MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 04 Oktober 2018 14:15
Kehilangan Saudara Kandung, KTP Jadi Jaminan Tiket
SELAMAT: Mustafa Betta alias Cacang saat tiba di Pelabuhan Tunon Takan Nunukan bersama 19 pelajar dari Palu dan disambut haru sejumlah keluarga yang menunggu kedatangan KM Lambelu pukul 23.00, Selasa (2/10). RIKO ADITYA/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, BENCANA gempa bumi disusul tsunami yang terjadi di Palu, Donggala, dan wilayah lainnya di Sulawesi Tengah (Sulteng) menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat di sana. Namun, dari kejadian itu, seketika mampu melahirkan rasa kemanusian bagi siapa saja di sana. Seperti halnya dilakukan Mustafa Betta atau akrab disapa Cacang.

Niat awal menjadi peserta dalam lomba sepeda gunung yang digelar pemerintah setempat akhirnya batal. Acara yang rencananya diikuti sejumlah komunitas sepeda, termasuk komunitas asal Kabupaten Nunukan yang juga dikuti Cacang ini terpaksa dihentikan. Bencana gempa disusul tsunami membuat lokasi bertanding tak layak digunakan. Rusak dan seketika Kota Palu yang ramai menjadi kota mati karena aktivitas lumpuh total.

Di tengah kondisi yang serba kekurangan itu, Cacang bersama enam orang rekannya asal Kabupaten Nunukan terus bergerak mencari jalan pulang. Namun karena sudara kandungnya yang sudah menetap di Palu sejak lama, dikabarkan hilang bersama anak dan suaminya, Cacang akhirnya membatalkan rencananya pulang bersama rombongannya. Ia memilih mencari kakaknya yang sejak gempa terjadi sudah kehilangan kontak.

Di tengah pencariannya, orang tua salah seorang santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Raudhatul Mustafa Lil Khairaat, Palu, menghubunginya dan meminta agar dicarikan anaknya. Karena merasa sudah terlanjur berada di lokasi bencana dan juga pernah tinggal lama di Palu, akhirnya dirinya mencari santri yang dimaksud. “Saya memang ikut rombongan teman-teman komunitas sepeda dari Nunukan. Karena ada saudara kandung saya hilang, jadi saya tinggal mencari dulu. Teman yang lain mencari jalan pulang,” ungkap Cacang saat dikonfirmasi media ini di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, yang baru saja tiba menggunakan KM Lambelu malam tadi.

Jarak pasantren dengan lokasinya yang di pusat perkotaan Palu itu cukup jauh, mencapai dua kilometer. Meskipun masih sering terjadi gempa susulan, dirinya terus memberanikan diri menjemput santri yang lokasinya yang berada di bagian pegunungan. “Saya hanya menggunakan motor saja. Sementara anak-anak ada 18 orang. Jadi, kami harus berjalan kaki 2 km untuk menuju jalan utama menunggu kendaraan ke Pantoloan lagi,” ujarnya.

Sebenarnya, untuk kendaraan roda dua dan roda empat itu ada saja yang dapat digunakan. Hanya masalahanya bahan bakar minyak (BBM) yang tidak ada. Sehingga, diputuskan untuk berjalan kaki saja. “Saya jemput mereka itu Minggu subuh. Tapi, jam 11 siang baru anak-anak siap. Dan sampai di Pelabuhan Pantoloan itu jam 2 siang,” ungkapnya.

Beruntungnya, lanjutnya, ketika tiba di pelabuhan sudah ada KM Lambelu. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, dirinya langsung saja meminta para santri dan santriwati, termasuk dua mahasiswa bersaudara asal Nunukan, juga untuk naik ke kapal. Dirinya bernegosiasi dengan pihak keamanan kapal agar ikut berlayar menuju Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Setelah berbincang dan pihak keamanan kapal mengerti, akhirnya diberikan kebijakan untuk tetap ikut berlayar. “Saya hanya cukup dengan uang Rp 500 ribu saja. Jadi, KTP saya jadi jaminan. Tiket saya bayar tujuan saja,” ungkapnya.

Selama pelayaran dari Pelabuhan Pantoloan menuju Pelabuhan Malundung Kota Tarakan itu, dirinya bersama para santri dan santriwati hanya makan dua kali saja. Itupun hanya mengonsumsi mi instan yang dibeli dari kantin kapal. “Nah, saat di Tarakan itu baru ada nasi. Saya tidak tahu dari mana saja itu nasi. Ada saja yang memberikan ke kami. Termasuk kantin kapal. Jadi, dari Tarakan ke Nunukan itu kami sudah bisa menikmati nasi,” ujarnya mengenang perjalanannya.

Cacang mengaku, kondisi Palu pasca gempa dan tsunami sangat parah. Banyak warga ingin segera meninggalkan Palu, Donggala, dan wilayah Sulteng lainnya. Gempa yang setiap jam terjadi membuat mereka yang masih hidup terus waspada. Menunggu bantuan dan logistik untuk bertahan hidup juga susah. Penjarahan memang terjadi di mana-mana. “Sebenarnya, saya masih ingin membantu warga Nunukan, khususnya pelajar yang masih berada di sana. Tapi, kemampuan saya terbatas. Saya berhasil membawa 18 santri ini ke Nunukan saat ini sudah sangat bersyukur. Kalau kami tidak berhasil mengikuti pelayaran ini, saya tidak tidak tahu bagaimana nasib saya dan pelajar di sana lagi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, masih terdapat puluhan pelajar dan mahasiswa asal Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya Kabupaten Nunukan di lokasi bencana hingga saat ini. Kini mereka terus menunggu bantuan pemerintah untuk segera dievakusai dari lokasi bencana. Sebab, sampai saat ini gempa masih terus terjadi. Belum lagi kondisi kota yang sudah seperti kota mati. Mayat, korban gempa dan tsunami masih belum dievakuasi hingga hari 5 hari pasca gempa terjadi. Semoga saja, para pelajar dapat bertahan hingga bantuan evakuasi tiba. (oya/ash)   


BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 13:15

Tembakau Gorilla Jadi Target Polisi

NUNUKAN – Tembakau bermerek Gorilla yang mengandung 5-flouro ADB atau ganja sintesis diduga mulai…

Selasa, 16 Oktober 2018 12:32

ASN Wajib Pakai Gas 12 Kg

NUNUKAN – Aparatur sipil negara (ASN) di perbatasan yang sampai saat ini menggunakan liquefied…

Selasa, 16 Oktober 2018 12:01

Pemerintah Tunggu Salinan Putusan PTUN

NUNUKAN – Asisten Administrasi Umum dan Pemerintahan Sekretariat Kabupaten (Setkab) Nunukan, Muhammad…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:59

Penanganan Anjing Liar Tunggu Perbup

NUNUKAN – Anjing liar yang sering menggangu pengguna jalan sampai saat ini belum juga tertangani.…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:57

WNI yang Ditangkap Aparat Malaysia Terverifi kasi

NUNUKAN – Empat orang WNI yang ditangkap aparat Malaysia saat operasi gabungan yang dilakukan…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:44

Data Warga Miskin Belum Akurat

NUNUKAN – Pemuktahiran data terpadu, khususnya data warga miskin yang dilakukan Dinas Sosial (Dinsos)…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:26

Sebulan, Kasus Pencurian dan Pencabulan Mendominasi

NUNUKAN – Sepanjang bulan September lalu, kasus pencurian mendominasi tindak kriminalitas di Nunukan.…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:38

Karena Ini, Pedagang Lintas Batas Gelisah

NUNUKAN – Penangkapan oleh lintas instansi terhadap produk asal Malaysia di perbatasan Nunukan…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:09

Empat Kurir Sabu Dituntut 18 Tahun

NUNUKAN – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Nunukan kembali menuntut empat orang…

Minggu, 14 Oktober 2018 23:07

Krisis Keuangan Masih Jadi PR

NUNUKAN – Usia Kabupaten Nunukan telah menginjak angka 19 tahun, sejak berdiri 1999 silam. Kini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .