MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 01 Oktober 2018 16:28
Beli Mi dan Air Mineral Dibatasi

Saksikan Air Tsunami Menghantam Permukiman

DUKA BANGSA: Seorang warga membawa jasad balita yang menjadi korban tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (30/9). Gempa dan tsunami meluluhlantakkan dua kota, Palu dan Donggala dan menelan ratusan korban jiwa. AFP PHOTO

PROKAL.CO, PALU - Hari pertama, setelah gempa dan tsunami menghantam Palu dan Donggala, dua kota itu lumpuh total. Akses udara dan laut ditutup sementara.  Mi jadi pengganjal perut sementara. Itulah kisah Sabri, pewarta Radar Tarakan yang selamat dari musibah gempa dan tsunami di Donggala, Jumat (28/9). 

Sabri, yang akrab dengan sapaan Enal berencana menikmati liburannya di Kota Palu, Sulawesi Tengah bersama enam rekannya. Momen itu bertepatan pula dengan kegiatan Palu Nomoni 2018, Downhill Salena Race 2018.

Tak ada firasat sedikit pun sebelum keberangkatan yang dijadwalkan 27 September 2018. Rencananya, ajang yang mengumpulkan pesepeda seluruh Indonesia itu akan berakhir 1 Oktober 2018. Kegiatan itu sudah direncanakan dari dua bulan sebelumnya.

Soal peringatan gempa, kata Enal, bukannya tidak diketahui. Disampaikan kepada rombongan pesepeda untuk tak beraktivitas lebih jauh. “Tapi oleh panitia mengonfirmasi aman saja, kami pun berangkat. Padahal sebelum kami berangkat memang sudah terjadi dua kali gempa,” ungkap Enal, melaporkan langsung dari Donggala.

Sesaat sebelum gempa terjadi, dirinya berada sekitar 1 kilometer dari bibir  Pantai Talise, Kabupaten Donggala. Saat itu, ia bersama rekannya baru pulang dari kegiatan gowes dan dalam perjalanan kembali ke Palu,  melewati Taman Ria Estate, Palu Barat. “Saat kejadian, kami baru pulang dari latihan sepeda. Kemudian sekitar 30 menit tiba di rumah, langsung gempa. Air laut itu seperti mendidih, berbuih dari tengah laut menuju darat,” ungkap Enal.

Dikatakan Enal lagi, gempa terjadi menjelang memasuki waktu magrib. Perkiraan pukul 17.30 WITA. Lima menit berselang, tsunami pun muncul. Bahkan Enal sempat mengabadikan dalam video saat gempa terjadi. Saat merekam, lima menit setelahnya, ia bersama warga menjauh dari bibir pantai. “Panik. Saat lihat air naik, kami teriak tsunami. Air itu mendekati tempat kami berlarian, padahal sudah agak tinggi. Hampir disambar tsunami,” urainya.

Tsunami menghantam badan jalan dan pantai. Sempat pula ia melihat ada warga yang berada di pantai. Sejak insiden tersebut, tak ada satu pun warga tidur di dalam rumah. “Semua hancur. Bahkan hari ini (kemarin) gempa dua kali,” ujar Enal.

Lebih lanjut ditambahkan, hari pertama pasca gempa dan tsunami, sejumlah ruas jalan retak, tiang listrik banyak berjatuhan dan rebah. Kabel listrik putus. Jaringan seluler kadang timbul, seketika hilang. Dari hari pertama pasca gempa, semua warga diungsikan ke Kantor Wali Kota Palu. Kondisinya diperparah seluruh listrik padam sejak Jumat (29/9).

"Listrik dari semalam padam. Karena saat gempa, tiang banyak berjatuhan. Jaringan telepon juga kadang baik dan kadang hilang," jelas Enal.

Bahkan seluruh akses darat dan udara ditutup sementara. Enal pun harus bersabar dan menunda kepulangannya ke Nunukan. Selain mengungsi ke Kantor Wali Kota Palu, warga lainnya juga banyak berlarian ke perbukitan. Sementara, sejumlah toko banyak yang hancur. Yang bertahan dari gempa, hanya yang bangunannya kokoh. “Itu pun tak banyak,” akunya.

Hari pertama pasca gempa, bantuan pemerintah belum sampai. “Air mineral dibatasi lima botol satu orang. Mie 10 bungkus satu orang. Ini karena banyak toko yang tutup,” terangnya.

 

KELUARGA BERENCANA IKUT RELAWAN

Guncangan gempa 7,7 skala richter di Sulawesi Tengah memantik kekhawatiran warga Kaltara. Rasa cemas bercampur khawatir muncul seketika keluarga korban yang berada Tarakan tahu keluarganya menjadi korban gempa dan tsunami.

Salah satunya Ratih Purwasi, warga RT 5 Kelurahan Juata Permai, Tarakan Utara. Sejak Jumat (29/9) malam tak dapat tidur setelah mengetahui keluarga di Sulteng tertimpa bencana.

Ratih menyebutkan, ibu dan kakaknya, Kipah (54) dan Ani (35) serta keluarganya yang lain tinggal di daerah Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan. Kawasan itu merupakan pesisir yang berhadapan langsung dengan laut lepas. “Enggak terlalu jauh dari Donggala. Dan Mama saya itu tinggalnya dekat pantai, namun di bagian Pantai Barat,” kata Ratih.

Ratih pun susah payah menghubungi keluarganya sejak gempa itu tersiar. Namun tetap saja, tak satu pun yang bisa dihubungi. “Jadi saya ini dari tadi perhatikan media sosial saja baik itu Facebook maupun berita yang ada. Karena kami juga enggak bisa menghubungi. Dan nomor-nomor yang disebarkan itu pun juga bisa dihubungi, tapi sibuk,” bebernya.

“Semoga saja tidak ada apa-apa,” harapnya.

Sementara itu, salah satu warga Tanjung Selor, Samsuriadi (24) saat dikonfirmasi Radar Tarakan mengatakan hingga sampai saat ini dirinya belum bisa menghubungi kedua orang tuanya yang berada di Palu.

Meski diyakini, kedua orang tuanya selamat dari bencana yang diterimanya dari kerabat melalui pesan singkat atau SMS.

“Alhamdulillah, selamat. Tapi belum ada kabar sampai sekarang jadi aku belum tahu Ummi sama bapakku ngungsi di mana. Karena, aku cuma dapat informasi dari teman dan keluargaku dan sekarang jaringannya juga sudah hilang lagi,” kata Samsuriadi.

Dijelaskan Samsuriadi, rumah kedua orang tuanya berada cukup jauh dengan lokasi tsunami. Dari informasi yang diterimanya diketahui rumah kedua orang tuanya amblas hingga kedalaman 10 meter akibat gempa.

“Saat ini juga saya berusaha menghubungi keluarga saya di sana. Dan insyaallah jika tidak halangan berencana ikut relawan ke Palu. Cuma belum ada info lagi,” ujarnya.

 

SEJAM JALIN KOMUNIKASI

Zaitun (38), warga RT 03, Kelurahan Mamburungan, Tarakan Timur dibuat syok kala mengetahui anggota keluarganya menjadi korban gempa dan tsunami di Palu, tepatnya di Donggala.

Zaitun yang merupakan sulung dari lima bersaudara ini mengatakan Jumat sekira pukul 24.00 WITA ia mendapat kabar dari ayahnya, bahwa di Donggala telah terjadi bencana dahsyat yang meluluhlantakan ratusan rumah dan masjid.

Anggota keluarga Zaitun harus leri ke bukit yang lebih tinggi menyelamatkan diri. “Bapak saya ini sempat menelepon, magrib, cuma saat itu kami tidak tahu. Pas sekira jam 24.00 WITA malam itulah dia menelepon lagi dan baru kami tahu,” ungkap Zaitun.

Dalam pembicaraan itu, Zaitun menangis. Sangat memprihatinkan, listrik padam, jaringan telekomunikasi terbatas dan akses jalan yang rusak parah.

“Bapak saya sempat terlempar beberapa meter dari kursi saat berada di rumah. Dan juga keponakan saya yang berada di gendongan juga terjatuh karena gempa yang kuat dan terjadi selama lima menit,” ujarnya.

Meski demikian, Zaitun bersyukur ayahnya masih terselamatkan dari gempa dan tsunami. Meski komunikasi yang terjalin antara dirinya dengan ayahnya itu hanya berlangsung kurang lebih sejam lamanya.

“Kalau rumah orang tua saya kan agak tinggi sedikit di atas bukit, tapi tidak jauh dari seberang pantai karena tinggal menyeberang saja, sudah sampai pantai,” katanya.

Jika ayahnya selamat, lain lagi dengan keluarga pamannya belum diketahui setelah tersapu ombak.

“Ada saudaranya bapak ini yang masih belum diketahui keberadaanya, karena saat setelah salat Jumat kemarin dia pergi melaut dan belum ada kabarnya sampai hari ini,” bebernya.

Diketahui saat kejadian itu pula, banyak anak-anak yang sedang mandi di tepi pantai. “Kata bapak saya kebetulan sore-sore itu anak-anak pada main mandian semua. Dan anak-anak yang mandian ini tak satu pun ada yang selamat karena terseret arus semua,” jelasnya.

“Donggala ini kan termasuk kota wisata karena termasuk dalam  pusat laut. Seperti Tanjung Karang dekat Donggala semuanya,” bebernya. (zia/eru/lim)

 

Beli Mi dan Air Mineral Dibatasi

 

 

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 13:53

Segarkan Harimu dengan Manisnya Es Krim

Siapa sih yang tidak kenal dengan es krim? Meski sudah ada sejak dahulu, sensasi es krim tidak pernah…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:51

Sate Es Krim

Tidak hanya daging dan buah yang dibuat sate. Ternyata es krim juga bisa loh. Selain bentuknya yang…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:50

Es Krim Cokelat

Nah biasanya untuk mendapatkan rasa cokelat, kita menggunakan perasa cokelat. Tapi pada es krim cokelat…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:47

Jalur Sepeda Harus Dihidupkan Kembali

TARAKAN – Jalur sepeda di Bumi Paguntaka perlu dihidupkan kembali. Hal itu pula yang disampakan…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:43

Road Race di PON Papua Masih Tanda Tanya

TARAKAN – Sekitar 50 cabang olahraga (cabor) akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON)…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:41

Tim YFR Naik Podium Pertama di Latber Time Rally

TARAKAN –Latihan Bersama (Latber) Time Rally Wisata 2018 yang digelar Ikatan Motor Indonesia (IMI)…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:22

Gang Punti Tak Kunjung Dilirik

TARAKAN - Ketua RT 16, Kelurahan Karang Harapan, Muhammad Saleh, mengatakan banyak titik jalan yang…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:19

Kehabisan Anggaran, Terancam Utang Rp 3 Miliar

TARAKAN - Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tarakan over kapasitas berakibat anggaran…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:18

Kehabisan Anggaran, Terancam Utang Rp 3 Miliar

TARAKAN - Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tarakan over kapasitas berakibat anggaran…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:12

Terkait Dugaan Kasus Korupsi Bahan Ajar UBT

TARAKAN – Berkas kasus dugaan korupsi terhadap anggaran bahan mengajar (anjar) yang melibatkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .