MANAGED BY:
RABU
12 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 11 Oktober 2018 14:02
Sempat ‘Balapan’ dengan Laju Gelombang Tsunami

Kisah Pilu Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Palu

HANCUR: Lokasi rumah Eldiansyah yang saat ini sudah rata dengan tanah sempat diabadikannya sehari pasca tsunami. ELDIANSYAH UNTUK RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Gempa dan tsunami memporak-porandakan Kota Palu dan Kabupaten Donggala menyisakan kisah pilu dan trauma yang teramat mendalam bagi ribuan korban selamat.  Seperti dirasakan Eldiansyah yang menjadi saksi saat  gempa dan tsunami menerjang Palu. Berikut kisahnya.

RIKO, TANA TIDUNG

Masih jelas terngiang di dalam  ingatan Eldiansyah, gempa disusul tsunami yang mengguncang Kota Palu dan Donggala, Jumat (28/9) sore. Tak sampai terhitung menit, gempa berkekuatan 7,7 skala richter (SR) seketika meratakan rumah penduduk setempat.

Eldiansyah kala kejadian berlangsung sedang tak berada di kediamannya di Jalan Cumi-CUmi, Palu Barat. Satu jam sebelum peristiwa nahas itu terjadi, dirinya sedang bertemu dengan seorang rekan di wilayah Palu Timur untuk urusan pekerjaan. “Mau janjian untuk bahas rencana kerjaan video yang akan kami garap. Saya menunggu kawan di depan kantor Telkom yang kebetulan menyediakan akses internet, sambil menunggu saya mengirim beberapa video ke klien via email dan dan mendengarkan beberapa video musik online," urai Eldianysah memulai kisahnya kepada Radar Tarakan, Selasa (9/10).

Tak lama kemudian, sebelum pukul 17.30 Wita, gempa pertama terjadi, ia tidak beranjak dari kursi yang didudukinya. Ia masih santai kala itu. Gempa dengan perkiraan kekuatan 5 SR memang kerap terjadi. Sehingga tak ada kepanikan berarti saat itu.

Setelahnya, ia kembali menghubungi sang rekan karena tidak kunjung muncul. Ternyata, sang rekan yang dimaksud masih berada di sebuah kafe dan akan menuju ke lokasi tempat keduanya bertemu. “Teman datang dan kami bahas pekerjaan. Barulah setengah enam gempa berkekuatan 7,4 terjadi. Serentak kami pun beranjak dari tempat duduk sembari saya memasukkan laptop dan charger ke dalam tas. Ada dua menit kami bertahan di lokasi sambal lihat kendaraan lalu lalang dan orang-orang sekitar mulai panic,” ujarnya.

Ia bersama rekannya pun berpikir untuk meninggalkan lokasi. Karena menurutnya, kediaman sang rekan di Jalan Merpati, memang berada di lokasi yang lebih tinggi. Ternyata di luar perkiraan, jalan raya macet parah. Tak sampai sekian menit, masih dalam goyangan gempa, Hotel Santika seketika runtuh. Begitu juga beberapa gedung-gedung tinggi tak jauh dari tempatnya berdiri.

Belum lagi beberapa jalanan retak dan bergelombang, ada jalanan yang sama sekali putus dan tak bisa di lewati. Ia pun panic namun berusaha mencari jalan alternatif untuk masuk ke dalam lorong-lorong menuju rumah.

Parahnya lagi tiba di depan jalan masuk ke kediaman, kendaraan bermotor tak bisa lewat diakibatkan tembok yang roboh

"Saya menunggu teman saya di pinggir jalan dengan motornya. Sekitar 15 menit berada di daerah itu saya memutuskan untuk pulang karena mengingat di rumah cuma ada mama dan adik laki lakiku. Namun karena akses jalan yang sangat parah dan listrik serentak padam saya memutuskan untuk  berjalan kaki menuju rumah,” kenangnya.

Ia memutuskan berjalan kaki melewati Jalan Tombolotutu dan Jalan Samratulangi lalu ke Jalan Raden Saleh. Setelah di ujung Jalan Raden Saleh  ia hanya menemui reruntuhan bangunan yang menutupi jalan. Tak ada pilihan lain saat itu. Ia memaksakan diri meringsek masuk ke sela-sela reruntuhan tersebut dan berhasil masuk ke lokasi anjungan.

Di lokasi tersebut Eldiansyah tak perduli menginjak lumpur sekitar batas mata kaki, ia pun langsung bergegas berjalan di atas lumpur karena dalam benaknya, setelah gempa terjadi, pasti akan muncul tsunami. Kediamannya begitu dekat dengan pantai. Eldiansyah semakin panik dan khawatir jika ibu dan saudaranya  tak sempat menyelamatkan diri.

Akhirnya sampailah di anjungan. Di sana pemandangannya sungguh mengerikan.  Sepanjang jalan melintasi anjungan, banyak kendaraan, pohon dan reruntuhan bangunan menutupi akses jalan. Akhirnya Eldiansyah  pun memutuskan melintasi jembatan kuning (Panulele). Dan sesampainya di lokasi jembatan, ternyata jembatan tersebut sudah runtuh.

"Saya berputar lagi mencari jalan ke arah jembatan 3 Palu sesampainya di Jalan Pangeran Hidayat. Saya sama sekali tidak bisa melewati jalan itu karena sudah tertutup dengan bangunan rumah,” ungkapnya.

Eldiansyah akhirnya nyaris sampai ke kediamannya. Jarak ia berdiri dari lokasi pantai saat itu hanya sekitar 100 meter. Ia pun berhenti sejenak karena tiba-tiba muncul suara gemuruh menyerupai pesawat tempur dari arah laut. Dan dua menit kemudian, air laut di pantai tersebut muncul dan terus mendekati wilayah pantai dan tempat ia berdiri. Tak berpikir panjang ia akhirnya berlari. Ia sempat menyaksikan bagaimana air laut menggulung rumah dan mobil yang berada kurang lebih 100 meter dari lokasi ia berdiri. Eldiansyah kala itu hanya berpikir bagaimana menyelamatkan diri dari tsunami. Sambil berlari berpacu bersama kecepatan gelombang pertama yang menerjangnya, ia terus berlari dan berlari sampai habis tenaganya tersisa. Sampai akhirnya ia selamat dari gelombang tsunami kedua yang lebih tinggi menyusul dan memporak-porandakan seluruh wilayah pantai dan perkotaan.

Tsunami begitu cepat terjadi. Hanya hitungan menit setelah gempa semua bangunan yang berada di  anjungan habis disapu rata oleh gelombang tsunami termasuk jembatan kuning yang menjadi ikon Kota Palu.   Dalam pelariannya, sempat ia bertemu dengan beberapa tetangga. Dan ia menanyakan keberadaan ibu dan saudaranya. Oleh tetangga yang sempat melihat mengatakan, bahwa sang adik dan sang ibu sudah lari menuju arah Masjid Agung. “Saya langsung menuju Masjid Agung dan berkeliling di halamannya sambil berteriak memanggil nama mama dan adikku," akunya.

Di lokasi masjid, ternyata Eldiansyah tidak menemukan sang ibu dan saudaranya. Ia pun memutuskan berjalan menuju bukit di seputaran Donggala Kodi. Di sana sudah banyak warga yang berlarian mengungsi. Eldiansyah tak berhenti mencari. Dan dirinya sempat menyaksikan bagaimana tsunami akhirnya menerjang wilayah pantau hingga menghancurkan anjungan.

Pukul 03.00 dini hari. Akhirnya  ia bertemu dengan saudara beserta istri saudaranya bersama anak-anak.

"Hampir 3 hari kami berada di pengungsian dengan memakai tenda seadanya hasil pemberian orang dan stok makanan seadanya. Setelah 3 hari setelah gempa besar terjadi jaringan pun mulai membaik dan semua pesan masuk ke Handpone saya pun membalas seadanya. Karena di pengungsian, gempa masih terjadi dengan kekuatan 5 skala yang hampir setiap hari terjadi," terangnya.

Setelah 3 hari Eldiansyah pun akhirnya mendapatkan telepon dari ayah angkatnya yang berada di Kalimantan Utara Tepatnya di Kabupaten Tana Tidung. Ia diarahkan untuk keluar dari palu. Akhirnya di hari keempat, ia pun berhasil keluar dari Kota Palu bersama seluruh keluarganya yang selamat. “ Banyak keluarga saya meninggal tak sempat menyelamatkan diri,” kenangnya, tertunduk tak mampu mengingat peristiwa itu.

Eldiansyah dan keluarganya yang berjumlah 12 orang tersebut sampai di Kota Balikpapan menggunakan pesawat Hercules, serta diberikan makanan dan pakaian pada saat berada di bandara angkatan udara. Lalu mereka meminta untuk diantarkan ke Bandara Sepinggan Balikpapan bersama 12 orang keluarganya. Sesampainya di bandara mereka pun langsung menanyakan tiket domestik menuju Tarakan.

"Saya membeli tiket dan membayarnya sekitar 5,3 juta dari sisa uang yang masih  ada di rekening saya, dan beberapa bantuan transfer dari anak ayah angkatku serta beberapa teman lainnya. Kami sampai di tarakan sekitar pukul 9 malam dan dijemput oleh anak ayah angkatku," katanya.

Sekitar jam pukul 12.00 Wita, Eldiansyah pun tiba  di Pelabuhan Tana Tidung dan melihat ayah angkatnya dan keluarga sedang menunggu mereka. Sesampainya di kediaman sang ayah angkat, disambut dengan doa syukuran karena mereka masih diberkahi keselamatan dan umur panjang.

 "Dan alhamdullilah sampai hari ini saya dan keluarga sekarang tinggal di rumah yang telah disediakan ayah angkatku tepatnya di Jalan Tanah Abang. Sampai hari ini bantuan yang diberikan kepada kami tak henti-hentinya dari pemerintah setempat dan masyarakat Tana Tidung," pungkasnya seraya meneteskan air mata tak mampu mengingat kejadian yang telah meratakan rumah miliknya di Palu. (***)

 


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 12:18

Warga Kembangkan Potensi Desa

TANA TIDUNG – Keberadaan tempat bersantai di kawasan turap (sheet…

Rabu, 12 Desember 2018 12:15

Kemalingan Sarang Walet, Kapolsek Minta Laporkan

TANA TIDUNG – Banyak pengusaha sarang burung walet di kawasan Kecamatan…

Rabu, 12 Desember 2018 12:13

Harapkan SPBU Mini Jangkau Pesisir

TANA TIDUNG – Kehadiran SPBU mini yang ada di Kecamatan…

Selasa, 11 Desember 2018 12:51

Pengusaha Keluhkan Tarif Angkut Buruh

TANA TIDUNG - Para pengusaha di Kabupaten Tana Tidung, mengeluhkan…

Selasa, 11 Desember 2018 12:49

Pemilih Kembali Bertambah, KPU Plenokan DPTHP-2

TANA TIDUNG - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tana Tidung atau KPU KTT…

Senin, 10 Desember 2018 12:44

Harga Daging Ayam Tembus Rp 50 Ribu

TANA TIDUNG - Harga daging ayam potong di pasar tradisional…

Senin, 10 Desember 2018 12:42

Belum Cukup Umur, Dilarang Bawa Sepeda Motor

TANA TIDUNG - Kapolsek Sesayap, Iptu Hadi Sucipto memberikan peringatan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:03

Pemeliharaan Rampung, Pemadaman Bergilir Usai

TANA TIDUNG - Masyarakat di Kabupaten Tana Tidung bisa lega…

Kamis, 06 Desember 2018 12:26

Masih Menunggu Instruksi Pusat

TANA TIDUNG – Komisi Pemilihan Umum  Kabupaten Tana Tidung (KPU KTT),…

Kamis, 06 Desember 2018 12:24

Dewan Minta Pembahasan APBD Jangan Sampai Lambat

TANA TIDUNG – Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .