnya. (***/nri)

JUDSM: Bertahan di Kampus Selama Tiga Hari, Dilema Lanjutkan Kuliah

 


BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 17:07

Proyek SPBE ‘Mati Suri’

TARAKAN – Rencana pembangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Kota Tarakan sempat bergulir…

Selasa, 16 Oktober 2018 17:02

Pemulangan Gelombang Kedua Berakhir

PALU - Wajahlebih ceria 32 warga Kaltara yang menjadi korban tsunami dan gempa di Sigi, Palu dan Donggala,…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:50

Anak Juga Punya Hak Berpendapat

TARAKAN- Anak merupakan aset penerus bangsa yang sewajarnya memperoleh hak-haknya di dalam keluarga…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:36

Balado Kulit Pangsit

Pedas dan kriuk, humm gimana rasanya? Kulit pangsit yang digoreng dan dimasak dengan cabai yang diulek…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:35

Kacang Sembunyi Karamel

Suka dengan kue kacang sembunyi? Nah, kreasikan kacang sembunyi dengan bungkusan kulit pangsit. Tekstur…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:33

Lumpia Pangsit Isi Sayur

Gorengan yang disajikan dengan cabai rawit utuh, dimakan selagi masih hangat, gurih dan enaknya lumpia…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:31

Pie Pisang

Bumbu kacang selalu menjadi pilihan sebagai saus gorengan. Salah satunya saus pie pisang. Potongan pisang…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:30

Kudapan Ringan dari Kulit Pangsit

MAKANAN ringan kerap digemari saat bersantai. Salah satu bahan utama membuat camilan adalah kulit pangsit.…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:27

Jaksa Masih Pelajari Berkas

BERKAS kasus pencemaran nama baik Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie sudah diserahkan ke Kejaksaan…

Selasa, 16 Oktober 2018 16:25

Buku Rekening dan ATM Terdakwa Disita

TARAKAN - Sidang perkara Lia Lusiana alias Tata dan Dorkas dalam agenda pemeriksaan saksi sudah selesai.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .