MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Minggu, 19 Agustus 2018 21:34
INGAT NIH..!! Beras Lokal Lebih Aman

Ribut-Ribut Beras Plastik

AMAN: Beras lokal ini diklaim aman untuk dikonsumsi masyarakat. Karena pedagang mengetahui secara langsung proses awal mendapatkannya dari petani. FOTO: RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Meski uji sampel dugaan beras plastik dari hasil inspeksi mendadak (sidak) oleh tim gabungan yang terdiri dari Disperindagkop Kaltara, Satpol PP, Polres Bulungan dan instansi terkait belum keluar, namun menimbulkan dampak atau permasalahan baru bagi masyarakat di Tanjung Selor.

Sejak adanya laporan dugaan beras plastik yang beredar di pasar tradisional ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Bulungan. Masyarakat saat ini mulai resah dalam memilah beras untuk dibeli dan dikonsumsi. Tak lain, karena keterbatasan pengetahuan dalam membedakan antara beras asli atau bukan.

Tifa (26), salah seorang warga Tanjung Selor mengaku, keresahan itu muncul karena diketahui setiap pekan ia harus membeli beras di pasar tradisional. Namun, sejak adanya isu dugaan beras plastik sehingga ia harus lebih teliti dalam membeli beras.

“Biasanya kalau saya membeli tinggal ambil. Tak lihat mana merek yang bagus. Tapi, sekarang saya banyak tanya ke penjual. Takut beras plastik,” ungkapnya kepada Radar Kaltara saat ditemui di sela-sela memilah barang belanjaannya.

Dikatakannya juga, sejauh ini mengenai rasa setiap mengonsumsi beras yang dibelinya di pasar tradisional, ia mengaku bahwa semua sama rasanya. Mengenai adanya laporan beras plastik menurutnya hal itu perlu ditinjau lebih jauh. “Mungkin ada baiknya beras yang dibeli itu dijadikan sampel. Jadi, tak seluruhnya terkena dampaknya,” ujarnya.

Ia berharap, dugaan adanya beras plastik ini tak benar adanya. Karena diketahui, masyarakat di Indonesia tentu makanan pokok atau utama adalah nasi. Sehingga akan menjadi permasalahan besar jika memang ditemukan beras plastik ini. “Cuma saya tetap jaga-jaga saja. Itulah setiap ke pasar cari yang tempat langganan saya. Jadi lebih terbuka kalau mau membeli,” katanya.

Senada dikatakan Adi (35) warga lainnya, isu dugaan beras plastik memang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Maksudnya yakni agar masyarakat bisa mengetahui bahwa benar ataupun tidaknya beras itu beredar di Kaltara. “Kalau ditanya resah atau tidak, ya tentu saya resah. Karena beras ini kebutuhan pokok setiap harinya,” ungkapnya.

Lanjutnya, ia berharap keresahan ini dapat segera disikapi pemerintah. Karena jangan sampai karena mengonsumsi beras plastik justru menimbulkan korban. “Beras plastik pasti ada dampaknya kalau dikonsumsi. Itulah semoga dugaan itu tak benar,” harapnya.

Adi berharap juga, jika ada sampel beras yang sebelumnya diambil dari pasar pasar tradisional. Ia meminta dapat segera disampaikan secara terbuka. Sehingga masyarakat tak resah seperti yang diakui pada dirinya sendiri. “Kami selaku masyarakat hanya bisa tunggu kepastian apakah benar dugaan beras plastik itu. Jadi kami tak resah,” pintanya.

Sementara, dari segi penjualan beras di pasar-pasar tradisional sendiri. Pedagang pun ‘menjerit’ lantaran omzet mereka turun sejak adanya laporan dugaan beras plastik ke BPSK. “Turun sejak adanya dugaan beras plastik mas,” ungkap salah seorang pedagang yang enggan namanya dikorankan.

Bahkan, dikatakannya juga, kebenaran beras plastik itu perlu untuk segera diungkap. Karena jika berlarut akan berdampak pada perputaran perekonomian di pasar-pasar tradisional. “Kami terbilang menjadi korban juga. Mengapa? karena omzet kami menurun,” ujarnya seraya berkata minimal sehari bisa menjual lebih dari 5 karung sekarang hanya satu atau dua karung saja.

Berbeda halnya dengan, Elizabet (60) pedagang lain di pasar tradisional. Dikatakannya dugaan beras plastik tak mempengaruhi akan penjualannya signifikan. Menurutnya, secara kasat mata masyarakat dapat mengetahui mana beras yang asli dan bukan. “Tapi, soal dugaan beras plastik itu saya belum benar mengetahuinya,” ungkap wanita yang telah berjualan selama 10 tahun ini.

Namun, lanjutnya, sejauh ini dari penjualan beras yang dijajakannya pun hanya beras lokal. Sehingga masyarakat dapat memastikan perbedaannya secara langsung karena kondisi beras tak dikemas, melainkan terbuka dan terlihat. “Kalau saya ini beras lokal yakni beras gunung dan sawah. Saya juga tahu langsung asal beras ini dari Tanjung Buka, jadi dipastikan bukan beras plastik,” katanya seraya menunjukkan beras tersebut.

Ditanya terkait harga beras, ia menyebutkan bahwa untuk beras sawah per kilogram (kg) senilai Rp 14 ribu. Sedangkan, beras gunung Rp 16 ribu. “Harga ini memang sudah standar. Dan sekali lagi saya harap isu dugaan beras plastik tak benar. Karena sedikit banyak akan berpengaruh pada penjualan. Meski saat ini tak kami rasakan,” bebernya.

Seperti diketahui sebelumnya, laporan adanya dugaan beras plastik yang beredar di pasar tradisional di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor disikapi serius Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Bulungan.

Bahkan, BPSK pasca menerima laporan dari masyarakat, diketahui secara langsung meminta ketegasan tim gabungan untuk turun melakukan inspeksi mendadak (sidak). Tak lain, hal itu bertujuan untuk mencegah semakin luasnya peredaran beras plastik. Ini jika dugaan yang dimaksud benar terbukti beredar di pasar-pasar tradisional.

Kepala Bidang (Kabid) Dalam Negeri, Diseperindagkop dan UMKM Kaltara, Hasriani selaku salah satu anggota pada tim gabungan pun melakukan sidak dan mengakui adanya sebuah isu beredar tentang dugaan beras plastik.

“Kita sudah sikapi dengan segera. Karena jangan sampai masyarakat dan pelaku usaha menjadi korbannya. Dan kami sidak juga tentunya dengan didasari laporan. Tapi, secara kasat mata beras plastik itu belum ada ditemukan di pasar-pasar tradisonal sini (Bulungan, Red),” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, pihaknya tetap akan melakukan uji kembali. Dan jika benar, pihaknya siap untuk terus memprosesnya. Karena itu dapat membahayakan kesehatan konsumen. “Tapi mudahanlah hal itu tak sampai terjadi. Dan seperti apa yang sebelumnya diklaim,” pungkasnya. (omg/eza)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 16 Januari 2019 12:07

Ditugaskan di Krayan, 1 CPNS Mundur

TANJUNG SELOR - Satu dari 444 peserta seleksi calon pegawai…

Rabu, 16 Januari 2019 12:05

Jembatan Meranti Terancam Jadi ‘Pajangan’ Lagi

TANJUNG SELOR - Pembangunan jalan penghubung Jembatan Meranti menuju Buluh…

Rabu, 16 Januari 2019 12:04

Pemilik Miras Hanya Diberi Sanksi Tipiring

MALINAU – Dua ibu rumah tangga (IRT), yakni De dan…

Rabu, 16 Januari 2019 12:03

2018, Empat Penderita HIV/AIDS Meninggal

TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan mencatat empat penderita…

Rabu, 16 Januari 2019 10:33

Butuh 7 Menit, Musnahkan Sabu 11 Kg

TANJUNG SELOR - Direktorat Reserse Narkoba (Dirnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda)…

Selasa, 15 Januari 2019 13:56

6.060 WP di Kaltara Belum Taat

TANJUNG SELOR – Dari total 9.413 yang menyampaikan Surat Pemberitahuan…

Selasa, 15 Januari 2019 13:54

TBS Malinau Dijual ke Nunukan

MALINAU  - Petani kelapa sawit di Kabupaten Malinau belakangan ini…

Selasa, 15 Januari 2019 13:52

Terminal Tipe A Tunggu Restu Kemenhub

TANJUNG SELOR - Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara)…

Selasa, 15 Januari 2019 13:49

Terapkan Metode Cara Membaca Wartawan

Membaca sebuah buku hingga saat ini masih menjadi kebiasaan yang…

Selasa, 15 Januari 2019 13:43

Sekprov: Jangan Jadikan Kaltara Batu Lompatan

TANJUNG SELOR - Sejak terbentuknya Kalimantan Utara (Kaltara), sudah tiga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*