MANAGED BY:
RABU
19 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 25 September 2018 13:59
Tuntut Perhatikan Petani!

Klaim Lahan Pertanian Banyak Beralih Fungsi

INISIATIF: Selain melakukan unjuk rasa, di momen peringatan Hari Pertanian Nasional, mahasiswa membagikan sayur lokal Tarakan kepada pengendara, Senin (24/9). JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Momen peringati Hari Pertanian Nasional, Senin (24/9) sekira pukul 15.00 Wita, ratusan mahasiswa memadati Grand Tarakan Mall (GTM).

Ratusan mahasiswa ini menyampaikan aspirasi para petani yang selama ini dianggap kurang mendapat perhatian pemerintah. Selain itu, mahasiswa juga menyayangkan terhadap banyaknya alih fungsi lahan pertanian untuk pembangunan membuat jumlah petani semakin hari kian menyusut.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Borneo Tarakan. Menurutnya sudah seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib petani yang saat ini dinilai jauh dari kata sejahtera. Padahal, menurutnya Indonesia merupakan negara agraria yang seharusnya bisa lebih menyejahterakan nasib petani.

"Dalam aksi ini kami menyampaikan kepada pemerintah agar kiranya dapat lebih memperhatikan nasib petani. Karena hari ini kita lihat nasib petani masih jauh dari kata sejahtera. Selain itu banyaknya lahan pertanian yang diahlifungsikan untuk pembangunan infrastruktur membuat hasil pertanian negara kita semakin berkurang," terangnya kemarin, (24/9).

Dengan berkurangnya produksi pertanian, sehingga menurutnya hal tersebut tentunya dapat memicu pemerintah untuk menerapkan kebijakan impor hasil pertanian dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga dengan besar impor hasil pertanian yang dilakukan pemerintah, akhirnya dapat berpengaruh kepada nasib petani.

 

 

 



"Kalau negeri ini kebanyakan impor hasil pertanian, jadi bagaimana nasib petani. Hasil pertanian petani lokal memang terbeli, tapi tidak akan meningkatkan jumlah produksi. Karena, pemerintah terbiasa dengan impor akhirnya kita selalu merasa tercukupi sehingga pemerintah merasa tidak memerlukan banyak petani lagi,” ungkapnya.

Padahal lanjutnya, andai saja semua yang dikonsumsi masyarakat adalah hasil pertanian lokal, tentu petani bisa lebih sejahtera karena adanya rangsangan peningkatan jumlah permintaan.

Selain itu, menurutnya seharusnya pemerintah tidak terbiasa bergantung pada pertanian negara lain, karena menurutnya, Indonesia sendiri memiliki tanah yang subur untuk semua jenis tanaman. Sehingga, ia mengatakan Indonesia bisa menjadi negara mandiri tanpa bergantung hasil tani dari negara lain. Sekarang semua serba impor. Dari beras, gula dan garam pun semua diimpor. “Penyebab apa, karena lahan pertanian sudah beralih fungsi dengan komplek apartemen atau perumahan. Padahal kalau lahan kita cukup kita bisa menjadi negara mandiri seperti masa lalu," imbuhnya.

Pada aksi damai tersebut ratusan mahasiswa membawa langsung hasil pertanian petani lokal dengan maksud kualitas sayuran petani tidak kalah oleh kualitas hasil pertanian negara lain. Sehingga mahasiswa berharap pemerintah dapat mengembalikan kejayaan petani lokal dengan berhenti melakukan impor.

Mengenai pertanian Kaltara, mahasiswa menilai saat ini kendali petani di Kaltara masih berkutat pada harga pupuk yang kian meroket. Sehingga menurutnya pemerintah provinsi harus lebih berani dalam membuat aturan agar harga pupuk tetap stabil.

"Saat ini petani di Kaltara masih terbebani oleh mahalnya harga pupuk. Padahal, kalimantan memiliki dua perusahaan pupuk terbesar di Indonesia. Sehingga pemerintah harus bisa lebih berani mengeluarkan aturan untuk dapat mengontrol harga pupuk," pungkasnya seraya menambahkan
 ia menilai sejauh ini, Kaltara masih terbebas dari alih fungsi lahan yang selama ini menjadi masalah petani di Pulau Jawa. Sehingga ia berharap, pemerintah tidak mengorbankan petani demi mengejar pembangunan. (*/zac/zia)


BACA JUGA

Selasa, 18 Juni 2019 12:26

2,5 Jam, 42 Rumah Ludes

TARAKAN – Si jago merah kembali mengamuk dan melahap permukiman…

Selasa, 18 Juni 2019 12:24

Tabung Gas Mahal, Disdagkop Malah Bilang Minim Laporan

TARAKAN – Keberadaan LPG 3 kg di Kota Tarakan dikeluhkan…

Selasa, 18 Juni 2019 12:23

WAJIB..!! Ikan dari Malaysia Diwaspadai

TARAKAN - Menindaklanjuti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2017…

Selasa, 18 Juni 2019 12:22

Karya Menembus Ajang Bergengsi Nasional

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Tarakan…

Selasa, 18 Juni 2019 11:51

Tarakan Dapat 55 Titik PJUTS

TARAKAN - Sebanyak 300 unit lampu penerangan jalan umum tenaga…

Selasa, 18 Juni 2019 11:49

Gagal Memerkosa, Pelaku Curi HP

TARAKAN – Personel dari unit Jatanras, Satreskrim Polres Tarakan berhasil…

Selasa, 18 Juni 2019 11:47

Pejalan Kaki Keluhkan Tidak Adanya Trotoar

TARAKAN – Pejalan kaki yang melewati Jalan Dipenogoro mengeluhkan tidak…

Selasa, 18 Juni 2019 11:46

Transaksi Tunai Capai Rp 643,4 Miliar

TARAKAN – Selama Ramadan hingga Idulfitri 1440 H, jumlah transaksi…

Selasa, 18 Juni 2019 11:45

Samsat Keliling Mulai Beroperasi

TARAKAN – Samsat Keliling yang dimiliki Kantor Pelayanan Samsat Induk…

Selasa, 18 Juni 2019 11:44

Pasar Kampung Empat Terkendala Jalan

TARAKAN - Pasar yang berada di Kelurahan Kampung Empat hingga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*