MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 20 September 2018 12:44
Beruang Itu Diduga Sakit dan Stres Berat
SAKIT: Dua beruang madu yang diduga mengalami stres, hingga mengakibatkan bobot tubuh yang menyusut. RURI JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TIGA ekor beruang madu yang hidup di dua kandang di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah, sangat memperihantinkan. Biaya perawatannya terbilang tidak murah. Hal itu yang menjadi kendala tidak dirawat dengan baik hewan yang bernama latin Helarctos malayanus.

Petugas lapangan Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Hidayat membenarkan jika tiga beruang madu tersebut sudah berada di Sawah Lunto sudah sejak tahun 2015 silam. Melihat perkembangan pada ketiga ekor beruang madu itu. Hidayat mengaku, ada perubahan yang signifikan pada tubuh ketiga beruang tersebut. Di antaranya tubuh yang terlihat kurus dan terlihat stres.

Namun dia membantah, jika ketiga beruang tersebut kurus karena tidak diberikan makanan, melainkan makanan berupa buah selalu diberikan.

“Memang terlihat kurus, tapi bukan kurus tidak dikasih makan. Ini juga mulai terlihat kurus sejak tahun lalu. Dan kalau dibilang sakit saya juga kurang tahu dan herannya aktivitasnya beruang-beruang ini, makan saja dan juga minum seperti biasanya,” jelasnya.

Selain itu juga, sejak kurang lebih tiga tahun, diakuinya belum ada sama sekali tersentuh oleh dokter hewan maupun sebatas dilakukan pemeriksaan kesehatan. Hanya saja, kerap dilakukan pemeriksaan oleh pemerhati binatang asal Balikpapan yang berkunjung ke Tarakan.

“Tidak pernah ada dokter hewan, setahu saya selama merawat dikasih makan dan minum saja. Dan soal vitamin begitu juga nggak ada, karena selama ini juga tidak ada yang pernah sakit, tetap aktif,” ujarnya.

Soal berat badan, Hidayat juga mengaku tidak mengetahui pasti. Pasalnya, sejak ketiga beruang tersebut berada di dalam kandang tidak pernah dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobot berat setiap beruang. Hanya saja, dari pengamatan secara kasat mata, memang telah terjadi perubahan, yang dulunya terlihat berisi kini agak menurun.

“Kalau berat tubunya saya nggak tahu, dulunya berapa dan sekarang berapa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemeliharaan di Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup, Hariyanto juga mengakui, jika dua dari tiga beruang yang ada terlihat kurus, yakni Rina dan Brutus yang terlihat lebih kurus.

“Kami juga melihatnya begitu,” jelasnya.

Adapun upaya yang dilakukan, untuk bisa memulihkan kembali. Hariyanto mengaku, pernah melakukan dengan satu pola pemberian makan yang agak sedikit di luar kebiasaan, yaitu dengan memberikan nasi yang dicampur dengan gula merah dan gula putih.

“Biasanya mau, agak hangat dan agak lembek yang penting manis. Namun nyatanya upaya kami itu tidak boleh dan dilarang oleh pemerhati binatang karena nasi itu mengandung karbohidrat dan mengandung gula yang tinggi. Sementara beruang ini gerakan fisiknya terbatas di kandang 8x8 dengan tinggi 4 meter sehingga keringat dan sebagainya terbatas sehingga pembakaran gulanya itu tidak maksimal,” jelasnya

Sehingga diduga sementara beruang-beruang ini mengalami sakit pankreas, dan upaya kami juga sudah berdiskusi dengan dokter hewan di Dinas Pertanian Tarakan dulunya. Dan untuk memastikan itu harus dilakukan pemeriksaan darah dan kotoran hewan. Permasalahannya kini ialah biayanya yang mahal dan juga di Tarakan tidak ada laboratorium pendukung untuk itu.

“Jadi kalau untuk mengetahui penyakit apa pastinya harus dibawa keluar. Namun itu tadi, biayanya yang tidak murah,” bebernya.

Selain diduga mengalami sakit, Hariyanto juga menduga ketiga beruang tersebut mengalami stres berat itu terlihat pada pola tingkah laku beruang yang bergerak mendekati pagar, berulang kali sambil menjulurkan lidahnya.

“Kalau stres gitu, mau dikasih makan sebanyak apapun tidak mau makan dia dan stres pada beruang juga bisa saja dikarenakan, dihabitat aslinya tidak ada manusia,” jelasnya.

Selain itu ia juga berharap, kepada pengunjung untuk tetap mematuhi aturan ketika berkunjung untuk melihat beruang. Paling utama ialah tegas tidak memberikan makanan di luar jadwal makanan dan tidak melempar minuman maupun makanan yang dapat melukai organ beruang.

“Kami kan tidak mengawasi setiap jam,” ujarnya. (eru/nri)

Judsm: Diduga Sakit dan Stres Berat

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BACA JUGA

Jumat, 22 Februari 2019 11:02

BPN Bagikan 150 Sertifikat PTSL, Ada Biaya Tambahan

TARAKAN - Wajah H. Hania (60) semringah. Warga RT 14…

Jumat, 22 Februari 2019 11:00

Rangsang Minat Baca dengan Mengangkat Kearifan Lokal

Menjadi seorang penulis merupakan impian Iqbal Ardianto sejak dulu. Motivasi…

Jumat, 22 Februari 2019 10:58

DILARANG..!! Tapi Request ‘Tetangga’ Dominan Kepiting Bertelur

TARAKAN – Pada pembukaan pengiriman kepiting atau open season yang…

Jumat, 22 Februari 2019 09:56

Sidang Ditunda, Pledoi Terduga Agus Salim Sudah Siap

TARAKAN – Sidang terduga terorisme yang melibatkan Agus Salim dengan…

Jumat, 22 Februari 2019 09:52

Turbo Terbakar, Pasokan Listrik Tak Pengaruh

TARAKAN — Satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG)…

Jumat, 22 Februari 2019 09:50

JEMBATAN HOROR..!! Lihat Nih, Layak Ngga Dilewati?

TARAKAN – Jembatan kayu di wilayah RT 7, Kelurahan Pantai…

Jumat, 22 Februari 2019 09:49

Siswa Patra Dharma Wakili Kaltara di OSN

TARAKAN - Untuk sekian lama, akhirnya Kota Tarakan bisa kembali…

Jumat, 22 Februari 2019 00:53

Kepedulian terhadap Pesisir Masih Rendah

TARAKAN – Ada yang berbeda di Pantai Amal, Kamis (21/2).…

Kamis, 21 Februari 2019 13:59

Metode Sainte Lague di Pemilu 2019

TARAKAN - Ada yang beda dari proses perhitungan kursi suara…

Kamis, 21 Februari 2019 13:58

Persentase Masyarakat Miskin Turun

TARAKAN – Kriteria kemiskinan di Tarakan saat ini hanya menggunakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*