MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 20 September 2018 12:46
Jembatan Rp 7,5 Miliar Mulai Dikerjakan
DIKERJAKAN: Pembongkaran jembatan kayu sebagai tahap awal pembangunan jembatan Inhutani sudah dilakukan. Tampak, pekerja mulai mengukur dan memasang panjang beton untuk memasang tiang jembatan. RIKO ADITYA/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Setelah menanti 13 tahun lamanya, jembatan permukiman warga di rukun tetangga (RT) 10, Kelurahan Nunukan Utara, tepatnya di Jembatan Inhutani akhirnya dibangun. Tak tanggung-tanggung, pembangunannya menggunakan dana senilai Rp 7,5 miliar.

Anggaran tersebut bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) 2018 milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR). Awalnya, senilai Rp 15 miliar termasuk jembatan penghubung antara Dermaga Sungai Bolong-Inhutani dan juga jembatan di RT 8, Sungai Bolong. Namun, karena kondisi keuangan yang tak stabil, akhirnya dipangkas dan hanya disetujui Rp 7,5 miliar.

Warga RT 10 Kelurahan Nunukan Utara, Malin (54) mengatakan, sudah lama menanti perbaikan jembatan tersebut. Sebab, selama warga memperbaikinya, mengandalkan cara swadaya. Khususnya yang dilakukan para buruh barang yang sering menggunakan untuk mengangkut barang dari dan menuju kapal atau perahu.

“Kami bersyukur sekali, pemerintah bisa bangunkan jembatan bagus begini. Pakai beton. Semoga saja sesuai dengan dana yang digunakan,” ungkap Malin saat dikonfirmasi media ini.

Ketua RT 10 Kelurahan Nunukan Utara, Efendy Ansar mengatakan membenarkan harapan masyarakat sekitar. Ia mengatakan, jembatan Inhutani ini merupakan jembatan terpadat dan sering dilalui warga.

Bahkan, tak hanya warga setempat saja, namun juga warga dari kecamatan di wilayah tiga. Karena kapal-kapal yang mengangkut hasil pertanian masyarakat di Kecamatan Sei Menggaris, Sebuku dan Sebatik memanfaatkan jembatan berkonstruksi kayu ini.

“Aktivitas warga di sini (jembatan Inhutani) hampir 24 jam. Mulai kendaraan roda dua (R2) hingga gerobak tak henti-hentinya mengangkut barang menuju kapal, begitu juga sebaliknya,” ungkapnya.

Menurutnya, warga sangat mendukung adanya pembangunan jembatan ini. Bahkan, mereka juga ikut mengawasinya. Karena, jembatan yang menggunakan dana miliaran Rupiah ini, akan menjadi jembatan terkokoh karena berkonstruksi beton. “Jadi, aktivitas buruh barang itu dialihkan sementara. Tapi, tidak masalah, karena ini demi kepentingan umum juga,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataaan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Nunukan, Muhammad Sufyang mengatakan, pembangunan jembatan yang menggunakan dana besar itu tentunya menghasilkan bangunan yang berkualitas pula.

“Jadi, warga memang patut ikut mengawasi juga. Karena, mereka juga yang nanti menggunakannya,” kata Muhammad Sufyang saat dikonfirmasi.

Sebelumnya, ia mengatakan, akibat bahan bangunan berupa tiang penyangga tak dapat diselesaikan tepat waktu oleh rekanan yang ditunjuk, pemerintah daerah akhirnya memilih mengalihkan pembangunan jembatan itu dari rencana awalnya. Yakni, jembatan penghubung antara Dermaga Inhutani dan Sungai Bolong. “Terpaksa kami alihkan. Tapi, tujuan dan lokasinya sama. Hanya saja, berbeda posisi saja. Jadi, tidak ada masalah,” katanya.

Ia mengatakan, pengalihan tersebut dilakukan untuk menghindari DAK yang diberikan senilai Rp 7,5 miliar ditarik, karena tidak adanya fisik pembangunan dilakukan. Sehingga, apa yang menjadi harapan masyarakat, khususnya warga pesisir yang memanfaatkan jembatan penghubung Inhutani dan Sungai Bolong tersebut sirna begitu saja. “Sementara berproses ini. Semoga saja bisa selesai tepat waktu,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan,  pihaknya memilih jembatan warga di RT 10, Pasar Sentral Inhutani, Kelurahan Nunukan Utara ini, karena pertimbangan kondisi jembatannya. Jika dibandingkan dengan jembatan di RT 8, Sungai Bolong di kelurahan yang sama ini, RT 10 memang sudah sangat memprihatinkan. Beberapa rangka jembatan sudah ada yang patah. “Makanya, kami memilih di Inhutani dulu. Jembatannya memang sudah banyak yang patah. Kalau di Sungai Bolong masih kuat,” ungkapnya.

Sufyang mengungkapkan, usulan pembangunan jembatan itu sebenarnya untuk kedua wilayah. Termasuk jembatan penghubung  sepanjang 500 meter dengan lebar sekira 2,5 meter. Karena, kedua jembatan itu memiliki dermaga yang menjadi akses pengangkutan hasil pertanian dari Kecamatan Sei Menggaris, Sebuku dan Sebatik menuju Kabupaten Nunukan.

Hanya saja, Kemen-PUPR hanya mampu memberikan sebagian dari anggaran usulan senilai Rp 15 miliar. Yakni, Rp 7,5 miliar.

Tak dipungkiri, selama ini wilayah pesisir itu terkesan daerah yang kumuh. Sehingga, dengan adanya penataan jembatan dan juga halaman rumah warga yang dipercantik dengan bantuan pertamanan dan kawasan permukiman kelak menjadi wilayah percontohan.

 Jika pembangunan ini berhasil, maka bisa saja, dana yang sempat tersendat untuk pembangunan jembatan di kedua RT tersebut kembali diberikan Kemen PUPR ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan. Baik untuk di Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) perubahan 2017 atau di APBN 2019 mendatang.

“Ini tantangan kami untuk memperlihatkan kinerja kepada kementerian. Bahwa, dana yang diberikan itu tidak sia-sia,” pungkasnya. (oya/nri)

Judsm: Jembatan Rp 7,5 Miliar Mulai Dikerjakan

  

 

 


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*