MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 04 Oktober 2018 14:15
Kehilangan Saudara Kandung, KTP Jadi Jaminan Tiket
SELAMAT: Mustafa Betta alias Cacang saat tiba di Pelabuhan Tunon Takan Nunukan bersama 19 pelajar dari Palu dan disambut haru sejumlah keluarga yang menunggu kedatangan KM Lambelu pukul 23.00, Selasa (2/10). RIKO ADITYA/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, BENCANA gempa bumi disusul tsunami yang terjadi di Palu, Donggala, dan wilayah lainnya di Sulawesi Tengah (Sulteng) menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat di sana. Namun, dari kejadian itu, seketika mampu melahirkan rasa kemanusian bagi siapa saja di sana. Seperti halnya dilakukan Mustafa Betta atau akrab disapa Cacang.

Niat awal menjadi peserta dalam lomba sepeda gunung yang digelar pemerintah setempat akhirnya batal. Acara yang rencananya diikuti sejumlah komunitas sepeda, termasuk komunitas asal Kabupaten Nunukan yang juga dikuti Cacang ini terpaksa dihentikan. Bencana gempa disusul tsunami membuat lokasi bertanding tak layak digunakan. Rusak dan seketika Kota Palu yang ramai menjadi kota mati karena aktivitas lumpuh total.

Di tengah kondisi yang serba kekurangan itu, Cacang bersama enam orang rekannya asal Kabupaten Nunukan terus bergerak mencari jalan pulang. Namun karena sudara kandungnya yang sudah menetap di Palu sejak lama, dikabarkan hilang bersama anak dan suaminya, Cacang akhirnya membatalkan rencananya pulang bersama rombongannya. Ia memilih mencari kakaknya yang sejak gempa terjadi sudah kehilangan kontak.

Di tengah pencariannya, orang tua salah seorang santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Raudhatul Mustafa Lil Khairaat, Palu, menghubunginya dan meminta agar dicarikan anaknya. Karena merasa sudah terlanjur berada di lokasi bencana dan juga pernah tinggal lama di Palu, akhirnya dirinya mencari santri yang dimaksud. “Saya memang ikut rombongan teman-teman komunitas sepeda dari Nunukan. Karena ada saudara kandung saya hilang, jadi saya tinggal mencari dulu. Teman yang lain mencari jalan pulang,” ungkap Cacang saat dikonfirmasi media ini di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, yang baru saja tiba menggunakan KM Lambelu malam tadi.

Jarak pasantren dengan lokasinya yang di pusat perkotaan Palu itu cukup jauh, mencapai dua kilometer. Meskipun masih sering terjadi gempa susulan, dirinya terus memberanikan diri menjemput santri yang lokasinya yang berada di bagian pegunungan. “Saya hanya menggunakan motor saja. Sementara anak-anak ada 18 orang. Jadi, kami harus berjalan kaki 2 km untuk menuju jalan utama menunggu kendaraan ke Pantoloan lagi,” ujarnya.

Sebenarnya, untuk kendaraan roda dua dan roda empat itu ada saja yang dapat digunakan. Hanya masalahanya bahan bakar minyak (BBM) yang tidak ada. Sehingga, diputuskan untuk berjalan kaki saja. “Saya jemput mereka itu Minggu subuh. Tapi, jam 11 siang baru anak-anak siap. Dan sampai di Pelabuhan Pantoloan itu jam 2 siang,” ungkapnya.

Beruntungnya, lanjutnya, ketika tiba di pelabuhan sudah ada KM Lambelu. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, dirinya langsung saja meminta para santri dan santriwati, termasuk dua mahasiswa bersaudara asal Nunukan, juga untuk naik ke kapal. Dirinya bernegosiasi dengan pihak keamanan kapal agar ikut berlayar menuju Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Setelah berbincang dan pihak keamanan kapal mengerti, akhirnya diberikan kebijakan untuk tetap ikut berlayar. “Saya hanya cukup dengan uang Rp 500 ribu saja. Jadi, KTP saya jadi jaminan. Tiket saya bayar tujuan saja,” ungkapnya.

Selama pelayaran dari Pelabuhan Pantoloan menuju Pelabuhan Malundung Kota Tarakan itu, dirinya bersama para santri dan santriwati hanya makan dua kali saja. Itupun hanya mengonsumsi mi instan yang dibeli dari kantin kapal. “Nah, saat di Tarakan itu baru ada nasi. Saya tidak tahu dari mana saja itu nasi. Ada saja yang memberikan ke kami. Termasuk kantin kapal. Jadi, dari Tarakan ke Nunukan itu kami sudah bisa menikmati nasi,” ujarnya mengenang perjalanannya.

Cacang mengaku, kondisi Palu pasca gempa dan tsunami sangat parah. Banyak warga ingin segera meninggalkan Palu, Donggala, dan wilayah Sulteng lainnya. Gempa yang setiap jam terjadi membuat mereka yang masih hidup terus waspada. Menunggu bantuan dan logistik untuk bertahan hidup juga susah. Penjarahan memang terjadi di mana-mana. “Sebenarnya, saya masih ingin membantu warga Nunukan, khususnya pelajar yang masih berada di sana. Tapi, kemampuan saya terbatas. Saya berhasil membawa 18 santri ini ke Nunukan saat ini sudah sangat bersyukur. Kalau kami tidak berhasil mengikuti pelayaran ini, saya tidak tidak tahu bagaimana nasib saya dan pelajar di sana lagi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, masih terdapat puluhan pelajar dan mahasiswa asal Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya Kabupaten Nunukan di lokasi bencana hingga saat ini. Kini mereka terus menunggu bantuan pemerintah untuk segera dievakusai dari lokasi bencana. Sebab, sampai saat ini gempa masih terus terjadi. Belum lagi kondisi kota yang sudah seperti kota mati. Mayat, korban gempa dan tsunami masih belum dievakuasi hingga hari 5 hari pasca gempa terjadi. Semoga saja, para pelajar dapat bertahan hingga bantuan evakuasi tiba. (oya/ash)   


BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 12:15

Stok Melimpah, Peternak Rebutan Pelanggan

NUNUKAN – Melimpahnya stok daging ayam belakangan ini membuat harga…

Kamis, 13 Desember 2018 12:14

Bandara Siap Terima Maskapai Baru

NUNUKAN - Pemberian tali asih atas tanaman tumbuh warga setempat…

Kamis, 13 Desember 2018 12:12

Cabuli Kekasih, Divonis 8 Tahun Penjara

NUNUKAN –  Terdakwa DD atas perkara perselingkuhan dan mencabuli anak…

Kamis, 13 Desember 2018 11:52

Siswa Magang Lakukan Pencurian

NUNUKAN – Kepolisian terpaksa mengamankan siswa salah satu Sekolah Menengah…

Rabu, 12 Desember 2018 12:48

Minim Suntikan PAD

NUNUKAN – Kontribusi PT Nusa Serambi Persada (NSP) kepada pemerintah…

Rabu, 12 Desember 2018 12:47

Puluhan Algaka Ditertibkan

NUNUKAN - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Nunukan lakukan penertiban Alat…

Rabu, 12 Desember 2018 12:46

Pemerintah Buru Wajib Pajak Restoran

NUNUKAN – Pemerintah kini getol memburu pelaku wajib pajak yang…

Rabu, 12 Desember 2018 12:43

Operasi Kembali, Mengutang Kantong Darah

NUNUKAN – Setelah sempat terhenti, pelayanan donor darah di Palang…

Rabu, 12 Desember 2018 12:36

Pelaku dan Barang Bukti Penyelundup Kayu Dilimpahkan ke Polres

NUNUKAN – Pangkalan TNI AL (Lanal) Nunukan melimpahkan berkas perkara…

Selasa, 11 Desember 2018 15:25

Sertifikasi Profesi Berpengaruh Tinggi

NUNUKAN – Pelaksanaan seleksi kompetensi bidang (SKB) calon Pegawai Negeri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .