MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 17 September 2018 11:21
Ketergantungan Barang Malaysia Sudah Harus Dihilangkan
BERGANTUNG: Masyarakat perbatasan masih mengonsumsi produk-produk asal Malaysia. Pemerintah berkomitmen untuk memutus mata rantai tersebut. RIKO ADITIYA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Ketergantungan masyarakat terhadap barang produksi Malaysia di wilayah perbatasan memang sudah berlangsung lama. Hal tersebut terjadi lantaran transportasi untuk mendatangkan produk dalam negeri asal Surabaya atau Makassar memang sulit waktu itu. Namun, kini hal itu berangsur-angsur dapat diatasi.

Salah satunya, transportasi laut pada program tol laut yang dicanangkan pemerintah pusat. Tol laut ini sudah dapat mengatasi persoalan tersebut. Hanya saja, untuk mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini masih tergantung dengan produk Malaysia harus pula dihilangkan. Sebab, beberapa daerah, seperti Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, Malinau dan sejumlah daerah lainnya tetap dapat bertahan tanpa harus menggunakan barang produk Malaysia. “Kenapa Nunukan tidak bisa. Hal inilah yang ingin perlu dilakukan,” kata Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Kabupaten (Setkab) Nunukan Rpbby Nahak Serang SH kepada media ini.

Menurutnya, keberadaan barang-barang Malaysia selama ini hanya menguntungkan sejumlah pihak saja. Jika alasannya kebutuhan masyarakat Nunukan, saat ini sudah tidak. Berbagai produk dalam negeri mendominasinya. Kendati demikian, memang masih ada beberapa produk Malaysia yang sulit dihilangkan. Seperti gula pasir dan minyak makan yang digunakan warga Nunukan.

“Tapi, siapa yang melarang barang-barang Surabaya atau Makassar masuk ke Nunukan ini. Jadi, saya rasa masyarakat yang memiliki dana untuk bersaing. Karena, saat ini pemerintah telah menyiapkan alat transportasi kepada masyarakat untuk dapat digunakan mengambil barang dari Surabaya atau di Sulawesi,” ungkapnya.

Mengenai adanya rencana aksi mogok bagi pengusaha produk Malaysia untuk tidak beroperasi ditanggapi dingin mantan kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Nunukan ini. Ia mengatakan, pemerintah kini memiliki alternatif lain untuk mengatasi kebutuhan masyarakat. “Kalau mau mogok itu hak mereka. Yang jelas, pemerintah telah menyediakan transportasi untuk mendatangkan sejumlah produk dalam negeri ke wilayah perbatasan ini,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan (Disdag) Nunukan Hasan Basri Mursali mengklaim jika produk Malaysia saat ini sudah mulai berimbang dengan produk dalam negeri. “Karena, produk dalam negeri sudah banyak dikonsumsi masyarakat. Khususnya yang di perkotaan,” kata Hasan kepada Radar Tarakan kemarin.

Ia mengatakan, keberadaan transportasi laut dengan istilah tol laut sangat membantu. Khususnya keberadaan kapal-kapal kargo yang mengangkut barang dari Surabaya, Jatim dan juga kapal-kapal swasta melalui Pelabuhan Nusantara, Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). “Banyak produk dalam negeri didatangkan ke Nunukan. Jadi, mulai berimbang juga. Berbeda sebelum adanya kapal kargo dan lainnya,” ungkapnya. (oya/fly)


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*