MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 04 Oktober 2018 00:12
Gempa Tsunami Palu-Donggala
Belasan Pelajar Telah Kembali dari Palu
MENDERITA LUKA: Seorang korban gempa tsunami, Palu tiba di Tarakan dan diberi perawatan, Rabu (3/10) sore. FOTO: JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, SEBANYAK 19 pelajar yang berstatus sebagai anak santri telah kembali ke Nunukan dengan selamat, menumpang Kapal Motor (KM) Lambelu, Selasa (2/10) malam. Setelah mengalami gempa bumi dan tsunami di Kota Palu, Jumat (28/9) lalu.

Kepala Operasional, PT Pelayaran Indonesia (Pelni) Cabang Nunukan Nurdin mengatakan, sesuai data yang diterima sebanyak 19 orang pelajar, dua orang mahasiswa dan satu warga lainnya. Sekaligus yang mendampingi para pelajar dari Kota Palu. “Para korban gempa bumi yang turun di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, merupakan warga Nunukan yang sedang berada di Palu,” kata Nurdin kepada media ini kemarin.

Lanjut dia, pemulangan atau evakuasi korban gempa bumi di Kota Palu, PT Pelni Cabang Nunukan siap memfasilitasi. Para warga yang ingin kembali dapat menumpang KM Lambelu dan Bukit Siguntang.

Ia menjelaskan, jadwal kapal Pelni yang akan masuk ke Pantoloan, untuk KM Bukit Siguntang pada 5 Oktober 2018, namun akan tiba di Nunukan pada 12 Oktober 2018. Untuk waktu perjalanan yang singkat yang dilakukan dari Pantoloan ke Nunukan pada 15 Oktober mendatang dengan menggunakan KM Lambelu.

“Rute 15 Oktober itu dari Pantoloan ke Tarakan lalu ke Nunukan, beangkat  15 Oktober dan 16 Oktober sudah tiba di Nunukan,” ujarnya.

Sementara, Mustafa yang mendampingi para santri dari Kota Palu ke Nunukan mengaku sulit melakukan pemulangan para pelajar yang lain. Komunikasi sulit saat berada di Kota Palu, hingga saat ini jaringan telekomunikasi masih belum stabil. “Tidak sulit untuk dipulangkan, asalkan diketahui di mana tempat pengungsiannya para pelajar tersebut,” kata Mustafa.

Lanjut dia, 19 santri yang sempat dipulangkan, sebelumnya telah dikomunikasikan oleh orang tua masing-masing. Mereka dijemput di lokasi pengungsian dan dibawa ke pelabuhan. Untuk keluar dari Kota Palu, butuh perjuangan, karena sangat sulit mencari transportasi.

“Saya dapat informasi di Bandara Palu saat ini dipadati warga yang ingin dievakuasi. Begitu pula yang ingin menggunakan kapal laut. Memang harus memberanikan diri dan banyak bertanya. Untuk lokasi evakuasi,” ujarnya.

 

DIGUNCANG GEMPA, DIKEJAR TSUNAMI

Tangis haru dan bahagia mewarnai kedatangan 97 korban gempa bumi dan tsunami palu saat menginjakkan kaki di Pelabuhan Malundung Rabu (3/10) kemarin. Menumpang KM Bukit Siguntang, sekira pukul 17.00 WITA, tak sedikit dari mereka yang langsung bersujud syukur, karena bisa keluar dari lokasi bencana.

Salah satunya Siti Arsiah, wanita berusia 44 tahun asal Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah tiba di Kota Tarakan bersama sang suami serta anaknya.  “Allahuakbar. Allahuakbar, ya Allah terimakasih. Terimakasih ya Allah,” ucap Siti saat melangkahkan kakinya turun dari kapal.

Dengan masih dipenuhi rasa haru, Siti beserta keluarganya yang dijemput menggunakan bus itu, masih terlihat lemah dan trauma. Lunglai dan terus dibopong sang suami dikarenakan jidad serta pipinya yang masih sakit akibat hantam benda keras.

Setibanya di ruang istirahat Pelabuhan Malundung bersama korban lainnya, Siti langsung duduk dan kembali menangis kesekian kalinya. Masih tak percaya jika dirinya terbebas dari situasi menakutkan yang  menghantuinya beberapa malam terakhir.

“Alhamdulillah sudah tiba di Tarakan. Saya ingin bertemu saudara dan mama saya di Tanjung Pasir, Kelurahan Mamburungan. Karena hanya itu tempat kami bisa menenangkan diri dan beristirahat,” katanya.

Diceritakan Siti, rumahnya yang berada di Labuan, sudah rata dengan tanah. Bahkan, tak satu pun barang berharga miliknya bisa diselamatkan dari reruntuhan akibat gempa itu. Tak hanya itu, tanah di sekitarnya pun retak dan terbelah.

“Enggak ada sudah sama sekali yang kami bawa, kecuali  baju yang kami pakai dibadan ini mas, semuanya hancur,” ujarnya.

Siti juga menceritakan bagaimana dirinya bisa selamat dari gempa kala itu. Padahal dikatakan Siti, saat itu ia hanya seorang diri di rumah, dikarenakan suaminya pergi salat dan anaknya mengerjakan tugas kuliahnya di kota.

“Saya di rumah mau masak air dan mau salat magrib. Saat saya mau ambil air wudu tiba-tiba lampu mati dan rumah langsung bergoyang begitu kencang hingga membuat saya terjatuh,” katanya.

Mengetahui itu, Siti berlari keluar rumah, namun lagi-lagi guncangan kuat datang. Siti beberapa kali terjatuh hingga jidad dan pipinya terbentur daun pintu rumah. “Muka saya ini penuh darah, karena terkena pintu,” katanya.                  

Siti juga menyaksikan bagaimana rumahnya ambruk seketika. Setelah mencoba bangkit setelah terjatuh, ia kembali menyaksikan tanah di sekitarnya terbelah. Menyaksikan itu semua, Siti lantas mencari suaminya.

Namun, lagi-lagi Siti harus kembali melihat kondisi mengenaskan. Sang suami malah temukan terjatuh di parit bersama dengan motornya.

“Suami saya ini sakit. Melihat itu saya terus ketakutan dan menangis. Jika saya mati saat itu juga, mungkin itulah takdir saya. Tapi saya harus kuat, saya tolong suami saya dan kami langsung lari kemana pun kami bisa,” ucap Siti, dengan linangan air mata mengingat perjuangannya itu.

Tak sampai di situ, Siti tiba-tiba kembali mendengar teriakan warga, jika air laut di pantai tiba-tiba turun. Mendengar itu, Siti bersama suaminya berlari menuju gunung meski wajahnya masih dipenuhi darah.

“Luka di wajah saya tidak pedulikan lagi, saya hanya tutup menggunakan jari-jari saya. Saya hanya berusaha sekuat tenaga bersama suami untuk bisa sampai ke gunung. Saya terus menangis karena saya pikir ini mungkin adalah kehidupan terakhir saya bersama suami,” katanya.

Namun Siti bersyukur, suaminya terus menguatkan dirinya selalu mengingat Allah dan terus semangat untuk bisa sampai ke gunung.

“Meski bencana ini datangnya dari Allah, alhamdulillah kami masih diberi kehidupan kedua. Kami hanya bisa berdoa dan berusaha dengan lari ke gunung untuk bisa selamat” katanya.

Ia pun belum memikirkan apakah nantinya akan kembali ke Palu ataukah menetap di Tarakan. Pasalnya, ia masih ingin menenangkan diri dan menunggu keadaan Palu benar-benar membaik. “Kami tunggu jika sudah dalam keadaan baik baru kami bisa ke sana. Karena suami saya ini orang asli Palu dan juga bekerja di sana sebagai guru. Untuk sementara waktu ia pun ingin tinggal bersama ibu dan saudaranya di Tarakan,” bebernya.

 

PENDATAAN DITARGET SELESAI SEHARI

Rencana pemulangan warga Kalimantan Utara (Kaltara) dari Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) masih terus dimatangkan. Terakhir, tim kecil yang dibentuk Pemprov Kaltara menjadwalkan keberangkatan ke Palu menggunakan kapal Pelni hari ini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara, Mohammad Pandi mengatakan, setelah sampai di Palu, tim yang tergabung dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Kaltara itu langsung melakukan pendataan warga.

“Insyaallah pendataan itu tidak butuh waktu lama. Target kita sehari sudah selesai,” ujar Pandi saat ditemui di Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (3/10).

Pandi menyebutkan, data warga Kaltara yang ada di Palu saat ini masih dalam hitungan kasar. Informasi terakhir sudah ada sekitar 65 orang. Tapi, itu baru mahasiswa, belum termasuk siswa, santri dan lainnya. Sistem pendataan akan dilakukan dengan cara mengumpulkan sejumlah warga Kaltara. Setelah data final, pihaknya menyesuaikan jadwal pemulangan dengan keberangkatan kapal yang digunakan untuk evakuasi.

“Namun demikian, kami juga tidak mengabaikan bantuan relawan dan logistik dari Kaltara peduli terhadap gempa dan tsunami Sulteng,” sebutnya.

Jumlah relawan yang dikirim ke Palu juga belum pasti, diperkirakan sekitar 65 orang. Bantuan yang diberikan berupa pakaian laik pakai dan uang tunai. Itu diserahkan langsung ke BPBD setempat untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Rumit jika semua bantuannya berupa barang. “Kami kasihkan dalam bentuk uang, sama juga. Di sana tentu akan digunakan untuk belanja kebutuhan pengungsi juga,” katanya.

Selain itu, ada juga pengungsi yang saat ini sudah sampai di Kaltara. Di antaranya di Tarakan dan Bulungan. Di Bulungan ada lima orang yang sempat difasilitasi BPBD Kaltara dan diinapkan di salah satu hotel di Tanjung Selor.

Koordinator Lapangan (Korlap) BPBD Kaltara Asnawi menambahkan, lima pengungsi dari Palu itu terdiri dari H. Ali, Riston, Norma, Andrianto, dan Murliana. Lima pengungsi ini satu keluarga yang rencananya ingin ke Batu Putih, Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).

“Mereka masih tampak trauma. Terutama, Riston (anak pertama dari Norma). Tadi malam (Selasa malam) dia belum bisa bicara. Dan sampai saat ini (kemarin) juga kelihatan masih seperti orang yang kebingungan,” ungkapnya.

Lima orang tersebut akan diantarkan sampai ke tujuannya, BPBD Kaltara sudah berkoordinasi dengan BPBD Berau. BPBD Berau bersedia menjemput dan mengantarkan langsung ke Batu Putih, tempat suami Norma bekerja. Sedangkan di Tarakan, pihaknya belum menerima laporan jumlah pengungsi yang tiba.

 

CARI KELUARGA LEWAT SITUS PMI

Palang Merah Indonesia (PMI) mulai tanggal 2 Oktober membuka layanan restoring family links Palang Merah melalui situs https://familylinks.icrc.org/indonesia/id/Pages/Home.aspx.

Melalui situs tersebut, keluarga korban bencana gempa dan tsunami di daerah Palu, Donggala dan beberapa daerah di Sulteng dapat mendaftarkan data-data keluarga yang ada di lokasi bencana yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya di mana. “Di situs itu ada menu mendaftarkan orang hilang, nanti ada form yang harus diisi oleh keluarga korban berkaitan data-data keluarganya yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya,” ujar Kepala Markas PMI Kaltara Amrin, Rabu (3/10).

Dalam formulir tersebut keluarga korban wajib diisi. “Keluarga korban juga jangan sampai lupa mengisi nomor telepon yang bisa dihubungi, agar nanti bila mengetahui posisi korban, bisa langsung memberikan informasi kepada keluarga korban,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, dari data yang dikirimkan keluarga korban, nantinya relawan PMI yang ada di lokasi bencana akan melakukan pencarian korban sesuai dengan data yang diberikan keluarga korban. “Bila menemukan korban dalam kondisi hidup, kami akan mengabari keluarga korban dengan menggunakan telepon satelit yang sudah disiapkan di lokasi bencana,” tuturnya.

Sementara korban yang meninggal dunia, relawan PMI terlebih dahulu mencocokkan data yang diterima dari keluarga korban dengan data  disaster victim identification (DVI) dari kepolisian. “Bila fix itu korban sudah meninggal dunia, kami akan mengabari posisi di mana jenazahnya dikuburkan kepada keluarga korban,” ujarnya.

Selain keluarga korban dapat memberikan informasi keluarganya yang belum diketahui keberadaannya, situs ini juga menyediakan menu bagi korban yang selamat.

“Bagi korban yang selamat bisa mengklik tombol menu mendaftarkan diri sebagai ‘saya selamat’. Setelah itu korban yang selamat bisa mengisi form yang ada,” ujarnya.

Menu tersebut nantinya bisa memberikan kabar kepada keluarganya bahwa kondisi korban bencana gempa dan tsunami dalam keadaan selamat. “Kami berharap situs ini bisa dimanfaatkan maksimal untuk keluarga korban dan korban yang selamat,” tuturnya.

Selain itu dalam waktu dekat dirinya akan kembali ke Tarakan, karena adanya permintaan dari PMI pusat untuk mem-back up di Palu. “Saya sekarang masih ada di Lombok, tapi besok balik ke Tarakan dan berencana bertolak ke Palu, di sana saya sebagai perwakilan PMI pusat dan mendampingi teman-teman relawan dari PMI Kaltara,” urainya. (nal/eru/iwk/jnr/lim)


BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Menhan: Ancaman Nyata NKRI dari Dalam Negara

TARAKAN- Sekitar 300 anggota TNI mendapatkan arahan langsung dari Menteri…

Kamis, 13 Desember 2018 13:18

WASPADALAH..!! Kelompok Abu Sayyaf Berencana Lakukan Penculikan

TARAKAN – Status peningkatan kewaspadaan terhadap kapal yang akan berlayar menuju…

Kamis, 13 Desember 2018 13:14

Labkesda Berpeluang Terakreditasi

TARAKAN - Tahun ini Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Tarakan…

Kamis, 13 Desember 2018 13:13

YUK YANG MINAT..!! Pemerintah Jepang Tawarkan Beasiswa

TARAKAN- Pemberian beasiswa kepada pelajar berprestasi kembali diberikan. Kali ini…

Kamis, 13 Desember 2018 13:11

Gas Sei Menggaris Mampu Bertahan 25 Tahun

TARAKAN - Pasokan gas di Sei Menggaris sampai saat ini…

Kamis, 13 Desember 2018 11:56

Ditsabhara dan Ditpamobvit Gelar Rakernis

TARAKAN - Menghadapi Pemilu 2019 Polda Kalimantan Utara terus meningkatkan…

Kamis, 13 Desember 2018 11:54

Masih Ada Parpol Tak Pasang APK

TARAKAN - Meski telah melakukan proses penyerahan alat peraga kampanye…

Kamis, 13 Desember 2018 11:49

Dua Terdakwa Sabu 3,9 Kg Saling Membantah dalam Persidangan

TARAKAN – Sidang lanjutan dua terdakwa perkara sabu 3,9 kg…

Rabu, 12 Desember 2018 13:06

Dana Transfer ke Kaltara 2019 Naik Rp 514 Miliar

JAKARTA - Alokasi dana transfer ke daerah pada 2019 untuk…

Rabu, 12 Desember 2018 13:04

Mengejar Materi, tapi Tak Sesuai Nurani

Titik terendah dalam kehidupan adalah sesuatu yang lumrah dialami manusia.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .