MANAGED BY:
SELASA
23 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 10 Oktober 2018 14:51
Empat Hari Tak Bisa Menutup Mata

Kisah Mahasiswa Kaltara yang Selamat dari Sulteng (Bagian-2)

SELAMAT DARI BENCANA: Gelombang pertama mahasiswa Kaltara yang berhasil dievakuasi tiba di Bandara Juwata, Minggu (7/10) malam. JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Bencana hebat yang melanda Palu dan Donggala pada Jumat 28 September menyisakan pengalaman penuh perjuangan bagi orang-orang yang mengalaminya. Pun dengan mahasiswa asal Kaltara yang telah dievakuasi dari Sulawesi Tengah (Sulteng).

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

ARIFAI (25) selamat dari gempa berskala 7,4 skala richter dan tsunami setinggi 6 meter, keadaan tidak lantas aman. Setelah air surut, gempa susulan terus terjadi. Berentetan dalam hitungan jam. Ia dan warga sekitar merasa sangat takut. Ia pasrah, percaya setiap orang telah ditentukan ajalnya masing-masing.

“Pas air sudah surut semua orang menangis. Teman saya juga menangis. Pokoknya perasaan ini sudah tidak karuan. Yang ada ketakutan saja di dalam kepala. Sudah tidak bisa kami merasa tenang,” terangnya.

Arifai dan temannya seperti orang kebingungan yang tidak tahu harus melakukan apa di tengah duka manusia sekitarnya. Kendaraan yang ia gunakan kini telah hilang disapu oleh ganasnya gelombang. Bahkan ia tidak tahu harus menghubungi siapa karena sinyal seluler seketika hilang.

“Kami bingung mau ngapain. Kami mau angkat mayat yang di tengah jalan, banyak sekali itu mayat tidak mungkin kami mau angkat semua. Kami pulang bingung tidak saya hafal sudah jalan karena berubah sudah itu bentuknya saya lihat,” tuturnya.

 

Arifai berteriak dan berharap ada petugas polisi atau tentara yang memberi pertolongan. Hal tersebut karena ada beberapa warga yang selamat mengalami asma, luka dan beberapa warga pingsan bahkan ada korban yang terus berteriak karena frustrasi.

“Tidak karuan sudah keadaannya 1 jam setelah gempa itu, saya bingung mau tolong yang mana. Mau tolong orang sesak napas, ada juga yang kakinya patah minta tolong, belum lagi yang pingsan ada juga yang berteriak-teriak sendirinya. Pokoknya saya stres juga lihatnya.  Jadi saya berteriak juga berharap ada bantuan,” tuturnya.

Tidak lama kemudian, ia melihat beberapa helikopter mengudara. TNI pun menjangkau lokasi mereka yang masih terjebak di atas gedung pasca menyelamatkan diri dari tsunami.

“Akhirnya kurang lebih 2 jam kami berhasil dievakuasi. Dan kami dikumpulkan bersama korban lain di posko. Tapi di posko pikiran kami tetap tetap tidak bisa tenang karena gempa susulan datang terus,” tuturnya.

Tinggal di posko lantas tidak membuat ia dan warga lainnya merasa tenang. Gempa susulan selalu saja datang menghantui. Bahkan untuk mendapatkan waktu tidur singkat pun rasanya sangat sulit.

Baginya, tidur dengan waktu ideal rasanya mustahil. Saat suara gemuruh kembali muncul, ratusan pengungsi kembali berhamburan keluar tenda. Belum lagi, rintihan pengungsi lain yang menangis sepanjang hari memikirkan mayat keluarganya yang belum dievakuasi, adapun tangisan bayi dan rintihan korban luka. 

“Selama 4 hari di posko saya tidak pernah dapat tidur. Paling kalau mengantuk betul cuma baring mau tutup mata sudah terbuka lagi karena ada getaran atau teriakan tiba-tiba,” imbuhnya.

“Biji mata saya rasanya seperti sudah mau keluar karena belum dapat tidur, kepala sakit selama baru sekali ini saya betul-betul penderitaan hidup. Kehidupan kami di pondok (pesantren), tidak ada apa-apanya sama di pengungsian,” ungkapnya.

Dalam empat hari hidup di tenda pengungsian, membuatnya mengambil banyak pelajaran dan dalam waktu empat hari tersebut membuatnya menjadi manusia lebih kuat. Mungkin ketidaknyamanan suasana tenda pengungsian adalah cobaan kecil bagi sebagian korban dari berbagai macam cobaan berikutnya. (***/bersambung/lim)

 

Empat Hari Tak Bisa Menutup Mata

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 23 Juli 2019 10:49

Antre Panjang, Beli Pertalite Tak Dibatasi

TARAKAN – Ditiadakannya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium, diharapkan…

Selasa, 23 Juli 2019 10:46

Tempuh Solusi Jangka Pendek

TARAKAN - Persoalan lahan di kawasan Pantai Amal Kota Tarakan,…

Selasa, 23 Juli 2019 10:44

Usulkan 30 Nama untuk Dilantik

TARAKAN - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan akhirnya menggelar rapat…

Selasa, 23 Juli 2019 10:12

Menyediakan 516 Lowongan Pekerjaan

TARAKAN – Tercatat 23 perusahaan di beberapa daerah di Kalimantan…

Selasa, 23 Juli 2019 10:08

Pemeliharaan Berakhir, Listrik Berangsur Normal

TARAKAN – Sesuai dengan rencana awal, kegiatan pigging atau  maintenance…

Selasa, 23 Juli 2019 09:55

Hadirkan Monster di Pawai Pembangunan

TARAKAN – Pelaksanaan pawai pembangunan sisa 27 hari lagi. Pawai…

Selasa, 23 Juli 2019 09:02

Antisipasi Hama, Turunkan Babinsa

TARAKAN – Upaya antisipasi serangan hama yang menyerang tanaman padi,…

Selasa, 23 Juli 2019 08:59

Polisi Kantongi Identitas Terduga Pelaku

TARAKAN – Pihak kepolisian sudah mengantongi identitas terduga pelaku penembakan…

Selasa, 23 Juli 2019 08:58

Kejaksaan Masih Lidik Perkara Korupsi

TARAKAN – Saat ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Tarakan tengah menyelidiki…

Selasa, 23 Juli 2019 08:56

Warga Butuhkan Pelebaran Drainase

TARAKAN – Dinilai minim, masyarakat RT 9 Kelurahan Selumit berharap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*