MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 10 Oktober 2018 14:51
Empat Hari Tak Bisa Menutup Mata

Kisah Mahasiswa Kaltara yang Selamat dari Sulteng (Bagian-2)

SELAMAT DARI BENCANA: Gelombang pertama mahasiswa Kaltara yang berhasil dievakuasi tiba di Bandara Juwata, Minggu (7/10) malam. JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Bencana hebat yang melanda Palu dan Donggala pada Jumat 28 September menyisakan pengalaman penuh perjuangan bagi orang-orang yang mengalaminya. Pun dengan mahasiswa asal Kaltara yang telah dievakuasi dari Sulawesi Tengah (Sulteng).

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

ARIFAI (25) selamat dari gempa berskala 7,4 skala richter dan tsunami setinggi 6 meter, keadaan tidak lantas aman. Setelah air surut, gempa susulan terus terjadi. Berentetan dalam hitungan jam. Ia dan warga sekitar merasa sangat takut. Ia pasrah, percaya setiap orang telah ditentukan ajalnya masing-masing.

“Pas air sudah surut semua orang menangis. Teman saya juga menangis. Pokoknya perasaan ini sudah tidak karuan. Yang ada ketakutan saja di dalam kepala. Sudah tidak bisa kami merasa tenang,” terangnya.

Arifai dan temannya seperti orang kebingungan yang tidak tahu harus melakukan apa di tengah duka manusia sekitarnya. Kendaraan yang ia gunakan kini telah hilang disapu oleh ganasnya gelombang. Bahkan ia tidak tahu harus menghubungi siapa karena sinyal seluler seketika hilang.

“Kami bingung mau ngapain. Kami mau angkat mayat yang di tengah jalan, banyak sekali itu mayat tidak mungkin kami mau angkat semua. Kami pulang bingung tidak saya hafal sudah jalan karena berubah sudah itu bentuknya saya lihat,” tuturnya.

 

Arifai berteriak dan berharap ada petugas polisi atau tentara yang memberi pertolongan. Hal tersebut karena ada beberapa warga yang selamat mengalami asma, luka dan beberapa warga pingsan bahkan ada korban yang terus berteriak karena frustrasi.

“Tidak karuan sudah keadaannya 1 jam setelah gempa itu, saya bingung mau tolong yang mana. Mau tolong orang sesak napas, ada juga yang kakinya patah minta tolong, belum lagi yang pingsan ada juga yang berteriak-teriak sendirinya. Pokoknya saya stres juga lihatnya.  Jadi saya berteriak juga berharap ada bantuan,” tuturnya.

Tidak lama kemudian, ia melihat beberapa helikopter mengudara. TNI pun menjangkau lokasi mereka yang masih terjebak di atas gedung pasca menyelamatkan diri dari tsunami.

“Akhirnya kurang lebih 2 jam kami berhasil dievakuasi. Dan kami dikumpulkan bersama korban lain di posko. Tapi di posko pikiran kami tetap tetap tidak bisa tenang karena gempa susulan datang terus,” tuturnya.

Tinggal di posko lantas tidak membuat ia dan warga lainnya merasa tenang. Gempa susulan selalu saja datang menghantui. Bahkan untuk mendapatkan waktu tidur singkat pun rasanya sangat sulit.

Baginya, tidur dengan waktu ideal rasanya mustahil. Saat suara gemuruh kembali muncul, ratusan pengungsi kembali berhamburan keluar tenda. Belum lagi, rintihan pengungsi lain yang menangis sepanjang hari memikirkan mayat keluarganya yang belum dievakuasi, adapun tangisan bayi dan rintihan korban luka. 

“Selama 4 hari di posko saya tidak pernah dapat tidur. Paling kalau mengantuk betul cuma baring mau tutup mata sudah terbuka lagi karena ada getaran atau teriakan tiba-tiba,” imbuhnya.

“Biji mata saya rasanya seperti sudah mau keluar karena belum dapat tidur, kepala sakit selama baru sekali ini saya betul-betul penderitaan hidup. Kehidupan kami di pondok (pesantren), tidak ada apa-apanya sama di pengungsian,” ungkapnya.

Dalam empat hari hidup di tenda pengungsian, membuatnya mengambil banyak pelajaran dan dalam waktu empat hari tersebut membuatnya menjadi manusia lebih kuat. Mungkin ketidaknyamanan suasana tenda pengungsian adalah cobaan kecil bagi sebagian korban dari berbagai macam cobaan berikutnya. (***/bersambung/lim)

 

Empat Hari Tak Bisa Menutup Mata

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 22 Februari 2019 11:00

Rangsang Minat Baca dengan Mengangkat Kearifan Lokal

Menjadi seorang penulis merupakan impian Iqbal Ardianto sejak dulu. Motivasi…

Jumat, 22 Februari 2019 10:58

DILARANG..!! Tapi Request ‘Tetangga’ Dominan Kepiting Bertelur

TARAKAN – Pada pembukaan pengiriman kepiting atau open season yang…

Jumat, 22 Februari 2019 09:56

Sidang Ditunda, Pledoi Terduga Agus Salim Sudah Siap

TARAKAN – Sidang terduga terorisme yang melibatkan Agus Salim dengan…

Jumat, 22 Februari 2019 09:52

Turbo Terbakar, Pasokan Listrik Tak Pengaruh

TARAKAN — Satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG)…

Jumat, 22 Februari 2019 09:50

JEMBATAN HOROR..!! Lihat Nih, Layak Ngga Dilewati?

TARAKAN – Jembatan kayu di wilayah RT 7, Kelurahan Pantai…

Jumat, 22 Februari 2019 09:49

Siswa Patra Dharma Wakili Kaltara di OSN

TARAKAN - Untuk sekian lama, akhirnya Kota Tarakan bisa kembali…

Jumat, 22 Februari 2019 00:53

Kepedulian terhadap Pesisir Masih Rendah

TARAKAN – Ada yang berbeda di Pantai Amal, Kamis (21/2).…

Kamis, 21 Februari 2019 13:59

Metode Sainte Lague di Pemilu 2019

TARAKAN - Ada yang beda dari proses perhitungan kursi suara…

Kamis, 21 Februari 2019 13:58

Persentase Masyarakat Miskin Turun

TARAKAN – Kriteria kemiskinan di Tarakan saat ini hanya menggunakan…

Kamis, 21 Februari 2019 13:55

Digagas Wanita Misterius, Penyumbang Kian Ramai

Bersedekah memang dapat dilakukan dengan berbagai cara, memberi sumbangan ke…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*