MANAGED BY:
RABU
19 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 29 Agustus 2018 12:27
IDI Sarankan Dokter di Wilayah Terpencil Diperhatikan
MENYARANKAN: IDI sarankan dokter di wilayah terpencil harus diperhatikan terutama tentang kesejahteraan. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Nunukan, dr. Budi Azis, tak menampik masalah rendahnya gaji dan insentif dokter di Kabupaten Nunukan saat ini yang menjadi salah satu kendala minimnya tenaga dokter berniat mengabdi ke wilayah perbatasan ini.

“Sebenarnya bukan masalah gaji saja. Melainkan penghargaan yang pantas buat teman-teman dokter yang sudah tulus ikhlas mengabdi di daerah terpencil dan pelosok di wilayah Nunukan,” kata dr. Budi Azis saat dikonfirmasi kemarin.

Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan ini mengungkapkan, mengenai gaji bagi yang sudah berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak masalah. Namun kepada dokter yang berstatus magang dan belum ASN. “Kalau dokter yang sudah pegawai negeri, alhamdulillah tidak ada masalah. Karena sudah ada tunjangan dan gaji tetap. Tapi, bagi dokter belum pegawai saja sebenarnya,” ujarnya.

Apalagi bagi dokter yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di wilayah pedalaman. Seperti, di Kecamatan Sebuku, Sembakung, dan Lumbis. Termasuk juga di beberapa kecamatan yang ada di Pulau Sebatik. Menurut Budi, gaji dan insentif yang diterima para dokter di wilayah tersebut masih terbilang rendah. “Di wilayah terpencil itu dokter bekerja 1x24 jam. Karena di beberapa puskesmas hanya dilayani seorang dokter saja,” ujarnya.

Dikarenakan saat ini sedang dalam kondisi defisit keuangan, jelas Budi, ada baiknya ke depannya dokter yang masih kontrak atau honorer dipikirkan untuk diberikan tunjangan yang dapat memadai. Selain itu perlu adanya insentif kelangkaan proses, kemudahan menjadi ASN, kemudahan mendapatkan peluang untuk melanjutkan sekolah spesialis untuk dokter-dokter yang ingin mengabdi di Kabupaten Nunukan. “Dengan kemudahan seperti itu diharapkan dapat menarik dan mengatasi kelangkaan dokter di daerah kita dan bisa menarik dokter dari daerah lain  agar dapat mengabdi di Kabupaten Nunukan,” ujar Budi, seraya berharap agar rekan-rekannya sesama dokter yang bertugas di wilayah perbatasan tetap semangat bekerja dan mengabdi dengan tulus dan ikhlas buat masyarakat Nunukan.     

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Nunukan dr. Meinstar Tololiu mengatakan, upaya menambah insentif dokter menjadi pertimbangan yang berat di tengah kondisi keuangan saat ini. Sebab, jika dipaksakan akan berdampak ke masalah lain. “Kalau dinaikan baru uanganya tidak cukup atau tidak ada, siapa yang ingin bertanggung jawab. Pasti menjadi masalah lagi,” ungkap dr. Tololiu kepada media ini.

Menurutnya, banyak warga Nunukan yang berpendidikan dokter umum. Namun karena gaji dan insentifnya rendah maka mereka akhirnya memilih ke luar daerah. Hal tersebut tak dapat dipungkir. Apalagi sampai menahan, karena biaya pendidikan dokternya dilakukan secara pribadi. “Yang disekolahkan pemerintah itu mengambil dokter spesialis saja. Itupun mereka yang sudah berstatus pegawai negeri. Tapi memang berat untuk peningkatan insentif di tengah kondisi keuangan seperti ini,” jelasnya.  (oya/ash)

 


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*