MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 02 Oktober 2018 14:07
“Bantu Kami agar Bisa Pulang!”
BERSABAR: Pelajar yang berada di Jalan SIS Al Jufri, Kompleks Al Khairat, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) berusaha menghibur diri. DOKUMENTASI AZRI

PROKAL.CO, RATUSAN pelajar asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang berada di posko pengungsian Jalan SIS Al Jufri, Kompleks  Al Khairat, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari tim relawan yang diterjunkan pemerintah.

“Alhamdulillah, kami selamat. Tapi, sekarang sudah ada yang sakit. Bantuan dari pemerintah belum ada kami dapat,” kata Muhammad Azri bin Shamsuddin, mahasiswa asal Sebatik yang menempuh pendidikan di Universitas Tadulako (Untad) Palu, saat dikonfirmasi, kemarin (1/10).

Dikatakan, saat ini rekan-rekannya dapat bertahan dengan mengandalkan stok makanan dari Yayasan Al Khairat yang menjadi tempat mereka mengungsi. Padahal, lanjutnya, lokasi posko pengungsian ini tidak jauh dari pusat kota. Sementara untuk berkomunikasi dengan tim relawan saat ini sulit. “Kami di sini ada sekitar 300 orang. Itu gabungan dari pelajar Bulungan juga. Saya koordinir mereka untuk di satu tempat saja,” aku mahasiswa fakultas hokum ini.

Kondisi yang sangat memprihatinkan pasca gempa membuat mereka berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, khususnya Pemkab Nunukan agar segera mengambil tindakan membantu mengeluarkan mereka dari lokasi bencana. Sebab, saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

“Kami butuh bertemu keluarga kami saja saat ini. Bantuan logistik atau bantuan apapun sampai saat ini belum kami terima dari pemerintah pusat maupun daerah. Bantu kami agar bisa pulang!” pintanya.

Terpisah, Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid mengaku telah berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait.  “Saya sudah instruksikan melalui surat edaran agar seluruh perangkat daerah menggalang dana bantuan di kantor masing-masing. Termasuk masyarakat juga. Nanti, dana itu akan disatukan, lalu diserahkan ke posko bantuan di lokasi bencana,” kata Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid di ruang kerjanya, kemarin.

Ia mengatakan, mengenai warga Nunukan, khususnya pelajar dan mahasiswa di lokasi bencana tetap terus dipantau. Belum ada upaya memulangkan mereka. Tapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan terus berkoordinasi dengan BPBD Palu dan Donggala untuk memantau perkembangan. “Karena, kami tidak dapat ke sana juga. Makanya ada posko pengaduan yang dibuka BPBD untuk mengetahui berapa banyak warga Nunukan yang ada di lokasi bencana,” ujarnya.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Nunukan Serfianus menambahkan, untuk memulangkan warga Kabupaten Nunukan, khususnya pelajar dari Palu dan Donggala, Sulteng tentunya tidak dapat dilakukan. Apalagi jika ingin menggunakan anggaran daerah. “Intinya, untuk memulangkan mereka itu tidak bisa. Tapi, hanya membuka posko pengaduan agar keluarga dan orang tuanya dapat menyampaikan data anaknya ke posko. Nanti, BPBD Nunukan akan berkoordinasi dengan BPBD Palu untuk mengatasi kepulangan mereka dari sana,” urainya.

 

BUTUH MAKANAN

Informasi terkait kondisi Sela Wispiona, Tiana, Yuni dan Eva, mahasiswi asal Tanjung Selor yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Taduloko (Untad) Palu sangat minim. Sebab, pasca kejadian gempa yang terjadi di Palu, hanya satu di antaranya yang diketahui keberadaannya.

Aisyah (50), warga Jalan Sengkawit sejak kejadian hingga saat ini terus menghubungi anaknya Sela melalui telepon. Sela dikabarkan masih di lingkungan kampus Untad. “Baru ada kabar satu (Sela), tetapi belum bicara langsung. Posisinya masih di Untad bilangnya,” ucap Aisyah, Senin (1/10).

“Infonya ada yang dibawa arus katanya. Masih simpang siur, karena belum bicara langsung. Kalau Sela, Tiana, sudah diketahui. Tapi Yuni sama Eva belum ada infonya,” tambahnya.

Selain anaknya yang sedang kuliah di Palu, juga ada beberapa orang warga Tanjung Selor lainnya yang sedang menempuh pendidikan di sana. Seperti dari Kelurahan Sei Limau, Kecamatan Tanjung Palas.

Ia berharap ada pertolongan segera. Sebab, informasi yang ia terima korban mengalami kekurangan makanan, minuman dan pakaian. “Tolonglah segera, saya mau ke sana tidak bisa. Mereka kekurangan makanan, dia lagi puasa di sana. Ada banyak juga anak yang berasal dari Tanjung Selor sedang berada di Palu. Beberapa anak yang kenal sama orang tuanya sampai sekarang belum ada informasi keberadaannya,” ungkapnya.

 

SITUASI TERKINI KOTA PALU DAN SEKITARNYA

Ratusan jenazah yang dikumpulkan di RS Undata belum diambil keluarganya dan dijejer di depan UGD. Sulit mengidentifikasi jasad korban karena sudah busuk, menghitam membengkak. Tim evakuasi jenazah dan korban luka-luka masih terus bekerja.

Selain mengarah ke wilayah Pantai Barat yang disebut-sebut sebagai pusat gempa, tim relawan megevakuasi korban juga dari semburan lumpur di Desa Jono Oge, Desa Sidera, dan sekitarnya di wilayah Kabupaten Sigi.

Sementara itu, di sejumlah SPBU di dalam Kota Palu, diserbu warga. Ada beberapa SPBU yang tidak dijarah dan beroperasi. Seperti di SPBU Sisingamangaraja, SPBU Jalan Pramuka, SPBU Moh. Yamin dan SPBU Martadinata. Ribuan warga hendak mengisi BBM yang dijatah terbatas oleh pemilik SPBU hanya 50 ribu per orang. Menurut salah seorang warga yang antre dari pagi pukul 08.00, sampai pukul 15.00 WITA.

 

Sampai dengan saat ini, bantuan pangan maupun sandang, belum tersalurkan maksimal. Warga terpaksa menjarah mini market untuk mendapatkan bahan makanan. Selain bahan makanan siap saji, warga kesulitan air bersih, tenda, obat obatan, susu bayi, BBM, dan kebutuhan dasar lainnya. Karena masih sering terjadi gempa susulan, dengan kekuatan sedang dan kecil warga masih trauma tinggal di dalam rumah dan juga bertahan di pengungsian.

Sudah dua hari hujan saat malam, listrik padam total dan sebagian besar masih kesulitan berkomunikasi via telepon seluler. Jaringan seluler khususnya operator seluler Telkomsel lemah hanya beberapa titik. Hanya jaringan Indosat, XL, yang sinyalnya kencang.

 

EVAKUASI PERUMAHAN DITELAN LUMPUR

Meski menjadi salah satu spot terparah akibat guncangan gempa, evakuasi korban di Perumnas Balaroa, Kelurahan Balaroa, Palu Barat, masih seadanya. Pantauan Radar Sulteng (Grup Jawa Pos) sejak pukul 15.00 hingga 16.50 WITA, evakuasi jenazah korban yang terhimpit reruntuhan dilakukan oleh sedikitnya 20 anggota TNI bersama Basarnas.

Angkutan truk di lapangan hanya dua, satu truk milik TNI, mondar-mandir angkut jenazah dan satu truk milik Basarnas di lokasi. Titik evakuasi di Perumnas Balaroa dipusatkan di Jalan Manggis, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, atau hanya berkisar 1-2 meter dari batas amblasnya tanah.

Di area ini, tanah amblas hingga kedalaman 2-3 meter. Membuat ratusan rumah warga di permukiman padat penduduk ini sudah tidak berbentuk lagi. Diperkirakan ribuan warga terjebak di dalamnya. Area terdampak tanah amblas diperkirakan sejauh 1 kilometer dan membuat puluhan jalan lenyap seketika.

Adapun jalan yang lenyap di antaranya Jalan Gawalise, Jalan Sagu, Jalan Flamboyan, dan puluhan jalan kompleks di dalam Perumnas Balaroa.

Sekadar informasi, Perumnas Balaroa adalah perumahan kedua di Palu yang dibangun pemerintah diperuntukkan bagi PNS. Olehnya, perumahan ini menjadi salah satu perumahan terpadat di Kota Palu dan juga tertua.

 

JENAZAH DISALATKAN SANTRI

Adi, Humas Majelis Dzikir Nuurul Khairat mengungkapkan evakuasi jenazah di Perumnas Balaroa sejak awal dilakukan secara swadaya oleh santri. Evakuasi dilakukan secara manual oleh 49 santri yang dibagi dalam 7 tim dan menyebar di area reruntuhan. Evakuasi dilakukan dengan alat seadanya seperti linggis dan palu.

Evakuasi dilakukan oleh santri yang dipimpin oleh Ustaz Habib Saleh Al Aydrus atau yang dikenal dengan Habib Rotan Poso, sejak Sabtu (29/9) hingga Senin (1/10). Pantauan di titik Jalan Manggis, evakuasi telah dilakukan bersama TNI dan Basarnas. Namun masih menggunakan alat seadanya tanpa alat berat.

Petugas bersama santri bekerja didampingi oleh keluarga korban yang selamat, sehingga meski berlangsung lama, korban dapat ditemukan berdasarkan informasi dari keluarga. Misalnya, keluarga menunjukkan di mana letak rumah mereka.

Seperti yang dilakukan oleh Wildan Arsida (21). Ibu muda ini mengungkapkan saat kejadian dirinya tidak bersama orang tuanya, namun bersama suaminya di Kelurahan Duyu yang berjarak sekitar 5-6 kilometer dari Perumnas Balaroa.

Menurutnya, ibunya Rosmida (56) bersama dua keponakan tengah berada di dalam rumah saat kejadian. “Iya betul ini jenazah ibu saya,” kata Wildan Arsida, saat petugas membuka kantong jenazah.

Hasil evakuasi saat itu menemukan 8 jenazah. Satu di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan satu di antaranya tidak dikenali karena kondisi jenazah yang telah rusak (bengkak) dan ada yang terbakar.

Ditemukan juga dua jenazah kakak-beradik yang disatukan dalam kantong, karena keterbatasan kantong. Sebelum dibawa ke dalam truk, jenazah disalatkan berjamaah oleh santri bersama warga yang berada di lokasi evakuasi.

 

GEMPA GUNCANG MAJENE DAN POLMAN

Belum selesai duka di Sulteng, kini giliran warga Mamuju dan Polman yang diguncang gempa. Kepanikan mereka bertambah dengan isu tsunami.

Kejadiannya pukul 01.53 WITA dini hari, Senin, 1 Oktober. Kekuatannya 3,7 SR dengan pusat gempa 3,5 LS-118,78 BT atau 43 kilometer barat daya Polewali Mandar, pada kedalaman 10 kilometer.

Salah seorang warga Pamboang, Majene, Irwan mengatakan, gempa memang tidak besar. Namun warga panik lantaran isu gempa susulan dan tsunami yang beredar luas.

“Saya dan keluarga tadi tidur di luar rumah Pak. Takut ada betulan gempa susulan. Hal serupa juga dilakukan tetangga lainnya,” kisah Irwan, Senin (1/10).

Petugas Onduty PGR IV BMKG Wilayah IV Makassar, Zulfikar membenarkan gempa tersebut. Katanya, bermagnitudo 3,7 SR. Episenter gempa bumi terletak pada jarak 43 km arah barat daya Polewali Mandar.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa bumi dangkal ini terjadi akibat aktivitas Makassar Strait Thurst,” jelas Zulfikar.

Zulfikar menyatakan tidak ada gempa susulan yang terjadi. Atas gempa bumi tersebut, BMKG mengimbau agar masyarakat untuk tetap tenang. Serta terus mengikuti informasi BMKG serta arahan dari BPBD. “Khususnya masyarakat pesisir pantai diimbau agar tidak terpancing isu, karena gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami,” terangnya.

Kabid Humas Polda Sulbar AKBP Mashura, mengimbau masyarakat jangan mudah percaya dengan isu yang mengatakan akan ada gempa susulan atau tsunami yang beredar. Dia meminta masyarakat tetap tenang dan menunggu informasi dari pihak BMKG.

“Waspada itu perlu, tetapi jangan panik. Satu juga saya pesan jangan mudah percaya jika ada informasi yang masuk, telusuri sumber informasi dan cari kebenarannya,” pintanya.

 

WARGA BARRU MENGUNGSI, LUWU PANIK

 

 

 

Isu tsunami juga beredar luas di Barru. Ratusan warga di tiga dusun di Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi mengungsi ke tempat ketinggian, Senin (1/10) dini hari.

Kepala Desa Cilellang H. Rudi Hartono mengakui, banyaknya warga desanya yang terprovokasi isu yang tidak diketahui kebenarannya. Ia mengaku sempat mendapat kabar kalau warganya bergerak tinggalkan rumah, karena khawatir ada tsunami.

“Saya sempat menahan mereka agar tenang dulu, tapi sudah bergerak semua,” ujarnya. Mereka baru mau kembali setelah pagi hari.

Kondisi ini juga dialami warga di Kabupaten Luwu. Mereka yang tinggal di daerah pesisir siap-siap mengungsi, kemarin.

Warga Bua, Ramma, mengatakan, ia telah menyiapkan segala hal untuk mengungsi ke tempat aman. “Ada isu kalau ada ombak besar akan terjadi. Kami sudah tidak tenang,” ujarnya.

Prakirawan BMKG Luwu Utara Ahmad Shirat Abu bakar, berharap masyarakat Luwu tidak mudah terpengaruh. “BMKG Makassar sudah mengeluarkan maklumat soal adanya isu tsunami.

“Isu seperti itu, tidak dapat dipercaya kebenarannya. Biasanya dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membuat kepanikan di tengah-tengah masyarakat,” kata Ahmad. (RON/uq/*/faj//rus-shd/iad/jpg/oya/akz/lim)

 

“Bantu Kami agar Bisa Pulang!”

 


BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 13:53

Segarkan Harimu dengan Manisnya Es Krim

Siapa sih yang tidak kenal dengan es krim? Meski sudah ada sejak dahulu, sensasi es krim tidak pernah…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:51

Sate Es Krim

Tidak hanya daging dan buah yang dibuat sate. Ternyata es krim juga bisa loh. Selain bentuknya yang…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:50

Es Krim Cokelat

Nah biasanya untuk mendapatkan rasa cokelat, kita menggunakan perasa cokelat. Tapi pada es krim cokelat…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:47

Jalur Sepeda Harus Dihidupkan Kembali

TARAKAN – Jalur sepeda di Bumi Paguntaka perlu dihidupkan kembali. Hal itu pula yang disampakan…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:43

Road Race di PON Papua Masih Tanda Tanya

TARAKAN – Sekitar 50 cabang olahraga (cabor) akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON)…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:41

Tim YFR Naik Podium Pertama di Latber Time Rally

TARAKAN –Latihan Bersama (Latber) Time Rally Wisata 2018 yang digelar Ikatan Motor Indonesia (IMI)…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:22

Gang Punti Tak Kunjung Dilirik

TARAKAN - Ketua RT 16, Kelurahan Karang Harapan, Muhammad Saleh, mengatakan banyak titik jalan yang…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:19

Kehabisan Anggaran, Terancam Utang Rp 3 Miliar

TARAKAN - Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tarakan over kapasitas berakibat anggaran…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:18

Kehabisan Anggaran, Terancam Utang Rp 3 Miliar

TARAKAN - Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tarakan over kapasitas berakibat anggaran…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:12

Terkait Dugaan Kasus Korupsi Bahan Ajar UBT

TARAKAN – Berkas kasus dugaan korupsi terhadap anggaran bahan mengajar (anjar) yang melibatkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .