MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 07 September 2018 11:06
Ilegal dan Kasus Narkoba, Ratusan WNI Dipulangkan Paksa
DIDATA: Ratusan deportan yang tiba di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, didata sebelum diarahkan ke Rusunawa, Kamis (6/9). ASRULLAH/RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Pemerintah Malaysia kembali memulangkan paksa Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Sabah, Malaysia. Tak tanggung-tanggung, kali ini sebanyak 125 orang dideportasi melalui Tawau menuju Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kamis (6/9).

Kepala Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Tunon Taka Nunukan, Nasution menyampaikan, deportasi kali ini sebanyak 125 orang. Terdiri dari 90 laki-laki dewasa, 28 perempuan dewasa, lima anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Ratusan deportan ini dipulangkankan lantaran keberadaan selama di Sabah, Malaysia, secara ilegal sebanyak 62 orang, over stay 16 orang, kasus penyalagunaan narkoba 44 orang, dan kasus kriminal lainya tiga orang.

Sebelum dipulangkan, BMI yang yang tersandung berbagai masalah itu telah menyelesaikan masa hukumannya di Pusat Tahanan Sementara (PTS) Tawau, Malaysia, sebelum dipulangkan.

“Masih didominasi dengan kasus ilegal. Kali ini penyalagunaan narkotika juga begitu banyak,” ucap kepada Radar Nunukan, Kamis (6/9).

Sementara itu, Kasi Perlindungan, Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Arbain menjelaskan, BMI yang dipulangkan dari Tawau bakal ditampung sementara. Setelah itu dilakukan pendataan. Bagi BMI yang ingin kembali ke kampung halaman difasilitasi BP3TKI Nunukan.

Begitu juga yang ingin kembali bekerja ke Malaysia harus mengurus dokumen melalui Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) atau poros perbatasan. Selain itu juga didata bagi yang ingin bekerja di Nunukan. “Namun bagi BMI yang tersandung kasus narkoba dan kriminal lainnya harus pulang kampung. Dikarenakan, tidak dapat kembali ke Malaysia dengan alasan di-blacklist,” bebernya.

Dayat (34), salah seorang deportan memilih kembali ke Tawau untuk bekerja. Sebab, jika harus kembali ke kampung halamannya ia tidak memiliki pekerjaan. “Mau kembali. Mau urus surat (paspor) dulu di sini,” katanya.

Berbeda dengan Dafid yang harus pulang kampung ke kampung halamannya di Kendari. Ia dideportasi lantaran tersangdung kasus penyalagunaan narkotika. Ia mengaku mengomsumsi barang haram tersebut untuk bekerja. “Mau pulang saja karena tidak bisa kembali ke tempat kerja (Tawau),” ungkapnya. (akz/ash)

 


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*