MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Selasa, 09 Oktober 2018 10:09
Waspadalah..!! Utara Kalimantan Potensial Gempa

Penelitian Dan Sejarah Bencana

ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, Sejumlah penelitian menyebut jika Indonesia dikepung bencana. Itu karena banyaknya sesar patahan aktif. Di Kalimantan juga terdapat sebagai sesar. Meski sejumlah peneliti menganggap tidak aktif, sehingga sedikit gempat tercatat. Bukan berarti tidak ada. Gempa di Kalimantan potensial dipengaruhi lempeng Indo-Australia yang bergerak menyusup di bawah lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik bergerak ke arah barat. 

----

BUMI Paguntaka beberapa kali mengalami kasus gempa bumi. Nah, karena karakteristik gempa bumi yang berpotensi akan terjadi lagi, maka dipastikan Tarakan juga akan mengalami hal yang sama. Tak hanya gempa, namun potensi tsunami juga bisa saja terjadi.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si, melalui prakirawan cuaca BMKG Tarakan Herman menjelaskan, bahwa secara tektonik, wilayah Kalimantan merupakan kawasan rawan gempa. Berdasarkan catatan sejarah, sejak tahun 1921 menunjukkan bahwa di pesisir timur Kalimantan telah terjadi beberapa kali gempa bumi yang sempat merusak alam sekitar.

Gempa bumi Sangkulirang yang terjadi pada 9 Mei 1921 memiliki insensitas hingga VIII MMI. Gempa bumi kuat ini diikuti oleh gelombang tsunami yang mengakibatkan kerusakan beberapa bangunan rumah di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang. (lihat grafis)

Selanjutnya, pada 19 April 1923 dengan magnitudo 7,0 skala richter (SR) terjadi gempa bumi di Tarakan dengan kedalaman hiposenter 40 kilometer dan memiliki insensitas guncangan mencapai VIII MMI. Gempa bumi tersebut menyebabkan banyak kerusakan bangunan rumah dan timbulnya rekahan tanah di Tarakan dan sekitarnya.

Gempa bumi kuat di Tarakan juga pernah terjadi pada 14 Februari 1925. Guncangan gempa bumi ini dilaporkan mencapai VII MMI dan merusak banyak bangunan rumah. Selanjutnya, pada 28 Februari 1936 kembali diguncang gempa bumi dengan kekuatan 6,5 SR. Gempa bumi ini dilaporkan sangat kuat meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.

Kemudian, peristiwa gempa bumi dengan kekuatan 4,7 SR yang mengguncang daerah Paser dan Long Ikis pada 22 November 2009. Akibat gempa tersebut dilaporkan sejumlah bangunan rumah, gedung sekolah dan tempat ibadah mengalami kerusakan cukup parah.

Hingga tanggal 21 Desember 2015, sebagian besar wilayah Provinsi Kaltara seperti Tarakan, Nunukan dan Tanjung Selor diguncang gempa bumi tektonik dengan kekuatan 6,1 SR. Berdasarkan analisis data gempa bumi BMKG, pusat gempa bumi ini terletak pada koordinat 3,61 lintang utara dan 117,67 bujur timur, tepatnya pada jarak 29 kilometer arah timur laut Kota Tarakan pada kedalaman hiposenter 10 kilometer. Guncangan gempa bumi ini dirasakan di beberapa daerah seperti Tarakan dan Nunukan IV-V MMI dan di Tanjung Selor III-IV MMI.

Sementara itu, proses tsunami merupakan gelombang laut yang terjadi karena adanya gangguan implusif pada laut. Gangguan implusif tersebut terjadi akibat adanya perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba dalam arah vertikal (Pond and Pickard, 1983) atau dalam arah horizontal (Tanioka and Satake, 1995).

Perubahan tersebut disebabkan oleh tiga sumber utama, yaitu gempa tektonik, letusan gunung api, atau longsoran yang terjadi di dasar laut (Ward, 1982). Dari ketiga sumber tersebut, di Indonesia gempa merupakan penyebab utama (Puspito dan Triyoso, 1994).

Gelombang tsunami yang terjadi akibat deformasi di dasar laut memiliki karakteristik seperti panjang gelombang sekitar 100 hingga 200 kilometer atau lebih, memiliki periode 10 sampai 60 menit, serta kecepatan perlambatan gelombang bergantung pada kedalaman laut.

Adapun gempa pembangkit tsunami biasanya memiliki ciri-ciri seperti lokasi episenter terletak di laut, kedalaman pusat gempa relatif dangkal, kurang dari 70 kilometer, memiliki magnitude besar  lebihd ari 7,0 SR, mekanisme pensesarannya adalah sesar naik (trushing fault) dan sesar turun (normal fault).

Di Indonesia ini memiliki beberapa kawasan yang rentan gempa seperti bagian barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara, bagian utara Papua, Sulawesi, Maluku dan bagian timur Pulau Kalimantan.

Herman juga menjelaskan bahwa informasi tsunami baru akan diberitahukan pihaknya setelah kejadian gempa. Untuk itu, jika terdapat informasi yang menyatakan bahwa tsunami akan terjadi namun tidak ditandai dengan terjadinya gempa, maka hal tersebut hanyalah sebuah informasi hoaks atau bohong.

“Karena peringatan dini tsunami itu akan kami lakukan setelah terjadi gempa, itu kurang lebih 3 sampai 5 menit terjadinya gempa,” jelasnya.

Nah, apabila terjadinya gempa, pihaknya mengimbau agar masyarakat dapat segera menyelamatkan diri lebih dulu. Misalnya ketika berada di lokasi pantai, setiap masyarakat harus menjauhi air laut dan mencari tempat yang lebih tinggi.

“Penyelamatan diri harus segera dilakukan, karena antara terjadinya gempa dengan tsunami itu hanya hitungan menit,” katanya.

Namun secara pribadi Herman menegaskan bahwa pihaknya tak menyatakan Kota Tarakan akan terkena serangan tsunami. Hanya, masyarakat Tarakan wajib selalu bersikap waspada. Untuk itu, jika menerima informasi terkait gempa maupun tsunami yang tidak sesuai dengan penjelasan dari BMKG, dipastikan itu hanyalah sebuah kabar miring.

“Informasi tsunami biasanya dilakukan oleh BMKG pusat. Untuk itu apabila terjadi gempa, seluruh masyarakat wajib berusaha menyelamatkan diri,” bebernya.

 

GEMPA TAK DAPAT DIPREDIKSI

Herman menjelaskan bahwa ada dasarnya gempa bumi merupakan sebuah proses bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba, yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.

Adapun akumulasi energi terjadinya gempa dihasilkan oleh pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Nah, energi yang dihasilkan kemudian dipncarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dirasakan sampai ke permukan bumi. 

Yang menjadi parameter gempa bumi dapat dilihat pafa waktu terjadinya gempa bumi (origin time), lokasi pusat gempa bumi (episenter),  kedalaman pusat gempa (depth) dan kekuatan gempa (magnitudo). Sedang yang menjadi karakteristik gempa bumi ialah dapat berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, lokasi kejadian tertentu, dapat menimbulkan bencana, berpotensi terjadi kembali, belum dapat diprediksi, serta tak dapat dicegah namun akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. 

“Yang paling penting yang harus diketahui adalah gempa itu tidak dapat diprediksi. Jadi jika masyarakat menerima informasi bahwa akan terjadi gempa, saya pastikn itu bukan dari kami (BMKG),” ungkapnya.

“Sampai saat ini saya tegaskan kalau gempa tidak dapat diprediksi secara pasti,” tegasnya. 

Proses terjadinya gempa menurut teori lempeng tektonik ialah segmen keras kerak bumi yang mengampung di atas astenosfer yang cair dan panas.  Oleh sebab itu, lempeng tektonik bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu dengan yang lain. Nah daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik merupakan lokasi yang memiliki kondisi tektonik yang aktif dan dapat menyebabkan gempa bumi,  gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. 

Lapisan paling atas bumi, yakni lisofir merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya hingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, dan dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang dikenal dengan aliran konveksi. 

“Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yakni apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading),  saling mendekati (collision), dan saling bergeser (transform),” jelasnya. 

Nah, jika dua lempeng bertemu dalam suatu sesar, maka kedua lempeng tersebut dapat bergerak, saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0 hingga 15 sentimeter per tahun.

“Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut, hingga terjadi pelepasan mendadak yang dikenal dengan sebutan gempa bumi,” ujarnya. 

Jalur pertemuan lempeng berada di laut, sehingga apabila terjadi gempa bumi besar dengan kedalaman dangkal, maka akan berpotensi menimbulkan tsunami. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi rawan akan tsunami.

Nah, akibat yang dihasilkan oleh gempa bumi seperti getaran atau guncangan tanah (ground shaking),  likuifaksi (liquifaction), longsoran tanah, tsunami hingga bahaya sekunder atau arus pendek, pembocoran gas yang dapat menyebabkan kebakaran dan sebagainya.

Sedangkan faktor-faktor yang dapat mengakibatkan kerusakan gempa bumi adalah kekuatan gempa bumi, kedalaman gempa bumi, jarak hiposentrum gempa bumi, lama getaran gempa bumi, kondisi tanah setempat, dan kondisi bangunan.

Prakirawan cuaca BMKG Tarakan Totok menambahkan bahwa proses terjadinya pra gempa hingga kini masih menjadi pertanyaan. Sebab pada dasarnya gempa terbagi menjadi tiga bagian yakni beforeshocks, mindshocks dan aftershocks.

“Biasanya aftershocks skalanya lebih kecil dibanding mindshocks. Ada yang ditandai dengan gempa kecil lebih dulu, kemudian gempa besar yang dinamakan mindshocks dan kemudian aftershocks,” jelasnya. 

Totok menjelaskan bahwa biasanya setiap alam berupaya untuk menjaga keseimbangan. Nah, jika patahan yang besar terjadi, maka alam berusaha untuk menyeimbangkn lapisan tersebut agar dapat tersusun kembali. 

“Jadi fungsinya aftershocks itu adalah menata kembali setelah kejadian mindshocks,” bebernya. 

 

TERJADI DI WILAYAH YANG SAMA

Gempa berkekuatan 7,4 skala richter yang kembali terjadi dan menimpa Sulawesi Tengah tentunya patut jadi pelajaran. Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Balikpapan Mudjianto mengatakan, Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara tepatnya di Tarakan memang dikategorikan sesar yang lebih aktif dibandingkan Kalimantan Timur. Aktivitas gempa itu dibangkitkan oleh sesar lokal yang ada. 

Kejadian gempa diakuinya sampai saat ini tidak bisa diprediksi tetapi potensi terjadinya gempa itu, dapat diketahui dari catatan kejadian gempa di suatu tempat.  Sehingga gempa itu bisa suatu waktu terjadi di tempat yang sama di darat. Seperti di Tarakan, di mana pernah tercatat terjadinya gempa.

Dikatakan, kejadian-kejadian gempa biasanya terulang di tempat yang sama, karena daerah pertemuan atau daerah geseran atau pelepasan energi adanya di daerah yang pernah terjadi gempa dan suatu saat pasti akan terjadi kembali. “Gempa itu tidak akan ke mana-mana, hanya terjadi di tempat-tempat yang pernah mengalami kejadian gempa,” ungkap Mudjianto.

Gempa terjadi karena pelepasan energi, di mana gempa itu terjadinya karena adanya gesekan, pergeseran bumi. Karena bumi berotasi atau berevolusi, itu pastinya mengumpulkan energi. Sehingga setiap saat pasti, energi yang terkumpul itu di sebagian kecilnya lepaskan. Pelepasan itulah sebagai wujud getaran sampai ke permukaan bumi. Tergantung dari berapa besar energi yang terkumpul dan yang dilepaskan.

Sedangkan untuk tsunami umumnya relatif terjadi, tetapi harusnya nyaris tidak ada jika sesar aktif yang melepaskan energi yang berasal dari daratan. Tetapi jika guncangan yang kuat, dan energinya yang besar sehingga bisa berdampak membuat tsunami lokal. Artinya daerah-daerah sekitaran itu ada tebing yang longsor sehingga menimbulkan perubahan-perubahan permukaan dasar laut. 

Sementara untuk faktor tsunami, jika terjadi gempa berkekuatan 7 skala richter, yang berpusat di tengah laut dan kedalamannya kurang dari 100 kilometer, dan gempa yang pola sesarnya naik atau turun. “Tetapi gempa yang terjadi di laut juga tidak semuanya bisa menimbulkan tsunami, karena banyak faktor yang menyebabkannya dan bukan hanya saat terjadi gempa saja,” ujarnya.

Saat terjadi gempa di daratan Palu, Jumat 28 September lalu bisa sampai menyebabkan tsunami dikarenakan adanya longsoran di dasar laut. Dampak langsung patahnya kerak bumi dasar laut, karena gempanya di darat bisa saja menyebabkan tsunami lokal artinya kejadian memang tidak melimpah ke wilayah lain yang berdampak. Melainkan radius di sekitar daerah yang terdampak gempa kuat itu saja. 

Dirinya mengimbau saat terjadinya gempa, masyarakat untuk tidak panik. Selain itu juga harus mengenali dan mengetahui mengenai gempa bumi, selanjutnya mengenali lingkungan sekitar baik tempat tinggal, tempat kerja, maupun tempat yang dikunjungi. Sebisa mungkin untuk mencari tempat yang kokoh dan kuat untuk dapat berlindung. Jika sedang mengendarai kendaraan, sudah seharusnya untuk menepi dan keluar dari kendaraan.

“Yang paling utama jangan sampai menjadi panik, sehingga masyarakat juga harus mengenali gempa terlebih dahulu agar bisa menghindari terjadi kejadian yang tidak diinginkan,” sarannya. 

 

 

 

Bekali Diri Pengetahuan Bencana

MASYARAKAT peru dibekali pengetahuan bagaimana menghadapi bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami. Sehingga dapat mengenali jenis bencana alam dan tidak mudah panik.

Kepala Seksi Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Tarakan P. Dwi Boedi Soenjoto mengatakan, berbicara mengenai bencana alam tentu tidak hanya gempa bumi dan tsunami. Seperti di Tarakan ini, bencana yang sangat berpotensi adalah banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem.

Saat disinggung mengenai gempa bumi dan tsunami, ia mengatakan kemungkinan di Tarakan berpotensi. Pasalnya beberapa tahun lalu tercatat pernah terjadi. Sehingga bagaimana melakukan pendekatan terhadap masyarakat, memberdayakan warga agar dapat menghadapi bencana alam tersebut. “Jadi sementara ini ada program desa/kelurahan tangguh bencana, tidak spesifik gempa bumi saja. Tetapi bencana alam lainnya,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (5/10).

Melalui program desa/kelurahan tangguh bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini dibentuk kelompok kerja. Dibekali pengetahuan tahapan pra bencana, saat terjadi bencana dan pasca bencana.

Program ini pun difokuskan di Kelurahan Sebengkok dan Juata Laut. Diikuti dengan simulasi bencana alam. Dengan kelompok kerja yang terbentuk dari masyarakat, dapat menyebarluaskan atau menginformasikan pengetahuan yang didapatkan selama mengikuti program desa/kelurahan tangguh bencana ke masyarakat lainnya.

“Programnya sudah berjalan. Ini juga program desa tangguh bencana dari pusat, ending-nya ditargetkan Desember. Jadi bagaimana warga memahami kawasan dan jenis bencananya. Ancaman dan mengatasinya bagaimana,” jelasnya.

Ia mencontohkan, saat terjadi gempa bumi, langkah apa saja yang seharusnya dilakukan warga. Misalnya melakukan pergerakan untuk menyelamatkan diri. Memahami jalur evakuasi hingga ke titik kumpul atau master point.

“Jadi di master point ada petugas yang menunggu untuk melakukan evakuasi terhadap daerah bencana,” katanya.

Masyarakat dibekali tingkat responsif menghadapi bencana tersebut. Misalnya saja, gempa bumi dengan kekuatan di bawah 6 Skala Richter (SR), kemungkinan kondisi bangunan tidak rusak parah, namun bagaimana masyarakat menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah benda yang kokoh.

Kemudian gempa bumi dengan kekuatan di atas 6 SR, kondisi bangunan kemungkinan hancur dan rusak. Guncangan gempa bumi yang besar, juga berpotensi tsunami. Maka warga dapat mencari daerah yang lebih tinggi dan menjauh dari bibir pantai. “Jadi diajarkan bagaimana kesiapsiagaan dan kepekaan masyarakat terhadap jenis bencana. Kalau guncangan besar, lari ke tempat yang tinggi karena potensi tsunami,” jelasnya.

Maka masyarakat perlu dibekali pengetahuan agar dapat mengenali bencana dan tidak mudah panik. Berbicara mengenai bencana alam, Tarakan pun rawan banjir dan longsor. Terutama warga yang tinggal di lereng dan dataran rendah. “Tapi karena anggaran, jadi kegiatan juga terbatas. Kita menargetkan masyarakat punya nilai kesiap siagaan dalam mengatasi bencana,” sambungnya.

Dalam menghadapi bencana alam, tentu melibatkan semua unsur. Termasuk laporan-laporan teknis terhadap perkembangan gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, pihaknya tentu berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan.

“Kalau kami enggak ada alat, kemungkinan di BMKG ada dan laporan-laporan teknis terhadap perkembangan kegempaan, termasuk cuaca ekstrem dari mereka. Kalau dari kami bagaimana pencegahan dan penanganannya, maka melakukan pendekatan melalu program itu,” tutupnya.

 

PERHATIKAN KONTUR TANAH

Gempa 7,4 skala richter (SR) hingga menyebabkan tsunami yang mengguncang  Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) pada sekitar 18.02 WITA, mengingatkan kita bahwa pembangunan rumah tahan gempa memang sangat penting. Khususnya untuk wilayah yang rawan akan gempa.

Di Tarakan sendiri, menurut Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Tarakan Fernando, bahwa rata-rata bangunan yang memiliki pondasi di kota ini dirasa cukup kuat menahan getaran gempa. 

“Berkaca dari pengalaman gempa tahun 2015 yang mengguncang Tarakan dengan kekuatan 6,1 SR membuktikan bahwa masih banyak rumah yang tetap kokoh berdiri. Walau terkena gempa yang cukup besar,” ungkap Fernando.

Dijelaskan Fernando, material bangunan rumah tahan gempa bisa dengan kayu dan beton, tetapi desainnya secara teknis memiliki perhitungan struktur berkenaan dengan perilaku gempa. “Memperhatikan perilaku gempa itu sendiri, gempa itu digolongkan dengan beberapa zona. Kemungkinan jika desainnya berdasarkan kekuatan gempa tentu akan kuat menahan guncangan,” jelasnya.

Membuat bangunan anti gempa juga tergantung dari hitungan struktur, model, dan tata letak struktur. Begitu juga untuk masyarakat yang ingin membuat bangunan di lereng gunung harus memperhatikan kestabilan lereng. Jika gempa, tanah akan ikut bergerak. 

“Jika lereng, kecenderungannya mudah mengalami longsor yang menjadikan tanah itu tidak stabil, dibandingkan dengan kondisi tanah yang flat atau datar cenderung lebih stabil,” ujarnya.

Rata-rata gedung besar dan gedung pemerintahan di Tarakan dalam hitungan teknis dipastikan sudah memasukkan unsur desain untuk menahan gempa, disesuaikan dengan kondisi gempa yang ada di zona masing-masing.

“Kalau retak-retak akibat gempa itu memang ada, tetapi tidak sampai hancur bangunannya karena memang sudah ada unsur desain tahan gempa. Salah satunya dapat dilihat di salah satu hotel yang ada di Jalan Mulawarman, meski retak-retak akibat guncangan gempa, tapi tidak runtuh,” jelasnya.

Selain itu, pendirian bangunan, secara umum harus melihat kontur tanah. Jika tidak maka bangunan yang dibuat tidak akan bertahan lama. Seperti tanah di Tarakan, yang cenderung berpasir, mudah bergeser, sehingga sangat rawan terjadi longsor.

“Kalau pasir yang lengket itu tidak masalah, tetapi berbeda lagi dengan Tarakan. Di mana kontur tanahnya itu pasir yang mudah longsor,” jelasnya.

Fernando menyarankan untuk perumahan, jika wilayahnya padat, maka dibuat desain konstruksi cakar ayam sebanyak sebelas titik. Sehingga semu

loading...

BACA JUGA

Selasa, 11 September 2018 08:59

Perilaku Masyarakat Harus Diubah

Sampah menjadi permasalahan serius bagi Tarakan. Produksi setiap hari terus meningkat hingga menyentuh…

Selasa, 11 September 2018 08:56

Di Kabupaten Ini, Tren Nikah Usia Dini Makin Naik

TANJUNG SELOR – Pernikahan di usia muda bukan sekadar kisah sinetron. Saat ini, pernikahan tersebut…

Senin, 03 September 2018 14:19

Pengin Balik, asal Dukungan Sama

Sejumlah nama atlet asal Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) diketahui membela provinsi lain di kancah…

Senin, 03 September 2018 14:14

Setoran Berkurang, APBD Anjlok

SETIAP tahun kondisi keuangan daerah terus mengalami penurunan. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .