MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 05 Oktober 2018 14:16
"Terima Kasih Masyarakat Tarakan"

Ungkapan Hati para Pengungsi Bencana Palu

PEDULI GEMPA PALU: General Manager Radar Tarakan Group Anthon Joy (batik hijau) menyerahkan bantuan warga ke Kantor Distrik Navigasi Tarakan, kemarin (4/10). RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Dari 97 korban bencana Palu yang tiba di Tarakan menumpang transportasi laut pada Rabu (3/10). Sebanyak 15 korban lainnya terpaksa harus diungsikan di posko pengungsian yang disediakan Pemkot Tarakan, tepatnya di Rumah Sakit (RS) Mantri Raga yang terletak di Jalan Hake Babu, Tarakan Barat.

Bagian Kedaruratan BPBD Tarakan A. Tamto menuturkan diungsikannya 15 korban asal Palu di RS Mantri Raga dikarenakan para korban tidak memiliki sanak saudara di Tarakan. Sehingga terpaksa diungsikan sambil menunggu jadwal keberangkatan pulang. “Awalnya itu hanya enam orang pertama yang mengungsi. Namun, tiba-tiba bertambah dan menjadi 15 orang yang mengungsi di Mantri Raga,” ungkap A. Tamto.

Dari 15 orang itu, Kamis (4/10) sekira pukul 09.30 WITA enam di antaranya sudah pulang menggunakan transportasi udara. Sebagian lagi menunggu kedatangan kapal laut. (lihat grafis)

“Enam korban yang sempat mengungsi sudah memilih berangkat pagi. Ada yang ke Surabaya, Balikpapan dan Manado. Sedangkan 9 korban lainnya ini masih menunggu jadwal keberangakatan kapal laut pada Jumat malam,” ucapnya.

Selama mengungsi di RS Mantri Raga, Tamto menegaskan segala keperluan korban sudah terpenuhi. Baik obat-obatan, makanan, minuman dan pakaian.

“Mereka selalu kami jaga. Karena di sini ada dari unsur BPBD, TNI, kepolisian, PMI, Tagana dan Dinas Sosial,” ucapnya.

Sementara itu, dari pantauan Radar Tarakan di lokasi pengungsian sejak pagi masyarakat Tarakan terus berdatangan. Baik sekadar memberikan bantuan maupun untuk melihat para korban untuk saling memberikan semangat.

Dari beberapa masyarakat yang kami temui, bahkan ada yang tidak sama sekali ada hubungan keluarga. Mereka rela datang dan mencari tahu keberadaan posko pengungsian untuk memberikan bantuan.

Hj Aisyah (44) dan Nurmi (42), warga RT 10, Kelurahan Pantai Amal ini rela keliling berjam-jam untuk bisa mencari posko pengungsian korban. Bahkan jauhnya perjalanan yang ditempuh dari Kelurahan Pantai Amal bukan lagi sebuah halangan untuk bisa meyampaikan bantuan beserta dengan teman-teman rombongan lainnya.

“Ini kami cari terus. Pertama kami dari Taman Berlabuh, terus masyarakat di situ bilang bukan di sini (TB). Terus kami cari lagi dengan tanya-tanya warga di jalan dan akhirnya baru kami sampai di sini. Itu mau ada dua jam kami mencari. Dan akhirnya kami sampai di lokasi pengungsian,” kata Aisyah.

Saat bertemu korban Palu, Aisyah tak kuasa menahan air mata.

“Ya Allah, kalau saya di posisi mereka pasti saya trauma dan tidak henti-hentinya menangis. Jadi kami hanya berikan dukungan dan doa saja,” ucapnya.

Kepedulian masyarakat Tarakan yang begitu tinggi sangat dirasakan para korban bencana. Salah satunya Darmawati (43),  wanita asal Tolitoli ini mengaku sangat bersyukur dan menghanturkan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan Pemerintah Kota Tarakan maupun kalangan masyarakat Tarakan sejak dirinya dan korban lainnya berada di posko pengungsian mess Mantri Raga.

Darmawati tak menyangka, kedatangannya ke Tarakan menggunakan kapal Pelni begitu disambut baik masyarakat Tarakan. Meski sekalipun bukan keluarga atau sanak saudara, antusias warga tetap memberikan pertolongan apapun itu.

“Kami benar-benar diperhatikan di sini. Baik makanan, obat-obatan dan sebagainya. Dengan itu, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak warga Tarakan, pemerintah Tarakan. Karena, kesedihan kami sedikit berkurang atas bantuan dan perhatian semuanya,” ungkap Darmawati dengan mata berkaca-kaca.

Darmawati tahu kondisinya yang saat ini sedang dalam masa trauma dan masih ketakutan. Pasalnya, beberapa keluarganya di Palu masih ada yang belum ditemukan.

“Terkadang suka mengingat-ngingat keluarga di sana. Tapi, kadang pikiran itu hilang, sedih juga sudah enggak terlalu karena masyarakat Tarakan yang terus berdatangan menghibur kami,” katanya.

Senada dengan Darmawati, Hasnawia (36) yang juga merupakan warga asal Tolitoli mengucapkan rasa syukur tak terhingga bagi masyarakat Tarakan. Bahkan membuat dirinya menangis dan haru dikarenakan sikap dan kepedulian warga Tarakan begitu besar kepadanya.

“Kami ini seperti ayam kehilangan induknya. Jadi seperti ke mana-mana tidak jelas. Dan yang paling saya syukuri ialah ketika saya minum di sebuah warung dan hendak saya bayar, tiba-tiba minuman saya digratiskan karena dia tahu bahwa saya korban gempa Palu. Padahal, dia itu bukan pemilik warung, orang lain juga yang sedang minum di warung. Jadi saya itu sangat haru karena kebaikan masyarakat Tarakan,” tuturnya.

Hasnawia juga menyampaikan jika dirinya dan keluarga lainnya yang transit akan segera berangkat menggunakan kapal laut menuju Tolitoli.

“Soal uang tiket, alhamdulillah kami selalu mendapatkan rezeki di sini. Masyarakat Tarakan berdatangan memberikan kami bantuan untuk bisa membeli tiket,” jelasnya.

TEGASKAN BUKAN KAPAL PENUMPANG

Kasi Lalu Lintas dan Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Tarakan Sutiyono mengatakan berbagai bantuan dari masyarakat ke Kota Palu dan Donggala sudah sudah dikirim.

“Yang sudah masuk pakaian untuk orang dewasa dan anak-anak, kemudian bahan makanan seperti biskuit, mi instan, air mineral dan popok untuk bayi dan balita,” ungkap Sutiyono.

Kata dia, jumlah bantuan yang masuk sangat banyak dan tidak terinci. “Kemarin malam sudah bergerak,” ucapnya.

Namun dari proses itu semua, Sutiyono menegaskan jika kapal navigasi tujuan Pelabuhan Pantoloan, bukanlah kapal yang diperuntukkan untuk penumpang, melainkan untuk logistik. Sehingga, ia berharap masyarakat paham akan kapasitas kapal tersebut. “Kapal ini bukan kapal untuk angkut penumpang, jadi untuk relawan kami tidak akomodir. Pertama ini bukan kapal penumpang, kapasitas keselamatan juga bukan untuk kapal penumpang,” kata Sutiyono.

Adapun yang ikut berangkat kata Sutiyono, merupakan perwakilan dari setiap instansi baik dari Navigasi, KSOP maupun PMI. “Jadi masyarakat yang sempat mau ikut kami tidak perbolehkan. Dan sudah kami berikan pemahaman,” jelasnya.

Sutiyono juga mengatakan jika kapal ini nantinya hanya sekadar untuk mengantar barang. Setibanya di Pantoloan dan mendistribusikan seluruh barang barulah kapal barang ini kembali ke Tarakan.

“Di sana mengantar barang saja, habis tuh pulang,” jelasnya.

Saat ditanyakan apakah akan kembali mengirim bahan logistik ke Palu jika kebutuhan yag dikirimkan masih dianggap kurang, Sutiyono menegaskan bahwa pihaknya hanya menunggu perintah. “Kami tunggu perintah saja. Apabila ada imbauan dari pusat, kami laksanakan,” katanya.

RADAR TARAKAN PEDULI

Akhirnya,setelah empat hari berjuang mengumpulkan donasi dari berbagai kalangan masyarakat. Tim Radar Tarakan yang dipimpin langsung General Manager Radar Tarakan Group Anthon Joy pun langsung mengantarkan bantuan tersebut ke posko layanan gempa dan tsunami yang terletak di Kantor Navigasi, Jalan Yos Sudarso.

“Alhamdulillah semua barang sudah kami antarkan langsung ke posko Navigasi. Dan kami juga ikut langsung menyaksikan bagaimana barang-barang itu dimasukkan kedalam kapal,” ungkap Anthon Joy.

Dikatakan Joy, sapaan akrabnya, semua barang yang dikumpulkan merupakan hasil kerja keras para tim Radar Tarakan. Baik mencari donasi melalui media sosial maupun langsung melakukan jemput bola.

“Donasi yang kami dapatkan itu di antaranya ada mi instan sebanyak 25 kotak, biskuit 10 kotak, pakaian layak pakai 30 kotak dan barang-barang lainnya seperti sikat gigi dan kebutuhan bayi dan balita,” katanya.

Tak sulit untuk mengumpulkan donasi dari masyarakat. Hanya memang dibutuhkan kerja tim solid agar semua kebutuhan yang ada bisa terakomodir dengan baik. “Teman-teman saya perhatikan mau meluangkan waktunya untuk sekadar untuk mengumpulkan bantuan ini. Karena selain harus mengumpulkan bantuan, di samping itu juga harus bekerja. Jadi saya pribadi sangat salut dan mengucapkan banyak terima kasih,” kata Joy.

Joy pun juga tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Tarakan yang sudah mau mempercayakan untuk mendonasikan sebagian hartanya melalui Radar Tarakan.

“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak. Semoga semua ada balasan dari Tuhan. Amin,” pungkasnya.

TANGGAP DARURAT DIPERPANJANG

Masa tanggap darurat gempa dan tsunami Sulteng selama dua pekan. Namun, Satgas Bencana Sulteng mempertimbangkan perpanjangan waktunya.

Rencana perpanjangan masa tanggap darurat jika hingga Kamis, 11 Oktober, penanganan belum sesuai ekspektasi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengungkapkan, selama sepekan status tanggap darurat, evakuasi dan pencarian korban terus dilakukan.

“Kita lihat perkembangannya. Misalnya, bagaimana pencarian dan penyelamatan. Sesuai aturan, dua minggu selesai,” ujar Willem kepada FAJAR (Grup Jawa Pos) di Markas Korem 132/Tadulako, Kota Palu, Kamis (4/10).

Saat ini, prioritas satgas adalah penanganan jenazah yang masih tertimbun dan belum terevakuasi. Sejauh ini, masih banyak daerah terdampak gempa yang baru tersentuh alat berat.

Termasuk area permukiman yang tertelan bumi, seperti di Balaroa, Kecamatan Palu Barat; Petobo, Kecamatan Palu Selatan; dan Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.

Di Petobo, alat berat baru masuk dua hari ini. Dengan timbunan lumpur seluas tiga kilometer persegi dengan kedalaman hingga delapan meter, satgas kesulitan menuntaskan penggalian selama sepekan ke depan.

“(Jika tak selesai) kita perpanjang. Diperpanjang satu minggu atau dua minggu, terserah pemda. Tentunya atas hasil pertimbangan-pertimbangan itu,” imbuh Willem.

Namun, jika semua terkendali dengan baik, masa tanggap darurat akan diakhiri. Masuk ke tahap transisi darurat. Selanjutnya, dari transisi darurat, masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sebelum rekonstruksi, satgas akan melakukan pendataan dan verifikasi. Masa tanggap darurat sendiri akan ditentukan oleh pemda berkonsultasi dengan BNPB.

Kemarin, tim SAR dari sejumlah negara telah masuk ke Palu. Salah satunya dari Prancis. Mereka membantu pencarian dan penggalian reruntuhan di Hortel Mercure, Jalan Cumi-Cumi.

Petugas SAR membawa anjing pelacak dan drone untuk mengidentifikasi korban yang masih terjebak dalam reruntuhan beton dan bangunan hotel. Tim SAR asing ini bergabung dengan tim SAR dalam negeri.

Secara umum, hingga Magrib, tim SAR mengevakuasi 109 korban tertimpa reruntuhan dan tertimbun.

Menkopolhukam Wiranto juga menegaskan, Indonesia terbuka menerima bantuan luar negeri untuk membantu evakuasi di Palu, Sigi, dan Donggala. Bahkan banyak alat yang sempat tertahan di Kalimantan karena akses transportasi yang belum lancar.

Wiranto memberi penekanan pada perbaikan jaringan listrik. Menurutnya, dari lima rumah sakit di Palu yang siap melayani, sebagian terkendala aliran listrik. Makanya, prioritas perbaikan ke sana.

Banyak tenaga medis yang masuk ke Sulteng, justru tidak bisa melakukan tindakan beroperasi karena terbatasnya pasokan listrik. Akan tetapi, hingga malam tadi, aliran listrik sudah makin membaik, meski masih belum konstan.

Selain itu, Wiranto juga menekankan perlunya mendirikan RS lapangan. Yakni, posko darurat medis yang dibangun di pusat-pusat pengungsian, terutama yang banyak korban luka dan butuh penanganan medis.

“Obat-obatan segera diangkut dari Jakarta. RS lapangan harus kita gelar, termasuk di Sigi. Kirim RS lapangan ke tempat terpencil itu,” ujar Wiranto usai memimpin rapat Satgas di Korem 132/Tadulako.

Saat ini, sudah ada 147 tempat penampungan. Hanya, Wiranto mengatakan, tak semuanya masuk kategori pengungsi. Alasannya, banyak yang rumahnya masih utuh, punya mobil, hanya karena ketakutan gempa susulan, sehingga ikut mengungsi.

Pengungsi sementara seperti itu tak masuk kategori pengungsi. Sebaliknya, warga yang betul-betul kehilangan tempat tinggal, lantas ke tenda pengungsian, maka itulah pengungsi.

Sejauh ini, ada 6 tempat pengungsian yang menampung ribuan masyarakat. Tiga di Palu dan tiga di Donggala. Wiranto meminta stok makanan tetap tersedia cukup di lokasi pengungsian. “Saya minta dapur umum digelar di semua tempat pengungsian masal,” imbuhnya.

Kapasitas listrik di Palu sebesar 125 MW. Saat ini, baru 10 persen yang beroperasi. Lima instalasi gardu induk sementara diperbaiki. Rusaknya parah. Trafo hangus, generator rusak.

Kebanyakan, jaringan putus. Namun, 500 relawan khusus jaringan telah diterjunkan. Untuk pelayanan dasar, sumber listriknya sementara memakai genset. Itu pun baru 30 persen memenuhi kebutuhan Palu.

Kendati belum 100 persen, kawasan perekonomian kembali bergerak. Listrik membuat warga antusias. Termasuk 10 SPBU yang telah beroperasi dari 17 SPBU di Palu.

Hambatan lain, banyak karyawan SPBU tak masuk kerja. Trauma. Makanya, untuk sementara, polisi dan TNI yang melayani. “100 operator SPBU didatangkan dari Jakarta,” beber Wiranto.

Distribusi BBM ke Donggala juga disebut mendesak. Makanya, akan dibangun depo baru. Sejak kemarin, kapal tanker sudah sandar.

Satgas juga menyiapkan fogging disinfektan akibat telah banyaknya mayat membusuk. Dikhawatirkan, sudah banyak virus dan bakteri.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo Ismail mengatakan, pihaknya telah menyediakan frekuensi khusus radio siaran komunitas. Itu bisa dipakai dengan proses sederhana untuk berbagi informasi.

Pihaknya juga menyediakan WiFi gratis di posko pengungsian utama. Telepon satelit juga dipasang di Kantor BMKG, Rujab Gubernur Sulteng, dan Makorem.

Hingga malam tadi, total korban meninggal sudah mencapai 1.558 orang. Luka-luka 2.549, hilang 113, tertimbun 152, rumah rusak 65.733, dan total pengungsi 70.821.

Kabag Humas Pemprov Sulteng Adiman mengatakan, pemulihan kondisi dilakukan dengan mengaktifkan kembali kantor pemda. Operasional bank kembali dinormalkan. “Kami juga mendorong pasar dan toko-toko bisa dibuka kembali,” katanya. (eru/(zuk/rif-ham/lim)


BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 13:53

Segarkan Harimu dengan Manisnya Es Krim

Siapa sih yang tidak kenal dengan es krim? Meski sudah ada sejak dahulu, sensasi es krim tidak pernah…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:51

Sate Es Krim

Tidak hanya daging dan buah yang dibuat sate. Ternyata es krim juga bisa loh. Selain bentuknya yang…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:50

Es Krim Cokelat

Nah biasanya untuk mendapatkan rasa cokelat, kita menggunakan perasa cokelat. Tapi pada es krim cokelat…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:47

Jalur Sepeda Harus Dihidupkan Kembali

TARAKAN – Jalur sepeda di Bumi Paguntaka perlu dihidupkan kembali. Hal itu pula yang disampakan…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:43

Road Race di PON Papua Masih Tanda Tanya

TARAKAN – Sekitar 50 cabang olahraga (cabor) akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON)…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:41

Tim YFR Naik Podium Pertama di Latber Time Rally

TARAKAN –Latihan Bersama (Latber) Time Rally Wisata 2018 yang digelar Ikatan Motor Indonesia (IMI)…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:22

Gang Punti Tak Kunjung Dilirik

TARAKAN - Ketua RT 16, Kelurahan Karang Harapan, Muhammad Saleh, mengatakan banyak titik jalan yang…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:19

Kehabisan Anggaran, Terancam Utang Rp 3 Miliar

TARAKAN - Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tarakan over kapasitas berakibat anggaran…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:18

Kehabisan Anggaran, Terancam Utang Rp 3 Miliar

TARAKAN - Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tarakan over kapasitas berakibat anggaran…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:12

Terkait Dugaan Kasus Korupsi Bahan Ajar UBT

TARAKAN – Berkas kasus dugaan korupsi terhadap anggaran bahan mengajar (anjar) yang melibatkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .