MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 24 September 2018 10:09
Butuh Implan Telinga agar Dapat Mendengar dan Berbicara

Cerita Fatimah Humaeroh, Berjuang Hadapi Rubella Paket Komplit

TETAP CERIA: Kiky bersama Fatimah anak semata wayangnya terus berjuang melawan rubella. IST

PROKAL.CO, Anak adalah anugerah Tuhan yang paling dinanti setiap pasangan yang telah menikah. Rasa bahagia itulah yang dirasakan Sari Razky dan suaminya ketika tahu akan kedatangan malaikat di tengah-tengah kehidupan mereka. Namun, siapa sangka putri kecil mereka ternyata terlahir dengan kondisi luar biasa. Bayi kecil yang diberi nama Fatimah Humaeroh itu mengidap rubella dengan paket komplit. Tidak ada pilihan lain, Kiky yang baru saja berstatus menjadi ibu harus tegar dengan segala kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya.

 

MEGA RETNO WULANDARI

 

SEBELUMNYA Kiky tidak merasa ada yang janggal pada kehamilannya. Hanya pada trimester pertama masa kehamilannya Kiky terserang flu, demam, dan bercak merah di sekujur tubuhnya. Saat dirinya konsultasi dengan dokter, Kiky hanya didiagnosa mengalami alergi biasa. Pada trimester ketiga bulan ke delapan, Kiky sudah melahirkan anak perempuannya, lebih cepat satu bulan dari perkiraan kelahiran. Lagi-lagi tidak ada yang berbeda, dari kondisi fisik sang anak pun normal dan sehat.

Namun, karena naluri seorang ibu yang begitu kuat, pada saat Fatimah berusia dua bulan. Dirinya merasa ada yang menjanggal dari pertumbuhan anaknya. Muncul bercak putih di bola mata Fatimah. Kiky pun segera membawa anaknya untuk diperiksa lebih lanjut pada dokter. Saat itulah Kiky baru menyadari anaknya mengidap katarak conginental yang dibawa oleh virus rubella.

“Dari Fatimah usia dua bulan itu, saya lihat ada putih-putih di bola matanya, saya bawa ke praktek dokter lalu saya disuruh ke rumah sakit untuk segera operasi. Karena kata dokter harus anestesi total. Ini katarak conginental jadi sebelumnya saya sudah search tentang katarak conginental, yang keluar selalu kata-kata rubella,” ujarnya.

Perasaan sedih, dan tidak menyangka bercampur jadi satu saat itu. Namun, Kiky tidak ingin larut dalam kesedihan. Bersama suaminya menyiapkan segala sesuatunya, menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi terhadap anaknya itu.

“Saya sudah siapkan mental untuk semua kemungkian terburuk saat itu. Karena poin dari rubella selalu saja jantung, tuli, masalah paru, hati dan juga ukuran otak yang mengecil. Setelah operasi mata pertama selesai di RSUD Tarakan, saya dirujuk ketemu dokter THT. Kami disarankan untuk cek pendengaran terganggu berapa desibel, tapi di Tarakan belum ada alatnya. Dirujuklah saya ke RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo di Makassar untuk pemeriksaan telinganya. Tapi sebelumnya saya cek jantung dulu syukurnya jantungnya baik, hanya ada penyempitan pembuluh darah ke jantung. Itu juga bahaya, tidak ada penanganan hanya observasi,” ungkapnya.

Tidak sampai di situ, tepat pada usia Fatimah memasuki empat bulan, Kiky melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mulai dari mata, THT, cek darah, CT scan otak, foto toraks, rekam gelombang otak (EEG). Hampir sebulan Kiky bolak-balik rumah sakit hanya untuk memeriksa hasil kondisi Fatimah. Namun, hasilnya begitu tidak disangka.

“Hasilnya membuat saya sempat merasakan hancur sehancurnya, rasanya kaki enggak menapak di tanah, anak saya didiagnosa microsepali (ukuran kepala dan otak yang kecil), pengapuran otak, epilepsi, tuli berat, mata katarak (setelah dioperasi menjadi mata rabun +18), broncopenoumoni, global development delay (keterlambatan dalam seluruh tumbuh kembang), kadar SGOT hatinya tinggi, dan virus rubella menyerang sistem daya tahan tubuh. Makanya sampai sekarang Fatimah sangat rentan sakit, makanya sangat sering bolak balik opname,” ceritanya.

Untuk itu, sejak Fatimah berusia lima bulan Kiky rutin melakukan fisioterapi kepada anaknya. Banyak tahapan terapi yang harus dilalui untuk mengejar ketertinggalan Fatimah. Pada usia enam bulan, Fatimah baru bisa tiarap, dan duduk di usia sebelas bulan. Kemudian merangkak hingga di usia dua tahun, syukurnya saat ini Fatimah sudah bisa berjalan.

“Anak saya saat ini butuh hearing center untuk memeriksa alat bantu dengarnya tapi di Tarakan enggak punya. Tempat terapi juga enggak punya. Awal pemeriksaan dua tahun lalu per tiga bulan sekali, saya ke Makassar untuk pemeriksaan anak saya. Sekarang pindah ke Berau, karena RS Abdul Rivai ternyata juga punya fasilitas fisioterapi yang dibutuhkan anak saya. Lebih iritlah biayanya dibanding harus ke Makassar,” ucap istri dari Muhajirin ini.

Tidak terhitung sudah besaran biaya yang dikeluarkan Kiky dan suaminya untuk pengobatan Fatimah. Ditambah lagi sejumlah pengobatan tidak masuk dalam tanggungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Beruntungnya, Kiky dikelilingi kerabat yang sangat membantu, bahkan tidak jarang dirinya menerima bantuan dana dari penggalangan di Komunitas Sedekah Jumat.

“Biayanya memang banyak yah, apalagi Fatimah kan tuli berat jadi alat bantu dengar yang harus digunakan harus yang super power seharga di atas Rp 30 juta sepasang. Belum lagi biaya hidup selama di Makassar, homestay, transportasi, dan biaya lainnya. Belum lagi banyak pemeriksaan yang enggak terkaver BPJS, kaya pemeriksaan ASSR (untuk mengetahui seberapa tingkat kerusakan telinga), beli alat bantu dengar, beli alat kebutuhan fisio (sepatu khusus, sikat gigi, sikat badan khusus, gymball dan masih banyak lagi,” jelasnya.

“Kalau biaya saya dibantu dari kerabat dan teman juga. Saya sempat terbuka soal kondisi Fatimah dan biaya yang dibutuhkan sama teman saya dan teman suami saya, Baznas juga turut membantu, banyak teman yang melakukan penggalangan dana di Komunitas Sedekah Jumat. Suami saya karyawan sebagai supervisor saat itu, gaji dan simpanan kami enggak bisa menutupi kebutuhan kami di Makassar saat itu. Jadi keluarga dan kerabat meyakinkan untuk mau menerima dan membolehkan kami untuk menggalang dana,” tambahnya.

Untuk itu, Kiky ingin berbagi pengalaman kepada ibu hamil jika harus menjaga daya tahan tubuh saat hamil, jaga pola makan, makan makanan yang segar dan sehat, lalu peka terhadap perubahan diri, dan banyak mengantongi informasi seputar virus berbahaya yang dapat membahayakan janin, serta sering kontrol kesehatan janin.

“Sebenarnya rubella ini bisa dicegah. Saat sebelum hamil, bagi pasangan pengantin yang baru menikah sebaiknya vaksin rubella sebelum hamil, daripada menyiapkan dana mewah hanya untuk resepsi semalam ada baiknya sisipkan juga dana untuk vaksin dan cek kesehatan sebelum hamil. Karena penangan rubella ini kesadaran kolektif dari masyarakat. Dimulai dari orang tua yang mempunyai anak harus vaksin MR agar menekan tingginya tingkat bayi lahir cacat akibat rubella,” paparnya.

Meski Kiky tahu pengobatan yang dijalaninya saat ini tidak akan memberikan kesembuhan kepada Fatimah, namun dirinya berharap Fatimah tetap tumbuh seperti anak lainnya. Dengan segala anjuran dokter, Kiky dan suami tidak akan pernah menyerah untuk membuat Fatimah tetap aktif, ceria, dan sehat.

“Fatimah memang cacat bawaan yang enggak akan bisa sembuh, tapi paling tidak saya membuat dia terlihat mirip dengan anak-anak lainnya dengan usaha saya terapi dan latih Fatimah setiap harinya. Pakai abjad belum langsung mendengar dan masih banyak rangkaian latihan lainnya yang membuat dia sadar suara dan bisa berbicara,” sebutnya.

“Saat ini kami masih menabung dan berharap kepada Allah SWT, semoga suatu hari nanti biaya ratusan juta untuk implan telinga Fatimah bisa terwujud. Kami jalani semua, enggak ngoyoh tapi enggak menyerah. Karena kami tulus dan ikhlas dalam membesarkan Fatimah. Melihat dia aktif ceria dan sehat membuat kami sangat bahagia,” tutupnya. (***/lim)

 

Butuh Implan Telinga agar Dapat Mendengar dan Berbicara


BACA JUGA

Jumat, 14 Desember 2018 14:54

Santai di Kamar, Rumah Pemotongan Terbakar

TARAKAN - Kebakaran kembali terjadi. Tempat usaha milik Agus Satoto…

Jumat, 14 Desember 2018 14:53

Kaltara Terbaik Ke-3 Capaian IDI 2017

JAKARTA – Torehan prestasi kembali diraih oleh Provinsi Kalimantan Utara…

Jumat, 14 Desember 2018 14:51

Penutupan Lokalisasi Masih Angan-Angan

TARAKAN - Rencana penutupan lokalisasi masih sekadar wacana. Pasalnya hingga…

Jumat, 14 Desember 2018 14:27

Si Cantik Divonis Penjara 20 Tahun

TARAKAN – Andi Riski Amelia, terdakwa perkara sabu 1 kg…

Jumat, 14 Desember 2018 10:44

WNA Bebas Bersyarat Tidak Lapor Diri

TARAKAN – Hingga batas waktu lapor diri, warga negara asing…

Jumat, 14 Desember 2018 10:43

2019, PDAM Ajukan 2.000 Pemasangan Gratis

TARAKAN -  Saat ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta…

Jumat, 14 Desember 2018 10:40

Tak Berizin, Pom Mini Wajib Ditera Ulang

TARAKAN - Usaha Pompa Bensin Mini (Pom Mini) sudah mulai…

Jumat, 14 Desember 2018 10:35

Ingin Masalah Sampah Terselesaikan

TARAKAN - RT 13 Kelurahan Selumit Pantai masih memiliki masalah…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Menhan: Ancaman Nyata NKRI dari Dalam Negara

TARAKAN- Sekitar 300 anggota TNI mendapatkan arahan langsung dari Menteri…

Kamis, 13 Desember 2018 13:18

WASPADALAH..!! Kelompok Abu Sayyaf Berencana Lakukan Penculikan

TARAKAN – Status peningkatan kewaspadaan terhadap kapal yang akan berlayar menuju…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .